Kamis, 13 November 2014

Review 2014#63: Surat dari Putri Cecelia (Stolen Songbird #1)

Kadang-kadang seseorang harus melakukan sesuatu yang tak terbayangkan.

Dan aku, Cecile de Troyes dengan penuh kesadaran melakukan hal yang tak terbayangkan.  Semuanya dimulai sejak aku diculik dan dibawah ke kota yang jauh tersembunyi, kota Trollus. Aku diculik karena kepandaianku bernyanyi dan kondisi fisikku. Menakutkan. Bahkan aku terpaksa berpartisipasi dalam penculikan tersebut. Guna membawaku kepada mereka yang begitu menginginkanku, aku dan sang penculik harus melewati berbagai rintangan yang membahayakan jiwa kami. Aku harus bekerja sama jika ingin selamat. Entah mana yang lebih menakutkan, mati selama perjalanan atau selamat sampai di tempat.  Atas keberhasilan menyeretku,  si penculik laknat itu berhak mendapatkan bayaran berupa emas seberat badanku.

Kenapa heran?
Tak percaya ada yang memiliki kekayaan sebesar itu?
Memang tidak, tidak di atas bumi. Tapi tahukah kalian, aku diculik dan dibawa ke kota Trollus yang letak di bawah reruntuhan gunung. Dan siapa lagi yang memiliki kekayaan di bawah selain bangsa Troll!

Bangsa Troll yang menurut para tetua hanya legenda saja ternyata benar-benar ada. Mereka berukuran lebih besar daripada manusia dan memiliki tenaga yang besar. Bentuk Troll seperti manusia batu. Apa yang aku  ketahui tentang Troll sangat berlawanan dengan fakta yang akui temukan. Troll tidak berubah menjadi batu ketika terkena matahari. Tidak semua bangsa Troll buruk rupa, setidaknya Pangeran Tristan sang putra mahkota cukup rupawan. Ia tinggi dan ramping dengan mata berwarna perak yang memancarkan intektualitas yang tajam, serta berpakaian rapi tanpa cela.
 
Oh ya, penculikan diriku ternyata berkaitan dengan sebuah ramalan yang berusia 500 tahun. Ramalan itu menyebutkan bahwa seseorang manusia dengan ciri-ciri seperti aku akan membebaskan mereka dari kutukan sehingga mereka bisa keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan.

Hampir 500 tahun lalu seorang penyihir manusia membelah gunung menjadi dua dan mengubur Trollus dalam bebatuan. Dengan kekuatan sihir mereka berhasil mencegah kota hancur terhimpit. Butuh waktu lama untuk menggali jalan keluar dan mengetahui sang penyihir mengutuk mereka terikat dengan kota selama ia masih bernafas.

Guna mematahkan kutukan itu, aku harus terikat dengan Pangeran Tristan yang angkuh dan sombong. Entah apa yang membuat mereka yakin bahwa akulah yang disebut dalam ramalan itu. Sudah cukup penderitaanku hidup diantara makhluk yang menganggap aku lemah masih ditambah harus berurusan dengan pangeran angkuh.

Melarikan diri merupakan hal yang mustahil. Jika aku memberontak dan melakukan perlawanan secara terang-terangan maka sama halnya dengan membuatku harus menghitung hari dengan meringkuk di lantai sambil menunggu kematian menjemputku. Atau menjalani saja setiap hari dengan berbagai hal yang bisa ditawarkan padaku. Aku memilih bertahan untuk menjemput kebebasanku bagaimana juga caranya.

Kehidupanku di sana jelas bukan hal yang mudah. Mereka memang tidak berani mengusikku terutama sekali karena Raja mengeluarkan dekrit akan menghukum siapa pun yang berani mencelakai diriku. Tapi tatapan mereka tak bisa dilarang. Mereka saling berbisik di belakangku tapi menundukan kepala saat aku melintas di depan mereka. Aku hanyalah makhluk lemah bagi mereka.

Guna memenuhi kebutuhan hidup, bangsa Troll melakukan pedagangan dengan manusia. Meski dipandang rendah, Troll membutuhkan manusia guna kelangsungan hidup mereka. Manusia menyediakan kebutuhan mereka seperti buah, pakaian, alat-alat hingga buku. Untuk itu manusia yang berhasil mendapat kepercayaan Troll akan mendapat bayaran setimpal. Hanya manusia pilihan yang mengetahui jalan keluar-masuk ke kota itu. Merekalah temanku selama di sana. Meski begitu mereka tak akan membawaku keluar dari kota itu, karena mereka terikat kontrak dengan bangsa Troll. Menyebalkan!

Aku belajar banyak selama ada di sana. Raja dan Ratu begitu bersemangat memberikan berbagai pendidikan bagiku. Menurut mereka masih terlalu dini menyatakan bahwa aku gagal mematahkan kutukan. Mereka akan mencoba bersabar menunggu perkembangan lebih lanjut. Ada gunanya aku belajar banyak dan diberi kesibukan. Siapa tahu jika aku makin mirip mereka maka kutukan akan bisa dipatahkan. Melihat bagaimana bangsa Troll memperlakukan mereka yang berdarah campuran, membuatku semakin tidak ingin menjadi seperti mereka. Menjijikan!

Aku berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial berlangsung di sana.  Urusan politik di sana  cukup rumit dan pelik. Ternyata strata sosial juga berlaku bagi bangsa Troll. Mengenai nama sejati juga ada dalam kehidupan bangsa Troll. Guna membuktikan loyalitas, seseorang bisa menyebutkan nama sejatinya sehingga jika dianggap perlu, orang itu bisa ditekan setiap ada kesempatan.

Selain belajar banyak, aku juga menjelajah kota dengan ditemani seorang pelayan dan dua orang pengawal. Aku bahkan pergi mengunjungi perpustakaan. Selama ini aku belum pernah memasuki perpustakaan mana pun. Namun di  kota Trollus aku malah mendatangi perpustakaan, meminta bantuan dari pustakawan untuk mencari buku. Martin, Pustakawan keempat memberikan banyak informasi terkait hal yang ingin ku ketahui. Buku mana yang sebaiknya dibaca dan menjawab beberapa pertanyaan. 

Aku  menemukan sebuah buku yang membuat segala hal menjadi berbeda. Aku jadi memiliki kemampuan dan mampu melakukan perubahan walau kecil. Menyenangkan namun tidak membuat hidupku menjadi lebih mudah di sana. 

Urusanku dengan sang pangeran juga bukan hal yang mudah. Seperti layaknya pangeran, banyak gadis eh troll perempuan yang berada di sekitarnya. Aku tidak pernah menganggap mereka masalah atau sainganku pada awalnya. Tapi jika berurusan dengan kehidupanku maka mereka menjadi masalah buatku. Aku harus mempertimbangkan banyak hal. Apakah aku harus nekat melarikan diri dengan resiko selamat kecil. Atau mempertimbangkan apa yang akan aku korbanku jika hidup bersamanya. Perih dan membingungkan.

Sebuah peristiwa membuatku berada dalam pilihan yang sulit. Bukan aku yang memilih pada akhirnya tapi keadaan yang memilih untuk diriku.

Aku, Putri Cecelia dari kota Trollus mengharapkan kalian tidak harus melakukan hal yang tak terbayangkan dan menjadi orang yang melakukan hal yang tidak ingin dilakukan oleh orang lain.

Sementara, kalian nikmati saja kisahku selama berada di sana. Butuh keberanian dan kekuatan untuk menggali ingatan kehidupan di sana. Tapi aku harus melakukannya agar banyak yang mengetahui bagaimana sesungguhnya bangsa Troll. 

Kisahku ditulis dan disebarkan menjadi sebuah buku
Judul asli: Stolen Songbird
Penulis: Danielle L. Jensen
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Mery Riansyah
Proofreading: Lucy Riu
Pewajah sampul: Defi Lesmawan
Pewajah isi: Yhogi Yhordan
ISBN:978-602-0900-04-90
Halaman: 496
Penerbit: Fantasious


Tak mengira kisahku menjadi seperti ini. Kisahnya seru dan menegangkan namun ditulis dengan bahasa ringan sehingga memahami kisahnya begitu mudah. Tak butuh waktu lama untuk kalian menuntaskan. Aku nyaris tak percaya ini kisah tentangku.

Kekurangan buku ini terletak pada pemilihan warna serta tipe huruf pada sinopsis di kover bagian belakang. Warna putih dan huruf yang terlalu tipis membuat tulisan yang ada terlalu kontras dengan latar belakang hitam sehingga membuat kurang nyaman dibaca.

Penulis cukup piawai memainkan emosi pembaca. Aku ikut merasakan putus asa lagi seperti uraian yang ada, galau ala sang pangeran. Cemburu seperti sang mantan tunangan. Marah seperti sang raja bahkan tamak seperti sang penculik.

Dibandingkan kover yang lain, versi ini lebih mengundang rasa penasaran. Gambar kota yang seakan-akan berada dalam sebuah gua atau dibawah sesuatu merepresentasikan keberadaan kota dalam kisah ini.

Bacalah agar tahu bagaimana kisahku sebenarnya. Serta bagaimana perasaanku pada Pangeran Tristan, Elise, Victoria dan Vincent sesungguhnya

----------------------------------------------

Sepenggal bagian mengingatkan pada kisah HP, bagian yang lain membuat saya berusaha mengingat apa judul kisah yang mirip.

Urusan cinta memang menjadi bumbu yang menyedapkan. Untungnya kisah cinta yang disajikan jauh dari unsur menye-menye. Bagian romantis favorit saya ada di halaman 394-415.

Sungguh kreatif cara penerbit mengirim buku, ditempeli tanah liat sehingga menimbulkan kesan buku ini berasal dari dunia bawah tanah, dunia Troll. Jadi kebayang jika buku kedua dibuat pre order lalu saat buku sudah ada diam-diam dikirim kepada pemesan dengan kondisi seperti itu. Pasti mengejutkan dan menimbulkan sensasi tersendiri. Kehebohan para penerima yang diungkapkan dalam sosmed merupakan hal yang bisa menjadikan alat promosi.  Dari sisi brand hal ini merupakan cara pemasaran yang terbilang menarik.

Tak sabar menunggu buku selanjutnya

Senin, 10 November 2014

Review 2014#62: Silo Trilogy #1 - WOOL (Mengandung Secuil Spoiler)

Penulis:Hugh Howey
Penerjemah: Dina Begum
Penyunting: Nuraini Mastura
Penyelaras aksara: Herlinawati Sitorus
Penata aksara: Abdul Wahab
ISBN: 978-602-1606-94-0
Halaman:732
Penerbit: Nourabooks
Harga: Rp 89.000,-


Membaca buku ini mengingatkan saya pada dua hal. Pertama film E.T yang fenomenal, ternyata kita tidak pernah benar-benar sendiri di alam in. Serta sebuah buku The Road karya Cormac McCarthy dengan cara yang sedikit berbeda. Jika The Road saya dibuat terharu-biru (halah) dengan kasih sayang antara ayah dan anak serta perjuangan mereka untuk bertahan hidup, maka pada  buku ini kita akan dibuat terpesona dengan semangat hidup para penghuni Silo 

Pada  kover, Rick Riordan menyebutkan, "...kalau kau mencari novel post-apacalypse yang bagus maka Wool adalah pilihan terbaik. Jika penulis sekaliber Rick Riordan berkenan memberikan endors bagi seorang penulis indi, sepertinya buku ini layak dibaca.

Kisah ala post-apacalypse  merupakan kisah dengan setting seputar perabadan dunia, dimana umat manusia yang berhasil selamat  dari bencana kehancuran berusaha bertahan hidup dan memulai peradaban kembali
Ceritanya dimulai ketika Allison istri seorang sheriff, Holston mendadak berteriak histeris minta keluar dari Silo. Permintaan wajar jika dilakukan di tempat lagi. Namun di Silo itu maknanya ia menandatangi perintah kematian. Keluar artinya ia akan menjalani PEMBERSIHAN, sebuah ritual yang menyeramkan tapi entah kenapa ditunggu oleh setiap penduduk Silo.

https://www.goodreads.com/book/show/20745447-the-wool-trilogy
Mereka yang menjalani pembersihan akan diberikan pakaian khusus lalu dibiarkan berjalan keluar hingga suatu saat kehabisan oksigen dan meninggal. Jika beruntung mungkin saja sosok itu menemukan pertolongan atau kehidupan lain. Minimal ia bisa berharap hidup lebih lama dalam pakaian khusus tersebut.

Holston awalnya menganggap sang istri hanya tertekan, namun jika teringat pada percakapan-percakapan mengenai timbulnya pemberontakan dimasa lalu serta adanya file-file yang dihapus dari arsip, timbul berbagai tanda tanya dalam dirinya. Pada akhirnya ia harus mengaku kalah dan meminta KELUAR. Sama maknanya dengan ia mengajukan diri secara suka rela untuk pembersihan.

Setelah Holston menjalani pembersihan, maka terjadilah kekosongan posisi. Entah mengapa Juliette yang dipilih. Dan buku ini mengisahkan tentang perjuangan hidup Juliette. Dari HANYA seorang mekanik handal yang hidup dalam lapis terbawah Silo,  berubah menjadi sosok yang mengguncang kestabilitasan Silo. Selanjutnya aneka intrik guna  menyingkirkan Juliette terjadi. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah fakta mengejutkan tentang Silo.  

Oh ya, Silo adalah semacam banker raksaksa yang berfungsi sebagai tempat tinggal. Alih-alih menjulang tinggi ke atas, bangunan itu malah makin menurun menuju pusat bumi. Tiap lantai yang ada memiliki peranannya masing-masing. Ada yang khusus untuk berkebun, urusan TI bahkan pemerintahan. 

Dunia bagian atas dibebani dengan pemandangan yang semakin kabur. Orang-orang yang hidup di lantai bawah dan mengerjakan kebun atau membersihkan kandang binatang mengorbitkan dunia mereka sendiri yang terdiri dari tanah, pupuk serta tanaman. Bagi mereka pemadangan luar tak perlu digubris hingga ada pembersihan

Sensasinya juga nyaris serupa dengan membaca The Maze Runner. Hanya saja butuh konsentrasi lebih untuk menikmati kisah ini. Buku ini menantang kesabaran saya. Pada bagian awal saya sempat merasakan bosan dengan aneka suguhan mengenai aktivitas para tokoh yang naik turun di Silo. Bayangkan, untuk pergi menemui Juliette saya pimpinan di Silo harus berjalan turun ke bawah lebih dari 2 hari. Belum lagi perjalanan kembali ke atas. Terbayangkan betapa besarnya Silo.

Sang Penulis, Hugh Howey
http://www.wired.com/2013/04/geeks-guide-hugh-howey/
Untung saya tak gampang menyerah, belakangan aneka kejutan yang membuat kisah ini berkembang tak terduga datang secara beruntun. Bagaikan sebuah desa yang kekeringan mendadak hujan turun sehingga setiap penduduk bisa menikmati air dan memiliki persediaan tanpa khawatir kekurangan.  

Banyak pertanyaan yang ingin saya ungkapkan. Tapi sepertinya saya masih harus bersabar karena buku ini adalah trilogi bahkan tiap bagian terdiri dari beberapa buku. Urutan lengkapnya sebagai berikut:
1. Wool
    Terdiri dari Wool, Proper Gauge, Casting Off, 
    The Unraveling, The Stranded
2. Shift
    Terdiri dari Legacy, Order, Pact
3. Dust

Mengingat jika dijumlah ada sekitar 10 buku dalam seri ini, semoga Penerbit Noura berkenan memboyongnya ke tanah air seluruh seri ini, tidak putus di tengah jalan. Sehingga pembaca bisa menikmati keseluruhan kisah secara utuh.

Sekedar saran, apakah tidak bisa dibuatkan glosarium mengenai suatu istilah. Misalnya tentang pembersihan. Butuh waktu agak lama dan beberapa puluh halaman untuk memahami apa itu artinya. Mungkin bisa mengurangi keasyikan membaca. Namun dengan diletakan pada glosarium pembaca yang memutuskan apakah ingin mengetahui makna istilah tersebut dalam waktu cepat atau bersedia memahami dengan sendirinya melalui lembar-lembar berikutnya.

Terdapat istilah yang  biasa  dipergunakan dialihbahasakan menjadi ungkapan yang tidak umum. Misalkan handset menjadi  pelantang telinga, lalu harddisk menjadi cakram keras, timer menjadi cip waktu, lalu keyboard menjadi papan ketik.  Bukankah istilah itu sudah sering kita dengar dan umumnya pembaca memiliki persepsi yang sama mengenai makna atau wujud dari istilah tersebut. Lalu mengapa harus diubah menjadi bahasa yang tidak umum, meski menjadi bahasa Indonesia.

Kisah Silo yang sudah cukup berat menjadi kian berat untuk dipahami. Jika maksudnya untuk memperkaya perbendaharaan kata atau mengajak pembaca mulai lebih mempergunakan bahasa Indonesia, sebaiknya dipilih kisah yang lain untuk tujuan tersebut. Butuh lama bagi saya untuk memahami bahwa yang dimaksud dengan bayangan adalah karyawan magang. Saya beberapa kali membalik-balikan halaman sekilas untuk mengecek takut ada point yang tertinggal. Bahkan mengulang membaca beberapa bab awal untuk memahami apa itu pembersihan.

Kover versi Penerbit Noura yang saya baca menawarkan nuansa berbeda. Pembaca akan berusaha menebak gambar apakah itu. Bentuknya mirip spiral dengan aneka warna di tengah seolah-olah terjadi kebakaran atau ledakan hebat. Gambar tersebut ternyata merupakan ilustrasi dari Silo.  Bentuk seperti melengkung dengan warna menyerupai biru adalah pintu masuk ke setiap lantai. Warna coklat melingkar adalah tangga yang menghubungkan seluruh Silo. 

Pembersihan
Bayangan
Musuh dalam Selimut
Misi Rahasia
Konspirasi

Selamat Datang di Silo!
Begitu Masuk, Tidak Ada Jalan Keluar 
Kecuali KEMATIAN

Jumat, 07 November 2014

Review 2014 #61:Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta






Penulis:Rachmat Ruchiat
Penyunting: Martina Safitry & 
Ferry Triadi Sasono
Desain sampul: Hartanto ‘Kebo’ Utomo
Desain isi: Sarifudin
ISBN: 9786029625622
Halaman: 143
Penerbit: Maskup Jakarta
Harga: Rp 60.000
Saat mendengar nama suatu daerah atau jalan, pernahkah terbesit rasa ingin tahu bagaimana mulanya  tempat itu bisa diberi nama demikian?

Tempat tinggal saya dahulu adalah daerah Menteng Dalam. Konon, Menteng adalah nama sejenis buah yang rasanya  cenderung asam tapi menyegarkan. Disebut Menteng dalam karena letaknya lumayan jauh dari daerah Menteng yang ada di Kuningan. Seakan-akan jauh ke dalam. Itu sebabnya disebut Menteng Dalam. Selain Menteng Dalam, ada juga Menteng Wadas dan Menteng Atas. Entah bagaimana asal-usul nama tersebut.

Sekarang saya tinggal di daerah Lebak Bulus. Pertama mendengar nama Lebak Bulus, saya langsung teringat pada hewan yang memiliki tempurung, Bulus (Amyda cartilaginea), 

Lebak artinya kolam, sementara Bulus bisa diartikan sebagai  penyu atau  kura-kura yang hidup di air tawar. Diberi nama Lebak Bulus, Lembah kura-kura  karena disana dahulu banyak ditemui penjual Bulus. Bukan tidak mungkin dahulu banyak ditemui Bulus di Kali Grogol dan Kali Pesanggrahan yang melewati daerah tersebut. 

Walau hanya terdiri dari tiga bab,  buku ini mampu membuat kita mempelajari latar belakang nama suatu tempat dengan cara yang unik. Mungkin saja yang tertulis dalam buku ini berbeda dengan pendapat yang berlaku dimasyarakat, namun setidaknya kita bisa mendapatkan gambaran mengenai asal-usul nama tempat tersebut. Apalagi bagi mereka yang merupakan kaum pendatang atau mereka yang lahir di saat Jakarta sudah sangat berkembang pesat. 




Tenyata rasa keingintahuan mengenai asal-usul nama sebuah tempat yang direalisasikan dengan mengadakan penelitian ada juga ilmunya, namanya Toponimi. Toponimi adalah pengetahuan tentang nama tempat terutama asal-usulnya. Merupakan salah satu rating dari ilmu sejarah yaitu onomastika, ilmu tentang nama. 
Mengacu pada buku ini, ada beberapa alasan dalam memberikan nama suatu tempat atau jalan, yaitu:
1. Berdasarkan peristiwa penting atau bersejarah yang pernah terjadi di lokasi tersebut
2. Berdasarkan nama flora atau fauna yang banyak terdapat di lokasi tersebut
3. Berdasarkan nama seseorang yang dianggap berjasa atau paling dikenal di lokasi tersebut
4. Berdasarkan banyaknya golongan atau suku yang tinggal di lokasi tersebut.
5. Berdasarkan bentuk alam atau ciri khas lokasi

Kebanyoran misalnya. Dahulu daerah tersebut merupakan tanah milik seorang bangsa Belanda yang dipanggil Tuan Bayor.  Karena pelafalan ucapan maka lama-lama berubah menjadi Kebayoran. Tempat lain yang diberi nama berdasarkan nama pemiliknya adalah Karet Tengsin. Konon, tadinya daerah tersebut merupakan perkebunan karet yang sangat luas milik Tieng Shin. Lagi, karena lidah pribumi yang sudah melafalkannya maka berubah menjadi Tensin.

Nama Kampung Bali sering terdengar. Bahkan di Jakarta ada beberapa lokasi Kampung Bali.  Daerah tersebut pada abad ke-17 atah 18 dijadikan tempat tinggal orang-orang Bali.  Untuk membedakan satu daerah dengan lainnya sering dilengkapi dengan nama kawasan yang berdekatan dan cukup terkenal. Misalnya Kampung Bali Krukut yang terletak di sebelah barat jalan Gajah Mada dahulu berbatas dengan tanah milik Gubenur Jenderal Reinier de Klerk. 

Kampung Bugis dinamakan demikian karena banyak orang Bugis yang tinggal di sana. Namun demikian tidak semua  pemukiman orang Bugis dinamakan Kampung Bugis.  Kampung Bugis yang terletak di sebelah utara Tanah Abang dikenal sebagai Petojo dikarenakan nama pimpinannya adalah Aru Petuju.

Meski sudah tidak ada pedagang rumput, namun pasar yang berada di daerah Manggarai ini tetap dikenal sebagai Pasar Rumput. Menurut cerita dahulu di sana banyak pedagang rumput yang menjajakan daganganya sebagai makanan kuda para  meneer Belanda yg tinggal di kampung Menteng.

Siapa yang tak mengenal nama daerah Glodok. Jika ingin mencari elektronik murah dan bermutu, salah satu pilihannya adalah Glodok. Ada beberapa anggapan mengenai asal nama Glodok. Salah satunya menyebutkan bahwa dahulu terdapat pancuran yang sering dipergunakan oleh warga sekitar. Sekitar tahun 1670 terdapat semacam penampungan air dari Ci Liwung yang dikucurkan dengan pancuran kayu dari ketinggian sekitar 10 kaki. Bunyi suara kucurannya disebut grojok. Penduduk mayoritas  yang tinggal di sana adalah orang Tionghoa yang mengucapkannya seolah menjadi Glodok.

Ada juga nama yang diberikan berdasarkan nama flora. Pondok Labu salah satunya. Kawasan Pondok Labu dewasa termasuk wilayah Kecamatan Cilandak Kotamadya Jakarta Selatan. Berasal dari dua kata majemuk yaitu Pondok serta Labu. Labu merupakan nama beberapa macam tanaman merambat, antara lain labu yang bahasa ilmiahnya Lagenaria hispida Ser. Famili Cucurbitaceae, yaitu labu besar yang biasa dimakan. Pondok- labu dapat berarti “pondok atau gubuk yang dirambati ( tanaman) labu. Pada peta yang dibuat oleh Topographisch Bureau, Batavia 1900, penggilingan padi dan rumah peristirahatan itu terletak tidak begitu jauh dari Kali Pesanggrahan sebelah utara Rempo

Salah satu daerah yang diberi nama berdasarkan gelar pemiliknya adalah Pajongkoran. Pada akhir tahun 1960-an daerah tersebut meliputi Kelurahan Koja Selatan, Kecamatan Tanjung Priok dan Wilayah Kelurahan Kali Baru, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Entah kenapa nama tersebut belakangan hilang dari peta.


Jonker merupakan gelar yang setara dengan Tamaela, gelar kehormatan di Ambon saat itu.  Pada tahun 1967-1982 wilayah tersebut dikuasai oleh Kapnten Jonker, seorang kepala pasukan orang Maluku yang mengabdi pada VOC.

Penulis  terlihat sedikit tidak konsisten dalam buku ini. Misalnya sudah disebutkan bahwa "Ci" bermakna kali atau sungai. Dengan demikian Ci Liwung artinya adalah kali atau sungai Liwung. Maka untuk apa dituliskan lagi sebagai kali Ci Liwung pada halaman 3 serta Sungai Ci Liwung pada halaman 7 dan 43. Bukankah cukup ditulis Ci Liwung saja mengingat sudah ada penjelasan cukup lengkap pada  bagian awal.  Mengingat ada dua orang penyunting, mungkin saja hal ini bisa terjadi. Mengingat usia sang penulis yang sudah cukup lanjut, kita patut memberikan acungan jempol untuk semangat beliau.

Secara keseluruhan buku ini memberikan pengetahuan dan penghiburan sehingga layak dibaca oleh semua kalangan. Dengan membaca buku ini selain kita makin mengenal sejarah suatu tempat, juga bisa menumbuhkan rasa cinta dan kedekatan emosional
Bintang 3,5 layak untuk buku ini.

Rabu, 05 November 2014

Review 2014 #60: Busana Jawa Kuno



Penulis: Indra Citraninda Noerhadi
Penyunting: Zen Hae
Desain Sampul: Hartanto 'Kebo' Utomo
Desain isi: Sarifudin
ISBN : 978-602-9402-16-2
Halaman : 120
Penerbit: Komunitas Bambu
Harga : Rp 50.000

...
...

Ketentuan mengenai Pakaian Dinas Tradisional Gagrak Ngayogyakarta yang tidak boleh digunakan bagi pegawai yaitu :
a. kain/jarik yang bermotif parang rusak besar;
 b. memakai wiru engkol; dan 
c. untuk pegawai putri baju kebaya yang berkutubharu

(dari Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor 173 Tahun 2014 Tentang Penggunaan Pakaian Dinas Tradisional  Gagrak  Ngayogyakarta di Lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta)

Pakaian merupakan kebutuhan manusia disamping makanan dan tempat tinggal. Tidak hanya berfungsi untuk melindungi diri serta membuat nyaman, pakaian juga bisa dijadikan alat mengekspresikan diri serta dipergunakan untuk menunjukan status sosial dalam masyarakat. 
Buku setebal 120 halaman ini menguraikan tentang sistem yang mengatur cara berpakaian anggota kerajaan, bangsawan, ksatria, petani dan rakyat. Mana yang boleh dipakai dan mana yang tidak. Sistem ini menentukan status sosial pemakainya.

Bahan penulisan buku ini adalah skripsi sang penulis dengan judul Pakaian dan status Sosial pada Relief Karmawibhhangga pada tahun 1983. Pendekatan yang digunakan adalah dengan cara pengamatan perbandingan dan kepustakaan.

Dengan membaca buku ini kita akan mendapat gambaran umum mengenai bentuk dan fungsi busana pada zaman jawa Kuno, pada saat didirikannya candi Borobudur secara tepatnya. Dengan demikian data yang digunakan memang dikhususkan pada rangkaian relief yang terdapat pada kaki terbawah candi, yang menyajikan cerita Karmawibhangga.

Relief Karmawibhangga menggambarkan suatu cerita tentang sebab dan akibat segala perbuatan manusia pada masa hidupnya; perbuatan baik akan mendpat pahala dan sebaliknya perbuatan buruk akan mendapat hukuman setimpal. 

Pembedaan pakaian dilihat dari taraf kelengkapan, lingkungan,  benda penyerta, sikap dan penempatan tokoh serta ciri yang menonjol.  

Semakin lengkap maka semakin tinggi status sosialnya dalam masyarakat. Lingkungan dibedakan atas lingkungan rakyat kebanyakan, bangsawan, serta khayalan dunia imaninasi. Benda penyerta contohnya adalah perhiasan, senjata, lambang dan lainnya. Ciri yang menonjol diperlukan untuk membedakan status sosial, contohnya rakyat biasa umumnya hanya menggunakan kain pendek yang diangkat seperti cawat dengan perhiasan hanya kalung dan gelang serta membiarkan rambut terurai.

Pakaian pada relief Karmawibhangga  selain berfungi sebagai penutup tubuh, melindungi, memperindah serta menutupi kekurangan, ternyata juga memiliki fungsi yang berbeda tergantung status sosial seseorang. 

Pada mereka yang memiliki status sosial tinggi pakaian berfungsi sebagai penghias tubuh, menampilkan kepribadian bahkan menjadi ciri-ciri kebesaran. Dalam hal ini, ciri-ciri yang meonjol adalah pada penggunaan perhiasan.
Selain uraian panjang lebar mengenai pakaian, kita juga bisa menemukan telaah mengenai relief yang ada dari unsur pakaian. Misalnya pada halaman 100 terdapat seri o.XV. Pigura 117, dimana relief tersebut menggambarkan laki-laki di bawah pohon dengan dua bundel rumput dan di dekatnya dijumpai sabit. Andai kata tidak ada dua bundel rumput kita bisa mengasumsikan bahwa ia adalah seorang pencari rumput menilik dari kain pendek dan ikat lutut yang dikenakannya.

Sayangnya foto-foto yang tidak dibuat berwarna serta ada kurang besar. Jika tidak berwarna sebaiknya dibuat lebih besar sehingga kita bisa menelaah dengan lebih seksama gambar tersebut.

Selesai membaca buku ini, setidaknya kita memandang  dengan cara  yang berbeda saat melihat sebuah relief. Ternyata nenek moyang kita sudah cukup detail dalam membuat tatanan sosial dalam kehidupan. Terlihat dari aturan soal pakaian mana yang boleh digunakan dan mana yang tidak bagi golongan tertentu.

Oh ya terkait  corak yang dilarang dipakai. Corak parang rusak hanya boleh dipakai oleh sang raja atau keluarga terdekat. Corak tersebut diciptakan Penembahan Senopati  saat bertapa di Pantai Selatan. Motif batik ini terinspirasi dari ombak yang tidak pernah lelah menghantam pantai. Motif ini melambangkan manusia yang internal melawan kejahatan dengan mengendalikan keinginan mereka sehingga mereka bijaksana, watak mulia karakter yang akan menang. Meski dalam masyarakat ketentuan tersebut sudah sering dilanggar namun dalam urusan pemerintahan dimana hirarkinya jelas terlihat maka tetap diberlakukan larangan menggunakan corak parang rusak.

Inspiratif.
Ternyata banyak yang tidak saya ketahui tentang hal-hal yang berada di sekitar kita.
























.
.