Minggu, 11 Oktober 2015

2015# 79: Girl Meets Boy



Penulis: Winna Efendi
Editor: Yuliya & Widyawati Oktavia
Penyelaras aksara: Ayuning
Penata Letak: Putra Julianto
Desainer sampul: Dwi annisa Anindhika
Penyelaras desain sampul: Levina Lesmana
Ilustrator isi: Gama Marhaendra
ISBN: 9797808327
Halaman: 392
Cetakan: Pertama-2015
Penerbit: GagasMedia
Harga:Rp 68.000

Sering kali orang membandingkan seorang anak dengan saudaranya tanpa sengaja. Jika sang kakak jago menyanyi diharapkan adiknya juga pandai menyanyi, syukur jika lebih. Atau jika adiknya jago bermain piano, maka semua orang mengira kakaknya juag jago bermain piano. Padahal belum tentu begitu.

Saya masih ingat sekali, sebuah kover  kaset lagu (jadul bangat ya) memasang foto seorang penyanyi wanita lalu ada tulisan adik kandung dari X dengan porsi lumayan besar. Apakah pembeli diharapkan mau membeli kaset itu karena nama kakaknya yang sudah terlebih dahulu menjadi penyanyi komersil? Mungkin saja sang adik bisa bernyanyi lebih baik, tapi bisa juga biasa saja. 

Atau anak seorang pelawak besar yang mencoba terjun ke dunia tarik suara. Dipasanglah foto sang bapak dengan tulisan  xxx mirip dengan (nama bapaknya). Saya agak lupa apakah lesung pipit atau kerlingan mata, semacam itulah. Apakah maksud produser untuk mendongkrak penjualan dengan cara itu? Juga untuk menyaingi ketenaran saudaranya yang sudah terlebih dahulu terkenal.

Hal tersebut membuat mereka memiliki beban mental. Padahal bakat dan kemampuan sesuatu yang tidak bisa disamakan. Setiap orang memiliki keunikannya tersendiri. 

Demikian juga dengan Ava Tirtadirga. Selama ini ia selalu berada dalam bayangan kakaknya, Rae. Namun ia tak mengira sebegitu populer kakaknya sehingga ketika ia masuk ke sekolah Alistaire School of Performing Arts and Music, tempat dulu kakaknya menuntut ilmu, semua warga sekolah mulai membandingkan dirinya dengan Rae. 

Jelas tidak adil bagi Ava. Apa lagi selama ini memang prestasinya berbeda jauh dengan Rae. Ava lebih cenderung merupakan anak biasa-biasa saja, tidak menonjol seperti kakaknya. Ia harus berjuang membuktikan jati dirinya sendiri. Ia adalah Ava bukan Ava adik Rea.

Susah memang, apa lagi begitu banyak kenangang atas  kakaknya  yang dia ingat atau orang sekitarnya ingat. Tanpa sadar ia menyanyikan lagu tugas yang dipilih kakaknya, mengikuti cara bernyanyi dan lainnya. Untunglah seorang guru mengingatkan bahwa meski bersaudara, Ava dan Rea adalah dua kepribadian yang berbeda.

"Maksudku, berhentilah mencoba menjadi kakakmu. Kau bukan dia, pun dia bukan kau. Kalian dua orang yang berbeda, dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda pula. Jenis dan warna suara kalian tak sama, tapi bukan berarti itu hal yang buruk, bukan? Sama sekali bukan hal yang buruk." Begitu kata sang guru.

Selain kisah Ava yang berusaha hidup di luar bayangan Rae serta urusan sekolah, ada juga bagian yang mengisahkan tentang sebuah band dimana Ava menjadi vokalis, The Manic Misfits. Sayangnya bagian yang mengisahkan tentang gorup ini cenderung minim. Padahal sosok ketiga anggota band lainnya, Fido, Arabel dan Sugeng sangat menarik jika digali lebih dalam.  Siapa tahu Winna tertarik membuat buku khusus tentang kisah mereka.

Pada tiap bab, ada semacam cuplikan dari diari Rea. Isi curhatan dalam diari itu serupa dengan peristiwa yang dikisahkan dalam bab tersebut. Ava menemukan diari tersebut dan membawanya ke sekolah. Bagian yang berisikan cuplikan diari Rae sengaja dicetak dengan layout berbeda.

Yang tak kalah menariknya adalah judul setiap bab serta ilustrasi yang menyertai judul tersebut. Dalam sebuah bab menyajikan ilustrasi kaset. Unik juga mengingat anak zaman sekarang sudah jarang berurusan dengan kaset. 

Kisah ini mengambil setting  sekolah musik maka tak heran jika kita akan menemukan banyak istilah musik. Jangan khawatir tidak mengerti, akan ada semacam footnote sebagai penjelasan.

 
Jika ini mengenai sekolah musik setara Sekolah Menengah Atas, kenapa saya menemukan kata Fakultas di halaman 30? Misalnya Fakultas Vokal. Kenapa tidak menjadi jurusan atau konsentrasi saja. Apa lagi pada baris selanjutnya menyebutkan kata jurusan. 

Lalu ada kalimat, "... lulusan kelas dua sekolah menengah." Bukankah jika dari kelas satu ke kelas dua disebut naik kelas ya? Atau mungkin saya yang kurang paham istilah sekolah saat ini.

Terpenting, kisah dalam buku ini mengajak kita untuk terus melangkah maju dalam kehidupan ini. Mengenang seseorang atau masa lalu merupakan hal yang wajar, tapi jangan menjadikannya sebagai halangan untuk menjalani hidup. Hidup harus terus berjalan.

Seperti halnya ketika mama Rea membereskan semua barang-barang milik Rea. Bukan untuk menghilangkan cinta dan kenang-kenangan tapi untuk membantunya menjalani kehidupan. "Betapa mudahnya mengategorikan sesuatu yang dulunya berharga menjadi barang bekas, yang mungkin tak akan terlihat lagi."

Sebuah kalimat yang perlu kita renungkan ada di halaman 268, "Jadi, Kai, milikilah mimpi lain. Lepaskan yang mengikat, kejar yang kamu inginkan. Kurasa itulah yang akan dikatakan Kakak kalau dia masih ada di sini."

Layak dibaca untuk mereka yang menyukai dunia musik. Meski saya kurang merasakan greget seorang Winna,  tapi layak juga diganjar bintang 3,5.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar