Sabtu, 17 Oktober 2015

2015 #82: Let's Sing Cameo Revenge

Penulis: Yudhi Herwibowo & Ary Yulistiana
ISBN: 9786023752072
Halaman: 240
Cetakan: Pertama-Oktober 2015
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp 52.000

Ada apa antara saya, buku dan musik? Sebuah kebetulankah? Setelah beberapa saat yang lalu, saya membaca sebuah buku dengan mengambil latar belakang kisah sebuah sekolah menengah musik dimana para tokohnya disebutkan memiliki keahlian bermusik, kembali saya kembali disodori buku dengan latar belakang sebuah festival musik.


Kisahnya tentang sebuah semacam lomba mencari band terbaik di Kota Cahaya (ini jelas kota buatan Mas Yudhi), July Challenge. Sebuah band dengan nama Cameo terbentuk demi memenangkan perlombaan dan mendapat hadiah uang sebesar seratus juta rupiah. Bukan angka yang kecil.

Para anggota Cameo tak ada yang mengira jika lagu mereka July Lullaby begitu  disukai penonton hingga membuat mereka meraih kemenangan dan tentunya uang seratus juta rupiah. Belakangan mereka merasakan bahwa  ketenaran dan uang sebanding dengan tidak memiliki ketenangan dan kehidupan pribadi.

Di lain pihak,  sebuah band yang sudah lama terbentuk juga sangat ingin menang dalam kompetisi itu demi mendapat kesempatan rekaman. Sudah lama penggemar Revange ingin band tersebut  mengikuti  July Challenge. Entah kenapa butuh waktu lama bagi mereka untuk akhirnya memutuskan mengikuti ajang tersebut. Sayangnya, hasil yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan harapan.

Cameo versus Revenge.
Yang selama ini sudah cukup dikenal ternyata belum tentu bisa bertahan dengan yang baru dibentuk. Ada faktor keberuntungan yang tak bisa dilawan. Bagian ini membuat saya jadi teringat pada ajang adu bakat menyanyi yang sering diadakan oleh sebuah televisi swasta di tanah air. Mereka yang memiliki suara emas belum tentu menjadi juara.

Menang atau kalah, juara pertama atau kedua, uang atau rekaman, apapun hasilnya ternyata mampu mengubah kehidupan para personil band yang mengikuti lomba tersebut. Kehidupan mereka berubah total, tak ada kehidupan pribadi, tak ada lagi masa lalu yang disimpan. Mereka semua harus menentukan pilihan dengan cepat, bertindak cepat serta waspada jika tidak ingin meregang nyawa, minimal tak mampu bernyanyi lagi. Siapa lawan dan kawan sungguh tidak terduga.

Ada sebuah keunikan dari buku ini. Tidak seperti buku pada umumnya, dalam buku ini kita akan menemukan dua prolog juga dua epilog.  Hal ini memang sengaja dibuat begitu oleh kedua penulisnya. Kenapa begitu? Baca dan temukan jawabannya dalam buku ini sendiri ^_^

Sepertinya saya pernah beberapa kali membaca kisah yang ditulis secara duet, program penerbit ini. Satu bagian dikisahkan dari sudut pandang tokoh  yang berbeda tapi semuanya bermuara pada kisah atau peristiwa yang sama .

Cara bercerita dalam kisah dalam buku ini berbeda. Cameo dan Revenge tidak saling mengenal dan berhubungan, tapi keduanya bersinggungan pada sebuah peristiwa yang sama, July Challange.

Entah karena sering membaca kisah dengan peristiwa sama atau karena banyak berita yang membahas hal sejenis belakangan ini, saya langsung menebak maksud dari uraian di halaman 17 mulai baris  empat hingga ketiga belas. Ternyata dugaan saya benar, sepertinya penulis perlu meramu kata-kata dengan lebih piawai lagi sehingga pembaca tidak bisa menebak apa yang dimaksudnya dengan gamblang.

Sebelum membaca sinopsis yang ada di bagian belakang, semula saya mengira ini merupakan sebuah kesatuan judul kisah Cameo Revenge. Unik juga judul itu, menurut saya. Dengan sok tahunya saya mengartikan judul itu secara harafiah sebagai kisah tentang balas dendam seorang cameo  musik. Apalagi melihat kovernya, sepertinya dugaan saya cocok. Sok tahu ya saya hi hi hi. Beda jauh sekali ternyata.

Dibandingkan dengan seluruh buku Mas Yudhi yang saya baca, buku ini merupakan buku yang paling banyak mengusung unsur hiburan. Beberapa hal terkini juga dimasukan dalam kisah guna makin mengentalkan unsur hiburan. Misalnya saja mempergunakan nama Q sebagai salah satu tokoh dengan mengacu pada serial manga detektif, manager artis yang nyambi jadi pengedar, menyebutkan tentang lagu Goyang Dumang serta lagu Glommy Sunday yang terkenal misterius itu.

Agak seram juga saya saat mengetahui lagu ini merupakan inspirasi bagi Cameo. Apakah karena kemisteriusan lagu ini maka Mas Yudhi menjadikannya sebagai padanan untuk menggambarkan sosok para personial Cameo yang misterius? Tapi jika seseorang menyukai lagu seperti ini, bukan tak mungkin ia memiliki sebuah rahasia kelam dalm hidupnya.

Sekedar saran, ada baiknya jika kedua penulis lebih banyak menambahkan istilah-istilah dalam dunia musik sehingga pembaca bisa lebih merasakan aura dunia musik yang menjadi latar belakang kisah kali ini. Konflik seputar ego sebagai pemusik juga sebaiknya ditambah. Tidak hanya membahas konflik yang menimpa para tokoh secara individu semata.

Meski demikian, buku ini perlu dibaca bagi mereka yang ingin memilih musik sebagai karier. Mereka bisa mendapat gambaran betapa susahnya meraih kesempatan untuk maju, bagaimana kehidupan tidak menjadi milik diri sendiri dan keluarga saat sudah tenar dan masih banyak hal lagi yang bisa dipetik hikmahnya dalam kisah ini.
 
Eh nganu, saya bukan penyuka musik dangdut sebenarnya. Tapi dari pada mendengarkan lagu yang membuat bulu kuduk saya merinding, lebih baik saya mendengarkan lagu yang lain yang juga disebutkan dalam kisah ini. Bisa sambil olah raga juga. Tarik mang...!

------------------------
Terima kasih untuk jamuannya selama kita di Solo Mas Yudhi. Termasuk saat tapak tilas ke lokasi tempat diskusi guna menulis kisah ini. Benar-benar gelas susu yang besar ^_^




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar