Minggu, 09 Oktober 2016

2016 #111: Para Penghuni Rumah Miss Peregrine

Judul asli: Miss Peregrine's Home For Peculiar Children
Penulis: Ransom Riggs
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
ISBN: 9786020333885
Halaman: 544
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 122.000
Rating:4.25/5


"Tidak ada waktu lagi," bisiknya. Lalu dia mengangkat kepala dari tanah, gemetar mengerahkan tenaga, dan tersenggal ke telingaku, "Temukan burung itu. Di keluk. Di sisi seberang kuburan si lelaki tua. Tiga September 1940." Aku mengangguk, tapi dia menyadari aku tak mengerti. Dengan sisa tenaga terakhir dia menambahkan, "Emerson-suratnya. Beritahu mereka apa yang terjadi, Yakob."

Keluk, kuburan dan surat.

Sejak kecil Jacob senang mendengar kakek
Abraham Portman mendongeng. Terutama mengenai para penghuni sebuah rumah yang berada di pulau yang tak tedapat di peta. Mereka bukan penghuni biasa, mereka adalah anak-anak dengan kondisi tidak biasa, maksudnya teramat sangat tidak biasa. Sang kekek juga memperlihatkan foto anak-anak tersebut. Ada anak yang sedang melayang, membawa batu besar, anak tanpa kepala dan sebagainya.

Banyak yang mengatakan bahwa yang diceritakan kakeknya adalah sekedar dongeng pengantar tidur. Tapi Jacob percaya itu bukan sekedar dongeng. Ketika ia bercerita pada teman-temannya, Jacob malah dianggap berbohong. Ia mulai meragukan kisah itu hingga sebuah peristiwa mengubah hidupnya.

Sang kakek dtemukan meninggal di rumahnya. Beberapa saat sebelumnya, sang kakek masih sempat menghubunginya dan menceritakan tentang aneka monster yang memburunya. Andai ia percaya pada cerita sang kakek mungkin saja kakeknya masih hidup. Jacob merasa menyesal meragukan sang kakek.

Sumber: Goodreads
Tak ada yang percaya bahwa Jacob melihat monster yang membunuh sang kakek. Polisi yang bertugas menerima laporannya menganggap ia sinting. Apalagi ketika ia menggambarkan wujud yang ia lihat berada di dekat lokasi peristiwa Kedua orang tuanya mengirim ia ke psikiater. Tidak ada yang percaya pada dirinya, kali ini untuk alasan yang berbeda.

Guna menyingkirkan trauma yang dialami Jacob, serta atas saran psikiater  keluarga, maka ia dengan sang ayah pergi mengunjungi pulau dimana dahulu sang kakek pernah tinggal di sebuah panti asuhan. Jacob mencoba mengetahui banyak hal mengenai sang kekek, sementara bagi ayahnya ini kesempatan untuk membuat buku tentang burung.

Berbekal rasa ingin tahu yang besar, ingatan akan kisah sang kakek, serta warisan buku yang dipersiapkan untuk hadiah ulang tahunnya, Jacob merusaha menemukan rumah yang diceritakan sang kakek di pulau itu. Banyak yang menganggapnya aneh karena mengunjungi rumah tua yang nyaris hancur. Tapi ia tetap berusaha mencari, memuaskan rasa penasarannya.

Ternyata, apa yang dikisahkan sang kakek bukanlah sekedar dongeng. Jacob berhasil bertemu dengan mereka. Ada yang bisa mengeluarkan api dari tangan, anak yang mempunyai mulut di bagian belakang kepala, memiliki kemampuan untuk menumbuhkan tanaman dan masih banyak lagi. Ia mengalami petualangan seru bersama mereka. Juga mengalami cinta seperti sang kakek.

Dikisahkan dari sisi Jacob, buku ini menawarkan banyak petualangan seru. Betapa hidup bisa menjadi indah dalam keterbatasan dn perbedaan. Cerita-cerita Kakek Portman menunjukkan bahwa bukan mustahil menjalani kehidupan yang berbeda dengan yang umum dengan bahagia.

Saya tidak mau bercerita panjang, takut nanti spoiler he he he. Pastinya saya menikmati tiap lembar yang ada. Sempat merasa agak pesimis melihat nama tukang alih bahasa.  Biasanya menikmati hasil karya beberapa sahabat saat membaca buku yang ciamik. Ternyata hasil alih bahasa buku ini sangat nyaman dibaca. Kalimat mengalir lancar dan mudah memahami kisah yang ada. Pilihan kata-katanya juga tepat sasaran.

Pertama melihat harga jual buku ini cukup bisa membuat kedua alis bertemu. Kenapa semahal ini ya, apa istimewanya. Penasaran, saya coba lihat sisi samping, terlihat lumayan banyak halaman yang berbeda. Biasanya ini menunjukan halaman dengan ilustrasi. Mungkinkan mahal karena banyak ilustrasi? Begitu buku saya buka, hilanglah rasa heran akan harga yang lumayan. Setelah membaca sampai habis, semakin terasa harga itu sebanding dengan apa yang kita peroleh.

Selain hiburan, banyak pesan moral yang bisa kita ambil dari kisah ini. Percaya pada orang lain walau kadang terlihat aneh merupakan dukungan yang sangat berarti. Jacob mungkin tidak percaya lagi pada kisah yang diceritakan sang kakek, tapi dengan tetap mendukungnya ia membuat sang kakek merasa bahagia dan nyaman berada di dekatnya. 

Juga mengajarkan bahwa persahabatan merupakan hal yang berharga dalam kehidupan ini. Tak ada yang tidak bisa dilakukan, tidak ada hal yang sulit jika ada seorang bahkan beberapa sahabat di dekat kita. Tak peduli seberapa anehnya sahabat, jika memang ia sahabat kita maka sudah seharusnya kita berada di sisinya setiap saat.
Bahasa Portugis

Keluarga, bukan selalu bermakna orang yang memiliki hubungan darah. Tapi dengan siapa kita menghabiskan kehidupan, saling berbagi dan selalu ada untuk yang lain merupakan hal yang membuat kita berada ditengah keluarga. Demikian juga anak-anak yang tinggal dibawah pengawasan Miss Peregrine. Merekalah keluarga, bukan orang yang meninggalkan dan memusuhi meski memiliki hubungan darah.

Selain hiburan, pembaca juga mendapat tambahan ilmu mengenai banyak hal. Misalnya mengenai apa yang dimaksud dengan topiari-seni memangkas pohon/tanaman menjadi sebuah bentuk, bagaimana sejarah saat perang dunia, kehidupan nelayan dan banyak hal lain.

Agak penasaran juga dengan kelanjutan kisah ini. Menurut cerita, jika anak-anak itu keluar dari keluk dalam waktu agak lama mereka akan menua. Lalu bagaimana nasib mereka ketika rumah tinggal mereka hancur akibat terkena bom, lalu mereka harus menuju keluk lain untuk memulai hidup baru.

Pada bagian awal sempat merasa bingung, nama tokoh ini Yakob atau Jacob? Sang kakek menyebutnya dengan Yakob. Sementara kedua orang tua dan psikiaternya menyebut namanya Jacob. Mungkin karena sang kakek memiliki pelafalan yang berbeda saja.

Akhir kalimat pada buku ini membuat saya makin penasaran, "Sepuluh anak peculiar dan satu burung peculiar berdesak-desakan di tiga perahu dayung yang kokoh; banyak barang telah dikeluarkan dari perahu dan ditinggalkan di dermaga." Jadi keseruan seperti apa lagi yang akan kita temui dalam buku selanjutnya.

Untuk urusan kover, agak serba salah saya. Menilik gambar seorang gadis kecil yang sedang melayang, jelas saya tergoda untuk membeli buku ini. Namun gambar tersebut harus dilihat dengan agak seksama untuk mengetahui bahwa si gadis sedang melayang. Jika berada dengan buku-buku lain, warna seperti ini tak akan mampu menggoda mata saya untuk melirik. Saat akan membeli, saya agak kesulitan mencari buku ini di antara yang lain. Mbak SPG yang membantu saya mencari juga mengalami hal yang sama. Warna ternyata lumayan memegang peranan. 

Namun dalam situs Goodreads, ternyata sebagian besar kover buku ini mempergunakan ilustrasi yang sama, sosok anak perempuan yang mengambang di udara. Beberapa hanya memberikan warna latar yang berbeda. Ada yang menerbitkan dengan mempergunakan versi poster film. Versi yang lumayan berbeda adalah yang mempergunakan bahasa Portugis.

Masih dari situs Goodreads, disebutkan bahwa buku ini merupakan buku pertama dari seri yang terdiri dari tiga buku. Buku kedua berjudul Hollow City, link buku tersebut bisa diklik di sini.  Sedangkan untuk buku ketiga dengan judul Library of Souls bisa diklik pada link berikut. Untuk rata-rata bintang juga lumayan tinggi. Jelas, tidak hanya saya yang menganggap buku ini memukau.        
  
Seperti yang saya sebut di atas, buku ini memanjakan pembaca dengan banyak foto penawan terkait kisah dalam buku ini. Menurut penulis, foto-foto yang ada merupakan koleksinya serta koleksi beberapa sahabat. Unik memang, tapi jadi membuat saya bertanya-tanya. Jadi mungkinkah ada anak-anak seperti yang berada dalam pengawasan Miss Peregrine di sekitar kita?

Mungkin saja, apa sih yang tidak mungkin dalam kehidupan ini he he he.
 
























3 komentar: