Selasa, 07 Maret 2017

2017 #17: Pranata Mangsa, Memahami Kearifan Lokal



























Judul asli: Pranatamangsa, Astrologi Jawa Kuno
Penulis: Anton Rimanang
Penerjemah: Andreas Tri Preasetya
Setting & Tata Letak: Winengku Nugroho
ISBN: 9786023560912
Halaman:45
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Kepel Press
Rating:3.25/5


Suta Manut Ing Bapa

Alam Paceklik makin menajam
ketika manusia memasuki
mangsa katelu, yang wataknya
adalah suta manut ing bapak
(anak menuruti ayah)

The nature becomes drier
and drier when entering
season III whose characteristic
is'suta manut bapak
(child obeys father)

~Pratanamangsa Astrologi Jawa Kuno, hal 26~

Gara-gara membaca buku Ahangkara,  saya jadi tertarik untuk mencari referensi mengenai  Pranata Mangsa, pengetahuan tradisional masyarakat Jawa tentang pengaturan musim. Dalam kisah Ahangkara beberapa kali disebutkan mengenai pergantian musim, entah untuk mulai bercocok tanam, panen bahkan musim kering. Untung ada satu buku baru pada koleksi perpustakaan tempat saya bekerja dengan nomor panggil 959.82 ANT p yang bisa dipinjam. Langsung menjadi bacaan malam minggu ^_^.

Sejak zaman dahulu, nenek moyang kita sering mengamati beberapa peristiwa alam lalu menjadikannya sebagai tanda sebuah musim. Misalnya saat daun muali bergururan, kayu mengering, belalang mulai masuk ke tanah berarti saatnya bagi petani untuk membakar jerani dan menanam palawija. Ketika burung Belibis mulai terlihat ditempat berair maka para petani sebaiknya mulai menyebarkan benih padi di tempat pembenihan. 

Sekedar membagi informasi, Pranata Mangsa berarti ketentuan musim, semacam penanggalan terutama terkait dengan kegiatan bercocok tanam perikanan dengan berdasarkan pada peredaran matahari serta siklusnya. Juga memuat aneka aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan pertanian maupun persiapan menghadapi bencana yang timbul pada waktu tertentu. 

Ciri khusus dari kalender ini  adalah umur mangsa yang bervariasi, terpendek hingga 3 hari sementara terpanjang bisa mencapai 20 hari. Hal ini dikarenakan mempergunakan gejala-gejala alam fisik maupun biologis, sehingga umur mangsa tergantung keberadaan gejala-gejala tersebut.

Terbagi dalam dua bagian, buku ini tidak saja menguraikan mengenai Pranata Mangsa saja, namun juga mengenai apa itu Pranata Mangsa, serta bagaimana manfaat dalam kehidupan. Membaca buku ini membuat kita jadi mengetahui banyak hal mengenai antroplogi Jawa kuno, terutama dalam hal bercocok tanam dan berternak. Mungkin ada yang masih ada yang sering diterapkan oleh masyarakat, ada juga yang sudah tidak. Tapi tak ada salahnya mengetahui mengenai warisan leluhur nenek moyang.

Pada pengantar buku ini disebutkan keuntungan mengetahui dan memahami Pratana Mangsa. Antara lain jadi mengetahui kearifan yang dimiliki oleh nenek moyang.  Terkait dengan pengembangan pengetahuan, jangan sampai hal yang sebenarnya sudah ditemukan sejak dulu malah dianggap baru. Lengkapnya bisa dibaca di halaman 4. 

Keunikan lain buku ini adalah  terdapat nama penerjemah. Buat apa ada penerjemah jika ini merupakan buku berbahasa Indonesia? Tentu banyak yang akan bertanya begitu.  Ternyata terjemahan yang dimaksud adalah dari Indonesia ke Inggris. Tanda buku dikerjakan secara profesional.

Karena disajikan dengan dua bahasa, buku ini bisa menjadi duta budaya bagi bangsa kita. Misalnya dengan menjadikan souvenir saat berkunjung ke luar negeri, membagikan sebagai hadiah ke perpustakaan di luar negeri, hadiah ke perwakilan negara. Bahkan layak juga dibagikan untuk perpustakaan dalam negeri sehingga mereka yang bukan berasal dari Suku Jawa bisa mengenal kebudayaan Pranata Mangsa sekaligus belajar bahasa asing.

Ilustrasi yang menawan juga membuat buku ini menjadi menarik untuk dibaca.  Dengan halaman penuh warna, mata pembaca tak akan bosan menikmati gambar yang ada. Uraian singkat yang ada di bawah gambar mendukung pembaca untuk lebih bisa menikmati bacaan.  Pola mega mendung denganwarna hijau yang ada di bagian awal dan akhir kisah sangat sesuai untuk filosofi buku ini, perihal  cocok tanam. 

Semula saya agak bingung dengan judul buku ini. Apakah Pranatamangsa atau Pranata Mangsa, karena tulisan yang tercetak di kover berbeda dengan yang ada di dalam. Ternyata, penulisan berbeda karena mempergunakan bahasa Jawa dan Indonesia.

Lumayan untuk menambah ilmu. Jadi ingat pernah membaca buku serupa namun dengam penjelasan yang agak berbeda. Review mengenai buku sejenis ada di link sini.

Sumber gambar:
1.http://primbon.infoberguna.com/2012/12/tanda-dan-ciri-pranata-mangsa-warisan.html
2. Buku Pranatamangsa, Astrologi Jawa Kuno

3 komentar: