Rabu, 05 Oktober 2016

2016 #108:Sang Pewaris Kesenian

Judul: Sang pewaris : Tokoh-tokoh Kesenian Tradisi Madura dan Minangkabau
Penulis: Hanefi & Eko Wahyuni
Editor: Ester L. Siagian & Jabatin Bangun
Kontributor tulisan: Aekanu Hariyono & Hajizar Koto
ISBN: 9786021749746
Halaman:312
Penerbit:Direktorat Sejarah & Nilai Budaya
             Kementrian Pendidikan & Kebudayaan
Cetakan: Pertama-2013
Rating: 3/5

Saya harus berterima kasih kepada Perpustakaan Aldo Zirkov yang memberikan buku jenis ini kepada saya. Jelas buku seperti ini tidak dijual umum. Keberuntungan yang membawa saya bertemu dengan buku ini.

Sebagai penghargaan pada mereka yang mempertahankan dan menjaga kelestarian budaya, terutama dari Madura dan Minangkabau, maka dibuatkah sebuah buku sebagai dokumentasi sepak terjang mereka. Sang Pewaris, mereka disebut.

Buku ini menyajikan beberapa tokoh seniman tradisi terpilih dari Madura dan Minangkabau dalam berbagai bidang masing-masing. Dipilih mereka yang dianggap setia dan berkomitmen mempertahakankan keberlanjutan tradisinya di tengah arus perubahan sosial, eonomi, budaya maupun teknologi. Konsisten.

Kisah peran aktif para pewaris budaya inilah yang disampaikan dalam buku ini. Dimaksudkan agar melalui upaya preservasi,  seni tradisi diteruskan pada generasi selanjutnya. Para pewaris tradisi itu menghadapi berbagai tantangan yang besar dalam arus perubahan kebudayaan mereka. Pastinya terdapat juga infomasi mengenai kesenian dimana para pewaris merupakan penggiatnya. 

Dari Madura terdapat lima orang yang dipilih. Bukan hal mudah memilih kelimanya, namun semoga dapat mewakili para pejuang kesenian.  Terdapat H. Samsul tokoh Mamaca, Ki Darus  penggiat Topeng Dhalang Sumenep yang membaharu, Mohamad Saleh pemahat Topeng Madura, Basiriansyah  tokoh seni Kriya Keris Kontemporer serta Sutris penggiat Musik Saronean yang mumpuni.

Mamaca merupakan kesenian membaca kitab dengan dinyanyikan secara vokal. Kesenian ini mirip dengan kesenian mocopat. Ciri utamanya ada pada kegiatan membaca atau melagukan tembangnya dengan dilambat-lambat berkepanjangan. Seakan-akan tidak ada putus-putusnya antara bagian kalimat satu dengan lainnya. Perlu diingat, dalam Mamaca teknik melagukan lebih menonjol dari isi lagunya.

Sementara Saronen adalah nama sejenis alat tiup sekaligus nama ensambel. Bisa dikatakan mirip pegelaran musik saat ini. Ada  instrumen yang dimainkan bersama dengan Saronen. Terdiri dari: 1 saronen, 1 gong besar, 1 kempul, 1 satu kenong besar, 1 kenong tengahan, 1 kenong kecil, 1 korca, 1 gendang besar, 1 gendang dik-gudik (gendang kecil).

Hal yang menarik dan menjadi jiwa dari musik ini satu alat tiup berbentuk kerucut, terbuat dari kayu jati dengan enam lobang berderet di depan dan satu lubang di belakang. Sebuah gelang kecil dari kuningan mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas ujungnya terbuat dari daun siwalan . Pada pangkal atas musik itu ditambah sebuah sayap dari tempurung menyerupai kumis, supaya terlihat gagah he he he.

Untuk bagian dari Minang  agak berbeda, dimulai dengan pendahuluan terlebih dahulu baru menguraikan mengenai para pahlawan seni. Terdapat sosok  Rinaldi Datuak Bandaro Mudo maestro kesenian silat, Islamidar maestro kesenian Talempong, Asrul Datuak Kodoh Maestro kesenian Si Jobang, Abdul Rahman Datuak Bungsu maestro kesenian Luambek,  Sawir Sutan Mudo maestro kesenian Saluang Dendang

Agak aneh juga saya membaca bagian ini. Kenapa pada bagian ini disebut sebagai maestro? Apakah ada kriteria tertentu? Atau mungkin bagian ini ditulis oleh orang yang berbeda mengingat ada dua nama penulis?

Sijobang merupakan seni tutur yang dilagukan (sung-narrative) dengan iringan sebuah kotak korek api (Sijobang Api-api) yang dapat menimbulkan efek bunyi guncang (rattle) atau dengan iringan alat musik kecapi (sijobang Kecapi) yang bersifat melodis.

Seni tutur ini membawakan cerita rakyat/naskah kaba yang dituturkan anggun nan tungga, Anggun Nan Tungga Magek Jabang. Secara garis besarnya kaba ini memiliki tujuh episode cerita, dan setiap episode disajikan Tukang Sijobang selama satu malam.

Luambek secara etimoligis berasal dari kata "lalu" yang berarti lewat, jalan atau maju, serta kata "ambek"  berarti hambat atau menggalangi. Secara filosofi  bermakna bahwa tidak boleh sesuka hati memasuki suatu nagari di daerah  Pariaman karena dijaga secara adat. Makna ini yang menyemangati pelaku dan masyarakat pendukungnya sewaktu Luambek dipertunjukan.

Dengan membawa buku ini, para generasi buku bisa makin memahami mengenai berbagai kesenian daerah warisan nenek moyang. Terutama dari Madura dan Minangkabau.  Rasa kebanggaan menjadi anak bangsa makin terpupuk terutama untuk melestarikan kebudayaan daerah.  Kaum muda juga makin menghormati dan menghargai upaya pejuang kesenian mempertahankan budaya. Salut untuk mereka. Bukan hal mudah saat ini untuk tetap konsisten pada bidang yang mereka geluti selama ini. Hanya bisa berharap apa yang mereka lakukan mendapat perhatian dari pihak terkait dan  menjadi amal ibadah.

Semoga buku ini bisa lebih disebarluaskan sehingga makin banyak yang membacanya. Tidak menutup kemungkinan dibuat dalam bahasa asing sehingga bisa dijadikan sarana promosi budaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar