Rabu, 06 Januari 2016

Januari Giveaway Blast



Januari tlah tiba.....hore..hore..
Lah kenapa mendadak nyanyi hi hi hi
Jadi gini, sesuai dengan tradisi di bulan Januari, maka bakalan ada GA dengan hadiah yang ciamik pula.

Untuk kali ini GA diadakan bareng dengan teman-teman BBI yang juga hut di bulan Januari. Oh ya ada 6 teman-teman blogger yang ikut berpartisipasi dalam acara ini: 

Caranya gampang banget.
Perhatikan tata caranya yaaa:

1. Giveaway dibuka tanggal 6 Januari 2016 dan ditutup pada 31 Januari 2016 pukul 24.00

2. Peserta wajib untuk share giveaway via media sosial

3. Peserta wajib follow blog semua host dan follow akun media sosial--> kalau aku cukup FB saja sosmednya ^_^

4. Peserta menjawab semua pertanyaan dari masing-masing blog. Jadi ada 7 blog yang harus disambangi dan menjawab pertanyaan yang ada

Untuk blogku pertanyaanya adalah:
Sebutkan nama seorang penulis, petunjuknya:
1. Karyanya sudah mendunia
2. Memiliki nama pena untuk buku genre lainnya
3. Jika masih hidup, 9-2016 akan berusia 126 tahun
4. Sekitar 15 buku lebih sudah kubaca bukunya di   
    GRI

Gampang khan.....^_^

5. Jawaban cukup di submit melalui salah satu blog setelah mendapatkan semua jawabannya. 

6. Peserta hanya boleh memasukkan jawaban sebanyak 1 kali ke Google Form dibawah ini

Hadiah
Hadiah utama berupa grand-prize voucher buku senilai Rp. 350.000 untuk 1 orang pemenang

Akan ada 3 pemenang  hiburan yang diundi secara acak untuk mendapatkan 3 buku dari penerbit noura books. Maknanya  ada 3 pemenang hiburan, masing-masing dapat 1 buku ya

Hadiah tambahan
Khusus hadiah tambahan jawaban silahkan langsung diposting di bagian komen.

1. The Count of Monte Cristo-Alexandre Dumas (Eng)
2. Twenty years affter -Alexandre Dumas (Eng)
3. Persuasion-Jane Austin- (Ind)
4. Anabella-Georgette Heyer(Ind)
5. Northanger Abbey-Jane Auten (Ind)
6. The Link-Colins Tudge (Eng)
7. Tiga Sandera Terakhir-Brahmanto Anindito(Ind)
8. Black Beauty-Anna Sewel (Ind)
9. 100 Great Leadership Ideas-Jonathan Giffaro(Ind)
10. Sherlock Holmes The Complete Novel and Stories Vol 4-Sir Arthut Conan Doyle (Eng)
 


Silahkan pilih 3 dari tumpukan buku hadiah ^_^ (free ongkos kirim selama masih di wilayah NKRI)  dengan menjawab pertanyaan:
Buku apa yang akan kalian beli jika mendadak ada yang memberi uang Rp 100 juta? Lalu apa yang akan kalian lakukan terhadap buku itu?
 Selamat bergembira....!


Nyanyi ahhh

------------------
Buat yang bingung, versi ringkasnya begini:

1. Ada 2 GA

2. GA pertama melibatnya 7 blog. Peserta harus menjawab pertanyaan dari 7 host secara benar untuk mendapatkan voucher sebesar 350.000.

Jika tidak beruntung akan ada hadiah hiburan buku dari penerbit Noura

3. GA kedua cukup dengan menjawab pertanyaan  (usil amat tanya beli buku apa kalau dapat uang 100 juta ^_^) di bagian komen.

Pemenang dipersilahkan memilih 3 dari tumpukan buku yang ada di foto. Free ongkos kirim selama masih di wilayah NKRI

4. Batas pengiriman jawaban adalah tgl 31 Januari pukul 24.00 WIB
    


Selasa, 05 Januari 2016

2016 #5: Sebuah Rencana Besar untuk UBI

Judul asli: Rencana Besar
Penulis: Tsugaeda
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Upiet
Pemeriksa aksara: Yusnida & Dewi Surani
Penata aksara: Gabriel
ISBN: 9786027888654
Halaman: 384
Cetakan: Pertama-Agustus 2013
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Rating: 3/5


Sebuah fakta kecil saya temukan dalam buku ini. Penulis menyukai kemeja tangan panjang dengan motif garis-garis vertikal.

Alasan saya menyebutkan itu karena kembali dalam buku ini ia memberikan penjabaran mengenai pakaian yang dipergunakan oleh tokoh utama, Makarim dengan sangat jelas. Sama dengan saat ia menjelaskan mengenai pakaian yang dipakai oleh Teno dalam kisah Sudut Mati saat baru keluar dari penjara. 

Oh ya, kisah dalam buku ini masih mengusung tema konspirasi dan kejahatan kerah putih. Tokoh utama kita, Makarim, dihubungi oleh seorang teman kuliahnya dahulu yang kini telah menjadi pejabat tinggi di Universal Bank of Indonesia, UBI. Makarim diminta bantuan untuk melakukan penyelidikan mengenai kemungkinan terjadinya penyalahgunaan wewenang serta menghilangnya dana sebesar 17 M lebih dari laporan keuangan. 

Semula Makarim ragu untuk menerima pekerjaan tersebut. Kariernya sebagai konsultan berbagai perusahaan besar membuat ia cukup dikenal. Tapi sekali lagi ia adalah seorang konsultan, bukan detektif swasta spesialisasi kejahatan kerah putih. Apa lagi temannya itu sudah melakukan penyelidikan terlebih dahulu dan menyodorkan tiga nama yang dijadikan tersangka utama.

Ada  tiga nama tersangka yang diajukan oleh pihak manajemen UBI . Reza Ramaditya, penyuka buku yang mendadak kehilangan semangat kerja tanpa alasan.  Amanda Suseno, gadis cantik yang mampu membuat setiap pria di UBI bercanda jorok, prestasinya yang terlalu bagus menimbulkan tanda tanya. Ditambah dengan kepercayaan yang diberikan pihak manajemen padanya terlihat terlalu berlebih. Terakhir, Rifad Akbar yang bagaikan duri dalam daging dengan gaya militannya memimpin Serikat Pekerja dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.

Tanpa Makarim sadari, ia sudah berada dalam permainan yang membahayakan dirinya. Ia juga harus berpacu dengan waktu mengingat ia sendiri yang menjanjikan penyelidikan selesai dalam waktu 30 hari. Makarim terjebak antara keinginan untuk mengubah nasib orang banyak, dendam masa lalu, kartel narkoba, pencucian uang dan pembunuhan berencana. Salah melangkah sedikit, nyawanya yang menghilang.


Ketika salah satu tokoh dalam buku ini menyebutkan bahwa suasana kerja tidak nyaman dan jam kerja yang tidak masuk akal sehingga membuat pegawai kehilangan motivasi kerja tapi neraca perusahaan justru dalam kondisi menanjak, saya langsung kehilangan minat pada kisah ini. Sudah jelas bagi saya kenapa dan bagaimana.

Dibandingkan dengan buku yang lain, buku ini jelas menunjukan kelas yang berbeda. Pada buku ini sepertinya penulis masih agak ragu untuk melakukan pengembangan karakter dan manuver cerita yang tidak biasa. 

Terlihat sekali kemajuan pesatnya pada buku kedua. Saya seakan membaca buku yang ditulis oleh dua pengarang yang berbeda. Atau karena pada buku kedua, peranan lebih dari satu editor yang membuatnya jadi demikian? Tapi sebagai buku pertama, ini sudah sangat lumayan.

Mungkin karena terlalu sering menonton film, saya sudah menduga ada sesuatu yang disembunyikan oleh teman lama Makarim ketika pertama kali bertemu. Kenapa ia tidak minta bantuan reserse ekonomi, malah menghubungi konsultan yang sedang  kacau hidupnya akibat kasus perceraian. 

Nyaris setengah buku selesai dibaca, belum ada greget yang berarti. Belakang, bagaikan ombak, segala hal yang bisa membuat pembaca melotot datang secara beruntun. Dari terbongkarnya siapa pelaku kejahatan, usaha pembunuhan hingga urusan demo buruh.

Untuk buku yang ini, penulis justru memberikan banyak catatan kaki mengenai berbagai istilah yang digunakan. Hal ini sangat membantu pembaca, terutama yang tidak memiliki pengetahuan dalam bidang perbankan.

Untuk urusan kover, sepertinya tidak perlu banyak dikomentari. Warna merah tua yang menjadi latar terlihat menarik dipadu dengan nuansa coklat Ilustrasi dan judul. Ilustrasi dengan mempergunakan boneka yang digerakan dengan tali sangat cocok untuk menggambarkan situasi yang terjadi dalam kisah. Mereka yang dipaksa bergerak sesuai dengan keinginan pimpinan diwakili dengan sosok boneka kayu. Sementara mereka yang menjadi pemimpin, penentu arah kebijakan diwakili dengan ilustrasi telapak tangan. 

Kemarin malam, saya menghubungi beberapa teman yang memiliki profesi sebagai edtor demi memuaskan rasa penasaran saya akan "..." yang sering saya temukan dalam buku karangan Tsugaeda. Menurut mereka itu bisa bermakna orang yang menjadi lawan bicara tidak bisa berkata-kata atau tidak tahu harus menjawab apa. Baiklah, meski begitu dicoba saya merasa aneh tapi setidaknya tidak penasaran lagi.

Btw thx berat buat Silvana Rahayu yang membuat buku ini bisa mendarat dalam timbunan saya 

Senin, 04 Januari 2016

2016 #4: Kisah Godfather versi Indonesia


Judul asli: Sudut Mati
Penulis: Tsugaeda
Penyunting: Pratiwi Utami, Ika Yuliana Kurniasih, Adham T. Fusama
Perancang sampul: Bara Umar Birru
Pemeriksa aksara: Pritameani, Intan, Septi ws
Penata aksara: Aryazendi
ISBN: 9786022910374
Halaman: 344
Cetakan: Pertama-September 2015
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Rating: 4/5

Buku sering berjodoh dengan saya melalui cara yang unik. Pepatah yang menyebutkan jika jodoh tidak akan kemana, sangat tepat untuk menggambarkan saya dan buku ini. Sempat melihat di toko buku tapi agak ragu membelinya. Maklum trauma dengan kalimat  Sebuah Novel Thriller Korporasi

Beberapa buku yang mengaku merupakan kisah thriller malah membuat saya tertawa. Bukannya hanyut dalam cerita, malah gregetan ingin merombak cerita menjadi masuk akal. Untungnya buku ini membuat saya lupa diri.

Buku ini mendarat dalam tas saya berkat campur tangan Pieter dari Penerbit Mizan. Sebagai hadiah karena saya sibuk koar-koar meramaikan acara di booth mereka saat IRF yang lalu. IRF lagi he he he, maklum program babat timbunan.

Kisahnya unik, meski membaca buku ini membuat saya teringat akan kisah Godfather besutan Mario Puzo. Adalah Titan, anak yang semula tidak ingin ikut campur tangan urusan keluarga mendadak pulang dari Amerika dan langsung melakukan banyak perubahan pada Grup Prayogo. Meski perubahan itu tidak populer, tapi mampu membuat kondisi keuangan yang berada di zona merah, perlahan tapi pasti bergeser ke arah hijau. 

Titok sang kakak merasa tersisih. Sebagai anak pertama, secara otomatis ialah yang mewarisi kekuasan sang ayah,Sigit Prayogo.  Ia menuntut segara diberikan limpahan kekuasaan sementara sang ayah sedang sibuk mencalonkan diri sebagai presiden hingga berkurang waktu untuk perusahaan.

Berbagai upaya dilakukan sang ayah demi meraih kursi presiden, termasuk memanfaatkan ketenaran putri semata wayangnya, Tiara sang artis sinetron.  Hem... penguasa yang jadi capres dengan berkampanye mempergunakan anak yang kebetulan artis membuat pikiran saya menjadi terarah pada salah seorang pengusaha. Sindirankah?

Tentunya harus ada yang menjadi saingan Grup Prayogo sehingga kisah menjadi seru, yang mendapat peran adalah Grup Ares. Makin mirip dengan kisah Godfather ketika Kevin, putra tunggal penguasa grup itu menikahi Tiara, putri musuh besar keluarganya, Pernikahan yang dilakukan demi sebuah proyek balas dendam.

Dalam sebuah keluarga, ada yang berperan menjadi kambing hitam. Dialah Teno anak kedua dalam keluarga Prayogo. Teno selama ini berada dalam tahanan dengan tuduhan membunuh ibu kandungnya. Sikapnya juga sangat eksentrik. Ia sering dipuja karena orasinya, dilain waktu justru membubarkan sebuah pertemuan dengan perkatan singkatnya. Titok bahkan sudah menyusun sebuah Manifesto. Salah satu yang harus ia lakukan adalah menyingkirkan ayahnya!

Selanjutnya kisah dalam buku ini membuat saya kedanan, tidak ingin meletakkan sebelum kisah berakhir.  Alurnya cepat tidak bertele-tele. Pemilihan kata sangat efisien namun mampu menyampaikan secara pas apa yang ingin dikemukakan oleh sang penulis. Kejahatan krah putih bercampur dengan harmoni dengan baku hantam ala preman pasar. 

Ilustrasi yang ada dalam buku ini juga luar biasa bagus! Sebenarnya merupakan gambar sederhana saja, tapi efek yang ditimbulkan besar dan sesuai dengan jalan cerita. Sosok seorang pria yang sedang menghadap ke jendela, memperhatikan gedung dan suasana di luar sambil memegang segelas minuman. Kesan yang ditimbulkan adalah sosok seorang pria yang memiliki kekuasaan tak terbatas. 

Semula saya ingin memberikan bintang 5, tapi karena pertimbangan beberapa hal terpaksa jadi dikurangi. Pertama, adanya pemakaian istilah dalam bahasa asing tanpa ada terjemahannya. Collateral damage sebagai contoh.  Tidak semua orang mengerti apa itu maksudnya. Akan lebih baik jika ada catatan kali mengenai kata itu.


Sosok pembunuh nomer wahid sudah terbuka kedoknya di bagian agak tengah kisah. Tapi kepastiannya saya temukan di halaman 2xx. Seandainya penulis tidak membuat adegan tentang kenangan Tiara di New York pasti rahasia itu akan aman dan makin membuat penasaran pembaca.

Meski kisah ala mafia sering diakhiri dengan terbunuhnya saingan, tapi dalam kisah ini mereka mati dengan terlalu mudah. Bukan! Bukan saya kejam, tapi bayangkan betapa saya tidak gemas, setelah melakukan banyak petarungan dengan berani, akhirnya  salah satu tokoh kalah dan meninggal dengan cara yang konyol. Ibarat jagoan, lolos dari aneka peluru dan lemparan pisau, tapi ia justru mati tersedak duri ikan. 

Saya penasaran dengan "..." yang sering muncul dalam kalimat. Maksudnya apa ya? Apakah maksudnya jeda? Maklum kemampuan tata bahasa saya minim, jadi penasaran jika melihat yang agak tidak biasa.

Oh ya, satu lagi kekuatan buku ini adalah pada para tokoh. Para tokoh digambarkan sebagai karakter yang kuat, bahkan sosok sang ibu yang sudah meninggal pun mampu menciptakan aura tersendiri. Meski demikian sosok Titan yang digambarkan sebagai manusia utuh (ada plus dan minusnya), kurang terasa berwibawa dibandingkan sang kakak Titok. Bahkan Teno pun digambarkan sebagai sosok misterius berdarah dingin yang mampu menciptakan bulu kuduk seseorang berdiri hiiiiii!

Kalimat yang sangat saya sukai adalah kalimat yang diucapkan oleh Teno, "Kesamaan pendapat bukan berarti kesamaan posisi. Mantap!


--------
Mendadak jadi ingat!
Pingin tahu semata, kenapa ya penyuntingnya banyak bingits? 3 lawan 1 lho. Wah wah wah jadi penasaran ada apa dibalik itu? *Bikin sensasi ngak jelas*

Minggu, 03 Januari 2016

2016 #2-3: Menikmati karya V Lestari



Sebelum menyukai kisah fantasi, saya menyukai kisah misteri, dan detektif . Cerita detektif adalah cabang fiksi kriminal yang berpusat pada penyelidikan sebuah kejahatan oleh seorang detektif, polisi atau seseorang yang dianggap memiliki kemampuan setara itu. Kejahatan bisa pembunuhan dan lainnya, tapi pada umumnya memang terkait urusan hilangnya nyawa orang.

Nama-nama penulis dunia bisa ditemukan di rak buku saya. Tidak hanya penulis dari luar, tapi juga penulis lokal.  Urusan kisah misteri, di tanah air kita juga dikenal nama S. Mara Gd  dan  V Lestari.  Sosok  V.Lestari dilahirkan di Bogor. Tokoh yang berperan sebagai detektif dalam bukunya adalah perempuan. Novel pertamanya, Yang Tak Ternilai, terbit tahun 1982. Sejak itu sudah lebih dari 30 novelnya diterbitkan Gramedia. 

Belakangan, entah kenapa saya kurang cocok membaca kisah detektif buatan penulis lokal. Ada greget yang seakan hilang. Untuk mengobati kerinduan yang ada, saya mulai mengumpulkan buku-buku karangan penulis detektif lama.

Saat IRF 2015 kemarin, saya mendapatkan harta karun berupa dua buah buku karangan V Lestari. Buku pertama berjudul  Sentuhan Sayang setebal 600 halaman lebih, cetakan kedua. Sementara buku yang lain adalah Cinta yang hilang setebal 176 halaman, cetakan pertama.

Mungkin buku ini sudah tidak diinginkan oleh pemiliknya sehingga ada di area bookswap. Tapi begitulah, buku yang saya koleksi mungkin tidak akan dikoleksi oleh orang lain. Bisa saja buku yang saya letakkan di meja swap adalah hartu karun bagi orang lain. Berbagi dengan indah ^_^

Judul: Sentuhan Sayang
Penulis: V Lestari
Desain dan ilustrasi cover: Eduard Iwan Mangopang
ISBN 10: 9792225889  
ISBN13: 9789792225884
Halaman: 648 
Cetakan: Kedua-Juni 2007
Penerbit: PT Gramedia Pustaka 
Rating: 3/5


644 halaman!
Hal pertama yang membuat saya tercengang! Bukan main buku dengan setebal ini, menawarkan kisah detektif seperti apa? Apakah dalam sebuah kasus ada banyak tersangka? Atau sebuah kasus mengacu pada kasus yang lain? Atau.... banyak pertanyaan yang timbul dalam benak saya.

Setelah membaca setengah buku ini, saya terpaksa menurunkan penilaian awal. Kisahnya agak berbelit-belit sehingga berkesan membosankan. Padahal awalnya sudah sangat menggoda.

Pada sinopsis sudah diarahkan bahwa persoalannya bukan saja pada tokoh yang mendadak meninggal tapi juga ada urusannya dengan peminjaman uang dan perselingkuhan. Motif apa lagi yang lebih baik dari itu? Uang dan cinta. 

Sebenarnya salah satu kekurangan kisah ini ada pada pelaku penyelidikan. Seandainya polisi yang bertugas menangani kasus diberikan bobot yang lebih besar tentunya kisah akan lebih seru. Tapi penulis justru seakan sibuk membuat adegan drama tiada henti antara para tokohnya. 

Buku ini membuat saya merasa betapa rumitnya kehidupan berumah tangga serta bertetangga. Serta betapa cinta kadang berlabuh dengan cara yang sukar dipercaya. 

Bagi yang ingin tahu sinopsis kisah ada di:

Judul: Cinta yang Hilang
Perancang sampul: David G
Halaman:176
Ceakan: Pertama-1993
Penerbit: TRIKARYA, Jakarta

Dibandingkan dengan buku satunya, buku ini cenderung langsung pada sasarannya. Dengan 176 halaman, kisah menjadi singkat dan padat. Oh ya, detektifnya kali ini seorang pria bernama Joko, adik dari korban yang bernma Sumiati.

Kisahnya semula sangat sederhana. Suami Sumiati mendadak tidak pulang ke rumah. Pagi hari ia pergi ke kantor seperti biasa tapi tidak pernah kembali lagi ke rumah. Sang istri tak pernah lelah mencarinya. Mulai dari sekedar membaca berita mayat ditemukan, mendatangi kantor hingga meminta bantuan orang pintar. 

Pak Bachtiar bukan pengusaha sukses, atau pria yang suka neko-neko. Ibu Sumiati memiliki profesi sebagai penjahit dengan langganan para orang kaya, dari istri pejabat hingga penyanyi. Sehingga kecil kemungkinan ada orang yang menculik dan meminta tembusan uang. Perkawinan selama 7 tahun juga adem-ayem mesti tanpa adanya anak.

Ternyata urusannya bukan pembunuhan!
Seseorang bisa saja berubah dan keluar dari zona nyaman saat ada kesempatan. Ia yang selama ini hanya diam bukan berarti tidak bisa bicara, mungkin tidak diberi kesempatan atau tidak dihargai saat bicara. 

Tidak hanya dibutuhkan cinta sepasang suami-istri dalam mengaruhi bahtera rumah tangga. Dibutuhkan juga pengertian, saling menghargai dan kesempatan untuk bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Kenapa buku ini jadi mengingatkan saya pada seseorang ya...

Jumat, 01 Januari 2016

2016 #1: Mayat dalam Perpustakaan

Penulis: Agatha Christie
Alih bahasa: Ny Suwarni A.S

Desain dan ilustrasi sampul: Steven Andersen
ISBN: 9789792282856
Halaman: 288
Cetakan: Ketujuh-2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 
Rating: 3/5

Tentunya anda tidak termasuk orang yang suka dibangunkan mendadak dari tidur nyenyak. Apalagi jika alasannya adalah ditemukan sosok tak bernyawa di perpustakaan.

Tidur tuan Bantry segera berakhir ketika sang istri dengan tergopoh-gopoh menyampaikan laporan dari kepala pelayan mengenai ada mayat perempuan muda berambut pirang di rumah mereka, Gossington Hall. Mayat itu ada di perpustakaan. 

Tak ada yang kenal dengan gadis malang itu. Polisi segera dipanggil, para pelayan mulai bergosip ria perihal kemungkinan adanya perselingguhan. Nyonya rumah tak mau ketinggalan, segera supir diminta menjemput salah satu sahabatnya, Miss. Marple.

Belakangan ditemukan fakta bahwa gadis malang itu mati tercekik. Polisi juga berhasil menemukan bahwa gadis itu bernama  Ruby Keene, seorang penari muda yang bekerja pada Hotel Majestic. Saudaranya yang bekerja di sana dimintai keterangan dan diharapkan kehadirannya untuk identifikasi mayat.

Peristiwa makin seru ketika ditemukan mayat seorang wanita lagi. Juga fakta bahwa belum lama berselang tuan Bantry juga terlihat menghabiskan waktu di Hotel Majestic. Lalu kenapa ia mengaku tidak mengenal mayat itu?

Kisah yang juga melibatkan sebuah keluarga lain, menjadikan peristiwa makin rumit. Banyak hal mencurigakan serta serba kebetulan. Belum lagi ada ikatan pernikahan yang disembunyikan. Oh ya, konon tokoh keluarga ini terinspirasi dari satu keluarga yang juga berkunjung ke hotel yang sama dengan Agatha Christie.

Saat membaca kisah Agatha Christie, kita harus berhati-hati karena sering kali sebuah hal sepele yang sebenarnya membantu memecahkan masalah disampaikan dengan gaya sambil lalu sehingga pembaca tidak menyadari sudah melewatkan sebuah fakta penting.

Tokoh utama kisah ini Miss Jane Marple merupakan seorang perawan tua yang memiliki ketrampilan khusus terkait nalar. Tidak ada yang mencurigai seorang perawan tua usil ingan tahu banyak hal. Pertanyaan yang ia berikan sering dianggap sebagai pertanyaan konyol orang yang ingin tahu semata, padahal ia sedang melakukan penyelidikan. Dengan demikian ia bisa melakukan penyelidikan dengan leluasa. Ia bahkan mampu mengalahkan polisi memecahkan sebuah masalah.   Sehari-hari Miss Marple tinggal di desa St. Mary Mead

Miss Marple dengan gayanya sendiri mampu menemukan sebuah motif pembunuhan pada para tersangka sebelum akhirnya menemukan metode pembunuhan yang dlakukan tersangka serta mengungkapkan pelaku dengan cara unik.

Dame Agatha Mary Clarissa Christie, DBE  lahir pada 15 September 1890 dan meninggal pada 12 Januari 1976. Ia merupakan penulis fiksi kriminal terkenal. Dengan nama Mary Westmacott ia menuliskan kisah roman. 

Ada lebih dari 80 novel dan sandiwara teater yang kebanyakan merupakan kisah detektif dan misteri pembunuhan ruangan tertutup. Tokoh yang sering digunakan adalah Hercule Poirot dan Miss Marple. Kisah pembunuhan dalam ruang  tertutup ini pertama kali terbit pada tahun 1942.

Judul dari kisah yang ditulis lumayan unik. Buku ini misalnya, saya beli dari seorang pedagang buku ol karena mengusung kata perpustakaan.  Sebagai pemilik perpustakaan pribadi, tentunya saya tidak ingin ada mayat orang tak dikenal berada di dalamnya. Ada lagi judul  Cat Among the Pigeons, Cards on the Table,  N or M?, 4.50 from Paddington dan favorit saya The Big Four.

Sayangnya kover buku ini kurang menggambarkan posisi terjadinya peristiwa. Saya hanya bisa menangkap kesan sosok yang meninggal tercekik dari adanya tali yang melingkar di leher. Justru kover dari edisi lain yang saya temukan di Goodreads lebih menarik bagi saya.

Lumayan untuk membuka review diawal tahun 2016


Sumber gambar: Goodreads

2015 #117-118: Sentuhan Karya Peter van Dongen

Sebuah paket buku mendarat di kantor saya. Sempat ge er nih mau dapat paket buku, apa lagi lihat buntelannya cukup besar. Ternyata, hiks tertipu deh. Itu buku-buku yang dikembalikan oleh Raafi he he he. Ada buku tentang naga dari IRF 2015 (setahun lebih!) serta 2 buku yang dipakai saat persiapan acara Peter van Dongen beberapa waktu yang lalu

Karena baru kembali dari pergi jauh (ih sok melo), jadi biarlah kedua buku ini menjadi buku-buku yang direpiu di akhir tahun 2015. Keduanya terkait karena ada unsur karya Peter van Dongen. Buku pertama, Lost City of Z mengusung ilustrasi kover oleh Peter. Sementara buku Rampokan Jawa & Selebes merupakan buku karya Peter.


Judul: The Lost City of Z
Penulis : David Grann
Ali bahasa: Primadona Angela
Editor: Lulu FitrinRahman
Desain sampul: Peter van Dongen
ISBN: 9786020313801
Halaman: 463
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Dalam buku ini, Peter hanya berpean sebagai ilustrasi sampul saja, Tapi kebanyakan pembeli akan memilih sebuah buku karena tertarik pada kover buku tersebut. Hal yang tak bisa dipungkiri. Peter membuat sampul buku ini dengan begitu menawan. Menggabungkan antara nuansa hutan yang misterius  dengan sensasi petualangan yang bisa didapatkan. Apalagi jika sisi yang ditekuk dibuka, nuansa menawan makin terlihat.

Buku ini mengisahkan tentang kota Z yang hilang serta upaya mencarinya. Semula saya mengira ini adalah buku fiksi, tapi ternyata saya salah. Ini buku non fiksi yang agak berat bagi saya ^_^ apalagi dengan metode bercerita yang cenderung mempergunakan kalimat dan paragraf panjang.  Oh ya satu hal yang agak membosankan bagi saya adalah adanya fakta atau uraian yang diulang beberapa kali. Seharusnya jika sudah diungkap tidak usah disebut lagi. Untungnya saya terbantu dengan huruf yang nyaman bagi mata.

Seorang penjelahaj legendari Inggris, Percy Fawcett memasuki hutan Amazon mencari kota Z,  El Dorado. Fawcett mengajak anak lelakinya yang berusia 21 tahun, Jack serta sahabatnya Raleigh Rimel. Hilang tahun 1925. Ia tidak pernah kembali. Seorang wartawan, David Grann menuturkan kisah tersebut.

Saat itu, tentunya belum teknologi belum seperti saat ini, berbagai peralatan canggih tersedia guna memudahkan pekerjaan. Tapi saat itu hanya ada peralatan sederhana seperti parang, golok, tali dan sejenisnya.

Selanjutnya ada upaya mencari jejak  Percy Fawcett dipimpin oleh seorang bankir Brasil berusia 42 tahun bernama James Lynch. Tentunya butuh banyak persiapan mencari  orang yang sudah hilang selama 80 tahun lalu. Ekpedisi tersebut merupakan hal yang mengandung banyak tantangan dan mungkin saja mustahil dilakukan. Peringatan profesor kepada anak laki-lakinya, "Apabila dengan semua pengalamanku aku tak mampu melakukannya, sungguh kecil harapannya orang lain bisa

Meski bukan penulis buku ini, Peter tetap berkenan memberikan tanda tangan. Terima kasih sekali Peter *big hug*. Juga Raafi yang berkenan menggantikan saya untuk minta tanda tangan. Saat H- sekian mendadak saya mendapat tugas dari jenderal di rumah untuk menemani ke Solo. Dari pada saya dikutuk jadi kodok, lebih baik saya saya ikut dan kehilangan kesempatan bertemu dengan Peter ^_^
 
Judul: Rampokan Jawa & Selebes
Penulis & ilustrator: Peter van Dongen
Alih bahasa Jawa: Barnie M. Liem
Alih bahasa Selebes: Egbert Wits
Penyelaras aksara: Anggi Minarni
Tata letak isi: Era Saptiana
Desain sampul: Ryan Pradana
ISBN:9786020307701
Halaman: 168
Cetakan Pertama-2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kisahnya tentang seorang pria kelahiran Selebes yang kembali ke Indonesia pada era kemerdekaan. Johan Knevel berangkat mempergunakan kapal. Tanpa sengaja ia membunuh seorang komunis Beanda bernama Erik Verhagen.  Ia menjadi merasa dihantui oleh rasa bersalah dan arwah rekannya tersebut. 
 
Sekedar untuk memudahkan perjalanan, ia mempergunakan identitas Erik. Ternyata ia justru diburu Belanda karena Erik adalah seorang komunis yang dicari.  Johan lalu pergi ke Makasar mencari pengasuhnya dahulu, Ninih.
  
Sebenarnya saya agak sulit menikmati kisah ini, konsentrasi saya agak terpecah. Disatu sisi sibuk membaca kalimat yang ada, sisi lain sibuk menikmati gambar yang dibuat oleh Peter. Meski hanya terdiri dari dua warna, tapi kisah disajikan dengan apik.

Banyak detail yang disajikan dengan baik sehingga tak heran butuh waktu sekitar 6 tahun bagi Peter untuk menyelesaikan buku ini. sekedar usul, mungkin Peter harus lebih mengenal ciri khas orang Indonesia. Karena tiap suku memiliki ciri keunikan sendiri. Saya merasa Peter menyamakan sosok orang Indonesia dengan ciri khas Asia secara umum. Sosok orang Betawi, Bugis atau lainnya seakan ditampilkan dalam wujud menyerupai orang dengan mata sipit. Tentunya menjadi tidak pas.

Andai buku sejarah juga disajikan dalam versi ini tentunya akan menyenangkan. Makin banyak yang tertarik untuk bisa belajar sejarah. Dalam buku ini kita akan mendapat informasi mengenai kehidupan di era kemerdekaan, saat Jepang kalah dan Belanda ingin kembali ke tanah air.

Saat kecil, Peter sering mendengar dongeng tentang kehidupan masyarakat Jawa Buktinya kita akan menemukan tentang.budaya Rampok Macan yang kondang pada abad ke-19 di daerah Kediri. Merupakan semacam kegiatan budaya dimana prajurit kerajaan dan masyarakat memburu  seekor macan. Lalu prajurit Kerajaan Majapahit harus berhasil membunuhnya. Jika macan itu lolos maka kan terjadi bencana besar bagi negara dan rakyat.

Sekali-kali perlu juga kita mengetahui bagaimana pandangan seorang  pengarang Belanda. Tentunya Peter sudah sangat berusaha profesional menjalankan pekerjaannya.

-----------
Review ini terpaksa dibuat dalam versi world sebelum akhirnya sambungan internet normal. Akhirnya...siang ini bisa posting, padahal reviewnya sudah selesai sejak tanggal 31 Desember 2015.

Betapa, urusan review membuat saya tergantung dengan jalur internet. Hadeh...