Senin, 23 Desember 2013

Athirah, Perempuan Berhati Surga


Penulis: Alberthiene Endah
Penggagas: M. Deden Ridwan
Penyelaras Aksara: Nunung Wiyati, A.B Khoir, Lani Rachma
ISBN: 978602781667
Halaman: 404
Cetakan: I-Desember 2013
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 69.000

Rasa sakit bisa menjadi kekuatan yang maha dasyat untuk melakukan hal-hal hebat.  Lebih baik bangkit dan berkompromi dengan rasa sakit yang ada dari pada hanya duduk diam dalam gelap.  Jadikan rasa sakit itu sumber kekuatan untuk bangkit dan berkarya.  Mudah mengungkapkan dari pada menjalankan,  begitulah hidup. Memang butuh waktu untuk itu. Tapi tidak ada yang tak mungkin dan perlu ditakuti selama kita sabar menjalani hidup.

Pesan itu yang saya tangkap dari buku Athirah setebal 404 halaman juga penuturan buah hati tokoh dalam buku ini, Jusuf Kalla. Buku ini mengisahkan tentang sosok Athirah, ibunda JK. Bagaimana sikapnya menjalani hidup, membesarkan anak-anak, menghadapi poligami hingga menjadi pengusaha sukses.

Peluncuran buku dilakukan bertepatan pada Hari Ibu, merupakan saat yang tepat. Selain merupakan wujud kasih sayang seorang JK pada ibundanya juga mengajak kita untuk meluangkan waktu sesaat guna mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih pada pengorbanan seorang ibu. Pengorbanan yang dilakukan dengan iklas. Kisah tentang ibu juga diungkapkan oleh Irfan Hakim dan Ustadz Ahmad Al-Habsy. Kutipan dari buku yang dibacakan oleh JK membuat banyak mata berkaca-kaca haru.


Seingat saya pernah ada buku yang mengupas tentang sosok ibunda JK. Bedanya dalam buku ini mengambil sudut pandang JK sebagai anak laki-laki tertua terhadap ibunya. Bagaimana ia menjalani masa remaja dengan menemani ibunda sepanjang saat hingga bagaimana seorang JK jatuh cinta. Porsi kisah terbesar memang diberikan pada sosok ibunda JK.

Banyak sudah yang mengetahui peranan ayah JK dalam hal bisnis. Tapi tak banyak yang tahu peranan ibu dalam kehidupan JK. Tidak hanya sebagai sosok yang melahirkan dan membesarkan namun juga sebagai panutan dalam berniaga serta berumah tangga kelak. 

Kisah ini dimulai dengan adegan JK dan istri di Makam Arab  Makasar, berziarah ke makam ibunda tercinta. Bagi seorang JK sang ibu tidak pernah pergi. Beliau selalu ada, berjalan bersama. Energinya akan selalu ada menyertai sepanjang hidup.   "Ibu adalah sosok yang luar biasa bagi saya. Pologami tidak membuatnya menjadi lemah, tapi menjadikannya sosok yang lebih kuat dalam mengarungi hidup."

Athirah, berarti anak yang memuliakan,  lahir di  Kampung Bukaka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada tahun 1924. Kecantikan ibunya, Kerra memikat hati Kepala Kampung sekaligus mantan penasehat Kerajaan Bone, Muhammad. Pernikahan mereka diselenggarakan secara sederhana mengingat status Kerra sebagai istri keempat. Athirah lahir dari dari rahim kesabaran. Kelak kesabaran pula yang membuatnya mampu bertahan dari segala cobaan. 


Wajah Athirah yang rupawan dengan kulit putih seperti kapas, ramputnya hitam pekat dan mengilat  meluluhkan hati Haji Kalla. Mereka menikah saat usia Athirah tiga belas tahun. Usia muda untuk menikah saat ini, namun dahulu merupakan hal yang wajar jika seorang anak gadis menikah diusia belia.
 
Buah cinta mereka lahir beriring waktu. Kehidupan rumah tangga mereka berjalan dengan indahnya. Hingga tahun 1955, sebuah prahara menerjang keluarga kecil yang bahagia itu. Berita Bapak jatuh cinta lagi dengan perempuan lain begitu banyak berhembus di luar sana. Perubahan sikapnya menunjukan hal tersebut. Kabarnya lagi tambahan hatinya adalah seorang gadis kemungkinan keturunan Arab, karena memiliki hidung mancung. Usianya sudah bisa dipastikan lebih muda dari ibunda JK. 

Tahun 1956 Bapak menikah dan berbulan madu di Jakarta. Emma, panggilan JK untuk ibundanya,  hanya diam dan menjalankan seluruh aktivitasnya tanpa ada perubahan yang mendasar. Matanyalah yang berbicara banyak. Sudah lama ia merasakan ada yang berubah pada Bapak, tapi semuanya dihadapi dengan sabar. 

Kesepakatan, tepatnya keputusan sudah diambil Bapak. Bapak akan tidur dan lebih banyak berada di rumah istri keduanya. Tapi Bapak berjanji, pada pagi dimulai dari Sholat Subuh napasnya ada di rumah tempat Emma dan JK berada. Lalu pada saat Shalat Magrib, diteruskan dengan bersantap malam sejenak. 


Sebuah ritual menyiapkan hidangan terbaik mulai dilakukan di rumah itu. Tak ada yang boleh menyentuh masakan Emma, hingga Bapak selesai bersantap. Setelah Bapak selesai baru seluruh anak diperbolehkan menyantap hidangan yang ada. Semuanya bersemangat menyantap apa yang semula disajikan untuk Bapak karena biasanya pastilah hidangan yang paling istimewa. Bapak tidak pernah menginap. Mata Emma akan berbinar bahagia saat menyiapkan hidangan istimewa dan menata meja. Sinar itu akan redup saat Emma membereskan sisa makanan dan Bapak meninggalkan rumah menuju "rumah-nya yang lain"

Walau terluka, tak pernah sekalipun Emma memperlihatkan kesedihannya di depan anak-anak. Untuk mereka Emma selalu ceria. Emma juga tidak pernah membuat anak-anak mempertanyakan atau membenci sosok Bapak. Apa yang terjadi adalah urusan Emma dan Bapak. Anak-anak harus tetap menghormati Bapak sebagai orang tua.


Perempuan yang terluka lebih berbahaya dari pada singa, beberapa kali saya mendengar ungkapan itu.  Begitu juga dengan Emma. Usia Emma masih tergolong muda saat mengalami penderitaan dimadu. Guna mengalihkan pikiran dari Bapak, Emma memutuskan untuk berjualan kain sutra. Bisnis angkutan Cahaya Bone memang cukup maju dan butuh penanganan serius, tapi tidak cukup  untuk membuat Emma mengisi waktu luangnya dengan hal-hal kreatif. Emma sudah berkompromi dengan keadaan. Keadaan tidak bisa diubah, Emma harus menerima dan bangkit mengisi hidupnya atau terpuruk dan kalah. Emma mengalihkan energi dari luka hatinya menjadi sesuatu yang berguna, membangun usahanya sendiri.

Usaha Emma maju dengan pesat. Sungguh luar biasa! 
Walau hanya bersekolah hingga sekolah dasar tapi cara Emma menjalankan usahanya sungguh luar biasa. Dari sisi pembukuan Emma sudah  rapi. Emma melakukan pembukuan dengan dua tipe, Bahasa Indonesia dengan huruf latin tentunya serta Lontara Bugis. Setiap selesai Sholat Subuh Emma melakukan pencatatan, sebelum tidur Emma akan menghitung penghasilan dan menyimpannya dalam tempat penyimpanan uang. Emma belajar dari Bapak tentang pengetahuan dasar bagaimana mengurus usaha, sisanya naluri dan semangatnya yang menempanya menjadi handal.
Setiap pagi kain-kain ditata dengan baik. Ruang tamu ditata sedemikian rupa seakan ruang pamer. Pembeli dilayani dengan ramah. Kain-kain disampirkan di bahunya, di kursi atau dimana saja Emma mau sambil bercerita segala sesuatu yang terkait dengan kain tersebut. Aneka makanan dan minuman khas disuguhkan. Tidak ada nada memaksa pembeli, Emma membiarkan setiap pembeli memilih dan memutuskan mana yang paling cocok bagi dirinya. Emma melayani pembeli dengan sentuhan layaknya seorang marketing kelas dunia. Pelanggannya tidak hanya dari Makassar,  sampai artis terkenal dari Jakarta juga membeli kain dari Emma.

Emma  melebarkan usahanya, belakangan berlian juga menjadi sasaran usaha Emma. Aneka berlian cantik menjadi dagangannya. Matanya jeli melihat mana produk yang berkelas tinggi. Emas batangan juga bertambah dalam tempat penyimpanan Emma seiring dengan kemajuan pesatnya dalam menjalankan usaha. Emas-emas itu kelak yang tidak hanya berguna membantu  suaminya namun juga membantu JK membangun usahanya.

Emma tetaplah seorang ibu dengan kasih sayang tak terhingga yang dilimpahkan pada anak-anaknya, meskipun usahanya sukses. Tidak ada yang berubah dari kepribadian Emma. Waktu membuat Emma lebih bisa menyikapi keputusan Bapak untuk berpoligami. Dengan bersabar dan iklas segala hal menjad lebih mudah. Sesuatu yang tak perlu ditakutkan jika memahami makna kesabaran.


Ternyata, kisah perkawinan kedua orang tua JK berdampak pada bagaimana ia memandang seorang perempuan sebagai teman hidupnya. Pengalaman pahit sang nenek lalu ibunya membuatnya berhati-hati. Pembaca juga akan diisuguhi kisah menawan tentang bagaimana seorang JK memperjuangkan kisah cintanya. Ternyata sejak dulu JK sudah banyak akal.


Buku ini menunjukan sekali bagaimana besarnya pengaruh seorang ibu terhadap diri JK. Aneka nasehat kehidupan juga banyak disajikan dalam buku ini. Kisah yang diutarakan dengan halus menjadi kontras saat adegan JK bercanda dengan sahabat menggunakan kata Setan. Memang hanya makian bercanda tapi mengikis sedikit kesan kaku yang ada. Sementara itu uraian mengenai sosok JK sendiri memang mengambil porsi yang tidak besar. Nyaris keseluruhan isi buku ini memang berpusat pada Emma dan bagaimana pengaruhnya pada sosok JK, bukan sosok JK secara individu.
 
Pembaca juga akan dimanjakan dengan kisah mengenai alam Makasar yang menawan. Pantainya yang indah serta beberapa tempat lainnya. Bagaimana adat istiadat disana juga diuraikan walau hanya sekilas. Pembaca tentunya akan lebih memahami sosok Emma jika diberikan gambaran mengenai bagaimana adat terhadap urusan poligami. Juga memahami betapa berat perjuangan JK menghapus anggapan buruk ayah kekasihnya terhadap kaumnya yang sering dituduh tukang kawin.

Beberapa adegan yang menunjukkan kondisi terpuruk Emma. Hal menunjukkan walau bagaimana Emma adalah seorang manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kekurangan yang dikisahkan dalam buku ini  justru memberi nilai lebih pada sosok Emma. Sebagai seorang wanita Emma berusaha mempertahankan rumah tangganya dan mencari tahu apa yang menyebabkan suaminya menikah lagi walau mengaku mencintainya dengan sepenuh hati. Kadang caranya yang dilakukan tidak pada tempatnya. Tapi itulah wanita yang terluka.


Aneka panganan khas juga disebutkan dalam kisah ini. Banyak sekali bagian dari kisah ini yang menyinggung soal makan. Dari mulai ritual   sarapan dan makan  malam Bapak, pembeli kain yang dijamu aneka panganan, adegan JK sedang menikmati masakan khan hingga saat kencannya diiringi makan. Seakan ada  pesan tersembunyi, walau bagaimana hebatnya Emma, ia tetaplah seorang perempuan yang harus mengikuti kodratnya, memasak makanan lezat bagi keluarga.

Secara garis besar, buku ini cukup menarik dan memberikan wawasan tambahan mengenai perjuangan seorang ibu dan sosok di balik kesuksesan seorang JK.  Layak dibaca oleh para generasi muda serta dipetik manfaatnya. Diharapkan kaum muda lebih menghormati ibu dan mengambil tauladan.


JK sempat mengungkapkan ucapan terima kasih kepada istrinya karena telah menjadi sahabat berbagi bagi sang ibu. Sering mereka berdua bercakap-cakap sambil berbaring dengan santai. Sayangnya proses kedekatan tersebut kurang diuraikan sehingga gambaran seberapa dekat keduanya kurang terlihat selain ungkapan sosok Emma sangat menyayangi. Sikap Emma terhadap para menantu juga tidak terlihat. Padahal sosok Emma yang begitu penyayang pasti akan membuat para menantu memiliki "Ibu" bukannya mertua.


Banyak sekali hal tentang poligami yang disinggung dalam buku ini. Dalam  http://apple-mujahidahislam.blogspot.com/ Poligami dari sudut bahasa adalah menghimpunkan berbilang isteri dalam satu masa. Mengikut Kamus Dewan, poligami bererti amalan beristeri lebih daripada seorang pada masa yang sama. Dalam bahsa arab, poligami disebut Ta’addad al-Zawjatتعدد الزوجات . Asal perkataan Ta’addad (تعدد) bererti bilangan, manakala perkataan al zawjat (الزوجات) diambil dari perkataan al-zawjat (الزوجة) yang bererti isteri. Dua perkataan tersebut apabila digabungkan membawa arti isteri yang banyak atau berbilang-bilang. Maka poligani bolehlah dimaksudkan sebagai berkahwin lebih daripada seorang yaitu lawan kepada perkataan monogamy yang membawa erti berkahwin dengan seorang wanita sahaja. Ia juga berlawanan dengan perkataan poliandri iaitu amalan bersuami lebih daripada seorang dalam satu-satu masa

Sementara http://islamquest.net Islam membolehkan pria memiliki empat istri (poligami) secara permanen (daim) pada waktu yang bersamaan. Poligami, pada selain kemenakan dari saudara dan saudari istri, tidak memerlukan izin istri pertama. Namun apabila wanita dalam proses akad nikah mensyaratkan bahwa suaminya tidak boleh menikah dengan wanita lain, menurut sebagian juris (fakih), maka syarat ini sah dan suami tidak boleh melanggar syarat ini. Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan terhadap Keluarga (dalam Republik Islam Iran), pria tidak boleh memiliki wanita lain, ketika ia telah beristri secara permanan, kecuali dengan syarat-syarat khusus.

Kisah mengenai Emma dalam buku ini berakhir dengan janji JK untuk tidak akan pernah melukai hati  belahan jiwanya. Cukup sudah pengalaman yang dialaminya. "Aku memang bukan suami yang sempurna. Tapi satu hal yang bisa kujamin, aku tak akan pernah melukai hatimu. Sampai kapan pun...."

Kesetiaan.....,
Sesuatu yang tidak hanya ada saat kau dihadapkan pada sesuatu yang membuatmu bahagia.  Tapi, juga saat kau berhadapan dengan sesuatu yang membuatmu berat....














2 komentar:

  1. makasih mba atas reviewnya.
    baguuuuusss banget cara ngereviewnya.
    baru baca reviewnya saja saya sudah terharu. :-)

    BalasHapus