Rabu, 05 Oktober 2016

2016 #109: Mengenal Pasola


Penulis: Drs Munanjar Widyatmika
             Prof. dr. Hudiono
Editor: Semiarto A. Purwanto
ISBN: 9786021749739
Halaman: 182
Cetakan: Pertama-2013
Penerbit: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya
              Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Rating: 3/5

Satu lagi buku dari Perpustakaan Aldo Zirkov. Kali ini saya mendapat buku tentang Pasola. Sebetulnya buku ini sudah agak lama tersimpan eh tertimbun di rak. Ketika di IIBF kemarin ada buku serupa dibagikan untuk umum, baru saya ingat akan keberadaan buku ini. Begitulah kesalahan seorang penimbun, baru sadar akan keberadaan sebuah buku ketika melihat buku serupa.

Pasola merupakan rangkaian upacara tradisi khas orang Sumba di Propinsi Nusa Tenggara Timur untuk meminta berkah kesuburan lahan pertanian pada para leluhur atau marapu. Tepatnya di Sumba bagian barat yang dilangsungkan di wilayah Kodi, Gaura, Lamboya pada bulan Februari dan di Wanokaka pada bulan Maret setiap tahun.

Kata Pasola berasal dari kata "sola" atau "hola" bermakna lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. 

Secara keseluruhan nilai-nilai dalam pasola bukan bersifat tunggal tetapi berkaitan dengan nilai yang lain. Mengingat rangkaian serta waktu upacara yang lumayan panjang, bisa dikatakan ini merupakan pesta rakyat. 

Seiring dengan perkembangan zaman,  nilai-nilai
Sudah mulai luntur. Banyak yang tidak menjalankan sesuai dengan aturan. Agar upacara ini tetap bertahan, perlu dibuat semacam standarisasi pelaksanaan Pasola dari segala sisi. Sehingga remaja dan kaum muda masih bisa melaksanakan dengan baik sesuai dengan 

Beberapa hal yang mungkin dianggap sepele tapi mengurangi ketepatan Pasola antara lain tempat penyelenggaraan dipergunakan untuk temoat latihan kuda, banyak yang memakai baju dan kain berwarna merah padahal selama ini hal tersebut tidak dilakukan,  kuda yang dipergunakan dalam arena kadang tidak diberi hiasan juga pelana, jenisnya juga bukan kuda pacu tetapi juga kuda betina, kayu tongkat tidak lagi berwarna-warni hiasannya.

Penulisan buku ini diharapkan mampu menjadi salah satu mata rantai penanaman nilai-nilai pada generasi muda yang mulai melemah akibat masuknya budaya dari luar. Oleh karenanya perlu disikapi  dengan arif dan bijaksana  dalam upaya meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap  nilai kearifan lokal melalui proses pembinaan berkelanjutan.

Mesti terdapat lumayan typo dalam bentuk salah ketik maupun tata bahasa, hal tersebut tidak mengurangi isi buku yang sangat bermanfaat. Bisa dipahami, para penulis adalah peneliti bukan pakar bahasa Indonesia atau editor.

Seandainya setiap kebudayaan lokal dibuatkan buku seperti ini, sungguh luar biasa. Bakalan tidak cukup lemari buku saya. Tapi dengan begitu makna buku adalah jendela dunia benar adanya. Saya bisa tahu sekelumit tentang Pasola tanpa harus pergi ke Sumba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar