Kamis, 06 Oktober 2016

2016 #110: Tiga Dunia

Penulis: Rama Nugraha
Desain & Layout: Letterplatters
Halaman: 202
Cetakan: Pertama-2016
Rating:3/5

Kejahatan  itu relatif
Keseimbangan itu dibutuhkan
Kami Persaudaraan Royan

Satu lagi buku yang berjodoh dengan cara yang unik. Awalnya saya hanya ikut meramaikan suasana di booth BBI saat IIBF 2016 yang lalu. Sekedar iseng, saya sliweran ke tetangga, sesama booth komunitas. Tak terduga, bertemu dengan penulis buku ini. Sekedar bertegur sapa hingga menjadi pembicaraan serius dan diakhiri dengan buntelan nan menawan ini.

Pertama, sebelum membuat ulasan, saya harus memberikan acungan jempol pada sang penulis. Bukan! Bukan karena saya mendapat buntelan buku ini, lebih karena sikapnya yang mau menerima kritik sepedas apa pun. Kritik yang diberikan tentunya dengan beralasan bukan sekedar menjatuhkan. Tetap saja agak jarang penulis yang rela dan iklas diberikan komen pedas. Semoga sikap rendah hati dan ingin terus belajar ini bisa memberikan hasil yang menggembirakan.

Mari kita mulai.....

Kisah dalam buku ini adalah mengenai sosok seorang anak laki-laki, Datan Woudward. Ia merupakan sosok yang unik karena merupakan seorang Ingra, campuran dari orang Haedin dan Marra. Sehari-hari Datan tinggal bersama ayahnya di rumah kecil nomor 21 di jalan Paling Ujung yang terletak di luar perbatasan negeri Tomera. 

Sebentar, mendadak saya lupa kenapa ia hanya tinggal dengan ayah dan bibi yang berkunjung. Apakah ada bagian yang menyebutkan tentang mengapa si ibu tidak bisa tinggal bersama mereka ya? Duh lupa saya. 

Khusus untuk buku ini saya mereview dengan cara agak berbeda. Membaca satu kali tanpa memberi tanda pada bagian yang penting, langsung membuat coretan singkat ini. Kecuali untuk kata pembuka di bagian paling atas. Maklumlah jika ada hal yang terlewat.

Kehidupan berjalan dengan baik hingga suatu saat Dastan mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pencuri. Tidak hanya itu, ia juga bertemu dengan salah seorang pencuri yang memiliki ilmu hebat hingga mampu menyelamatkan ia dan ayahnya dari kemarahan orang di pasar malam. Datan yang merasa tingkah polah wanita tersebut hebat, jadi memiliki keinginan untuk bergabung dengan Persaudaraan Royan, persaudaraan bagi kaum pencuri.

Pembaca akan dibawa mengikuti upaya Datan untuk memenuhi impiannya. Sang ayah yang semula melarang bahkan menolak memberi tahu tentang Persaudaraan Royan  belakangan justru menjadi pendukung utama. Ternyata meski sudah mendapat dukungan ayah, untuk melatih diri agar bisa bergabung dengan persaudaraan bukan hal yang mudah. Banyak hal yang harus dilakukan oleh Datan untuk mewujudkan impiannya.

Secara garis besar, buku ini berpotensi menjadi kisah yang menarik. Ide kisah serta cara penyampaian lumayan berbeda. Memang masih harus dibenahi pada alur, mengingat ada beberapa bagian yang kurang pas. Dukungan seorang editor terasa sekali diperlukan jika ingin mendapatkan karya yang lebih baik. 

Saat awal membaca, saya harus beberapa kali mengulang bagian awal agar mendapat dasar yang kuat. Sebagai contoh disebutkan bahwa orang Marra merupakan penguasa air. Sedangkan Haedin merupakan perenung. Lalu disebutkan mengenai Urgut tanpa disebutkan apakah itu Urgut. Baru di belakang dijelaskan. Begitu juga tentang Tomera, apa pula itu?

Akan lebih membantu pembaca menikmati kisah ini jika pada bagian awal sudah diberikan penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi setting kisah. Misalnya menjelaskan bahwa Tomera adalah sebuah negara dan seterusnya.

Proses Datan untuk mendaftar menjadi anggota Royan sepertinya terlalu mudah. Meski cara yang ia lakukan untuk mendaftar atas saran sang ayah sudah tidak dipergunakan lagi, namun bagi perkumpulan yang eksekutif seperti itu harusnya tak mudah bagi tim panitia penerima anggota baru untuk percaya akan sosok seorang pemuda yang ingin mendaftar. Kurang greget menurut saya.

Bagian awal yang mengisahkan bagaimana si pemimpin dikhianati oleh orang kepercayaannya, membuat saya langsung teringat pada salah satu kisah Dan Brown. Kadang kita memang tidak bisa percaya pada orang terdekat sekali pun.

Sinopsis yang ada di bagian belakang teramat singkat. Memang mengusik urat penasaran, tapi tidak bisa memberikan gambaran apa isi buku ini. Bagi saya yang sering mengikuti insting, buku ini justru akan berada dalam tas belanjaan saya karena unsur sinopsis yang membuat rasa penasaran plus kover yang tidak biasa. Tapi bagi pembaca yang tidak ingin coba-coba, hal ini bisa menjadi penyebab batal membeli buku.

Tulisan 01 Si Pencuri  pada kover bisa membuat saya mengurungkan niat membeli. Mungkin juga  calon pembaca lainnya merasa ragu untuk membaca, mengingat belakangan  sering kali sebuah kisah serial terbit tidak tuntas. Jika memang sudah diniatkan untuk menjadi kisah bersambung, ada baiknya memberikan semacam kisikan mengenai buku selanjutnya. Dengan membocorkan beberapa halaman buku kedua, atau memperlihatkan kover buku bisa dijadikan bahan pertimbangan.

Beberapa kata pergaulan seperti sumpek, ngerumpi kegatelan bisa ditemukan dalam buku ini. Ada baiknya penulis mempertimbangkan bahasa baku tapi tidak berkesan kaku saat menulis kisah. Bahasa pergaulan memang enak diucapkan tapi kadang menjadi agak kurang pas jika diubah menjadi tulisan.

Saya menemukan ada beberapa lembar halaman kosong antara hal 127- 128 sebanyak 6 halaman. Semula saya mengira ini sengaja dibuat seperti buku Host karangan Stephenie Meyer yang terbit sekitar tahun 2008.  Dalam buku ini,beberapa lembar kosong dipergunakan untuk menimbulkan kesan lamanya waktu berjalan. Tapi sepertinya pada buku ini ada kesalahan tata letak. 

Meski ini buku yang diterbitkan secara indi, bukan berarti mutu harus kurang. Sepertinya penulis masih harus lebih memperluas pergaulan guna mendapat informasi mengenai tempat cetak yang menawarkan harga bersahabat namun kualitas prima. Buku ini sungguh menyedihkan urusan tintanya. Beberapa bagian sering tidak jelas. 

Saran terakhir, bacalah banyak buku agar bisa mendapat referensi yang beragam. Dari sisi alur, gaya bercerita, pemilihan kata hingga cara mengugah emosi pembaca. Semuanya bisa diperoleh dengan banyak latihan dan banyak membaca. Diskusi dengan beberapa sahabat mengenai karya pribadi sangat dianjurkan. Asalkan tidak menuntut untuk selalu mendapatkan gula, kadang cabai malah lebih bagus bagi kesuksesan.

Jika ada yang ingin berdiskusi dengan penulis bisa melalui email rama.snugraha@yandex.com atau berkicau ke @rama_snugraha.  Segala kritik dan saran membangun tentunya akan diterima dengan lapang hati. Atau tertarik ingin memiliki buku ini? Bisa juga langsung menghubungi penulis.

Selalulah berusaha meraih mimpi, karena dengan begitu hidup menjadi lebih bermakna ^_^

1 komentar:

  1. Fantasi ya? Nama-nama tempatnya aneh dan kadang bagi pecinta genre fantasi amatir akan sangat tidak dipilih. Tapi semoga saja buku keduanya ada perbaikan besar. hehe :)

    BalasHapus