Jumat, 21 Oktober 2016

2016 #115-117 : The Lunar Chronicles



















Kadang, kendala membaca buku berseri adalah kelanjutan yang tidak terbit dalam versi terjemahan. Beberapa kisah seru yang saya baca  hanya terbit sebagian, kadang hanya buku pertama, walau ada juga yang sudah terbit dua dari tiga buku. Begitulah dunia buku.

Untuk seri ini, kendalanya bukan pada tidak munculnya buku selanjutnya, namun pada keterbatasan stok (mungkinkah karena peminat banyak?), serta harga yang lumayan dibandingkan buku lainnya. Tak heran ketika di IIBF 2016 yang lalu, booth penerbit buku ini harus menempekan  keterangan last stock pada salah satu buku dari seri ini. Dengan iming-iming diskon 30% siapa yang mampu menahan godaan untuk mampir dan membeli.

Beruntung, saya mendapat pinjaman seri ini. Begitulah salah satu keberuntungan yang membuat "jodoh" saya dengan seri The Lunar Chronicles bisa berlanjut. Oh ya, saya sudah membaca buku pertama, Cinder. Review bisa dilihat di sini.     . 

Guna menyingkat semata, saya tak perlu menuliskan data bahwa penulis kisah ini adalah Marissa Meyer, desain kover oleh @hanheebin, penerbitnya adalah Penerbit  Spring pada tiap data buku. Data yang diberikan adalah data yang berbeda tiap buku.
Judul: Scarlet
Penerjemah: Dewi Sunarni
ISBN: 9786027150560
Halaman: 444
Cetakan: Pertama-Februari 2016
Harga: 81.500
Rating: 3,5/5

Kisahnya dimulai dengan seorang gadis Scarlet Benoit yang kehilangan neneknya. Pihak kepolisian sudah menghentikan pencarian dan penutup kasus dikarenakan bukti yang kurang kuat. Satu-satunya petunjuk yang ia peroleh dari sang ayah yang menyebutkan si penculik memiliki  tato bertuliskan TSOK di lengannya.

Dalam upaya mencari sang nenek ia ditemani oleh seorang petarung jalanan dengan nama Wolf. Di lengan Wolf juga terdapat tato TSOK, Tentara yang Setia pada Ordo Kawanan. 

Dilain bagian, diceritakan juga tentang upaya melarikan diri Cinder dan Kapten Carswell Throne yang menggegerkan. Kaisar Kai memerintahkan pihak militer untuk mencari Cinder terkait masalah ini. 

Awalnya saya agak penasaran, mengapa kisah Scarlet dan Cinder diuraikan bergantian. Ternyata hubungan keduanya baru jelas di halaman 189.  Baiklah, keduanya harus saling membantu jika ingin tujuannya tercapai.

Kisah ini merupakan adaptasi dari kisah Little Red Riding Hood.

Judul: Cress
Penerjemah: Jia Effendi
ISBN: 9786027150584
Halaman: 576
Cetakan: Pertama-Mei 2016
Harga: Rp 115.000
Rating: 3,5/5

Hanya dengan melihat kover saja, pembaca sudah bisa menebak bahwa ini merupakan kisah yang terinspirasi dari dongeng Rapunzel. 

Selama kurang lebih tujuh belas tahun Cress Darnel berada dalam sebuah satelit, yang setiap enam belas jam mengelilingi bumi. Ia bisa melihat bagaimana situasi di Bumi melalui aneka layar serba canggih yang ada di hadapannya. Meski sepertinya terkurung, ia menyebut dirinya sebagai Putri dalam Sangkar. 

Saya tidak bisa membayangkan, apa yang ia kerjakan untuk menghabiskan waktu selama itu, sendirian. Kalau pun ada yang bisa dianggap kawan adalah komputer. 

Cress dipaksa membantu Sybil  dalam melayani Ratu Bulan. Tapi diam-diam dia memberi peringatan pada Cinder mengenai apa yang terjadi. Ia juga membantu membuat pesawat Cinder tidak terdeteksi di radar. Namun belakangan usahanya ketahuan hingga ia harus menyelamatkan diri.

Bagian yang paling menyentuh adalah ketika Cress harus kehilangan rambutnya. Ia membiarkan Kapten Thorne yang mendapat kehormatan melakukannya. Urusan romantis makin terasa dalam buku ini.

Bersama dengan Cinder dan Scarlet, mereka berusaha menggagalkan niat jahat Ratu Bulan untuk menguasai dunia. Sebuah revolusi harus disiapkan.

Judul Winnter
Penerjemah: Yudith Listiandri
ISBN: 9786027432239
Halaman: 900
Cetakan: Pertama-Agustus2016
Harga: Rp 139.000
Rating: 3,5/5

Pada buku sebelumnya, dikisahkan bahwa Scarlet tertangkap. Ia diberikan kepada anak tiri Ratu Levana, Wintter yang menjadikannya "peliharaan"

Seperti kisah Putri Salju yang dibunuh melalui apel beracun oleh ibu tiri karena rasa iri, Winter juga merasakan suasana bermusuhan dari sang ibu tiri. Bahkan Ratu Levana berani mengolok-oloknya di hadapan orang banyak.

Berlawanan dengan sang ratu, Winter justru berhati lembut. Ia bahkan menjahit  banyak barang bagi orang lain seperti topi bayi. Sehari-hari ia dikawal oleh pengawal kerajaan yang juga temannya Jacin Clay. Dahulu Jacin merupakan pilot pesawat Sybil. Ia sering mengantar Sybil mendatangi satelit tempat Cress ditahan. 

Bisa dikatakan beberapa hal yang masih samar makin jelas hubungannya dalam buku ini. Tentunya makin penuh adegan seru, jadi bingung mau membagi penggaalan kisah yang mana. Seru!

Adegan yang menyerupai pemburu hendak membunuh Putri Salju atas perintah ibu tirinya, membuat saya langsung merasa melo. Kasihan tokoh ini. Sudah digambarkan agak aneh karena kemampuannya, masih harus dibunuh oleh orang terdekatnya juga. 

Dan seperti juga kisah klasik pada umumnya, buku ini ditutup dengan hal yang menyenangkan. Mungkin pembaca sudah bisa menebak bagaimana akhir kisah ini, tapi proses menuju akhir tetap merupakan hal yang teramat sangat menarik buat disimak.

Jadi secara garis besar bisa simpulkan bahwa Cinder adalah seorang putri yang seharusnya menjadi ratu di Bulan.  Scarlet seorang petani serta pilot ruang angkasa, cucu dari seseorang yang menyembunyikan rahasia tentang Cinder. Cress, merupakan ahli komputer, tepatnya hacker yang dipenjara selama lebih kurang tujuh belas tahun dan dipaksa melayani Ratu Levana. Putri Winter adalah anak tiri dari Ratu Levana, ia sangat menentang kebijakan ibu tirinya. Mereka berempat dengan kekuatan dan keunikannya masing-masing bersatu padu untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi orang banyak.

Untuk urusan romantis juga cukup beragam. Cinder jatuh hati dan menjalin hubungan dengan Kai Kaisar Persemakmuran Bumi. Scarlet menjalin hubungan dengan seorang petarung jalanan yang membantunya mencari sang nenek, Wolf. Cress terpesona pada Kapten Carswell Thorne, teman kabur Cinder saat di penjara.  Sementara Putri Winter jatuh hati pada rakyat biasa yang menjadi pengawal kerajaan, Jacin.  Kisah cinta mereka bagaikan dongeng.

Upaya Marissa Meyer menciptakan sebuah kisah dimana terdapat  beberapa kisah klasik yang telah mengalami adaptasi patut diacungi jempol. Ini mengingatkan pembaca akan kenangan masa kecil membaca kisah-kisah tersebut.

Sedangkan bagi mereka yang mungkin belum pernah membaca kisah klasik tersebut (tidak semua orang beruntung), mereka akan mendapat pengalaman baru. Lebih baik jika mereka tergerak untuk mencqri tahu kisah klasik apa yang menyertai tiap buku seri ini.


Selain menyajikan pembatas buku ciamik, hal yang paling saya ingat adalah ketebalan buku yang kian bertambah. Makin lama bukunya makin terbal. Secara tak langsung berdampak pada harga yang makin mahal he he he. Logis saja sih. Jika ada yang ingin lebih mengetahui mengenai seri ini, silakan mampir ke situs resmi seri di sini.

Kira-kira, ada kisah seperti ini lagi tidak ya? Supaya kisah klasik tetap "hidup", berdampingan dengan selera saat ini. Semoga

7 komentar:

  1. Seri yang menyenangkan ya, padahal pada saat awal terbit buku pertamanya, saya ragu ceritanya bagus gara-gara kovernya yang bagi saya aneh. :)

    BalasHapus
  2. Saya suka sekali dengan cerita retelling kayak gini. Bahkan sampai ngoleksi DVD Once Upon a Time season 1-5 *malu*. Kayaknya seru juga kalau dongengnya ada jauh di masa depan :D

    BalasHapus
  3. Well, aku penasaran banget sama novel ini, mbak Tru. Jadi kepo maksimal waktu baca resensi ini :3

    BalasHapus
  4. Aku tidak bisa menikmati banget karena jangka waktu pinjam hanya satu minggu hiks.
    Tapi seru kok. Apa lagi buku terakhir. Agak susah membuat review agar tidak spoiler.

    BalasHapus
  5. Aku nyidam banget serial ini, pokoknya wish list banget :))

    BalasHapus
  6. @Puji perpus sudah beli lho dalam proses pengolahan
    @Luckty karena sudah meminjam, mari beli yang lain (modus)

    BalasHapus