Rabu, 05 November 2014

Review 2014 #60: Busana Jawa Kuno



Penulis: Indra Citraninda Noerhadi
Penyunting: Zen Hae
Desain Sampul: Hartanto 'Kebo' Utomo
Desain isi: Sarifudin
ISBN : 978-602-9402-16-2
Halaman : 120
Penerbit: Komunitas Bambu
Harga : Rp 50.000

...
...

Ketentuan mengenai Pakaian Dinas Tradisional Gagrak Ngayogyakarta yang tidak boleh digunakan bagi pegawai yaitu :
a. kain/jarik yang bermotif parang rusak besar;
 b. memakai wiru engkol; dan 
c. untuk pegawai putri baju kebaya yang berkutubharu

(dari Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor 173 Tahun 2014 Tentang Penggunaan Pakaian Dinas Tradisional  Gagrak  Ngayogyakarta di Lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta)

Pakaian merupakan kebutuhan manusia disamping makanan dan tempat tinggal. Tidak hanya berfungsi untuk melindungi diri serta membuat nyaman, pakaian juga bisa dijadikan alat mengekspresikan diri serta dipergunakan untuk menunjukan status sosial dalam masyarakat. 
Buku setebal 120 halaman ini menguraikan tentang sistem yang mengatur cara berpakaian anggota kerajaan, bangsawan, ksatria, petani dan rakyat. Mana yang boleh dipakai dan mana yang tidak. Sistem ini menentukan status sosial pemakainya.

Bahan penulisan buku ini adalah skripsi sang penulis dengan judul Pakaian dan status Sosial pada Relief Karmawibhhangga pada tahun 1983. Pendekatan yang digunakan adalah dengan cara pengamatan perbandingan dan kepustakaan.

Dengan membaca buku ini kita akan mendapat gambaran umum mengenai bentuk dan fungsi busana pada zaman jawa Kuno, pada saat didirikannya candi Borobudur secara tepatnya. Dengan demikian data yang digunakan memang dikhususkan pada rangkaian relief yang terdapat pada kaki terbawah candi, yang menyajikan cerita Karmawibhangga.

Relief Karmawibhangga menggambarkan suatu cerita tentang sebab dan akibat segala perbuatan manusia pada masa hidupnya; perbuatan baik akan mendpat pahala dan sebaliknya perbuatan buruk akan mendapat hukuman setimpal. 

Pembedaan pakaian dilihat dari taraf kelengkapan, lingkungan,  benda penyerta, sikap dan penempatan tokoh serta ciri yang menonjol.  

Semakin lengkap maka semakin tinggi status sosialnya dalam masyarakat. Lingkungan dibedakan atas lingkungan rakyat kebanyakan, bangsawan, serta khayalan dunia imaninasi. Benda penyerta contohnya adalah perhiasan, senjata, lambang dan lainnya. Ciri yang menonjol diperlukan untuk membedakan status sosial, contohnya rakyat biasa umumnya hanya menggunakan kain pendek yang diangkat seperti cawat dengan perhiasan hanya kalung dan gelang serta membiarkan rambut terurai.

Pakaian pada relief Karmawibhangga  selain berfungi sebagai penutup tubuh, melindungi, memperindah serta menutupi kekurangan, ternyata juga memiliki fungsi yang berbeda tergantung status sosial seseorang. 

Pada mereka yang memiliki status sosial tinggi pakaian berfungsi sebagai penghias tubuh, menampilkan kepribadian bahkan menjadi ciri-ciri kebesaran. Dalam hal ini, ciri-ciri yang meonjol adalah pada penggunaan perhiasan.
Selain uraian panjang lebar mengenai pakaian, kita juga bisa menemukan telaah mengenai relief yang ada dari unsur pakaian. Misalnya pada halaman 100 terdapat seri o.XV. Pigura 117, dimana relief tersebut menggambarkan laki-laki di bawah pohon dengan dua bundel rumput dan di dekatnya dijumpai sabit. Andai kata tidak ada dua bundel rumput kita bisa mengasumsikan bahwa ia adalah seorang pencari rumput menilik dari kain pendek dan ikat lutut yang dikenakannya.

Sayangnya foto-foto yang tidak dibuat berwarna serta ada kurang besar. Jika tidak berwarna sebaiknya dibuat lebih besar sehingga kita bisa menelaah dengan lebih seksama gambar tersebut.

Selesai membaca buku ini, setidaknya kita memandang  dengan cara  yang berbeda saat melihat sebuah relief. Ternyata nenek moyang kita sudah cukup detail dalam membuat tatanan sosial dalam kehidupan. Terlihat dari aturan soal pakaian mana yang boleh digunakan dan mana yang tidak bagi golongan tertentu.

Oh ya terkait  corak yang dilarang dipakai. Corak parang rusak hanya boleh dipakai oleh sang raja atau keluarga terdekat. Corak tersebut diciptakan Penembahan Senopati  saat bertapa di Pantai Selatan. Motif batik ini terinspirasi dari ombak yang tidak pernah lelah menghantam pantai. Motif ini melambangkan manusia yang internal melawan kejahatan dengan mengendalikan keinginan mereka sehingga mereka bijaksana, watak mulia karakter yang akan menang. Meski dalam masyarakat ketentuan tersebut sudah sering dilanggar namun dalam urusan pemerintahan dimana hirarkinya jelas terlihat maka tetap diberlakukan larangan menggunakan corak parang rusak.

Inspiratif.
Ternyata banyak yang tidak saya ketahui tentang hal-hal yang berada di sekitar kita.
























.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar