Rabu, 23 Desember 2015

2015 #109; Referensi Tentang Warisan Dunia Situs Dan Budaya Masyarakat Di Indonesia


Terima kasih untuk Perpustakaan Aldo Zirzov yang membuat buku ini bisa mendarat di rak buku saya. Sebenarnya ada beberapa judul lagi, tapi baru ini yang saya selesaikan.

Buku jenis ini di kantor disebut buku referensi, tempatnya juga khusus tidak bergabung dengan buku lainnya. Buku referensi adalah buku yang dapat memberikan keterangan mengenai suatu hal. Misalnya topik tertentu, tempat, peristiwa,data statistika, pedoman,alamat, nama orang, riwayat orang-orang terkenal, dan masih banyak lagi.

Membaca buku jenis ini membutuhkan waktu yang khusus, bagi saya lho. Selain ukurannya yang besar sehingga tidak mungkin dipangku. butuh pemahaman ekstra untuk meresapi isi buku ini. Pengetahuan saya bertambah sesudah membaca buku ini, sebuah hasil yang sepadan.


Buku yang pertama saya baca adalah Warisan Dunia Situs dan Budaya Masyarakat di Indonesia. Tidak ada alasan khusus  mengapa buku ini yang dibaca dulu. Hanya lebih karena keberadaannya. Buku ini saya simpan di kantor karena belum sempat dibawa pulang. Aldo memang memberikan buku ini ketika kita menghadiri acara bedah buku Pak Ben. Karena keberadaannya, setiap pagi sebelum kerja serta saat istirahat saya membaca beberapa halaman. 

Judul: Warisan Dunia Situs Dan Budaya Masyarakat Di Indonesia
Editor: Sulistyo Tirtokusumo
ISBN: 9791274657, 9789791274654
Halaman: 220
Cetakan: Pertama-2012
Penerbit: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Buku ini berisikan tentang warisan dunia yang dimiliki oleh bangsa kita dan diakui keberaaannya oleh UNESCO. Terdapat  empat belas  warisan budaya yang dari dua bagian, warisan budaya benda dan takbenda.

Untuk warisan budaya kategori benda didasarkan pada Konvensi Warisan Dunia tahun 1972, termasuk juga pelestarian situs budaya dan alam. Ada delapan warisan yang dimiliki kita, yaitu Situs Manusia Purba Sangiran, Kompleks Candi Borobudur, Kompleks Candi Prambanan, Lanskap Budaya Provinsi Bali-Sitem Subak. Warisan Hutan Tropis Sumatra, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman nasional Komodo, serta  Taman Nasional Lorentz.

Sedangkan untuk kategori budaya takbenda, ada enam unsur yang terdaftar, yaitu wayang, keris, batik, program pendidikan dan pelatihan batik bagi siswa SD, SMP, SMK dan politeknik bekerjasama dengan museum batik Pekalongan, Angklung serta Tari Saman-Gayo

Agak bingung saya.  Daftar isi hanya ada tentang batik, tidak menyebutkan tentang program pendidikan dan pelatihan batik bagi siswa SD, SMP, SMK dan politeknik bekerjasama dengan museum batik Pekalongan.  Ada hanya batik, Mungkinkah dianggap satu kesatuan? Karena saat saya membuka bagian yangmengulas tentang batik ternyata ada juga mengenai hal itu.  Atau bisa jadi saya yang kurang memahami maksudnya.
Kover belakang

Oh ya, saat membuka buku ini, kita akan menemukan batik sebagai ilustrasi yang menghias halaman secara penuh. Demikian juga pada bagian akhir. SUngguh mengusung muatan lokal.

Setelah beberapa  sambutan, kita akan menemukan semacam peta. Pada peta itu terdapat keterangan mengenai dimana lokasi situs warisan dunia. Untuk lingkaran dengan waran hijau dipergunakan sebagai tanda  keberadaan sebuah situ warisan dunia alam. Sementara warna  coklat keemasan (menurut saya itu warnanya) menandakan situs warisan dunia budaya. 

Secara garis besar, warisan budaya sudah dikenal oleh masyarakat umum, tapi membaca buku ini membuat pengetahuan kita makin bertambah.  Mengenai Taman Nasional Lorentz misalnya.  Pada tahun 1999 UNESCO mengajui Taman Nasional Lorentz  sebagai situs warisan dunia. Letaknya yang terpencil, di ujung kepulauan Indonesia paling timur Pulau Papua, membuat masih sedikit  dari warga kita yang mengenal apa lagi mengunjunginya. Kecuali orang Papua tentunya. Padahal tempat itu merupakan salah satu lokasi yang memiliki keragaman ekologi terlengkap di dunia, serba sebagai taman konseervasi terbesar di Asia Tenggara.

Beberapa ilustrasi berupa foto  yang dimuat dalam buku ini sungguh memanjakan mata. Apalagi disajikan dalam ukuran yang besar, satu bahkan dua halaman penuh. Selain mengajikan tentang pemandangan lama, ada juga tentang aneka hewan yang hidup di sana. 

Namun karena ilustrasi yang menghabiskan halaman ini kadang keterangan berada di bagian lain, sehingga kadang keterangan terkait ilustrasi itu berada di halaman yang berbeda. Pembaca harus mencocokan keterangan terlebih dahulu.

Berkaca pada kasus sebuah perkebunan bunga yang porak-poranda belum lama, sungguh beruntung wilayah ini belum tersentuh moderenisasi. Menuju ke lokasi ini agak sulit. Bayangkan jika mendadak banyak tulisan nama pengunjung di bebatuan sebagai bukti rasa egois diri. Aduh menakutkan!

Membaca sedertan nama yang terlibat dalam penerbitan buku ini tentunya bisa menggambarkan betapa seriusnya buku ini digarap. Belum lagi kontribusi dari berbagai pihak dalam rangka menyebarkan informasi mengenai warisan dunia yang berada di tanah air kita.

Sempat terpikir juga, kenapa mempergunakan foto dengan nuansa Candi Borobudur, kenapa tidak yang lain. Lalu saya teringat, sepertinya orang lebih mengenal kompleks Candi Borobudur. Mempergunakannya sebagai kover bisa membuat orang tergoda untuk melirik dan kemudian mengambil untuk membaca. Unsur kedekatan karena mengenal sepertinya yang menjadi bahan pertimbangan mempergunakan kover seperti ini.

Sungguh beruntung perpustakaan sekolah yang memiliki buku ini. Bisa menambah wawasan, pengetahuan, menjadi hiburan dan memotivasi untuk berkembang.

Senin, 21 Desember 2015

2015 #108: Garda: Perebutan Kristal Langit


Penulis: Ahmad Sufiatur Rahman
Editor: Andiek Kurniawan
Desain dan ilustrasi cover: Sutadi & Ahmad Sufiatur R
Ilustrasi isi: Ranto Kumbalaseta & Ahmad Sufiatur R
Tata letak: githanoo 
ISBN 10: 9790830912 
ISBN13: 9789790830912
Halaman: 242
Cetakan: Pertama- Juni 2014
Penerbit: Tangga Pustaka 

Sebuah Novel Fantasi
Kalimat itu yang membuat saya membawa pulang buku ini dari area obralan di toko buku G pada Jumat yang lalu. Punya niat ingin mengoleksi kisah fantasi lokal, terlepas bagaimana cerita serta penilaian pembaca. Tujuan utama memang bukan mengoleksi kisah fantasi lokal yang bagus tapi mengoleksi semua kisah antasi karya anak bangsa.

Alur cerita dan gaya penulisan kisah ini lumayan mudah diikuti. Kata yang dipilih juga singkat  dan padat, tidak bertele-tele. Bagi mereka yang belum pernah membaca kisah fantasi, tentunya tidak akan mengalami kesukaran membaca kisah ini.

Ada beberapa catatan saya mengenai kisah ini, terlepas dari urusan akhir kisah yang dibuat ala film Hollywood. Sayang, padahal hal itu justru membuat kisah ini menjadi tidak tuntas.

Pertama-tama saya akan memberikan pujian untuk upayanya memadukan muatan lokal dalam bentuk wayang dengan urusan fantasi. Meski  unsur kekuatan atau makhluk asing memang masih ada, tapi memadukan dengan warisan budaya nenek moyang, merupakan hal yang masih jarang kita temukan.

Kover buku ini sukses membuat mata melirik. Perpaduan warna cerah serta tulisan yang ada, mampu membuat (minimal) orang yang lewat memberikan lirikan.  Apa lagi kostum yang dipergunakan oleh tokoh mengarah pada super hero. Seingat saya saat buku ini terbit sedang ada film yang lumayan laris. Sayangnya wajah tokoh kita terlalu sempurna untuk sosok pria yang berperan sebagai super hero.

Awalnya saya menikmati kisah dengan lancar, mendadak saya mulai gatal untuk komen. Terutama ketika menemukan ada penampakan makhluk setinggi 20 meter di halaman 31. Bukan hal yang sepele angka 20! Pasti wujudnya nyaris seperti robot-robot yang berusaha menghancurkan bumi ala film Jepang.

Saya juga penasaran dengan kata Jagawana. Meski saya bisa menebak maknanya, tapi akan lebih baik jika penulis memberikan catatan kaki mengenai artinya. Karena mungkin saja ada pembaca yang tidak memahami apa artinya. 

Saya menemukan artinya di http://nusantaranger.com,  Jagawana adalah kata yang berasal dari serapan jawa dan sansekerta yang berarti penjaga, pengawal, atau tentara yang berpatroli di sebuah wilayah untuk menegakkan hukum. Di Indonesia sendiri Istilah Jagawana dipakai untuk sebutan polisi hutan. Tidak melenceng dari dugaan saya.

Jika kita persingkat kronologis kisahnya, tokoh kita pergi ke Bromo dimana ia mendadak dirasuki makhluk asing yang memberinya kekuatan. Makhluk itu tidak sendiri, ia ternyata diburu oleh pihak lawan yang ingin memusnakannya. Hal ini terkait dengan sebuah bangsa di angkasa luas sana. 

Sebagai sosok yang dirasuki, tentunya Garda mengalami perubahan dalam dirinya. Salah satu hal membuat ia berada di kamar mandi selama satu malam penuh. Agak membuat saya heran ketika tidak ada teman-teman kost yang berusaha mendobrak kamar mandi untuk cek apa yang terjadi. Kenapa yang ada justru gedoran pagi hari? 

Demikian juga dengan urusan motor. Bagaimana motor trill yang semula ada di Bromo bisa mendadak kembali ke kontrakan Garda?Ok mungkin ada yang menganggap urusan pengambilan motor ke Bromo tidak perlu dibahas, atau seperti juga jeep bisa saja motor sewaan jadi tidak perlu dikisahkan. Namun hal kecil itu justru yang membuat sebuah kisah menjadi masuk akal.

Sering penulis lupa, kekuatan kisah fantasi hingga mampu membuat pembaca terlena adalah hal-hal kecil yang membangun kisah menjadi sesuatu yang masuk akal. Semua ada penjelasannya, dan penjelasan itu harus diuraikan, bukan dianggap pembaca pasti tahu.

Epilog pada akhir kisah  sangat membantu pembaca untuk mengetahui banyak hal yang masih samar serta perkembangan peristiwa. Dengan membaca bagian ini, beberapa eh banyak hal yang menjadi pertanyaan saya terjawab, meski belum semua.

Bagian yang saya nikmati dalam buku ini adalah ilustrasi yang berlimpah dan dalam ukuran yang lumayan banyak. Beberapa gambar terasa aneh, tidak sesuai dengan uraian dalam teks, ada pula yang tidak konsisten. Tapi lumayan untuk hiburan.

Dan kalimat yang paling saya sukai adalah, "Walau ia sudah memiliki perpustakaan digital di tabletnya.  Membaca dari buku cetak dan menyentuh setiap lembaran halamannya merupakan kepuasan tersendiri."

Saya memberikan bintang 2,5 dibulatkan menjadi 3. Pemberian nilai tertinggi pada upaya menggabungkan unsur lokal dalam kisah ini.

Minggu, 20 Desember 2015

2015 #106-107 : Cardan serta Beyond Twilight

Masih dalam acara beres-beres rak, mengurangi timbunan yang masih menggunung, maka hari Minggu ini dipergunakan untuk membaca beberapa buku. Kejar tayang he he he. Sebenarnya tidak butuh waktu lama buat membaca, bagi saya lho. Justru membuat review yang butuh waktu.

Beberapa buku konon udah berusia cukup lama, mungkin saya membeli diarea obral atau mendapatkan entah dari mana. Justru makin tua usia buku, membuat saya ingin segera mengurangi timbunan. 
 
Tidak ada persyaratan atau dasar khusus yang dipergunakan untuk membaca sebuah buku. Ambil terdekat-baca-buat ulisan singkat-taruh pada tempat semestinya-ambil yang lain-begitu seterusnya.

Judul: Cardan
Penulis: Chandra Adhitya Winarno
Penyunting: Feba Sukmana
Penata letak: Yanto
Desain sampul: Okeu Yoseph Kurniawan
ISBN (10): 9797801640
ISBN (13): 9789797801649)
Halaman: 326
Cetakan: Pertama-2007
Penerbit: Gagasmedia 
 
Kata CARDAN pada sinopsis di bagian belakang buku yang membuat saya tertarik untuk membaca. Apa itu cardan? Sejenis pejuang, raja atau seseorang yang terpilih untuk menyelamatkan  manusia (sering sekali nemu tokoh seperti ini dalam kisah fantasi).
 
Keterangan mengenai apa itu cardan saya temukan di halaman 25. Cardan adalah orang-orang terpilih, dan buka manusia biasa. Mereka ditakdirkan menyatu dengan batu yang berasal dari bintang-bintang Garinka. Ok, tak beda jauh dengan makna manusia yang terpilih.
 
Banyak sekali tokoh dalam buku ini, setiap tokoh memiliki peranan yang cukup penting dalam membangun cerita. Bagi saya mungkin tokoh Aras bisa dikatakan tokoh utama, terutama sekali karena namanya yang disebut dalam sinopsis.
 
Ceritanya lumayan, tapi entah kenapa saat kisah sedang berlangsung mendadak penulis mengakhiri begitu saja tanpa ada kejelasan bagaimana akhirnya.  Entah kehabisan ide atau sengaja dengan harapan bisa membuat buku kedua.
 
Kover dan warna sampul sungguh mampu membuat orang melirik. Perpaduan warna hitam dan emas memang sungguh kontrak. Sinopsis di bagian belakang dengan warna putih makin membuat buku ini menggoda mata.
 
Urusan penilaian kover tentunya tidak sama dengan isi. Kover saya beri bintang 3,5. Sementara isi cukup bintang 2. Ditotal menjadi 5,5 bintang, dibagi 2 menjadi  sekitar 2,75 bintang. Baiklah kita genapkan menjadi 3 bintang.
 
Judul: Beyond Twilight
Penulis: Noey Moore
Editor: Ratna Mariastuti
Tata sampul: @ferdika
Tata isi: S. Lestari
Pracetak: Antini, Dwi, Wardi
ISBN: 9786027663855
Halaman:347
Cetakan: Pertama-2013
Penerbit: Diva
 
 Jika tidak salah ini merupakan buku seri. Ada tiga  buku, Almost Twilight, Beyond Twilight serta Dark Twilight. Sayangnya saya tidak sempat menemukan eh menerima hadiah dari Dion untuk buku pertama dan ketiganya he he he
 
Entah kenapa, membaca  kata Twilight saya langsung teringat pada kisah percintaan seorang anak manusia dengan vampir yang menghebohkan dunia. Mungkin penulis ngambil ide dari sana. Tidak ada yang salah sih, mengambil judul mirip juga sah. Malah bisa mendongkrak rasa tertarik calon pembeli.
 
Kisah dalam buku ini terkait juga dengan urusan vampir. Sebagai anak dari pasangan yang berbeda dunia, tentunya tokoh kita, Enola harus menjalani hidup dengan cara yang tidak biasa.
 
Kisahnya kurang lebih sama, Enola menemukan rahasia besar dalam keluarganya, berusaha bertahan hidup sambil terus mengupayakan kesuksesan misi yang diembannya. Beberapa halangan dan rintanga membuatnya makin tegas dan kuat menjalani takdir.
 
Entah karena saya tidak membaca buku pertama, sepertinya ada yang kurang dijelaskan dalam buku ini. beberapa hal berkesan samar. Beberapa lagi butuh penjelasan lebih banyak, mungkin ada di buku tiga.
 
Melihat ranting buku ini di GRI yang lumayan tinggi, bintang 3,5 sepertinya saya harus mencari buku-buku lainnya dan membaca ulang baru bisa memberikan kesimpulan. Sejauh ini saya masih memberikan bintang 3.

Kamis, 17 Desember 2015

2015 #105: Kisah Kelabu Lina, Jonas serta Andrianus

Judul asli: Between Shades of Gray
Penulis: Ruta Sepetys
Penerjemah: Inggrid Nimpoeno
Penyunting: Rika Iffati Farihah
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
Penata aksara: Abdul wahab
Desain sampul: Fahmi Ilmansyah
ISBN: 9786021306451
Halaman: 396
Cetakan: Pertama- Desember 2014
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 69.000

Pernahnya kau bertanya-tanya berapa nilai nyawa manusia? Pagi itu, nyawa adikku setara nilainya dengan arloji-saku (hal 28)

Karena mereka mengancam hendak membunuhku, kecuali jika ibuku tidur dengan mereka. Dan, jika mereka sudah bosan dengannya, mereka masih akan membunuhku. Jadi, bagaimana perasaanmu Lina, seandainya ibumu merasa harus melacurkan diri untuk menyelamatkan nyawamu? (hal 174)

Betapa hidup bisa berubah dalam hitungan detik. Lina mendadak harus meninggalkan rumah nyaman bersama ibu dan Jonas, adik lelakinya dibawah acungan senjata tentara Rusia. Sementara sang papa sudah lebih dahulu menghilang. Alih-alih membawa roti, Lina justru membawa perlengkapan gambarnya. Meski sepertinya aneh, tapi alat gambar itulah yang membuatnya mampu bertahan. 

Mereka, juga ratusan warga Lithuania yang lain, dibawa dalam kereta api tanpa ada yang tahu kemana tujuan mereka. Berdesak-desakan bagai hewan ternak sudah menjadi hal yang mereka alami sehari-hari. Ditambah dengan makanan dan minuman yang sangat terbatas. Mandi merupakan satu-satunya hal yang merupakan kemewahan.

Lina beserta yang lain saling bergantung. Ibu Lina bahkan merelakan barang pribadinya untuk menyogok penjaga agar bisa mampir ke sebuah toko kecil dan membeli aneka permen, rokok dan camilan saat kereat api berhenti di sebuah desa. Bayangkan! Disaat nilai selinting rokok nyaris sama dengan nyawamu, keluarga Lina justru mau berbagi dengan yang lain.

Dengan mengandalkan rasum roti yang tak seberapa, mereka harus bekerja keras untuk memenuhi kehidupan para tentara Rusia, bayaran untuk tetap membiarkan mereka hidup. Sementara untuk kehidupan mereka sendiri, mereka harus bekerja dengan cara yang cerdik meski tidak baik, mencuri. Jonas mencuri sisa bahan untuk membuat sepatu agar keluarga mereka punya sepatu yang layak pada musim dingin. Andrianus, sahabat mereka, mencurikan tepung.  Apapun demi kelangsungan hidup, bahkan meski bit yang dimasak diangkut di balik celana dalam dan kutang seseorang yang dibasahi keringat!

Kisah dalam buku ini layak disebut kelabu, seperti judulnya gray.  Membaca bagaimana penderitaan Lina, mengiris hati. Saat anak lain sedang asyik bermain, menikmati kasih sayang orang tuanya, Lina harus mencari makan agar hidup, menjaga adik dan ibunya untuk tetap hidup, melihat mayat bayi dibuang, ibu yang ditembak karena histeris melihat anaknya meninggal. Ia berjalan mencari kayu bakar di dinginnya udara malam yang beku saat musin dingin, sementara anak seusia dia sedang asyik meringkuk hangat di balik selimut.

Bagian yang melukiskan bagaimana Lina menyalurkan emosi, apa yang ia rasa dengan menggambar sungguh menyentuh. Sebenarnya saya sangat berharap bisa menemukan ilustrasi lukisan Lina dalam buku ini. Sehingga kisah yang disampaikan penulis semakin "hidup" 

Kalimat yang ada di halaman 269 membuat saya teringat pada kisah Diary Anna Frank. Kisah Anna terungkap melalui catatan hariannya.  Sementara Lina melalui gambar-gambarnya. "Sembunyikan semua gambar ini. Simpanlah di tempat aman untmkku,"kataku sambil meletakkan tanganku di atas tangannya. "Aku tidak tahu ke mana kami akan pergi. Aku tidak ingin gambar-gambar itu dihancurkan. Ada begitu banyak dari diriku, dari kita semua, di dalam gambar-gambar itu. Bisakah kau menemukan tempat aman untuk mereka?"

Menemukan bagian yang terkait buku dalam kisah ini cukup mampu membuat saya tersenyum diantara rasa sedih akibat membaca kalimat-kalimat yang ada. Lina mendapat buku sebagai hadiah ulang tahun, buku dalam bahasa Rusia sehingga ia bisa meningkatkan kemampuan bahasa Rusianya. Hadiah buku sebenarnya bukan hadiah istimewa, tapi menjadi sesuatu yang berharga karena diberikan disaat situasi hidup dan mati tidak jelas, dimana untuk memperoleh buku ini harus bertaruh nyawa.

Buku itu merupakan pengganti buku yang dipergunakan adik dan temannya untuk merokok. Kertas buku disobek lalu digunakan untuk melinting tembakau. Mengenaskan.  "Soviet menangkap kita karena kita adalah orang-orang yang terpelajar dan berpengetahuan. Mengisap halaman-halaman buku benar-benar...Apa yang kalian pikirkan?"tanya Miss Grybas.

Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini sungguh menyentuh. Memberikan asukan gizi bagi jiwa kita untuk terus bersyukur tidak mengalami apa yang Lina dan keluarga besarnya rasakan. Ya keluarga besar, karena tanpa ikatan darah pun mereka sudah menjadi saudara dalam penderitaan yang panjang. Saling tolong demi bertahan hidup. Saat kita menderita, keluarga sesungguhnya adalah mereka yang mau menawarkan bahunya untuk bersandar.

Diselingi dengan kilas balik cuplikan ingatan Lina tentang pembicaraan atau peristiwa yang dialaminya saat masih menikmati kehidupan bahagia bersama keluarga, kisah ini benar-benar mampu menyerap keluar seluruh rasa duka yang ada. Tak heran jika banyak penghargaan yang diperoleh kisah ini. 

Sempat terpikir untuk mencari alih bahasa judul yang pas untuk dijadikan judul review. Sepertinya tidak juga menemukan yang cocok, akhirnya mengambil nama ketiga tokoh anak dalam kisah ini. Bagaimana juga ini memang mengenai bagaimana mereka berjuang untuk hidup.

Saya sempat merasa heran, bagaimana Lina tahu gerbong mereka ditulisi "pencuri dan pelacur" sementara ia berada di dalam. Mendadak saya ingat, ada adegan yang menyebutkan ia dan adiknya menyelinap keluar dari gerbong pada malam hari untuk mencari ayahnya yang berada di gerbong khusus laki-laki. Tapi seingat saya kejadian itu malam hari, lalu bagaimana ia bisa membaca tulisan itu, apakah ditulis dengan huruf besar? Atau saat pertama digiring masuk dalam gerbong Lina sempat melihat tulisan itu? Bukan hal penting sebenarnya, tapi sekedar rasa penasaran semata.

Akhir kisahnya bagi saya justru menawarkan sebuah kisah baru. Bagaimana Lina bisa bebas dan menjalani kehidupan barunya? Bagaimana kabar mereka yang mau mengaku salah dan bersedia dihukum paksa selama 25 tahun? Bagaimana..... bagaimana.... dan banyak bagaimana lagi yang muncul.

Jika ingin mengetahu tentang kisah lebih secara lebih lanjut, silahkan mengunjungi http://www.betweenshadesofgray.com/

Sumber gambar:
http:/www.goodreads.com

Rabu, 16 Desember 2015

2015 #104: Membaca Kuda Besi




Judul asli: Kuda Besi
Editor: Andreas Rossi Dewantara, Anugrah Dwi Priadi, Fanny Perdhana, Galih Rakasiwi, Gita Wiryawan Puja Negara
Perancang Sampul: Kuncoro Arif Noviardi
Perancang Poster: Arfindo Briyan
Ilustrator: Asmoro Budi Nugroho,Nurul Ashari, Rangga Danusa
Tim Pendukung: Heru Irfanto, Nur Budi Prasetyo
Koordinator: Marli Haza Fauzi Hidayat
ISBN:9786021599563
Halaman: 178
Penerbit: www.birokreasi

Buku anak memang gampang-gampang susah. Memang tidak susah mencari buku anak, tengok saja gerai toko buku, pastilah mudah menemukan buku anak. Minimal buku anak yang mengusung sosok yang sedang populer dalam bentuk mewarnai atau buku aktivitas. Misalnya Frozen, bisa ditemukan dalam berbagai versi.

Tapi mencari buku anak dengan muatan lokal bisa dikatakan lebih susah. Paling bisa ditemukan adalah buku tentang cerita rakyat.   Harganya juga lumayan dibanding dengan buku yang mengusung tema import. 

Jadi bisa dibayangkan betapa terkejutnya saya ketika menemukan buku ini terselip antara buku-buku di meja bookswap saat IRF 2015 kemarin. Buku anak, fantasi pula. Sepertinya saya pernah melihat buku ini pada IRF tahun 2014. Entah buku yang sama atau bukan, pastinya  buku ini sekarang ada di rak buku saya.       

Kuda Besi, dari Dongeng Anak bersama Birokreasi,  memuat  dua belas kisah berteman fantasi yang dibuat oleh mereka yang bekerja sebagai birokrat. Tujuan pembuatan buku ini, adalah untuk menggalang dana bagi sebuah panti asuhan di Yogyakarta. Niat yang mulia.

Kisah yang ada yaitu Maestro Kodok: Pemimpin Orkestra Padang Rumput, Cita-cita si Peri Kecil, Kisah Sepotong Rito, Dongeng Empat Saudara, Kimuzu yang Pemarah, Ranting Sihir, Fahrel si Semut Congkak, Nula dan Peri Kue, Si Putih dan Wortel Impian, Puteri Angsa Putih, Desas-desus si Buaya, serta Otak Cemerlang Piliang. Setiap kisah mengandung unsur pendidikan pastinya dengan mengusung gaya penulisan masing-masing pengarang.

Beberapa kisah dibuat dengan sangat sederhana sehingga pesan moral langsung bisa dimengerti. Ada juga kisah yang membutuhkan penelaahan lebih lanjut guna mendapatkan pesan yang disampaikan.

Kisah Sepotong Roti misalnya, mengajarkan bahwa yang penting bukan rupa cantik tapi apakah kita bisa berguna dan membawa kebahagiaan untuk orang lain. Serupa dengan pesan moral yang terkandung dalam kisah Cita-cita si Peri Kecil, bahwa setiap anak punya keunikan dan kelebihan masing-masing. Keahlian seorang anak mungkin bisa berbeda dengan yang lainnya.  Yang penting ia bisa berguna dan membuat orang lain bahagia

Kisah favorit saya adalah Dongeng Empat saudara serta ranting penyihir. Dongeng Empat Saudara mengisahkan tentang  empat orang saudara yang mendapat kesempatan untuk mengajukan satu permintaan. Saudara pertama meminta  kekuatan yang tak tertandingi, saudara kedua meminta harta dan kekayaan yang melimpah, saudara ketiga meminta kepintaran yang tak terhingga. Sementara saudara keempat meminta sesuatu yang  membuatnya merasa kuat di saat lemah,  membuat hidup berharga lebih dari harta dan mengajarkan apa yang tidak didapat dari buku.  Dari keempat bersaudara itu, hanya saudara keempat yang bisa menikmati kehidupan dengan tenang.

Ranting penyihir merupakan kisah yang menjadi juara pertama lomba ini. Kisahnya tentang seorang anak yang sangat menginginkan memiliki sebuah ranting penyihir. Dengan ranting itu, mereka bisa bermain apa saja, misalnya adu menumbuhkan pohon paling besar. Sayangnya ranting itu hanya bisa dipakai untuk permainan yang sama sebanyak tiga kali, jika dilanggar maka akan patah dan tak berguna lagi. Hal ini mengajarkan bahwa apa yang dimiliki seseorang tidak terbatas, jangan tergantung pada sebuah alat. Tanpa Ranting penyihir, anak-anak peri bisa bermain sebuah permainan berulang kali tanpa ada rasa cemas.

Sementara untuk kisah Puteri Angsa Putih, saya agak bingung mencernanya. Apa hubungan antara melatih kesabaran dengan emosi membuang sarung tangan yang dipakainya hingga mematahkan kutukan? Bukannya dengan tidak sabar malah kutukan tidak terpatahkan? Mungkin saya yang kurang memahami kisah.

Penempatan urutan kisah menjadi tanda tanya saya, apakah ada makna tertentu atau bagaimana. Jika berdasarkan susunan pemenang lomba, lalu siapa kontributor lainnya? Apakah mereka yang naskahnya dianggap menarik atau bagaimana.

Buku ini benar-benar cocok untuk saya, selain isinya menarik, hurufnya juga bersahabat ditambah ilustrasi yang membuat beberapa kisah menjaid lebih menawan. Anak-anak yang membacanya pasti akan merasa Semoga buku-buku seperti ini makin banyak beredar.

Dari http://birokreasi.com, saya kopas tujuan berdirinya wadah ini, "Akhir 2012, kami, para birokrat yang mengaku suka sastra dan jenuh dengan monotonnya ruang kubikel kantor berdiskusi dan memutuskan untuk membuat sebuah wadah untuk belajar dan berbagi passion yang kami miliki dalam bidang tulis-menulis, terutama soal sastra. Wadah yang segera dituangkan ke dalam ruang di dunia maya, yaitu birokreasi. Silahkan mampir jika ingin mengetahui tentang mereka lebih lanjut.

Pencantuman email di sebelah nama pekerja buku ini sungguh ide yang layak dipuji. Bisa dianggap sekaligus iklan. Mereka yang merasa tertarik lalu ingin menghubungi bisa langsung mengirim email.

Menawan.

Selasa, 15 Desember 2015

2015 #103: Pulung: Dua Penculikan

Penulis: Bung Smas
Disain sampul dan ilustrasi: Sadimin
Halaman: 248
Cetakan: Kedua-Desember 1984
Penerbit: PT Gramedia 

Sekali lagi berurusan dengan Pulung. Untuk kali ini, kita akan berkenalan dengan adik Pulung, Si Polan. Juga mengetahui lebih jauh mengenai adik bapaknya, Si Man.

Polan dan Pulung sedang plesiran ke rumah Si Man, adik bapaknya yang menjadi Polisi.  Karena kesepian, Polan mencari teman. Ia berkenalan secara tidak sengaja dengan 3 M, Maria Margaretha Nurfianti alias Fifi. Putri tunggal seorang pengusaha kaya.

Ternyata perkenalan itu membawa Polan berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Dengan niat untuk menemani Fifi olah raga, pagi hari ia mendatangi rumah Firi. Alih-alib erolah raga,  ia malah diculik dengan harapan agar mampu membuat Fifi mau bertemu sehingga Fifi juga bisa diculik dan dimintakan tebusan.

Pulung yang merasa adiknya hilang mulai melakukan pencarian. Tidak hanya karena dimarahi bapak karena tidak bisa menjaga adik, atau karena tidak tega melihat ibu yang menangis, namun memang ia sayang Polan dengan caranya sendiri.

Sementara Pulung berusaha mencari Polan, Fifi yang merasa kesepian dan merasa bersalah juga mencoba mencari Polan dengan caranya sendiri. Ia nekat melanggar janji dengan mama untuk tidak keluar rumah. Akibatnya bisa ditebak, Fifi menghilang! 

Kegemparan terus berlanjut. Apa lagi menghilangnya Fifi terkait dengan rahasia besar keluarga yang selama ini disembunyikan dengan rapi.

Tugas Pulung tidak saja hanya mencari Polan tapi juga mencari Fifi. Dengan berat hati ia harus bekerja sama dengan Si Man. Meski ia tahu Si Man dan istrinya sangat menyayangi dia dan adiknya tapi tetap saja, ia tak bisa akur dengan Si Man.

Kisah dalam buku ini agak-agak membuat saya merinding. Aksi jagoan Pulung sulit diterima akal sehat. Mungkin saja ada seorang anak kecil yang sangat jago ilmu bela diri di suatu tempat, tapi tidak senekat dan sebengal Pulung. Ia dengan berani mengadu ilmu dengan seorang preman demi mencari informasi mengenai penculik adiknya. Meski sayang adik, aksi Pulung tetap tidak bisa dibenarkan. Karena tidak saja membahayakan dirinya tapi juga orang lain.

Biar bengal, Pulung saat taat pada apa yang dikatakan oleh ibunya. Ia bahkan membaca doa ajaran ibu saat menghadapi masalah. Doa tolak balak ajaran ibu menjadi kekuatan baginya untuk berani menghadapi apapun. Doa itu ada di halaman 205.

Sementara sikap si bapak, buat saya cenderung mengarah pada kekerasan dalam rumah tangga. Mendidik anak, entah perempuan atau laki-laki memang tidak salah jika harus tegas. Tapi apakah tegas itu harus identik dengan kekerasan, jelas tidak.

Oh ya, bagian yang mengisahkan mengenai telepon yang masih harus mempergunakan bantuan operator membuat saya makin menyukuri kehidupan saat ini. Memang dengan demikian mudah bagi Polisi untuk melacak pelaku kejahatan, tapi ketika petugas sedang tidak bisa dihubungi tentunya malah membuat penyelidikan terhambat. Zaman sekarang, kita bisa berlangganan aneka fasilitas yang tidak terbayangkan dahulu.

Entah bagaimana ceritanya ada dua buku dalam rak saya. Satu, versi tahun 1984, saya ingat merupakan hadiah dari Pra saat IRF. Tapi versi satunya saya lupa dari mana. Saat mengeluarkan timbunan buku buluk untuk dibaca, baru saya menyadari ada dua Pulung.

Ah, satu Pulung saja sudah membuat jantung saya berdetak kencang. Apalagi dua Pulung.

Jumat, 11 Desember 2015

2015 #102 : Pulung #5: Sriti Sang Penari


Penulis: Bung Smas 
Gambar sampul dan ilustrasi dalam: Koestolo
Halaman: 184
Cetakan: November 1985
Penerbit: PT Gramedia 


Turun, turun sintren
Sintrene widadari 

Nemu kembang ning ayunan
Kembange si Jaya Indra 
Widadari temuruna…

Kurungan ayam itu diangkat oleh sang dukun. Calon Sintren masuk ke dalam kurungan. Nyanyian mantra terus dilantunkan, diiringi tetabuhan yang semakin membahana.

Solasih solandana 
Menyan putih nggo ngundang dewa
Ana dewa dewane sapa  
Widadari ndang temuruna
Lae suruh temu rose
Aduh lae sintrene mundak ayune… 

Terjemahan bebas:
Turun, turun sintren
sintrennya bidadari
menemukan bunga di ayunan 
bunganya si Jaya Indra
bidadari turunlah…
 
Solasih solandana – nama-nama bunga
Menyan putih untuk memanggil dewa
Ada dewa, dewa siapa
Bidadari segera turunlah
Sirih yang bertemu ruasnya
Aduhai sintrennya semakin jelita…

 
Pulung kembali beraksi dibantu oleh para sahabatnya. Kali ini mereka berurusan dengan hal  yang terkait dengan alam gaib, meski secara tidak langsung.


Sriti, seorang penari belia berwajah cantik yang dipaksa menjadi sintren  oleh sang ayah. Mengikuti jejak kedua kakaknya. Sriti menolak, ia ingin bersekolah lagi, meski orang tuanya tidak memiliki biaya. Keduanya berkenalan ketika melihat pertunjukan tari Kelono Topeng. Entah kenapa, pertama kali bertemu dengan Pulung, Sriti sudah merasa bahwa Pulung  bisa membantunya.


Namanya juga Pulung, selain sudah terpesona dengan wajah cantik dan kemahiran Sriti menari, Pulung merasa tertantang untuk memecahkan misteri. Ditambah, ia merasa ada penggunaan kekuatan gaib dalam urusan sintren.

Belakangan urusan Pulung berkembang tidak hanya perihal Sriti yang mendadak mengilang. Tapi terkait dengan permintaan Oom Win, saudara bapaknya yang menjadi polisi. Ada urusan penemuan ladang ganja yang harus diurus oleh Pulung.


Sekali lagi, Pulung mengajak kita menikmati kisahnya yang mendebarkan hati. Penuh dengan aksi laga dan keseruan yang membuat jantung nyaris tidak berdetak. Ditambah lagi dengan aksi para sahabatnya yang tak kalah serunya. Untunglah mereka memiliki Oon Win, Tante Yan dan lainnya yang selalu mendampingi untuk memberikan pengarahan.

Meski menarik, perlu juga mencantumkan tulisan Bimbingan Orang Tua jika buku ini dicetak ulang. Maksudnya agar beliau-beliau bisa memberikan pengarahan bahwa apa yang dilakukan Pulung sebaiknya tidak ditiru begitu saja. Karena bisa membahayakan diri.

Dalam www.pekalongankab.go.id, disebutkan bahwa, Tari sintren dari Segi bahasa atau Etimologi "Sintren" merupakan gabungan dua suku kata "Si" dan "Tren". Si dalam bahasa jawa berarti "ia" atau "dia" dan tren berarti "putri". Seningga Sintren artinya Si Putri yang menjadi objek pemeran utama dalam pertunjukan ini.

Selanjutnya disebutkan sintren sendiri adalah kesenian tradisional masyarakat Jawa Tengah khususnya Pekalongan, Kendal dan sekitarnya, merupakan sebuah tarian yang berbau mistis / magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Raden Sulandono. Tersebut dalam kisah bahwa Raden Sulandono adalah putra Ki Bahurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso. Akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam goib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono yang sedang bertapa dipanggil rohnya untuk menemui Sulasih, maka terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan Raden Sulandono.

Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya. Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci (perawan), dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang. 


-------------
Curcol dikit ah...

Sosok Pulung melekat dalam benak saya sebagai seorang anak yang berani, selalu membela kebenaran, pandai mengaji dan silat, setia kawan, keras kepala, serta bertingkah semaunya. Telepas dari kelebihan dan kekurangannya, sosok Pulung layak dicintai. Tentunya memiliki anak seperti Pulung sempat terbesit dalam benak saya.

Pulung Jenggolo Jampang.
Pulung. Nama tersebut disarankan oleh seorang yang saya anggap eyang. Kesannya  seorang anak laki-laki yang gagah berani, membela kebenaran, namun taat pada orang tua serta  pandai dalam hal agama. Sayangnya, beberapa sesepuh tidak menyetujui karena takut sang anak akan diejek "pemulung" dari nama "Pulung". Meski tidak jadi mempergunakan nama itu untuk jagoan, saya tetap saja tidak bisa menghilangkan nama itu dari ingatan saya

Kalau nama itu tetap dipakai, entah apakah saya jadi sakit kepala menghadapi kelakuan jagoan atau malah adem ayem saja.