Rabu, 25 Maret 2015

2015 #41: Kitchen #3



Penulis : JO Joo-Hee
Penerjemah: Mayang Ratu Negara
Penata aksara: Nurul Miftahul Jannah

Desain sampul: Kim Hee-gyonh (Design Plus)

ISBN : 9786021306529
Halaman: 174
Cetakan: Pertama- Februari 2015
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 59.000 

Kenapa selalu sosok perempuan yang ada di kover? Baik kover depan atau pada halaman belakang.

Pertanyaan (kurang) penting itu mendadak muncul dalam benak saya ketika selesai membaca buku ketiga dari serial Kitchen ini. Bukan masalah gender, tapi buku ini disebut sebagai Kumpulan Kisah Inspiratif, dengan demikian tidak harus untuk perempuan khan?

Dewasa ini dapur juga bukan hanya menjadi daerah kekuasan perempuan. Banyak pria yang gemar, bahkan jago memasak. Jadi sayang saja dengan memberikan ilustrasi sosok perempuan membuat buku ini seakan-akan dikhususkan untuk pembaca perempuan semata.

Dalam buku ketiga ini kembali kita diajak merenungi kehidupan melalui  masakan lezat menggugah selera. Ada sembilan kisah dalam buku ini dimulai dari Kimchi Jjigae, Hari yang Indah, Impian Tentara Wajib Mileter, Chaichai, Ikan Sarden, Satu Titik Azalea, Raja Puasa, Hai Churros, dan ditutup dengan Wanita-wanita Musim Gugur. 

Oh ya ada tambahan bonus kisah. Pada buku kedua bonus berupa kisah mengenai masakan yang paling enak di negara lain, maka pada buku ini kebalikan dari kisah buku kedua, dengan judul Temukan Rasa yang Paling Tidak Enak.

Kisah  Temukan Rasa yang Paling Tidak Enak perlu dibaca oleh para backpacker. Gara-gara mendapat buku kupon makan di restoran cepat saji dengan ikon badut, penulis sibuk memesan aneka makanan yang ada di sana sampai lupa untuk mencicipi masakan setempat. "Ketika berjalan-jalan kita harus mencoba makanan khas tempat kita pergi," merupakan nasehat yang sangat penting untuk diperhatikan.

Urusan masakan cepat saji juga dibahas sekilas pada kisah Kimchi Jjigae, Sup Kimchi. Seorang pemuda yang belajar di Amerika begitu menderita karena dilarang memakan masakan nasionalnya, Kimchi Jjigae. Larangan ini dikarenakan  bau badan dan mulut akibat memakan bawang putih dan kimchi bisa mengganggu orang lain.  Meski berusaha keras menahan, namun pemuda tersebut kadang juga nekat memakannya. Mau bagaimana, selera tidak bisa dipaksa. 

Dikisahnya bahwa saat pemuda itu hendak berkonsultasi dengan seorang profesor ia diminta jangan mendekat karena bau badan dan mulutnya mengganggu. Ternyata profesor tersebut merupakan warga India yang masakannya banyak menggunakan rempah-rempah. Selama ini ia selalu menahan diri untuk memakan masakan nasional negaranya karena takut akan efek bau yang ditimbulkan. Padahal ia tidak menyukai masakan cepat saji di sana, begitu juga sang profesor. 

"Yang lain hidup hanya dengan menyantap masakan itu setiap hari .... Sedangkan kita kan memiliki makanan tradisional, apakah salah jika kita masih ingin menyantap makanan itu?" demikian kata sang profesor. Melihat kenekatan serta kecintaan pemuda itu akan masakan nasionalnya, sang profesor memberikan penghargaan.

Ekspresi kenikmatan sang pemuda ketika akhirnya memakan kimchi setelah sekian lama hanya makan roti dan keju sungguh membuat pembaca tertawa. Begitu mungkin ya wajah saya ketika menunjukan kenikmatan memakan durian.

Kisah backpacker yang menikmati minuman  Chai di Turki ada dalam Chaichai. Seorang gadis berkelana sendirian memang butuh keberanian dan extra waspada. Tak heran jika pemuda penjaga toko karpet yang berada di bawah tempatnya menginap sangat bersemangat menawarkan Chai. 

Dalam membuat kisah ternyata penulis juga memasukan unsur trend dalam kisahnya. Misalnya dalam kisah Impian Tentara Wajib  Militer penulis memasukan unsur  Girl  Generation (소녀시대; Sonyeo Shidae)  sebagai pelengkap.

Gi Chan sang tokoh begitu menunggu kalender Girl  Generation serta fried chicken yang akan dibawakan oleh sang pacar saat berkunjung. Ia begitu terobsesi dengan kaki jenjang pada anggota Girl  Generation  yang ada di kalender tersebut, hingga setiap kali memandang fried chicken ia terbayang kaki jenjang para gadis seperti yang ada di kalender tersebut. Agak-agak menakutkan juga melihat obsesinya.

Membuka halaman pertama buku ini, kita akan disambut dengan sehalaman penuh gambar sejenis panci yang terbuka dengan tulisan Kitchen dengan warna yang mencolok. Halaman selanjutnya bersebelahan dengan Daftar isi, diletakan gambar dua alat masak yang menambah kental suasana kegiatan memasak. Warna yang diusung membuat kesan elegan.

Kisah favorit saya dalam buku ketiga ini adalah Hai, Churros! Kisah tentang seorang kakak yang melakukan tapak tilas semua jalan yang dilalui adiknya semasa hidup dengan sepeda. Sang adik meninggal akibat kecelakaan sepeda. Sepeda kesayangannya yang diberi nama teman rusak, meski sahabat sang adik sudah berusaha memperbaiki tetap saja sepeda itu kurang nyaman jika dipakai. 

Sang kakak yang kurang begitu mahir bersepeda menuntun teman mendatangi tempat-tempat yang sering dikunjungi adiknya dahulu.  Melewati jalan-jalan yang dilalui dan mampir di kedai favoritnya. Ia mengetahui semuanya melalui kisah yang disampaikan melalui surat sang adik. 

Saat menghirup coklat panas dan mencelupkan  churros ke dalamnya lalu memakannya, sang kakak bisa merasakan kenikmatan yang sama seperti yang diceritakan adiknya dalam surat. Coklat hangat yang menenangkan membuatnya makin merasa dekat dengan sang adik. Kisah yang mengharukan.

Churros adalah makanan ringan yang sangat terkenal di Spanyol yang terbuat dari adonan dasar choux dan dimasak dengan cara digoreng dalam minyak banyak. Choux sendiri adalah merupakan adonan dasar untuk membuat kue sus yang terdiri dari mentega, air, tepung terigu dan telur. (http://dapur48.blogspot.com)

Satu lagi kelebihan buku ini. Selain kita mendapat gambaran mengenai makanan dan kehidupan di Korea, kita juga bisa mendapat pengetahuan tentang makanan dari negara lain.

Hobi travelling penulis membuat ia memiliki ide-ide hebat yang dituangkan dalam buku serial Kitchen. Hal sederhana diramu menjadi sesuatu yang menawan.
Penulis yang ternyata berwajah
imut dan manis

Saya berusaha mencari informasi, apakah masih ada buku selanjutnya atau hanya sampai buku ketiga. Ternyata sejauh ini penulis baru menerbitkan tiga buku. 

Sedikit penasaran saya dengan Kimchi yang dijadikan kisah dalam buku ini. Apakah sebegitu menimbulkan bau tidak sedapnya.

Berikut cara membuatnya bagi yang tertarik mencoba.
Bahan:
  • 1 buah sawi putih.
  • 1/2 buah bawang bombay, iris tipis.
  • 1/4 batang wortel, iris tipis memanjang.
  • 1/4 batang lobak putih, iris tipis.
  • 4 batang daun bawang.
  • 2 sendok makan bawang putih, lalu parut.
  • 1 sendok teh jahe, parut.
  • 1/2 gelas bubuk cabe Korea.
  • 2 sendok teh garam.
  • 1 sendok makan gula.
  • 1/2 gelas garam kasar/garam laut.
  • 1 gelas air.
  • 1/4 gelas saus ikan Korea.
  • 1/3 gelas air.
  • 1 sendok makan tepung beras.
Cara Membuat Kimchi
1. Sawi dibiarkan utuh dan cuci bersih dengan air mengalir hingga ke lembar terdalam daun sawi. Sesudah bersih, rendam sawi dalam campuran tiga genggam garam yang sudah dilarutkan dengan air matang untuk sedikitnya enam jam, sampai sawi putih terlihat layu.
2. Setelah enam jam, angkat sawi dan cuci kembali dengan air bersih hingga ke sela-sela lipatan daun sawi agar sisa garam tercuci bersih. Tiriskan. Bila suka sawi bisa dibiarkan utuh begitu saja atau dipotong menjadi dua bagian dengan membuang ujung-ujung sawi.
3. Saatnya mengolah sawi dengan campuran bahan-bahan bumbu. Campurkan jadi satu gula, bubuk cabai, jahe, bawang putih, selada air, daun bawang, radis, saus ikan, dan sedikit garam. Baurkan campuran bumbu secara merata menutup semua bagian sawi hingga ke sela-sela lembar daun terdalam. Simpan dalam wadah tertutup rapat dan biarkan sedikitnya 2×24 jam sampai bumbu meresap ke dalam daging sawi dan jangan menyimpan di dalam lemari es. Proses penyimpan lebih lama akan lebih baik karena fermentasi berlangsung sempurna dan rasa yang dihasilkan akan maksimal. Setelah itu, baru simpan kimchi dalam lemari es.
4. Kimchi siap saji bisa disantap begitu saja atau disuguhkan sebagai makanan pembuka sebelum makanan utama.

Ah jadi ingat!
Setiap kali makan di restoran yang menjadikan masakan Korea di area kantor, saya selalu tidak memakan Kimchi sampai habis, kadang malah sama sekali tidak saya makan. Rasa asam yang ada tidak cocok dengan lidah saya meski saya penyuka rasa asam.

Duh pingin mampir minum Patbingsu,  salah satu makanan penutup musim panas yang paling populer di Korea.

Sumber gambar:
http://www.babelio.com/users/AVT_Jo-Joo-Hee_5282.jpeg
http://en.wikipedia.org/wiki/Kimchi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar