Senin, 30 Maret 2015

2015 # 42: Kisah Persahabatan yang Unik


Judul asli: The Golem and The Jinni
Penulis: Helene Wecker
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Primadonna Angela
ISBN: 9786020314259
Halaman: 664
Cetakan: Pertama-2015
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 110.000

"Kau ini apa?" dia bertanya.
Wanita itu diam saja, sepertinya tidak mengerti. Sang Jin mencoba lagi: "Kau bukan manusia. Kau terbuat dari tanah."
Akhirnya wanita itu berbicara, "Dan kau terbuat dari api," ucapnya.

Jangan mengira kisah ini adalah tentang Jinni, sosok cantik yang ada dalam botol, atau dalam versi sinetron kita berada dalam kerang.  Setidaknya saya sempat mengira akan menemukan sosok perempuan cantik dengan pakaian timur tengah yang meliuk keluar dari semacam botol jika digosok.  Harap maklum, perkenalan pertama saya dengan sosok Jinni adalah melalui film saat kecil,dan begitulah gambaran yang saya tahu saat itu. 

Kesan tentang Jinni tersebut melintas begitu saja dalam kepala saya saat membaca judul buku ini. Begitu membaca sinopsis yang ada di bagian belakang, barulah saya tahu urusan Jinni dalam buku ini berbeda dengan jinni yang ada dalam gambaran saya, Jinni dalam buku ini merupakan pria.

Jin pria itu lahir di Gurun Suriah pada abad ketujuh. Ia dijebak secara licik oleh seorang penyihir Bedui yang memasang borgol besi ke pergelangan tangannya. Rasa dingin menyakitkan serta kengeriaan yang sangat kuat, reaksi alami pada besi membuat Ahmad tidak bisa berbuat apa-apa ketika ia dikurung
dalam guci tembaga hingga berabad-abad lamanya. 

Tak ada yang menyadari apa yang ada dalam guci tersebut hingga suatu saat Arbeely, seorang pandai besi di Lower Manhattan, membetulkan guci milik tetangganya dan tanpa sengaja menyentuh lalu menggosok motif gelung yang ada di guci. Jin itu bebas bebas! Tidak bebas sepenuhnya karena borgol besi masih masih mengikatnya ke dunia fisik. 

Borgol tersebut berbentuk unik. Logamnya yang lebar menempel ketat di kulit sang jin, seakan dibuat sesuai dengan ukuran tangannya. Logamnya dibentuk separuh lingkaran, yang disatukan dengan dua engsel. satu engsel tebal dan solid, sementara satu lagi jauh lebih tipis, dan dikunci dengan semacam peniti kecil berhias. Kepala penitinya datar dan bundar, mirip koin. Ia harus menemukan cara untuk membuka borgol besi itu, baru ia bisa bebas seutuhnya.

Selanjutnya setiap orang memanggilnya dengan nama Ahmad. Ahmad merupakan nama pemberian Arbeely, sekedar agar mudah diingat dan diucapkan semata. Dengan nama itu, semoga tidak ada warha yang curiga akan asal-usulnya.

Otto Rotfeld ingin memiliki istri. Celakanya tidak ada wanita yang bersedia menikah dengannya.  Standar yang ditetapkan untuk sosok calon istrinya juga tidak masuk akal jika melihat kondisinya. Maka memiliki Golem sepertinya merupakan jalan keluar yang masuk akal. Karena Golem akan mengikuti apapun kemauan pemiliknya. Untung itu ia rela menghabiskan nyaris seluruh harta miliknya.

Chava merupakan  Golem yang dibuat sesuai dengan keinginan majikannya,Otto Rotfeld.  Selama perjalanan ke Amerika ia diletakkan di peti. Takut Golem miliknya tidak bisa berfungsi maksimal, maka Otto membangunkannya. Padahal semula ia baru akan membangunkannya setelah tiba ditujuan. Sepertinya itu keputusan yang tepat.

Selain fisik yang lumayan, sifat patuh pastinya, rasa ingin tahu, serta  kecerdasan merupakan hal yang diharapkan ada pada Golem miliknya. Sang suami yang memesan pembuatan dirinya, tewas dalam perjalanan laut dari Poland. Padahal dirinya baru dihidupkan dalam hitungan menit. Nama Chava diperoleh dari seorang  Rabi, Rabi Avram Meyer yang mengetahui dirinya adalah Golem. Saat itu tahun 1899 dan Chava baru berada di New York selama dua hari.

Versi Asli
Chava membawa misteri sendiri, terutama sekali karena selain ia bisa dibangunkan, ia juga bisa dimatikan dengan cara dihancurkan. Sejak Otto Rotfeld meninggal, ketika hubungan itu meninggalkannya, ia tidak memiliki tujuan yang jelas. Sejak itu ia terikat pada semua orang meski hanya sedikit. Ia harus melawannya karena ia tidak bisa memenuhi harapan setiap orang. 

Baik Ahmad dan Cheva sama-sama menjalani kehidupan yang berat. Tidak saja mereka harus berbaur dengan masyarat serta berupaya bersikap normal, sesuai ukuran manusia tentunya agar tidak ada yang curiga. Mereka juga harus menghadapi perbedaan yang ada diantara keduanya. Persahabat mereka sungguh unik.

Meski bersahabat, sering kali mereka berdebat untuk hal yang tak penting. Perdebatan itu terjadi dengan begitu saja. Semuanya bisa dikendalikan hingga suatu saat memuncak dan membuat keduanya memutuskan untuk saling menjauh demi kebaikan bersama. 

Sekali golem mengembangkan sikap destruktif hampir tak ada yang bisa menghentikannya selain kata-kata untuk menghancurkannya.Dan hal itulah yang dilakukan oleh Chava. Tanpa sengaja karena ingin melindungi sahabatnya, ia menyakiti seseorang. Jin yang berniat membuat situasi terkendali dan menyelamatkan Chava justru melukai perasaannya tanpa sengaja.

Menyedihkan sekali, dua sosok  yang dianggap asing tentunya akan saling menguatkan dan menjadi sandaran saat yang lain sedang membutuhkan bantuan. Dengan memutuskan untuk tidak saling bertemu, artinya mereka tidak lagi bisa berbagi pengalaman hidup di antara manusia, kekawatiran serta kebahagian.

Ternyata mereka harus bersama lagi, bekerja sama untuk menghancurkan musuh bebuyutan keduanya. Alam bekerja dengan caranya yang unik. Masa lalu pencipta Chava ternyata terkait erat dengan kehidupan Ahmad. Dan untuk menghancurkan kekuatan jahat maha dasyat tersebut dibutuhkan kerja sama keduanya serta pengorbanan dari pihak-pihak yang tak terduga selama ini.

Pada awalnya saya agak merasa lelah membaca buku ini. Banyak detail yang disajikan penulis. Seakan-akan pembaca harus decekoki sebanyak mungkin gambaran mengenai tokoh utama dalam kisah ini golem dan jin. Agak kebelakang mulai bermunculan sosok lain yang saya duga nantinya akan menjadi tokoh pembantu dalam kisah ini. Alur yang lambat dan berat bagi saya mulai berubah menjadi berirama cepat dan menarik ketika melewati nyaris sepertiga buku. 

Bagian favorit saya adalah ketika Golem bertemu dengan jin untuk pertama kali. Jin terkejut melihat   sosok terbuat dari tanah berjalan dengan santainya, sementara Golem kaget melihat bendaran cahaya dari wajah  Jin. 
Penulis terlihat sangat konsisten dalam menyusun cerita. Misalnya ketika menyebutkan Golem memiliki rasa ingin tahu, maka penulis juga memberikan bukti yang menunjukan bahwa Golem ciptaannya memiliki rasa ingin tahu. Bukti Golem memiliki rasa ingin tahu bisa dibaca pada halaman 182. Sesungguhnya adegan yang mengharukan sekaligus menyedihkan  bagi saya. 

Diceritakan bagaimana Cheva penasaran akan rasa roti. Ia menguyah hingga lumat lalu mendorongnya ke belakang mulut berusaha menelan. Mengharukan sekali bagaimana Cheva berusaha menelan dan duduk diam menunggu ada sesuatu peristiwa yang terjadi.
Sang Penulis

Nah, bagian yang membuat saya tertawa adalah ketika membayangkan wajah sang Rabi mendapat laporan Cheva soal penemuannya setelah berjam-jam duduk dengan gugup di meja semalam. 

"Tapi yang membuatnya agak kecewa, malam itu berlalu tanpa kehadian apa pun. Namun, esok siangnya, dia merasakan nyeri aneh di perut bawahnya. Karena enggan pergi-lorong rumah susun itu dipenuhi tetangga, dan sang Rabi sedang ke luar rumah-dia mengambil mangkuk besar dari dapur, mengangkat rok dan menurunkan celana dalam, lalu membuang ke dalam mangkuk sedikit roti yang telah hancir, namun sepertinya tidak terlalu berubah dalam perjalanannya. Ketika sang Golem dengan penuh semangat menceritakan apa yang terjadi kepada sang Rabi, lelaki itu  merona merah dan mengucapkan selamat atas penemuannya, lalu memintanya tidak berbuat itu lagi." 

Ahmad digambarkan suka bercerita mengenai masa lalu serta kehidupan Jin. Ia mengisahkan tentang permadani tenun yang sangat indah dan empat jin tercepat akan mengangkat permadani itu dan membawanya terbang bersama mereka.  

Unsur religius juga bisa kita temui dalam buku ini. Simak saja kalimat, "Hari-Hari Raya Besar akan tiba sebentar lagi. Sinagoge-sinagoge hanya separuh terisi karena banyak yang memilih berdoa di rumah." Sayangnya penulis tidak memberikan keterangan tentang apa yang dimaksud Sinagoge, atau saya saja yang tidak tahu atau kurang teliti membacanya ya.

Pesan moral yang disampaikan oleh penulis sangatlah patut untuk direnungi. Segala perbuatan ada konsekuensinya, siapkah kita menanggung konsekuensi dari perbuatan kita. Kadang kita harus berhati-hari dengan apa yang kita inginkan, karena apa yang kita inginkan belum tentu yang cocok dan terbaik untuk kita.

Galilah kemampuan diri, kembangkan minat dan bakat kita sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Ahmad memanfaatkan panas tubuhnya untuk bekerja dan membuat kerajinan dengan indah. Cheva dengan perhitungan dan konsistenitas kegiatan bekerja di toko kue.

Beberapa bagian mengisyaratkan secara samar mengenai hubungan badan. Hal ini membuat saya merasa buku ini kurang cocok bagi abg yang masih terbawa emosi dan belum bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan, meski ada pihak-pihak yang melalukan. Misalnya kalimat, "Kali ini xxx mengizinkannya membawanya ke tempat tidur." 
Tukang Alih Bahasa

Terdapat  hal-hal juga masih menjadi tanda tanya saya, tapi apakah memang ini dibiarkan begitu saja agar bisa dikupas dalam buku kedua, atau memang sengaja dibuat berkesan misterius oleh sang penulis.  Seandainya ada ilustrasi, tentunya buku ini akan menjadi makin menarik. 

Hal yang tak kalah menarik dari buku ini adalah  kover yang dibuat menawan dengan cutting membentuk wajah dari sisi samping. Warna kover luar hitam terlihat serasa dengan gambar biru yang ada. Kesan misterius yang ditonjolkan cocok dengan judul kisah ini. Hanya bagi saya yang suka membawa buku kemana-mana cutingan begini membuat agak susak untuk memangku buku saat membaca dalam perjalanan. Ada saja bagian yang nyangkut. Untuk tidak merusak kover, ya minimal hanya meninggalkan berkas tekuk sedikit,


Saat membaca nama tukang alih bahasa, mata saya langsung melotot sambil  tertawa lepas. Ok salah atau jaminan buku ini menarik. Maklum beberapa buku yang menurut teman-teman menarik versi aslinya menjadi biasa-biasa saja saat mengalami proses alih bahasa. Biasanya, Sis Lulu mampu membuat buku yang memang menawan menjadi tetap menawan setelah diterjemahkan.

Dahulu ketika Sis Lulu masih bekerja pada penerbit di daerah Pondok Labu-Cinere, saya paling menunggu postingan kover buku terbaru yang sudah selesai diterjemahkan melalui FB. Maklum penerbit itu menerbitkan kisah-kisah fantasi yang bermutu. Sayangnya penerbit itu tutup hingga jarang bisa menikmati hasil kerja Sis Lulu. Tapi kalau jodoh pasti ketemu lagi (halah). 

Jangan lupa mampir ke http://lamfaro.com/2015/03/10/the-golem-and-the-jinni-kesempatan-setelah-tujuh-tahun, ada kisah seru tentang bagaimana proses menerjemahkan buku ini. Menarik juga ya.

Eh.... jangan lupa ke situs resmi penulisnya juga ya.  http://www.helenewecker.com/the-golem-and-the-jinni-by-helene-wecker 

Bagi saya, buku ini merupakan buku yang menarik tapi susah untuk direview. Karena semua hal menawan. Susah untuk tidak spoiler. Setelah selesai membaca buku ini, kita tidak begitu saja bisa melupakan kisah yang ada. bayang-bayang para tokoh melekat dalam benak saya. Sepertinya saya masih sibuk mengikuti langkah kaki Ahmad menelusuri jalan-jalan di malam hari, sibuk mengikuti Cheva melayani pembeli serta was-was mengawasi musuh besar mereka yang mulai mendekat. Atu......t!

Tak heran jika buku ini mendapat aneka penghargaan. Nebula Award Nominee for Best Novel 2013, World Fantasy Award Nominee for Best Novel 2014, Mythopoeic Fantasy Award for Adult Literature 2014, James Tiptree Jr. Award Nominee 2013, serta Goodreads Choice Nomine for Debut Author Best Fantasy 2013. VCU Cabell First Novel Award 2014. Untuk karya pertama saja penulis sudah membuat kisah seperti ini. Bayangkan bagaimana jika ia berkiprah lebih lama lagi. Tentunya kita akan dimanjakan dengan aneka kisah menawan.

Golem merupakan salah satu makhluk mitologi yang terbuat dari tanah liat, kayu atau batu. Golem dihidupkan oleh sipembuat, begitu hidup Golem akan bertindak sebagai penjaga dan pelindung serta takluk pada majikan yang menghidupkannya.

Beberapa kisah menyebutkan aneka cara untuk menghidupkan Golem. Salah satunya menuliskan kata "Emet" berarti kebenaran di kening Golem, Untuk memusnakannya cukup dengan menghapuskan huruf "E" . hingga menjadi "Met" yang berarti mati. Ada juga yang menyebutkan menuliskan semacan jampi lalu memasukankan dalam mulut Golem. Dalam kisah ini, pemiliknya cukup membaca jampi yang dituliskan dalam sebuah kertas.

Menakjudkan!
Spektakuler!

Sumber gambar:
http://www.goodreads.com

http://www.helenewecker.com
https://www.facebook.com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar