Kamis, 01 Oktober 2015

2015 #76: The Girl on The Train


Pengarang: Paula Hawkins
Penerjemah: Inggrid  Nimpoeno
Penyunting: Rina Wulandari
Perancang sampul: Wida Sartika
ISBN:9786020989976
Halaman: 440
Cetakan: Pertama- Agustus 2015
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp79.000


Naik kereta api ... tut ... tut ... tutSiapa hendak turutKe Bandung ... SurabayaBolehlah naik dengan percumaAyo temanku lekas naikKeretaku tak berhenti lama.
Cepat kretaku jalan ...tut...tut...tut


Banyak penumpang turutK'retaku sudah penatKarena beban terlalu beratDi sinilah ada stasiunPenumpang semua turun
Masih ingat lagu itu?Baiklah para kaum jadulers pasti ingat, Minimal  bagian pertama yang lebih sering dinyanyikan. Eh, nganu, saya sendiri baru tahu ada bagian keduanya hi hi hi. Maklum tidak lulus TK ^_^.
Jika lagu di atas menyebutkan mengenai kesenangan naik kereta api, maka tidak demikian dengan buku ini. Melihat ada bercak darah di kover, sudah bisa dipastikan kisahnya bukan tentang rasa senang bertamasya dengan kereta api.
Rachel Watson bisa dikatakan merupakan gambaran yang pas bagi pepatah kita, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Suaminya berselingkuh dan menikahi selingkuhannya secepat ia menceraikan Rachel, alasannya ia sudah tidak kuat dengan kebiasaan minum Rachel dan sikapnya yang menjadi menyebalkan. Plus urusan anak yang tidak juga mereka dapatkan. Padahal  hanya sang suami-Tom, yang menjadi tumpuan hidupnya sejak sang ayah meninggal. Usianya baru 32 tahun.
Setelah bercerai, karena belum ada yang membeli rumah mereka, Tom untuk sementara membayar bagian Rachel hingga ada yang berminat dengan rumah mereka. Alih-alih mencari pembeli yang sesuai, Tom malah membawa istri barunya itu untuk tinggal di rumah idaman Rachel. 
Menyakitkan kata kalian? Bukan itu yang menyakitkan bagi Rachel, ada lagi. Tiap pagi, Rachel mempergunakan jasa kereta api untuk pergi ke tempat kerjanya, dan setiap hari ia harus melewati jalur yang berada tepat di depan rumahnya! Artinya tiap hari ia akan melewati BEKAS rumah tercintanya yang ditinggali oleh MANTAN suami beserta istri baru dan anaknya. Sakitnya bertubi-tubi itu. 
Selain melewati bekas rumahnya, Rachel juga sering memperhatikan aktivitas sepasang suami istri di rumah nomer lima belas, tak jauh dari bekas rumahnya. Karena ia memiliki daya khayal yang tinggi, Rachel memberi nama sang suami dengan sebutan  Jason dan sang istri dengan sapaan Jess. Sering ia mengarang kisah tentang mereka berdua.
Suatu hari, Rachel melihat hal yang tidak bisa di rumah itu. Tubuhnya bergetar karena kaget ditambah pengaruh alkohol yang diteguknya. Ia merasa penasaran, dan rasa itu makin menjadi ketika ia melihat berita tentang Jess yang ternyata bernama Megan Hipwell menghilang.
Secara naluri, ia tergerak untuk menyampaikan apa yang ia lihat pada Jason. Polisi yang mendatangi dan menerima laporannya juga tidak menanggapi dengan serius semua yang ia ceritakan.  Tak ada yang percaya pada cerita seorang pemabuk. Padahal apa yang ia ceritakan bisa membuka tabir misteri terkait hilangnya Megan.
Kisah dalam buku ini diceritakan berdasarkan rentang waktu yang cukup lama. Dituturkan bergantian dari sisi pandang para tokoh. Semula agak membingungkan bagi saya ketika membaca perbedaan waktu yang cukup signifikan antara para tokoh. Namun sering waktu, hal itu menjadi biasa.
Untuk 100 halaman pertama, saya tidak merasakan ada yang spesial. Karena prinsip buku harus dibaca sampai tuntas, maka saya bertahan. Ditambah lagi, konon buku ini selama 13 minggu masuk dalam daftar The New York Bestseller Fiction 2015, padahal ini merupakan debut dari Paula Hawkins. Pasti ada sesuatu yang layak untuk dibaca khan.
Melewati 100 halaman selanjutnya, baru saya merasakan ketegangan dan keseruan seperti yang dijanjikan dalam endors. Selanjutnya pada halaman 36X, saya TERAMAT SANGAT TERKEJUT! Bukan main...! Kisah yang tak terduga. Gaya bahasa yang semula sederhana dan mudah dimengerti langsung berubah menjadi sesuatu yang memicu adrenalin kita. Hiya......! Trus...trus...trus... aduh kok...!
Sebuah kisah yang sebenarnya sederhana, simpel, tapi penulis bisa meramunya dengan apik sehingga menjadi sesuatu yang tak biasa dan menjemukan. Kisah tentang suami yang berselingkuh dan meninggalkan istri eh mantan istri menjadi depresi bukan hal biasa. Tapi kisah ini bukan sekedar kisah tentang seorang mantan istri yang depresi hingga menjadi pemabuk dan hilangnya seorang wanita muda. Ini kisah yang berbeda. 
Semula saya merasa kasihan pada sosok Rachel. Ia digambarkan begitu menderita dan putus asa. Kadang ia bertingkah konyol, dilain waktu ia malah tidak menyadari apa yang telah ia perbuat.  Ternyata ia juga memiliki andil dalam hilangnya Megan meski tidak langsung. Ups.... ini dari sisi pandang saya lho. 
Tokoh yang agak aneh, tidak biasa menurut saya adalah Jason alias Scott, suami Megan. Entah karena tertekan atau putus asa ia bisa dengan mudahnya membuka diri terhadap Rachel. Bahkan menjadikan orang pertama yang ia hubungi saat kebingungan atau panik ketika polisi atau wartawan mengerubungi rumahnya. Menjadi orang pertama yang didatangi saat butuh tempat untuk sekedar beristirahat. Bisa begitukah sikap kita pada orang yang baru kita kenal? Entahlah tapi tidak untuk saya. Sekedar ramah baiklah, terlalu terbuka nanti dulu. 
Meski bergenre thriller, pesan moral juga bisa kita ambil dari buku ini. Bahwa putus asa dan melarikan diri dengan mabuk justru menimbulkan masalah baru. Sesaat kita lupa akan masalah yang kita hadapi, namun bukannya tidak mungkin begitu tersadar dari mabuk, kita justru menghadapi masalah baru lagi.


Kadang, kita harus menerima fakta bahwa kita tidak cukup mengetahui dengan siapa kita membagi hidup ini. Cinta bisa membutakan segala hal, sehingga hal yang seharusnya kita waspadai justru terabaikan. Namun demikian bukan berarti kita harus curiga dengan pasangan kita. Bersikaplah rasional. Ada saatnya kita perlu pendapat  penjelasan terinci tentang suatu hal. Tapi ada saatnya juga kita harus mengabaikan hal lain.

Kisah ini akan segera difilmkan. Saya penasaran, apakah sosok Rachel bisa diperankan dengan baik oleh Emily  Blunt. Memainkan sosok pemabuk bukan hal mudah, lalu apakah pelaku kejahatan bisa diperankan dengan sangat cantik sehingga penonton akan sama terkejutnya seperti pembaca, saat mengetahui siapa sebenarnya tokoh yang jahat dalam kisah itu. Apakah film akan sebagus aslinya mengingat adanya pemindahan lokasi. Kita lihat nanti ya.

Di sini disebutkan bahwa wanita lebih mungkin memberikan dampak negatif alkohol ketimbang pria. Hal ini karena pria memiliki kandungan air yang lebih banyak di tubuhnya ketimbang wanita, yang dapat membantu mengencerkan alkohol yang diminumnya. Sedangkan pada wanita, dalam jumlah yang sama, alkohol lebih banyak terbentuk dalam aliran darah. Tak heran jika efek yang diterima Rachel sehabis menenggak minuman akan berbeda dengan yang dirasakan oleh pria. 

Selanjutnya disebutkan bahwa  kopi dapat menyebabkan dehidrasi dan dapat membuat mabuk semakin memburuk. Hindari minuman berkafein dan minuman berenergi setelah Anda mabuk. Air putih adalah minuman terbaik untuk menggantikan elektrolit tubuh yang hilang, terutama bila Anda mengalami muntah saat mabuk. Agak kontras juga mengingat sering kali ada adegan mereka yang baru serengah sadar dari mabuk disuguhi kopi dengan alasan untuk melawan rasa kantuk yang diderita.

Saat berada dalam kondisi yang tak menguntungkan, nyaris bangkrut,  penulis wanita ini malah mampu menciptakan karya yang spektakuler. Hal ini juga dialami oleh penulis JK  Rowling.  Saat mendekati tenggat yang saya tentukan sendiri untuk membuat review dan kaget melihat timbunan yang makin tinggi, biasanya saya mampu membuat review yang agak panjang dan sedikit berbobot dalam waktu singkat. The Power of Kepepet, saya menyebutnya begitu. Mungkin saat terdesak, kemampuan kita akan keluar dengan sendirinya dan menghasilkan karya yang lumayan. Siapa yang pernah tahu kemampuan diri sendiri, saat belum terbukti dengan nyata.

Berharap bisa segera membaca karya lainnya.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar