Minggu, 09 Oktober 2016

2016 #112: Pesona Solo Nan Menawan


Penulis: Anita Chairul Tanjung
ISBN: 6020300013
ISBN-13: 9786020300016
Halaman: 189
Cetakan: Pertama-2013
Penerbit: Gramedia Pustaka
Rating: 3.5/5



Menemukan buku incaran dengan harga murah sungguh kebanggaan tersendiri. Isi buku tidak akan basi, sehingga bagi saya tidak masalah membeli sebuah buku sekarang atau kelak. Buku Pesona Solo sudah lama menjadi salah satu buku idaman saya. Tapi harganya yang lumayan membuat saya terpaksa bersabar. Dasar jodoh, buku ini bisa saya bawa pulang dengan harga sekitar 1/4 dari harga resmi melalui diskon. Hidup diskon he he he. Eh saya tidak akan menuliskan berapa nominalnya, harap maklum beberapa pedagang ol menjualnya dengan harga yang masih lumayan tinggi.

Membuka lembar pertama buku ini, mata saya langsung dimanjakan dengan peta kota Solo yang menandakan tempat-tempat yang layak dikunjungi, semacam tempat untuk turis berkunjung. Terdapat juga lokasi rumah keluarga penulis.

Terdiri dari lima bab, buku ini jelas menguraikan tentang kecintaan dan kekaguman seorang wanita berdarah Solo walau tidak lahir di sana,  Anita Chairul Tanjung, pada kota Solo. Baik dari sisi kehidupan sosial masyarakat, keindahan alam, makanan, gedung, hingga filsafah kehidupan.

Isi buku ini dimulai dengan Sebuah Kota,  Membentang Sejarah di Balik Dinding Keraton. Lalu  Menjelajah Keindahan, Mencecap Rasa serta Jejak Kenangan di Keheningan Bagunan Tua. Terakhir ditutup dengan Wajah Peradaban dalam Kekayaan Kesenian. Sebenarnya hanya dengan membaca judulnya saja,  pembaca sudah bisa menebak isi tiap bab. 

Bagi yang belum mengetahui daerah tersebut dinamakan Sala karena banyak tumbuh pohon Sala, sejenis pinus. Dalam pelafalan Jawa menjadi Solo. Adapun  pemberian nama Surakarta Hadiningrat dengan makna harapan yang terciptanya negara yang teratur, tenteram, aman dan damai (tata temtrem karta raharja). Lebih lanjut bisa dilihat pada link berikut.

Di Solo, pengelompokan pemukiman tidak saja berdasarkan etnis namun ada kawasan-kawasan khusus yang dikelompokkan berdasarkan profesi penghuninya. Para pedagang batik menempati kawasan Laweyan yang meliputi Kampung Tegalsari, Tegalayu, Tegalrejo, Sondakan, Batikan dan Jongle. Untuk para ulama keraton serta kerabatnya tinggal di belakang barat Mesjid Agung. Terdapat Pengulon yang berarti penghulu, Gontoran dan sebagainya.  

Ketika keraton pindah dari Kartasura ke Solo pada masa Pakubuwono II, tata cara busana diubah termasuk tatanan rambut untuk perempuan. Sebagai contoh hiasan sanggul untuk putri raja serta cucu yang belum menikah memakai hiasan daun pandan. Jika sudah menikah hiasan berupa melati.
 
Selain itu, subang dikenakan untuk para gadis. Bros susun tiga hanya boleh dipergunakan oleh Kanjeng Ratu, begitu juga kebaya hingga di atas lutut. Warnanya juga tidak boleh ada yang menyamai. Sementara untuk para abdi dalam, pakaian yang dipergunakan harus berwarna hitam. Asesoris dibedakan untuk menunjukan siapa sosok tersebut di kalangan keraton.

Diuraikan juga tentang Museum Radya Pustaka, Museum Sangiran, serta dua candi yang berada di wilayah Solo, yaitu Candi Cetho dan Candi Sukuh. Tempat-tempat tersebut layak dikunjungi ketika berada di Solo.    
 
Menarik perhatian penyuka buku adalah keberadaan  Reksa Pustaka di  keraton Mangkunegaran. Keberadaannya sudah ada sejak Mangkunegaran IV (1853-1881). Di sana terdapat dua puluh ribu buku. Dengan  mudah kita akan menemukan buku yang mempergunakan huruf Jawa serta foto-foto lawas.

Untuk urusan icip-icip, kembali ini urusan selera. Beberapa tempat yang direkomendasikan lumayan bisa diterima oleh lidah saya. Sekali lagi selera. Meski saya memiliki lidah Jawa, namun untuk urusan makanan saya kurang bisa menerima yang terlalu manis. Tapi tak ada salahnya mencoba, jika tidak bagaimana kita bisa tahu apakah kita menyukai masakan tersebut atau tidak.

Salah satu tempat yang selalu saya kunjungi ketika berada di Solo adalah Pasar Klewer. Untuk urusan batik, bukan di mana membelinya namun bagaimana mutu batik yang kita beli. Itu prinsip saya sih ^_^. Saya lebih menghargai karya para pengerajin batik dalam bentuk tulis dan cap. Sedangkan versi printing, itu jika sudah sangat terpaksa. Kembali, itu masalah selera.

Buku ini lebih banyak menyajikan foto dari pada tulisan. Meski begitu tidak mengurangi kenikmatan membaca. Justru dari foto yang ada, banyak hal yang bisa kita ketahui tanpa perlu membaca uraian panjang lebar. Beberapa kalimat yang dirasa perlu mendapat perhatian pembaca dicetak satu halaman penuh dengan ilustrasi yang menarik. 

Bagi mereka yang ingin mengetahui mengenai kota Solo dari segala aspek, buku ini layak untuk dimiliki. Untuk kaum muda, terutama yang memiliki darah Solo atau tinggal di Solo buku ini akan menambah kecintaan akan kota Solo. Sedangkan untuk para pini sepuh, buku ini menjad nostalgia masa lalu.

Membaca buku ini, membuat memori saya terusik terutama pada sosok eyang putri saya. Eyang masih setia mempergunakan kain jarik ke mana pun pergi. Sekedar ke pasar Mayestik atau pergi ke Italia. Selalu mempergunakan kebaya dengan selendang lengkap dengan konde. Kadang ada scarf  yang menggantikan posisi selendang. Bagian yang ini menurun pada saya he he he.

Ah, jadi pingin ke Solo.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar