Minggu, 29 Desember 2013

Beyonders: A World Without Heroes


Judul asli: Beyonders: A World Without Heroes
Penulis: Brandon Mull
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Tendy Yulianes
Penyelaras aksara: Putri Rosdiana
ISBN: 9789794337196
Halaman: 590 
Cetakan: I, November 2013
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 74.000

Persahabatan bisa disebabkan oleh banyak hal, salah satunya kesamaan nasib dan tujuan, seperti Jason dan Rachel.


Kisahnya tentang  seorang ABG Jason yang  terjatuh dalam kumbangan kuda nil dan mendadak muncul di dunia lain, Lyrian. Niat baiknya ingin menolong sesama disana malah membuatnya celaka. Dalam rangka mencari jalan pulang tanpa sengaja ia membuka sebuah buku terlarang.  Akibatnya  ia menjadi musuh penguasa yang terkenal kejam.

Kemungkinan mencari jalan kembali ke dunia asalnya hanya dengan mengalahkan sang penguasa dan memaksanya menyebutkan dimana portal menuju dunia asal Jason. Untuk mengalahkan sang penguasa, Maldor, Jason harus menyebutkan sebuah kata yang terdiri dari 6 silabel. Itu pun menurut hikayat hingga belum terbukti kebenarannya.    Bukan perjalanan yang mudah memang. Selain lokasi dimana silabel itu berada, pelafalannya juga cukup tidak mudah.

Jason hanya boleh mengingat silabel yang diperoleh tidak boleh mengucapkan atau mencatat. Mengingat kesibukannya menyelamatkan diri dari berbagai ancaman jelas hal ini tidak  mudah. Belum lagi dengan adanya pengkhinat diantara mereka serta mata-mata yang bertebaran.

Lyrian sangat berbeda dengan dunia kita. Berbagai macam ras ada di sana. Misalnya saja ada ras yang mampu memisahkan anggota tubuh namun tetap hidup. Persis kisah silat tanah air dimana sang jagoan akan tetap hidup walau tubuhnya dibelah asalkan kakinya masih menginjak bumi. Lalu ada ras Amar Kabal  yang  memiliki benih di tubuh bagian tertentu . Jika mereka tewas lalu benih mereka ditanam di tanah yang subur , tubuh mereka dapat hidup lagi dan tetap memiliki kenangan mereka . Mengajarkan kita untuk melestarikan lingkungan secara tak langsung.


Ceritanya termasuk seru juga walau kadang di beberapa bagian seakan tidak masuk akal. Misalnya pada bagian dua tokoh utama Jason dan Rachel bertempur melawan aneka musuh. Dua anak ABG yang tidak memiliki bekal pengetahuan bertempur bisa merobohkan satu sampai beberapa musuh, kebetulan dan keberuntungan yang sangat luar biasa.

Walau begitu entah kenapa saya merasa greget yang kurang dari seri ini. Entah karena merupakan buku pertama sehingga banyak hal yang masih mengambang, atau karena ditunjukan bagi pembaca remaja atau hal lainnya. Hal ini mungkin sesuai dengan pendapat sang penulis yang menyebutkan baru dibuku kedua bisa bisa memahami arah kisah. Seri ini terdiri dari tiga buku yaitu:  A World Without Heroes, Seeds of Rebellion,  serta Chasing the Prophecy
 
Beberapa bagian dari kisah ini akan mengingatkan kita pada seri Fablehaven. Memang tidak cukup banyak tapi bagi penikmat kisah Fablehaven saat membaca beberapa bagian pada buku ini akan langsung bisa merasakan kemiripannya. Seperti penikmat kisah Sapta Siaga saat membaca Lima Sekawan.

Kisah tentang tanaman Anggrek dengan warna ungu memikat bermanfaat untuk mengusir aneka serangga mengingatkan kita akan tanaman Lavender yang digunakan untuk mengusir nyamuk. Mahkota dari anggrek itu jika diremas akan mengeluarkan semacam nektar. Dengan mengisap nektar tersebut akan membuat kita aman dari gigitan dan sengatan serangga. Sedangkan pada Lavender cukup mengoleskan bunga pada tubuh.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan silabel sebagai suku kata.
Sedangkan pada http://copiikhan.wordpress.com/2010/03/12/suku-kata-silabel/, silabel adalah Suku kata disebut juga silabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya meliputi satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel mempunyai puncak kenyaringan (sonoritas)yang atuh pada vokal. http://kikibelajar.blogspot.com/2010/12/silabelsuku-kata.html menyebutkan, "Silabel (suku kata), Suku kata disebut juga silabel,silabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya meliputi satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel mempunyai puncak kenyaringan (sonoritas)yang utuh pada vokal. Silabel atau suku kata ialah unit pembentuk kata yang tersusun dari satu fonem atau urutan fonem. Silabel dalam bahasa yunaninya (sullabe )

Sekedar penasaran kenapa tidak diterjemahkan menjadi suku kata saja, hal yang lebih sering diucapkan dari pada silabel. Mungkinkah agar berkesan seru dan bukan kisah yang biasa?

Kover yang dipilih sepertinya merupakan ciri buku-buku Brandol Mull. Dengan melihat sekilas saya langsung teringat pada seri Fablehaven. Padahal jika dilihat secara seksama singgasana yang kosong dan penuh dengan sarang laba-laba menandakan sudah lama  tidak ada penguasa yang duduk disana. Karena memang tidak ada yang berkuasa atau karena hal lainkah? Kover yang langsung menarik perhatian.

Sinopsis yang ada bagian belakang memang cukup menarik tapi kurang mencerminkan kisah yang ada dalam buku. Jika diperuntukan untuk mengisahkan seluruh kisah maka sinopsis tersebut cukup mewakili, tapi jika hanya untuk kisah ddalam buku satu sepertinya kurang.

Sebelum membaca mari simak http://youtu.be/MMCWz4iR2Es

Gambar dari"

 http://whatscookingamerica.net/LavenderBudsm.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar