Senin, 09 Maret 2015

2015 #32: Urban Farming dengan Tabulapot


Judul asli: Mudah Membuahkan 38 Jenis Tabulapot Paling Populer
Penulis: Herfin Sasono & Nofiandi Riawan
Penyunting: Tirtondp
Foto: Sardo Michael, Dok. Penulis, Dok. Agromedia
Tata letak: Wos Setiawan
Desain kover: Teguh Widyanto
Halaman: 104
ISBN: 979-006-520-5
Penerbit: Agromedia Pustaka
Harga: Rp 47.000


Belakangan ini, kesadaran akan ruangan hijau makin terasa dalam kehidupan masyarakat. Keterbatasan lahan tidak membuat seseorang yang tinggal di kota besar tidak bisa bercocok tanam,  lahan yang tersedia perlu disiasati dengan cermat. Maka munculnya Urban Farming.  Urban Farming bisa diartikan sebagai berkebun di daerah urban atau perkotaan. Lahan yang terbatas dibudidayakan semaksimal mungkin hingga mampu menciptakan ruang hijau. Salah satunya adalah tabulapot, tanaman buah dalam pot.

Tabulapot menjadi salah satu pilihan bagi warga kota  yang ingin menghijaukan lingkungan. Pilihan tersebut dikarenakan kepraktisan dan estetika selain keterbatasan lahan tentunya.  Dengan mempergunakan wadah pot, tentunya urusan keterbatasan lahan bisa terpecahkan. Perawatan juga mudah serta kebutuhan unsur hara, mineral dan air dapat dipenuhi secara optimal,juga tidak terjadi pemborosan pupuk. Tabulapot bisa dipindahkan ke mana saja tanpa takut merusak bangunan sekitar. Kualitas buah yang dihasilkan juga lebih terjaga. Terutama sekali kita juga ikut melestarikan jenis buah di tanah air. Udara segar dari tanaman yang menyerap polutan juga membuat rumah lebih nyaman

Ada lima hal utama yang dibahas dalam buku ini. Tentang Urban Farming, menanam dan memelihara tabulapot, jenis-jenis tabulapot, tips agar tabulapot cepat dan rajin berbuah serta hasil dari tabulapot.

Sesuai dengan judulnya, Urban Farming memberikan gambaran mengenai tidak sulitnya untuk  bercocok tanam di lahan yang semakin sempit di perkotaan. Berbagai cara menyiasati hingga keuntungan yang diperoleh dijabarkan dalam bagian ini. Penulis bahkan memberikan tabel mengenai jenis polusi dan efeknya bagi tubuh, namun hal tersebut  bisa ditekan dengan adanyanya tanaman.

Pada bagian menanam dan memelihara tabulapot, pembaca akan diberikan pengetahuan praktis tentang banyak hal seputar  tabulapot. Misalnya bagaimana memilih bibit yang baik. Apakah menggunakan bibit yang berasal dari biji-generatif atau bibit cangkok. Jika mempergunakan  bibit sambung apakah sambung pucuk,  sambung susu,  atau sambung sisip. Tidak saja diuraikan mengenai bagaimana cara melakukannya juga diberikan uraian mengenai apa kelebihan dan kekurangannya.

Ada juga pengetahuan mengenai bagaimana cara menaman tabulapot yang baik. Mulai dari memilih pot, menyiapkan media tanam, hingga melakukan penanaman. Penulis bahkan melengkapi dengan komposisi media tanam untuk berbagai jenis tabulapot.  Sebagai contoh belimbing membutuhkan tanah,pupuk kandang serta sekam bakar dengan perbandingan 1:2:2. Srikaya membutuhkan perbandingan yang berbeda yaitu  1:2:3. Hal ini sangat berguna bagi saya yang selama ini hanya mengandalkan naluri saat meracik media tanam.

Cara pemeliharaan tabulapot ternyata gampang-gampang susah. Dengan buku ini kesalahan yang tidak perlu terjadi bisa kita hindari. Sebagai contoh, pada halaman 35 penulis memberikan instruksi agar jika akan melakukan penyiraman dengan air PDAM sebaiknya didiamkan terlebih dahulu selama satu malam guna mengurangi kadar kaporit yang terkandung dalam air. 

Terdapat juga pengetahuan singkat mengenai pestisida nabati untuk tabulapot. Selain lebih aman juga terbukti ampuh. Sereh wangi yang dihancurkan lalu dilarutkan dengan air serta ditambah cairan pencuci piring  sangat cocok untuk membasmi kutu putih dan lalat buah.

Menurut penulis ada sekitar 50 buah tanaman buah yang bisa dijadikan tabulapot, dalam buku ini penulis hanya memberikan contoh sebanyak 38 jenis saja yang terbagi dalam empat bagian atas dasar kekerapan berbuah. Tabulapot sangat mudah berbuah seperti belimbing, kedondong mini serta jeruk lemon cui.Mudah berbuat seperti  jambu air kancing dan  lengkeng pinpong. Agak sulit berbuat misalnya  delima dan  buah naga merah. Tabulapot yang sulit berbuah adalah anggur dan durian

Selain memberikan pengetahuan tentang bagaimana perlakuan khusus yang harus dilakukan terhadap tabulapot, pembaca juga mendapat informasi mengenai nama latin, morfologi serta manfaat buah yang dihasilkan.

Untuk buah delima, disarankan untuk memangkas tajuk yang terlalu rimbun. Pemberian pupuk NPK dengan unsur N rendah dan mengandung asam amino sangat dianjurkan, dengan memperhatikan ketentuan dosis pupuk yang ada pada lebel kemasan.

Sementara untuk anggur disarankan untuk melakukan stres aair selama 5-7 hari serta pemangkasan cabang dan ranting tua untuk membuahkan anggur. Jangan lupa menambahkan pupuk yang kaya unsur P dan K dengan dosis 5 gr/liter air.

Stres air? Belum pernah dengar? Saya juga belum he he he. Ternyata hal tersebut berguna bagi tanaman buah. Apa itu stres air dan bagaimana manfaatnya bagi tanaman ada dalam buku ini. Beli dan baca yaa ^_^

Akhir buku berisi mengenai minuman yang bisa diolah dari hasil tabulapot. Jus anggur mangga disebutkan mampu mengatasi resiko penyakit hati, jus buah naga lengkeng berguna mengatasi diare dan masih banyak lagi manfaatnya. Tentunya untuk pertolongan pertama hal ini sangat bermanfaat bagi keluarga.

Secara garis besar, buku ini sangat mudah dipahami dan petunjuk yang ada bisa dipraktekan oleh siapa saja yang ingin menaman tabulapot tapi tidak memiliki pengetahuan berkebun sebelumnya.

Langkah-langkah mengenai sambung sisip misalnya. Tidak saja diberikan uraian melalui kata-kata namun juga dijelaskan dengan gambar hingga memudahkan memahami bagi yang membaca dan ingin mencoba melakukannya. 


Tabel-tabel yang disajikan sangat  membantu pembaca. Tabel 2 mengenai komposisi media tanam akan sangat membantu bagi pembaca  yang ingin menanam agar tidak perlu bingung bagaimana komposisi media tanam yang cocok bagi tanaman yang dipilihnya. 


Ada juga tabel yang berisi mengenai tanya jawab dan solusi masalah seputar tabulapot. Umumnya masalah yang disajikan merupakan masalah yang terjadi secara umum seperti jenis tabulapot yang direkomendasikan untuk halaman sempit atau teras bagi pemula, mengapa bunga buah delima tabulapot selalu rontok khususnya pada musim hujan dan sebagainya. Jawaban yang diberikan juga bersifat praktis dengan solusi yang mudah dilakukan.

Penggunaan 38  jenis tabulapot sangat membantu pembaca. Sebagai orang yang tidak memahami tentang tabulapot, tanaman secara luas, saya agak mengelus dada membaca nama yang dipergunakan. Barbados Cherry, Jeruk Nagami, Mangga Chokanan, Srikaya San Pablo dan Sawo Australia.

Ternyata Barbados Cherry,berasal dari Amerika Latin, Jeruk Nagami berasal dari Cina,Mangga Chokanan dari Thailand  dan Sawo AustraliAmerika bagian selatan. Jika perhitungan saya tidak salah, ada 12 tabulapot yang berasal atau introduksi dari luar negeri.

Kenapa tidak mengusung buah lokal yang mulai menghilang seperti kecapi, buni dan lainnya? atau setidaknya buah persilangan seperti Jambu Biji Mutiara yang merupakan persilangan jambu biji taiwan dengan jambu biji lokal. Semoga hanya saya saja yang kurang memahami asal usul tabulapot tersebut meski diberi nama berbau luar negeri.

Buku ini layak dimasukan dalam daftar belanja buku. Pengetahuan praktisk tabulapot tidak saja memberikan kita kegiatan yang bermanfaat, hasil yang dapat dinikmati serta bermanfaat bagi kesehatan, tapi juga memberikan konstribusi bagi penghijauan dunia dengan cara yang cerdik.

------------------------------>
Suatu saat, mama saya bercerita tentang kisah yang didengar dari rekan bisnisnya di luar negeri. Dalam  perjalanan melalui laut, salah satu penumpang kapal terkena penyakit flu. Untuk mengindari penularan ia beristirahat di kabin dan mendapat layanan antar makanan ke kamar. 

Suatu ketika rekan bisnis mama saya menengok rekannya yang sakit sebagai wujud keperduliannya. Hal ini dilakukan karena nyaris seminggu ia tidak juga pulih. Tiap hari makanan masih diantar ke kamarnya.

Terjadi hal yang mengejutkan!
Sebenarnya kondisi si sakit sudah bisa dikatakan sembuh 90% hanya tingga pemulihan saja. Namun ia tetap bersikeras sakit karena makanan yang diantar spesial baginya. Ternyata agar si sakit cepat sembuh, salah satu makanan yang diantar adalah buah tropis asli, bukan buah kalengan seperti yang dimakan penumpang kapal lainnya. Hal ini merupakan kemewahan tersendiri bagi si sakit.

Dan duduknya mereka berdua menikmati sepiring pepaya manis! Sungguh luar biasa.
Bagi kita buah pepaya bukanlah suatu kemewahan tapi bagi orang asing, sungguh membahagiakan  memakan buah yang selama ini harus dibeli mahal. Apalagi jika mereka melihat buah-buah tersebut  bertebaran di sekitar mereka dengan harga murah.

Sama  terpesonanya rekan bisnis mama saya tersebut ketika menemukan pohon kelapa di halaman belakang rumah yang dikontraknya. Serasa mendapat durian runtuh ketika ia bisa menikmati buat kepala tersebut dengan gratis!

Kadang, butuh orang lain untuk menunjukkan betapa berharganya apa yang kita miliki.


























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar