Senin, 23 Maret 2015

2015 #37: Kretek dalam Kisah Cinta seorang Gadis



Judul asli: Gadis Kretek
Penulis: Ratih Kumala
ISBN: 9789792281415
Halaman: 275
Cetakan: Pertama-Maret 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 58.000

Rara Mendut merokok merupakan perwujudan dari penolakan untuk memenuhi keinginan Wiraguna untuk menjadikannya selir. Sebagai wanita dari kalangan rakyat biasa, Mendut juga ingin merasakan kebebasan menentukan pasangan hidup.

Dengan merokoklah, Rara Mendut menunjukkan perlawanan terhadap kesewenangwenangan Wiraguna. Merokok menjadi simbol perlawanan Mendut terhadap pengekangan terhadapnya. Perlawanan terhadap pihak oposisi yang mengurangi kebebasan dalam menentukan arah hidup.

(http://bukukretek.com/files/ju138g/perempuan-bicara-kretek.pdf)

Persahabatan Soedjagad dan  Idroes Moeria  awalnya merupakan persahabatan dengan dinamika persahabatan biasa. Tapi sejak muncul nama Roemaisa, maka keduanya bagaikan musuh bebuyutan. Tidak saja memperebutkan cinta tapi terus bersaing menjadi pemilik pabrik rokok terbesar.

Ketika Idroes membungkus  klobot  buatannya dengan kertas payung lalu memberi merek dagang dengan tulisan tangannya, Soedjagad mengeluarkan produk dengan kemasan sejenis. Sewaktu Idroes membuat rokok dengan merek  "Merdeka" karena saat itu kata tersebut sedang ramai diucapakan, maka Soedjagad  membuat merek "Proklamasi". Persaingan keduanya kadang menjadi tidak sehat tapi begitulah jika cinta sudah bicara.

Lintingan kretek putri Idroes  yang bernama Dasiyah  ternyata  jauh lebih nikmat daripada semua kretek yang dihasilkan oleh ayahnya. Dasiyah pun dianggap sebagai titisan Roro Mendut, yang ludahnya membuat rokok kretek buatannya menjadi bercita rasa tinggi. Dasiyah dan Idroes kemudian mengeluarkan produk baru yang diberi nama "Kretek Gadis".

Ternyata urusan persaingan keduanya juga menurun pada putri mereka. Dasiyah  sudah mempersiapkan penikahannya dengan seorang pemuda bernama Soeraja ketika mereka diciduk dengan tuduhan anggota PKI. 

Selama ini Soeraja memproduksi kretek dengan lambang  arit atas bantuan dari partai tersebut. Kretek Tjap Arit Merah. Ia hanya membayangkan jika produksinya dibuat dengan mempergunakan lambang yang sama dengan partai yang mau memberinya modal tentunya pengikut mereka akan membeli produknya. Meski faktanya ia tidak ikut partai tapi karena produknya maka ia dianggap mendukung setia. 

Dasiyah dan keluarnya dibebaskan karena ia dianggap hanya sebagai korban karena bertunangan dengan Soeraja. Julukan Gadis Kretek yang sudah melekat pada dirinya membuat ia bisa bebas. Namun sang ayah dilarang memproduksi rokok Merdeka lagi. Mereka benar-benar hidup dalam suasana sangat hati-hati.

Karena sesuatu dan lain hal, Soeraja justru menikah dengan putri Soedjagad. Ia bahkan mampu membuat namanya tertera di kemasan rokok yang diproduksi oleh Soedjagad. Apa peristiwa tersebut, dibaca saja dalam buku ini ya, seru lho.

Dalam usia tua dan sakit, Pak Raja justru menyebut nama  Jeng Yah. Nama tersebut membuat sang istri cemburu. Apalagi saat  mereka menikah, Dasiyah sempat membuat keributan. Sementara ketiga putranya Tegar, Karim dan Lebas  yang semula tidak mengetahui latar belakang sejarah keluarga, menanggap ini merupakan permintaan terakhir sang ayah sehingga mereka berupa untuk memenuhi impian terakhir sang ayah, mencari dan menemukan Jeng Yah.

Buku ini juga mengisahkan bagaimana upaya ketiganya mencari Jeng Yah hingga ke pelosok desa. Perburuan mereka  justru menemukan sebuah fakta menakutkan tentang asal-usul kekayaan keluarga mereka. Cinta sekali lagi terbukti mampu membutakan seseorang dari segala hal.

Dari sisi kover, buku ini menawarkan sesuatu yang sangat berbeda. Sosok seorang gadis yang sedang merokok. Ingatan saya langsung mengarah pada soso legendaris Rara Mendut. Ternyata kisah dalam buku ini juga bersinggungan dengan Rara Mendut meski hanya sedikit, pada bagian Dasiyah dianggap sebagai titisan Rara Mendut.

Halaman di balik kover depan dan belakang juga menawarkan nuansa masa lalu yang kental. Aneka gambar kemasan  kretek dipajang dengan latar coklat mengantar imajinasi kita menelusuri zaman kemasan produk-produk tersebut.

Halaman awal sudah berisi kalimat peringatan yang dahulu tercetak di bungkus rokok. Kalimat  peringatan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Meski buku ini berkisah tentang rokok kretek namun penulis tetap merasa perlu mencantumkan peringatan tersebut.

Dahulu ada anggapan  kretek klobot dapat menyembuhkan asma. Hal tersebut terkait dengan cengkeh yang terkandung di dalamnya. Jika ingin sembuh asma maka hisaplah kretek. Dikisahkan tentang awal mula terciptanya rokok kretek melalui percakapan Soeraja dengan Dasiyah. Pada tahun 1880-an hiduplah seorang lelaki bernama Jamari. Suatu ketika Jamari mengalami sesak napas, dan dia mencari cara untuk memasukkan cengkeh ke dalam paru-parunya. Jamari kemudian merajang cengkeh dan mencampurkannya dengan tembakau kemudian dilinting dengan klobot. Ketika api mulai menyulut dan menghabiskan lintingan itu, terdengar suara kretek-kretek akibat pembakaran cengkeh. Demikianlah asal mula rokok kretek. 

Saya juga sempat merasakan klobot karena penyakit asma yang saya derita, Tapi jangan tanya kenikmatan seperti apa yang saya rasakan. Menyalakannya saja membutuhkan waktu dan tenaga yang luar biasa. Belum lagi mengisapnya. Atau karena pada dasarnya saya bukan seorang perokok jadi tidak bisa menikmati sensasi cengkeh masuk ke dalam paru-paru saya.


Pembaca juga diberikan tambahan pengetahuan mengenai kretek, sejarah kretek, cara membuat kretek mulai dari penggunaan daun jagung yang dikeringkan-klobot,  diisi tembakau plus cengkeh, klobot klembak menyan, hingga akhirnya menggunakan papier, kertas pembungkus campuran tembakau. Semuanya dijabarkan secara lengkap dalam buku ini.


Selain itu, pembaca juga mendapat gambaran mengenai persaingan usaha kretek saat itu, bagaimana taktik dagang agar mampu bertahan serta menjadi yang utama. Tengok apa yang dilakukan oleh  Dasiyah selama membuka stand di pasr malam.  Dasiyah memperkerjakan teman-teman gadis Rukayah, bukan penjaga laki-laki, untuk menawarkan rokok. Dengan demikian terkesan Kretek Gadis ditawarkan oleh para gadis.  Stand mereka ramai dikunjungi oleh pembeli karenanya. Startegi  tersebut bertahan hingga saat ini. Tengok saja para sales promotion rokok, sebagian besar merupakan sosok perempuan.

Dari sisi kisah, bagi saya penulis terlalu banyak memberikan porsi bagi urusan cinta segitiga antara Soedjagad-Idroes Moeria-Roemaisa. Bagaimana kedua pemuda tersebut bersaing, bagaimana ayah Roemaisa memberikan test bagi calon suami putrinya, sikap Idroes Moeria-Roemaisa ketika diundang menghadiri pernikahan Soedjagat. Bahkan hingga kisah bagaimana Idroes melampiaskan energi marahnya pada Soedjagad saat menggauli istri. 

Seharusnya porsi Gadis Kretek lebih banyak. Dengan demikian kisahnya menjadi lebih pas dengan judul yang ada. Bagaimana persaingan kedua gadis memperebutkan cinta Soeraja menjadi lebih seru.  Termasuk gambaran kekacauan yang ditimbulkan Dasiyah saat pernikahan Soeraja.

Uniknya penulis mengisahkan sebuah kejadian dari dua sisi, dimana jika ditelaah keduanya tidak terdapat titik kesamaan. Misalnya perihal  Idroes Moeria yang dikhabarkan ditanggap Jepang  hingga menelantarkan secara tidak sengaja  Roemaisa. Sementara dari sisi Soedjagad, justru Idroes pengecut karena melarikan diri karena takut pada Belanda hingga membuat Roemaisa menderita. Tiap bulan, Soedjagat memberikan uang belanja bagi Roemaisa sebagai bentuk tanggung jawab serta rasa kasihan. Sementara dari sisi Idroes, Soedjagat yang menggoda istrinya. 

Tapi begitulah sejatinya kisah jika diceritakan dari dua sisi, tidak akan ada kesamaan kisah dan persepsi. Tinggal yang mendengar, membaca yang memutuskan sendiri mana bagian yang benar dari tiap kisah.

Saya agak terganggu pada beberapa hal yang ada dalam buku ini. Misalnya penyebutan Kota M, kenapa tidak langsung menyebutkan nama kota yang dimaksud? Lalu ada beberapa bagian yang serasa tidak konsisten. Ketika iseng melihat review di GRI, saya menemukan sebuah link yang dapat mewakili ejanggalan yang saya rasakan.
Link tersebut adalah
https://www.facebook.com/notes/fajar-s-pramono/intrik-kretek-dalam-novel/10150758910257437
Terlepas dari seluruh kekurangan, buku ini sangat layak dibaca dan dikoleksi.

Sejak mulai membaca halaman pertama, saya merasa buku ini merupakan buku yang sangat layak dinikmati tapi susah untuk direview. Susah karena terlalu banyak hal indah yang terkandung hingga membuat saya bingung mau menonjolkan bagian yang mana. Semuanya menawan.

Dulu saya gagal mendapatkan buku ini karena munculnya bertepatan dengan salah satu buku yang merupakan genre saya. Belakangan melihat buku ini tergeletak menggoda di area diskon, langsung saya pindahkan dalam tas belanjaan. Jodoh memang tidak kemana.

Rokok kretek sempat mengalami kemunduran sebelum akhirnya bangkit seperti saat ini. Dalam http://www.sampoerna.com/ dikisahkan mengenai sejarah kretek.  Haji Jamhari wafat sebelum era produksi massal dari rokok kretek. Hal ini justru diteruskan oleh seorang warga Kudus yang lain, yaitu Nitisemito. Ia mengubah industri rumahan tersebut menjadi produksi massal melalui dua cara. Pertama, ia menciptakan mereknya sendiri, yaitu Bal Tiga, dan membangun citra merek tersebut. Pengembangan label-label produknya dicetaknya di Jepang dan berbagai hadiah diberikan secara cuma-cuma kepada perokok setianya bila mereka menyerahkan bungkus kosong produknya. Kedua, ia mulai mengerjakan berbagai tugas melalui subkontrak. Misalnya ada pihak yang menangani para pekerja, sedangkan Nitisemito menyediakan tembakau, cengkeh dan sausnya. Praktik bisnis seperti ini cepat diadopsi oleh pabrik rokok kretek yang lain dan berlanjut hingga pertengahan abad ke-20, ketika perusahaan-perusahaan mulai merekrut para karyawan sendiri untuk menjamin kualitas dan loyalitas. Pada era 1960-an, konsumsi kretek mandek dibandingkan rokok putih, karena dianggap memberikan para perokoknya citra yang lebih prestisius. Namun pada era 70-an, industri kretek mengalami revolusi, sehingga kretek dapat berjaya hingga hari.


Beberapa kali dalam buku ini disebutkan tentang Museum Kretek di Kudus. jadi tergoda buat ke sana. Apalagi biaya masuknya sangat murah! Kudus memang disebutkan sepakai tempat kretek berkembang. Dulu saat masih kuliah, beberapa teman saya merupakan atlet bulu tangkis dari beberapa klub di Kudus. Setiap pulang kampung mereka pasti membawa oleh-oleh kretek yang tidak ada di Jakarta. Dan laris manis jadi rebutan. Meski tidak dihisap, banyak yang menjadikannya sebagai koleksi semata. Begitu juga bekahan jiwa saya yang setiap berkunjung ke mana pun pasti membeli rokok untuk dikoleksi.


Jangan lupa mengunjungi http://komunitas kretek.or.id/. Komunitas menyuka kretek di tanah air jika tidak salah tanggap saya. Kita bahkan bisa membaca ebook terkait kretek dengan gratis dalam situs tersebut.

Sumber gambar: http://id.wikipedia.org


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar