Sabtu, 07 Mei 2016

2016 #49: The Magic of Tea

Saya penikmat teh.
Sepertinya sudah banyak yang tahu kalau saya menyukai teh. Buktinya setiap pergi ke suatu tempat, selain buku LW dan Alice, para sahabat juga sering membawakan teh buatan lokal. Ada yang membawakan 1 kotak ada yang hasil "beres-beres" dari hotel. Tidak masalah buat saya, yang penting niat baik mereka *peyuq-peyuq terima kasih*

Agak malu juga sebagai penikmat teh namun belum pernah mengulas buku tentang teh. Ada beberapa buku tentang teh di rak buku saya, tapi selama ini hanya dibaca  saja, belum direview. Gara-gara tergoda membeli buku tentang teh di ajang Big Bad Wolf kemarin, jadi kepingin membaca ulang dan membuat review singkat. 

Jadi, mari kita mulai membaca beberapa buku yaa.
Supaya tidak terlalu panjang, dibuat dalam beberapa tulisan. 

Penulis: HP Melati
Penyunting: Dyota Lakhsmi
Desin cover: Henny Indriaty
Tata letak: el Creative
Ilustrator:  Henny Indriaty
ISBN: 9789791142564
Halaman: 280
Cetakan: Pertama-2009
Penerbit: Hikmah
Rating: 3/5 

Menurut buku ini, semua jenis teh berasal dari tanaman Camellia sinesis, yang membedakannya adalah proses pembuatan. Setiap karakter aroma dan rasa ditentukan berdasarkan tempat, iklim, kondisi tanah dan proses oksidasi saat pengolahan daun teh.

Dengan mengusung tema healthy, beauty and fun, buku ini mampu menyajikan informasi lengkap  namun mempergunakan bahasa bertutur yang  ceria sehingga mudah dicerna. Ada tentang asal mula daun teh, manfaat teh, jenis teh, mengenali jenis teh dari negara asalnya, tata cara minum teh, tasseografi hingga tempat ngeteh yang bisa dikunjungi.

Jenis teh menurut buku ini ada Teh Hitam (English Breakfast tea, Irish Breakfast, Caravan,  Earl Grey, Darjeeling, Keemun, Lapsang Souchong), Teh Hijau, Teh Putih serta Teh Oolong. 

Konon Teh Oolong adalah sampanye-nya teh. daun-daun teh ini selalu utuh tidak akan patah walau digulung. Fermentasinya menghasilkan rasa buah-buah seger sehingga tidak perlu campuran apapun.

Teh putih ternyata memiliki potensi antikanker paling besar.  Belakangan teh ini juga dijadikan campuran salah satu susu kemasan dengan gambar hewan. Pantas, saya bisa menikmati susu ini.

Teh sering disajikan dalam acara formal, maksudnya supaya terjadi keakraban diantara para peserta. Sering kali orang diajurkan minun teh hangat ketika butuh sesuatu yang bisa menenangkan. Namun ternyata teh juga bisa mengakibatkan perang, peristiwa Boston Tea Party sebaga contoh.

Ketika terjadi krisis keuangan usai perang, Inggris menaikan pajak teh guna menutupinya. Hal ini menimbulkan kerusuhan di Amerika yang ketika itu masih merupakan koloni Inggris. Dengan mempergunakan pakaian ala Indan Mohican, beberapa orang merampok kapal-kapal East India Company dan membuang sekitar 342 peti teh ke laut. Ini memicu perang kemerdekaan Amerika pada tahun 1775-1783. 
 
Dengan adanya ilustrasi, buku ini menjadi lebih terkesan manis. Selain itu, sangat membantu pembaca yang ingin mengetahui segala hal penting terkait dengan teh. Cukup memperhatikan ilustrasi, maka pembaca bisa mendapatkan informasi, walau hanya dalam taraf sekedarnya saja. 

Beberapa bagian juga diakali dengan cara ditulis dengan huruf miring. Sebenarnya dengan tata letak yang berbeda, pembaca langsung bisa mengetahui bahwa apa yang disampaikan adalah hal yang perlu diperhatikan. Sayangnya ukuran yang agak kecil membuat pembaca bisa mengalami kesulitan saat membacanya.

Bagian tasseografi mengingatkan saya pada salah satu kisah HP.Tasseografi sering juga disebut tasseomansi atau tassologi, merupakan ramalan dengan mempergunakan daun teh. Dahulu diperkenalkan sebagai permainan saat menerima tamu.

Belakangan dengan bermunculan tempat bersantai dengan menyajikan teh  sebagai minuman utama, tentunya makin banyak variasi minuman yang bisa kita nikmati. Asal jangan lupa, minum teh dengan bijak karena sesuatu yang berlebihan justru tidak memberikan kebaikan.

3 komentar: