Kamis, 19 Desember 2013

Kejutan yang Menakjudkan



Judul: Wonderstruck
Penulis: : Brian Selznick
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penyunting: Dhewiberta
Perancang Sampul: Brian Selznick
Ilustrasi Isi: Brian Selznick
ISBN: 978-979-433-685-4
Halaman: 646
Harga: Rp 79.000


Gambar berbicara banyak
BIRU!!!!!!

Buku ini sungguh menggugah mata. Bukannya hanya karena sampulnya yang berwarna biru, atau nama pengarangnya. Bahkan saya yang paling tidak nyaman begitu ada petir atau guntur bisa tertarik melihat tanda gambar  yang bisa diasumsikan begitu. Saat membeli saya memang belum tahu apakah buku ini menarik atau tidak dari sisi kisah. Tapi pengalaman dari buku yang lalu, kurang lebih tidak mengecewakan. Tak perlu menunggu kiriman untuk direview. Dengan kesadaran penuh langsung menyodorkan dua judul buku ini ke mbak petugas kasir.

Pelajaran dari pembuatan Hugo jadi bahan buku baru bagi penulis, maka terciptalah buku kedua ini. Buku ini terdiri dari tiga bagian plus ucapan terima kasih dan daftar pusaka yang lumayan panjang. Terbukti penulis melakukan riset yang mendalam sebelum menulis buku ini. Rincian menjadi perhatian khusus sang penulis. 

Dibandingkan dengan buku pertama  buku ini menawarkan kisah yang berbeda. Ada dua kisah dengan seting yang berbeda. Kisah yang pertama adalah mengenai Ben Wilson  seorang bocah  yang lahir tuli di salah satu telinganya. Ia tinggal di Gunflint Lake, Minnesota pada Juni 1977.  Elaine, ibu Ben seorang pustakawin kota yang meninggal dalam kecelakaan mobil beberapa waktu lalu. Versi kisah Ben disampaikan dengan memadukan antara kata-kata dan gambar.

Suatu peristiwa terkait petir membuat Ben kehilangan sisa kemampuan mendengarnya. Ia 100 % tidak mampu mendengar. Penulis seakan memberikan pesan kepada pembaca untuk tidak menggunakan telepon saat ada petir karena bisa mengakibatkan bahaya. Petir merupakan arus listrik yang sangat tiba-tiba dan aliran arus terjadi pada permukaan benda konduktor seperti daging. Mengingatkan pada kisah Tintin: Penculikan Calculus, dimana ada adegan Kapten Haddock  tersambar petir saat menerima telepon yang salah sambung.

Kisah yang lain adalah mengenai Rose dengan seting Hoboken , New Jersey  pada Oktober 1927. Lahir dari seorang artis terkenal Lillian Mayhew namun dengan kondisi tuli membuatnya lebih sering "disembunyikan" dalam rumah. Merana karena rindu pada sang ibu, Rose melarikan diri ke New York. Bukan sambutan hangat yang diperoleh namun justru perintah tegas untuk pulang ke ayahnya. Orang tua Rose sudah bercerai. Ia memiliki seorang kakak laki-laki. Kisah Rose sepenuhnya berupa gambar.

Kisah Rose dan Ben awalnya berjalan sendiri-sendiri. Dengan seting yang berjauhan  membuat pembaca menduga-duga apa hubungan hubungan keduanya. Beberapa kesamaan memang ada, sepertinya sama-sama mengunjungi American Museum of Natural History tapi tidak cukup menjelaskan hubungan keduanya. Emosi pembaca diaduk-aduk. Pada  akhirnya kedua kisah tersebut terjalin dengan sebuah benang merah yang mengharukan. Akhir yang membahagiakan.American Museum of Natural History benar-benar ada.  Situsnya adalah http://www.amnh.org/

Jangan kuatir ini bukan spoiler, karena semua ada di  http://www.youtube.com/watch?v=9K2YaVxeTiM.  Jangan lupa mengunjungi http://www.wonderstruckthebook.com/home.htm Ada tulisan dari para pakar mengenai hal-hal yang terkait dalam buku ini. Ada tulisan berjudul
Lightning Safety dari Mary Ann Cooper, MD (seorang, retired professor of emergency medicine at the University of Illinois at Chicago), The History of Deaf Culture and Sign Language dari Carol Padden and Tom Humphries, A Brief History of Natural History Museums oleh  David Serlin (penulis, sejarawan dan  seorang profesor  komunikasi dari  the University of California, San Diego)

Saya sangat menikmati gambar yang disajikan, terutama pada bagian kisah Rose. Gambar yang dibuat dari pinsil (sepertinya) terlihat begitu rinci dan rumit.  Detail terlihat dibanyak sisi. Mengingat bagian ini dibuat tanpa kata-kata, maka setiap detail pada gambarlah yang berbicara. Mimik khawatir Rose terlihat begitu jelas tanpa perlu ada ungkapan kata. Ada gambar yang dibuat seakan membesar, efek zooming. Tapi ada juga yang dibuat kian mengerucut. Menawan. Tanpa rangkaian kata, penulis juga mampu bercerita dengan lugas. 

Sudah beberapa kali membaca, imajinasi saya jadi berkembang. Mungkin saja apa yang saya pandang dan artikan dari visualisasi itu berbeda dengan yang ditangkap oleh orang lain. Walau begitu kesan utama yang ingin disampaikan oleh penulis bisa ditangkap oleh semua yang melihat gambar itu.

Pembaca akan merasakan kesedihan Ben akibat ditinggal ibunya. Sakit  hati Rose akan penolakan ibunya yang seorang artis terkenal. Kegalauan hati Ben akan siapakah ayahnya. Saat bahagia Ben bertemu dengan keluarga. Kenyamanan Rose saat tidur. Dengan kisah yang silih berganti, pembaca diajak menjadi Ben kemudian berganti menjadi Rose dalam waktu singkat.

Pada beberapa gambar berisi tulisan, namun karena menghabiskan dua halaman bersebelahan membuat sedikit susah untuk  membaca kalimat yang ditulis. Begitu juga dengan ilustrasi yang berada di tengah sambungan buku. Penulis mungkin ingin membuat kesan lebih dengan menggunakan lembaran lebar, sayangnya saat selesai dicetak justru sedikit mengurangi kenikmati. 

Hal-hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari buku ini, kecuali soal terhiburnya kita dengan gambar yang menawan adalah:
1. Kita tidak pernah tahu kapan cinta datang. Saat cinta datang akan membawa kekuatan bagi banyak pihak.
2. Saat terpuruk kita akan benar-benar tahu siapakah yang menyayangi kita dengan tulus.
3. Kekurangan bukan untuk disembunyikan tapi harus dihadapi dan dicarikan solusinya bagi banyak pihak.

Buat buku yang satu ini tidak ada komentar dan review yang layak.
NIKMATI SAJA SENDIRI ^_^

----->
Pada http://www.wonderstruckthebook.com/home.htm terdapat sebuah aplikasi   mengenai bahasa isyarat. Kita bisa memasukan nama depan kita lalu akan terlihat bagaimana bahasa isyaratnya. 

Menarik!
Tapi saya sedikit terkejut begitu melihat hasilnya. Sepertinya berbeda dengan yang pernah saya coba disebuah kegiatan. Hasil berkelana di mbah google, saya menemukan adanya berbagai macam bahasa isyarat.

Menurut Wikipedia, Bahasa isyarat adalah  bahasa yang mengutamakan omunikasi manual, bahasa tubuh, dan gerak bibir, bukannya suara, untuk berkomunikasi.  Kaum  tunarungu adalah kelompok utama yang menggunakan bahasa ini, biasanya dengan mengkombinasikan bentuk  tangan, orientasi dan gerak tangan, lengan dan tubuh, serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan pikiran mereka.
Bertentangan dengan pendapat banyak orang, pada kenyataannya belum ada bahasa isyarat internasional yang sukses diterapkan. Bahasa isyarat unik dalam jenisnya di setiap negara. Bahasa isyarat bisa saja berbeda di negara-negara yang berbahasa sama. Contohnya, Amerika Serikat dan Inggris meskipun memiliki bahasa tertulis yang sama, memiliki bahasa isyarat yang sama sekali berbeda (American Sign Language dan British Sign Language). Hal yang sebaliknya juga berlaku. Ada negara-negara yang memiliki bahasa tertulis yang berbeda (contoh: Inggris dengan Spanyol), namun menggunakan bahasa isyarat yang sama.
Untuk Indonesia sistem yang sekarang umum digunakan ada dua sistem adalah BISINDO (Berkenalan Dengan Sistem Isyarat Indonesia) yang dikembangkan oleh  Tuna Rungu sendiri melalui GERKATIN (Gerakan Kesejahteraan Tuna rungu Indonesia) danSistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) hasil rekayasa orang normal bukan hasil dariTuna Rungusendiri yang sama dengan bahasa isyarat America (ASL - American Sign Language). Jadi saya sarankan memakai sistem isyarat buatan tuna rungu sendiri adalah BISINDO


Pantas............
Ternyata sistem buat namaku itu ala Amerika tho. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar