Senin, 20 Februari 2017

2017 #15-16: Jang Tersisih & Bulan Dibawah Air


















Gara-gara  menemani seorang mahasiswa mencari buku di rak, saya jadi tertarik untuk membaca dua buku tipis ini. Menurut saya ini merupakan buku yang unik. Pertama karena halaman kedua buku ini  hanya terdiri dari enam belas halaman. Singkat bukan? Beda jauh dengan beberapa buku yang saya baca belakangan. Bayangkan, seorang penulis harus mampu memukau pembaca dengan halaman yang lumayan sedikit ini.

Kedua, tahun terbitnya lumayan lawas. Kondisi kedua buku ini lumayan terawat, sepertinya sudah mengalami preservasi. Namun tetap saja, saya sangat berhati-hati membuka halamannya. Plus membaca dengan jarak yang agak jauh mengingat alergi debu yang saya miliki. 

Ketiga,  otomatis ejaan yang dipergunakan merupakan ejaan lama sehingga membutuhkan konsentrasi dan kesabaran saat membacanya. Kecepatan membaca harus diturunkan agar tidak salah memahami makna yang terkandung dalam sebuah kalimat. Saya jadi merasa tertantang.

Lumayan untuk menemani akhir pekan

Judul:  Seri Batjaan Remadja: Jang Tersisih
Penulis: Ajaptrohaedi
Gambar kulit: Dachlan Djazh
Halaman: 15
Cetakan: 1965
Penerbit: P.N Balai Pustaka
No Panggil: 

Lalu pergilah dia ke makam ibunja. Menanti ibunja keluar dari lahadnja. Dia duduk diatas tanah makam ibunja. Mentjokeli tanah hingga bertumpuk didepan kakinya. Matanja terus menatap kearah nisan jang terpantjang, lantaran menurut pikirannja, dari situlah ibunja bakal keluar.

Mengapa ibutiri selalu kedjam terhadap anaktirinja?

Entah kenapa yang namanya kisah antara ibu tiri dan anak tiri selalu bekutat dengan kesedihan. Ibu tiri kejam yang menyiksa anak tirinya. Padahal tidak semua ibu tiri seperti itu. Tapi apa mau dikata susah menghilangkan pandangan masyarakat umum.

Kisah dalam ini juga demikian. Seorang anak yang kehilangan ibu pada usia belia. Sang ayah menikah lagi. Anak yang kurang paham pada awalnya merasa bahagia karena ibunya sudah kembali. Ingatan samar pada sosok sang ibu membuatnya percaya bahwa ibu yang sekarang adalah ibunya yang kembali dari pergi jauh.

Seperti kisah yang lain, kasih sayang sang ibu tiri ternyata hanya sesaat. Jangankan ia dipangku, ditemani tidur sambil mendongeng, bersikap manis pun jarang. Untunglah dalam kisah ini tidak ada saudara tiri yang bisa membuat kisah makin penuh dengan urusan menyiksa anak kecil!

Seiring waktu, sang anak ingat pada sosok ibunya. Ditambah dengan cerita orang sekitar mengenai pribadi ibu kandungnya. Ia sering bertanya pada sang uwa mengenai perbedaan perilaku ibu yang sekarang, yang baru kembali dari pergi jauh dengan ibu yang dahulu pergi. Konsep meninggal belum sepenuhnya ia pahami.

Bagian yang mengisahkan bagaimana ia menunggu sehatian dengan harapan sang ibunya muncul dari kuburannya, membuat saya terharu. Penulis mampu menciptakan rangkaian kata yang menunjukan betapa sang anak merasa kesepian dan haus kasih ibunya.

Sementara bagian yang mengisahkan bagaimana sang ibu tiri dengan culasnya menguasai seluruh gaji sang suami yang tetap diterima walau berada dalam tahanan, mampu membuat saya gemas. Licik sekali perempuan itu! Dikuasainya seluruh gaji dengan cara mengirimkan ke kampung halamannya, sementara ia memerankan peranan istri yang menderita. Bahkan ia tega numpang hidup dengan mertuanya.

Sempat saya merasa penulis mungkin berlebihan, adakah perempuan seperti itu. Atau sekedar untuk menguatkan karakter,  menimbulkan kesan sosok ibu tiri yang kejam seperti anggapan orang banyak. Mendadak saya jadi teringat kisah seorang kenalan yang nyaris serupa. Bukan ibu tiri memang, tapi sang istri tega menguntit uang belanja untuk dikirimkan ke rumah orang tuanya. Ia selalu mengeluh kurang belanja sehingga si suami harus banting tulang bak sapi perahan. Kelakuannya terbongkar ketika sang ibu mertua tanpa sengaja mengisahkan perihal televisi lebar yang baru mereka beli hasil menabung uang kiriman sang istri. Padahal di rumah mereka, televisi hanyalah berukuran kecil dan model lama. Bukan memberikan uang pada orang tua yang disesalkan suami, tapi cara sang istri.  Eh kok saya jadi melantur ^_^

Sungguh, kisah dalam buku ini membuat hati menjadi sedih dan kasihan pada sosok anak kecil yang kehilangan ibu. Pesan moral yang bisa kita ambil adalah agar berhati-hari mencari jodoh. Karena apa yang indah terlihat belum tentu seperti itu sesungguhnya.

Iseng, saya mulai mencari informasi mengenai buku ini melalui dunia maya, dan menemukannya di ini. Ternyata  buku yang terbit tahun 1965 merupakan cetakan kedua. Lumayan diminati sepertinya kisah ini.

Judul:  Seri Sastra Modern: Bulan dibawah Air
Penulis: S. Hadisantoso
ASIN: B0000D7JH5 
Halaman: 16 
Terbit: 1964
Penerbit: P.N Balai Pustaka
No Panggil: 800.221 HAD b(1)

Kisah dibuka dengan adegan sepasang kekasih,  Hadi dan Ima yang asyik memandu kasih sambil menikmati bayangan bulan yang jatuh seakan-akan berada di bawah air. Sosok Ima yang digambarkan sangat sensitif, mudah terharu oleh hal kecil, sangat bertolak belakang dengan Hadi yang periang dan lebih memakai logika. Justru perbedaan tersebut membuat mereka bisa cocok.

Nasib baik ternyata tidak memihak mereka, Ima menderita sakit tipes hingga usianya tak panjang. Jangan lupa, dahulu sakit seperti itu sangatlah berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.  Sebelum meninggal Ima masih berkeinginan untuk menikmati cahaya bulan dari jendela kamarnya.

Setelah sekian lama, Hadi kembali ke lokasi dimana dahulu ia dan Ima memadu kasih sambil menikmati cahaya bulan yang terpantul di air. Saat itu ia bertemu dengan sosok PSK yang wajahnya sangat mirip dengan  Ima, Kenangan masa lalunya kembali. Ia setuju pergi dengan wanita itu, lebih tepatnya ia merasa pergi dengan Ima. 

Ternyata wanita itu bukankah sosok PSK sembarangan. Kisah ini berakhir dengan kejutan yang tak terkira. Bisa dikatakan Hadi berada diwaktu dan tempat yang salah karena sibuk mengenang kisah cintanya dengan Ima.  

Kisah yang sederhana namun menunjukan betapa cinta bisa membuat seseorang melakukan hal yang tak masuk akal.Buku ini memberikan kesan moral agar kita tak terlalu terlena dengan kenangan masa lalu. Apa pun yang terjadi dengan orang terkasih, kita harus kuat dan meneruskan hidup. Karena, bagaimana juga yang sudah berpulang tak akan hidup

Pada bagian akhir, penulis memberitahu pembaca melalui tokoh wanita PSK bahwa Hadi adalah seorang astronot dari squadron sebelas. Sementara dari pembicaraan Hadi dan si wanita, diketahui bahwa Ima adalah pelajar diperguruan tinggi publisistik tingkat pertama. Maka tulisan P.A.U Adi  Sutjipto makin terasa hubungannya dengan kisah ini.

 Saya tidak menemukan data mengenai buku ini di halaman depan yang biasa memuat  informasi mengenai buku tersebut. Sepertinya halaman tersebut sudah tidak ada ketika buku ini mengalami  perbaikan. Hanya pada akhir kisah saya menemukan tulisan P.A.U Adi Sutjipto, sepertinya itu lokasi pembuatan kisah ini. Sementara untuk jumlah halaman, sebenarnya pada kover sudah tertera tulisan  yang menyebutkan halaman buku ini.

Iseng, saya menuju ke sini, dan menemukan informasi dasar mengenai buku. Minimal tahu nama menulisnya adalah S. Hadisantoso. Masih penasaran mencoba mencari informasi melalui si mbah dan menemukan data tahun terbit serta ASIN di link berikut.


Tanpa sengaja, kedua buku yang saya baca memiliki kesamaan dalam hal unsur kematian. Pada kisah  Jang Tersisih, kematian sang ibu dari tokoh utama yang membuat kisah ini terbentuk. Sementara pada kisah Bulan Dibawah Air, kesedihan akan meninggalnya kekasih hati yang membuat Hadi jadi bersikap aneh selama beberapa saat di jembatan.

Kedua penulis sepertinya mengambil ide kisah dari hal-hal yang dianggap menarik pada saat itu. Peristiwa yang terjadi di sekitar mereka bisa dijadikan ide bagi sebuah karya. Kedekatan emosi antara pembaca dengan latar belakang kisah, lokasi dan sebagainya membuat kisah lebih cepat diterima.

Jika buku kedua tidak ada ilustrasi, maka buku pertama menyajikan beberapa ilustrasi yang lumayan menarik. Meski tak berwarna seperti kover, namun mampu menimbulkan efek mempertegas kisah. Besarnya juga lumayan, menghabiskan satu halaman. 

Kedua buku tersebut  semula dijilid dengan cara dijahit. Memang kondisinya sekarang sudah dijilid rapi, tapi benang yang dipakai untuk menjilid buku masih terlihat. 

Baik buku pertama maupun buku kedua, terdapat tulisan Pr 16 halaman PN BP di kover depan. Bisa kita simbulkan bahwa ini merupakan buku dengan ketebalan enam belas halaman (meski ada yang 15) terbitan Perusahaan Negara Balai Pustaka.

Menginspirasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar