Jumat, 09 Oktober 2015

2015#78: Sepatu Sang Raja dan Dongeng-dongeng Indah Lainnya


Penulis: Djokolelono
Ilustrasi: Chandra Purnama, deElite Team, Riwisoto
ISBN: 9786020320304
Halaman: 96
Cetakan: Pertama-September 2015
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 50.000

Terpesona.
Kesan pertama yang saya rasakan ketika membuka kiriman dari Hobby Buku. Saya memang sudah melihat kover buku ini sebelumnya di sosmed, tapi tetap saja terpesona ketika melihatnya langsung.

Warna-warna ceria mendominasi kover dan seluruh isi buku ini. Kertas yang dipilih makin memunculkan keindahan paduan warna. Judul dicetak dengan mempergunakan huruf timbul. Sayangnya kurang timbul menurut saya, sehingga perlu disetuh dahulu untuk memastikan bahwa benar judul dicetak timbul.

Jika saya sering kesulitan untuk mencari gambar guna dimasukan dalam review. Maka dengan buku ini beda kasus. Saya justru harus memilih mana gambar yang paling pas, karena semua gambar ciamik tenan jie ^_^

Meski saya menyukai ilustrasi yang ada dalam buku ini, agak sedikit bingung juga kenapa gambar yang dipilih tidak sesuai dengan judul buku? Jika ingin mempergunakan judul itu, ada baiknya mempergunakan ilustrasi yang selasar dengan judul. Dari beberapa lembar ilustrasi ada yang bisa dipilih untuk kover tanpa membocorkan isi kisah.

Untuk urusan kisah, siapa juga yang berani meragukan kemampuan mendongeng seorang Djokolelono. Beliau sangat tahu bagaimana harus memilih kata jika menulis untuk remaja, untuk anak-anak bahkan dewasa. Tiap segmen pembaca  mendapat bacaannya masing-masing tanpa kehilangan 'rasa' seorang Djokolelono-nya

Terdapat enam kisah yang ada dalam buku ini:
1. Sepatu sang Raja 
2. Mawar yang Angkuh 
3. Kamar Raffi 
4. Si Utuk dan si Meri 
5. Ibing, si Kecebong 
6. Biri-biri yang Cerdik

Cukup beragam bukan. Dari mengusung sosok anak laki-laki, bunga  hingga hewan menjadi tokoh dalam kisahnya. Ini menunjukan kekayaan ide penulis. Demikian juga pemberian nama para tokoh, sangat lokal sekali. Meski begitu terlihat penulis agak latah dengan dengan kebiasan di sekitar kita yang memberikan nama anak mirip satu dengan lainnya, seperti Ana-Ani, Fani-Fina. Nama tokoh yang saya maksud adalah Ibing dan Ibang.

Meski seluruh kisah yang ada ditulis dengan bahasa sederhana dan singkat,  tapi pesan moral yang disampaikan tetap menjadi perhatian utama. Contohnya kalimat di halaman 60,  Ibu si Utuk berkata "Setiap makhluk pastilah beda. Tak boleh kita mentertawakannya."

Pesan moral sangat penting untuk dipahami pembaca. Cara penyampaiannya dalam buku ini membuat pembaca, khususnya anak-anak tidak merasa digurui. Dengan mempergunakan semacam role model dalam kisah, tentunya pesan akan mudah dipahami.

Kisah mengenai Mawar yang Angkuh sebagai contoh, memberikan pelajaran bahwa sombong atau tinggi hati merupakan sifat yang tidak baik. Dalam kehidupan ini, kita tidak bisa menilai sesuatu dari bentuk fisiknya saja. Mungkin saja sesuatu yang tidak indah itu justru  berguna dan menyelamatkan sekitarnya. Penampilan fisiknya mungkin saja kurang, tapi pasti ada kelebihan lain yang bisa dibanggakan.

Kadang, sebuah penyelesaian  masalah justru didapati dari hal yang sepele, begitu makna dari kisah Sepatu Sang Raja. Dari pada mengeringkan empang untuk mendapatkan ikan, lebih baik melemparkan jala atau memancingnya. 

Oh ya, buku ini juga mengusung gaya kekinian. Dalam kisah Sepatu Sang Raja disebutkan bagaimana raja tersebut blusukan untuk bisa mengetahui kondisi masyarakat di negarinya. Sang raja menyamar menjadi rakyat biasa sehingga tidak dikenali dan setiap orang yang ditemuinya bisa bercerita dengan bebas apa adanya.


Kenapa saya jadi langsung membayangkan sosok Abduraafi Adrian saat membaca judul sebuah kisah, Kamar Raafi. Selanjutnya ketika melihat ilustrasi sosok bunda dalam kisah itu, otak saya langsung mengarahkan ingatan ke  Ma Bob alias sis Briliantina L Hidayat, terutama bagian sang bunda mengintip dari balik pintu. Kalau soal Raafi mungkin karena kesamaan nama dalam judul, tapi kalau Ma Bob, apa iya seperti itu sehari-harinya? *perlu infomasi lebih mendalam lagi nih*

Di bagian akhir buku, kita akan disuguhi bio data singkat si penulis kawakan. Mengetahui latar belakang pendidikannya adalah astronomi, saya jadi semakin penasaran dengan kisah tentang planet yang diterbitkan ulang. Penulis bahkan menjanjikan akan ditulis hingga tamat. 

Mendongeng merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat produktif yang menjadi bagian dari keterampilan berbicara. Keterampilan mendongeng sangat penting bagi untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi juga sebagai pengembangan ketrampilan seni. Mendongeng adalah menceritakan dongeng yaitu cerita yang tidak benar-benar terjadi.

Beberapa diantara kita mungkin masih ingat bagaimana nenek, kakek, orang tua atau guru mendongeng untuk kita. Ada yang mendongeng dengan gaya lucu, menawan, tapi ada pula yang berkesan seperti membaca buku biasa. Mendongeng juga membuat kita menjadi kreatif. Seperti yang ditulis di bagian belakang buku ini, "Mendongeng merupakan pengalaman kreatif yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Jangan sekedar membacakan dongeng-dongeng ini, tapi ceritakan dengan kata-kata dan gaya sendiri."

Belakangan ini kegiatan mendongeng sudah jarang dilakukan. Padahal kegiatan mendongeng juga dapat menambah erat hubungan anak dengan orang tua.  Dalam http://jakafilyamma.blogspot.co.i disebutkan bahwa menurut para ahli pendidikan bercerita kepada anak-anak memiliki beberapa fungsi yang amat penting, yaitu:

1. Membangun kedekatan emosional antara pendidik dengan anak
2. Media penyampai pesan/nilai mora dan agama yang efektif
3. Pendidikan imajinasi/fantasi
4. Menyalurkan dan mengembangkan emosi
5. Membantu proses peniruan perbuatan baik tokoh dalam cerita
6. Memberikan dan memperkaya pengalaman batin
7. Sarana Hiburan dan penarik perhatian
8. Menggugah minat baca
9. Sarana membangun watak mulia
Saya jadi ingat cerita beberapa sahabat saya saat 
mengikuti kongres pustakawan di luar negeri tahun 
lalu.  Menurut mereka, di beberapa perpustakaan 
mulai digiatkan kembali kegiatan mendongeng di 
perpustakaan. Hal ini dikarenakan mendongeng 
dianggap dapat meningkatkan kreativitas seorang
anak.


Benar khan,  kecil ternyata bermanfaat besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar