Minggu, 15 Maret 2015

2015 #34: Tradisi-tradisi Adiluhung Para Leluhur Jawa



Penulis : Gesta Bayuadhy
Editor: Eny Damaya
Tata sampul: Ferdika
tata isi: Atika
pracetak: Wardi
ISBN : 9786027695818
Penerbit : Dipta
Harga: Rp 35.000

Budaya Jawa tidak akan punah selama masyarakat Jawa yang tersebar di seluruh Nusantara masih melaksanakan berbagai tradisi Jawa.

Pernah mendapat titipan berkat dari tetangga karena tidak bisa menghadiri undangan kenduri? Berkat yang berupa nasi dengan lauk pauknya merupakan titipan dari sang pengundang sebagai bukti menghormati. Meski yang diundang tidak bisa hadir tetap saja sudah ada jatah yang disiapkan, minimal bagi keluarga yang diundang. Hal ini merupakan salah satu tradisi yang masih dipegang teguh dalam masyarakat Jawa. 

Masyarakat Jawa mempunyai watak momot-menampung serta komot-penampung yang artinya mampu menerima berbagai perbedaan dalam batas wajar demi kebaikan bersama. 

Terdapat 29 hal yang dianggap sebagai kebudayaan Jawa dalam buku ini. Beberapa bagian merupakan hal yang dikenal serta sering dilakukan dalam kehidupan masyarakat, sementara beberapa lagi yang nyaris terlupakan. Dari 29 hal yang diulas, tiap bagian terdiri dari beberapa hal terkait dengan apa yang diuraikan.

Mungkin  ada hal yang memiliki istilah  berbeda di daerah lain, namun kurang lebih bermakna sama. Perbedaan tersebut yang memperkaya budaya Jawa. Hal tersebut sesuai dengan falsafah  desa mawa cara, negara mawa tata (tiap daerah memiliki aturan masing-masing yang wajib dihormati)

Pembaca bisa menemukan tentang Bersih Desa, Kenduri, Mithoni, Tedhak Siten, Panggur, Nyapih, Nyadran, Haul, Ruwatan, batik, Keris, Pesugihan, Hantu Jawa, Waranggana, Gamelan, Jimat, Petung dan masih banyak lagi terkait  tradisi-tradisi adiluhung dalam buku ini

Dari  kecil, seorang anak sebenarnya sudah mulai diperkenalkan dengan aneka tradisi. Saat masih dalam kandungan ibu, usia empat bulan menjalani tradisi Ngupat. Berupa Kenduri dengan berkat di dalamnya berupa ketupat. Demikian juga saat menginjak usia kehamilan lima bulan, ada Ngliman.

Mitoni atau Tingkeban dilaksanakan saat kandungan calon ibu berusia tujuh bulan. Hakikatnya merupakan doa agar sang ibu dan calon bayi selamat menjalani proses melahirkan. Dalam buku ini disebutkan juga urutan upacara Mitoni.

Disebutkan bawah upacara ini ditujukan bagi ibu yang mengandung anak pertama, 'Upacara adat Jawa ini dilaksanakan ketika calon ibu mengandung bayi petama di usia tujuh bulan." Namun saya sering melihat upacara ini dilakukan tidak hanya untuk anak pertama saja.  Penerapannya mungkin tergantung pada keinginan setiap individu. 

Setelah bayi lahir, tak lama berselang ada Mendhem Ari-ari, Brokohan, Sepasaran, Aqiqah.  Selanjutnya ada Kenduri Puputan yang bertujuan untuk mendoakan terlepasnya tali pusar bayi setelah dilahirkan. Biasanya sebelum berusia 35 hari. Setelah berusia 35 hari, ada kenduri Selapanan untuk mendoakan sang bayi agar terhindari dari segala macam penyakit, bencana serta menjadi anak yang berbakti dan berguna bagi nusa, bangsa, serta agama.

Sekitar delapan bulan usia bayi, ada upacara Tedhak Siten, sering disebut juga Turun Tanah. Biasanya dilakukan saat bayi mulai belajar berjalan. Upacara ini merupakan perlambang untuk anak yang siap menjalani kehidupan, dengan bimbingan orang tua pastinya.

Saya paling suka mengikuti upacara ini, terutama saat  sang bayi dimasukan dalam kurungan ayam sebagai perlambang kehidupan di dunia.  Dalam kurungan tersebut sudah diletakkan aneka benda yang berhubungan dengan pekerjaan. Konon apapun yang dipilih sang anak merupakan perlambang pekerjaannya kelak. Seru saja melihat sang anak yang asyik memilih aneka benda, sementara orang tua sibuk mengomentari pilihannya.

Eh Nganu. Pilihan saya saat Tedhak Siten adalah stetoskop. Banyak yang merasa wajar mengingat kedua orang tua saya adalah dokter. Tapi ternyata saya tidak jadi dokter, bahkan tidak juga nyonya dokter he he he.
 
Sekitar usia mendekati dua tahun, seorang anak akan disapih atau Nyapih. Tujuannya untuk menghentikan ASI sang ibu. Proses ini tergantung dari sang anak. Ada yang menjalani proses lama, ada yang cepat. Hal ini dianggap menunjukan kemandirian seseorang. 

Dan masih banyak tradisi lainnya. Jika kita telaah ini buku ini, tradisi yang ada dimulai sejak bayi dalam kandungan hingga seseorang menghadap sang pencipta, seperti  Nyadran dan Haul. Ada juga tradisi yang berkaitan dengan kehidupan sosial bermasyarakat, misalnya tentang sedekah bumi, batik, keris, Jimat dan Hantu Jawa.

Sedekah bumi merupakan  wujud rasa syukur masyarakat Jawa  kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah. Biasanya dilaksanakan oleh masyarakat suatu kampung, wilayah atau desa. Pada saat upacara, pemimpin doa selalu memanjatkan doa agar seluruh warga terhindar dari segala bencana yang berkaitan dengan bumi. 

 Tapi sungguh sayang, saya tidak menemukan bagaimana sebenarnya kegiatan itu secara jelas. Sebagai keturunan Jawa yang lahir di Jakarta, tentunya saya ingin mendapatkan informasi secara jelas kegiatan seperti apa yang ada dalam Sedekah Bumi. Apakah kenduri lalu dilanjutkan dengan pembagian hasil bumi bagi yang kurang mampu, atau hanya kenduri semata. 

Bagian Hantu Jawa membuat saya penasaran!
Dalam masyarakat Jawa, dikenal beberapa nama hatu, antara lain wewe gombel, pocong, gendruwo, dan lainnya. Umumnya keberadaan hantu-hantu tersebut untuk menakuti anak kecil, suatu hal yang sebenarnya secara psikologis tidak disarankan. Keberadaan hantu berguna juga untuk menyindir seseorang, sebagai sinonim. Sayangnya pembahasan tentang hantu yang pastinya akan menarik hanya diuraikan sekilas saja oleh penulis. Tidak ada nama lain selain yang umum, ilustrasi apa lagi. Hal terpenting, bagaimana tindakan yang harus kita ambil jika tanpa sengaja bertemu dengan sosok hantu Jawa juga tidak ada dalam buku ini.

Secara garis besar buku ini memberikan pengetahuan mengenai apa saja tradisi  yang berlaku di masyarakat Jawa. Dengan demikian generasi muda bisa memiliki pengetahuan dan melestarikan tradisi yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Tentunya dengan penyesuaian zaman.

Bagi masyarakat luas yang bukan merupakan masyarakat Jawa, tentunya buku ini bisa memberikan pengetahuan mengenai tradisi yang berlaku dalam  masyarakat Jawa. Sehingga dalam kehidupan bermasyarakat bisa menimbulkan saling pengertian.

Andai ada ilustrasi dalam buku ini hingga kadang sedikit sulit untuk membayangkan suatu hal. Beberapa bagian hanya menguraikan tentang makna dari suatu tradisi, namun tidak ada runtutan atau susunan prosesi yang harus dilakukan.

Misalnya saat membahas tentang Tedhak Siten. Pertama penulis memberikan gambaran mengenai apa itu  Tedhak Siten, apa makna dari rangkaian kegiatan tersebut. Lalu diberikan urutan acara yang harus dilalui. Ada juga uraian mengenai apa saja hal-hal yang harus disiapkan dalam Tedhak Siten. Untuk Kenduri sebagai, apa saja yang harus disajikan.  Tangga kecil yang akan dilalui sang anak dibuat dari tebu, lalu tebu apa yang layak dipergunakan, berapa anak tangga yang sebaiknya dibuat. Sepengetahuan saya setiap upacara adat penuh dengan makna, dengan demikian kaum muda bisa mengerti filsafah apa ayng dikandung dalam Tedhak Siten tidak hanya sekedar mengetahui saja.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan, upaya penulis untuk membuat buku seputar istiadat masyarakat Jawa yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari patut diacungi jempol. Salah satu upaya menjaga kelestarian budaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar