Rabu, 29 Oktober 2014

Review 2014 #59 :Perangkat Digital Membuat Otak Tidak Bisa Berpikir




Judul asli: Mendidik Anak Di Era Digital
Penulis: Yee-Jin Shin
Penerjemah: Adji Annisa
Penyunting: Kiki Sulistiyani
Penyelaras aksara: Aulia Nur Rahmah
Ilustrasi isi: Taufiq Wajdi
Desain isi: Aniza Pujiati
Desain sampul: Zariyal
ISBN: 978-602-1306-25-3
Halaman: 282
Penerbit: Noura Books
Penerbit: Noura Books
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 49.000

Anakku pandai berbicara bahasa asing. Sejak kecil ia suka menonton DVD kartun berbahasa asing.

Baru dapat arisan, mau beli smartphone buat anak biar dia lebih melek teknologi dan menambah wawasan.

Handphoneku serta suami isinya game buat anak. Setiap pulang kerja anak selalu menyambut dengan gembira dan minta dipinjamkan HP lalu kami berkumpul bersama menemaninya bermain game

Anda pernah berada dari ketiga kondisi di atas?
Kalau iya maka selamat! Anda sukses membuat anak terkena imbas dari kemajuan teknologi. Bahkan bukan tidak mungkin Anda sudah sukses merusak otak buah hati terkasih.

Buku ini membuat saya merinding juga menyesali beberapa keputusan yang pernah saya ambil terkait urusan gadget canggih jagoan. Teknologi bagaikan sisi 2 mata pedang, bisa membantu atau merusak tergantung bagaimana sikap dan cara orang memperlakukan dan memanfaatkan teknologi tersebut.

Sering melihat seseorang, entah dewasa atau anak-anak asyik dengan gadget canggih tanpa menghiraukan situasi sekitar? Bisa dikatakan orang itu sudah mulai kehilangan empati pada sekitar. Padahal kemampuan berempati adalah dasar dari perkembangan kemampuan bersosialisasi. Tidak adanya rasa empati membuat kemampuan bersosialisasi anak sangat buruk.

Perangkat digital bisa memberitahukan berbagai jawaban, perangkat itu tidak bisa  membimbing anak untuk berpikir secara mendalam. Mereka menelan  begitu saja semua informasi yang mereka temukan tanpa ada keinginan untuk mencari lebih tahu.

Ketik kata padi contohnya, maka akan bermunculan aneka informasi mengenai padi.  Sang anak akan memiliki pengetahuan teoritis tentang padi. Tapi bagaimanakah baunya, rasanya di tangan bahkan bagaimana wujud sawah tempat padi ditanam tidak akan mereka ketahui.  Semua informasi yang kita peroleh merupakan hasil unggahan orang lain. Pengalaman tidak langsung yang seolah-olah menjadi informasi bagi diri sendiri itu membuat anak miskin pengalaman.

Baginya pengetahuan itu saja sudah cukup. Anak tidak memiliki rasa ingin tahu untuk mencoba memegang pagi, mencium baunya bahkan merasakan  menanam padi. Pengalaman tidak langsung yang diberikan oleh perangkat digital membuat jiwa anak menjadi hampa, mengurangi kesempatan anak untuk berbagi rasa dengan orang lain, dan menghambat perkembangan emosi serta kemampuan bersosialisasi anak.

Perangkap digital telah merenggut seluruh pengalaman yang seharusnya seorang anak rasakan sesuai usianya hanya dalam satu detik. Ia perlu merasakan pengalaman mendasar yang harus dirasakannya secara bertahap. Semakin anak tumbuh besar, anak tidak perlu merasakan dampak buruk yang lebih besar lagi.

Tak heran jika obesitas juga bermunculan belakangan ini. Sebuah buku menyebutkan bahwa internet menyebabkan kemalasan. Jelas sekali, buat apa menunduk-nunduk di sawah untuk mengetahui warna padi, bentuk padi jika bisa mengetahui dari internet. Anak akan malas bergerak menuju perpustakaan, piknik di alam bebas sambil belajar menjadi sesuatu yang tidak dilakukan lagi jika hanya dengan satu jari semua informasi yang dibutuhkan bisa tersedia tanpa harus berkeringat dan lelah.

Masyarakat  tergila-gila pada perangkat digital sehingga menciptakan anak-anak yang "matang semu" Secara fisik memang mereka cukup matang tapi secara bathin dan otak,  mereka hanyalah anak-anak. Perangkat digital tidak saja menyebabkan anak menjadi matang semu namun juga mengalami gangguan kejiwaan, tidak bisa mengontrol emosi dan terlihat antisosial

Anak yang mengalami ketergantungan perangkat digital terlihat tidak sabaran dan agresif ketika mengalaman tekanan. Saat menggunakan perangkat digital, anak terpapar stimulus yang kuat pada indra penglihatan dan pendengarannya. Sinar dan warna yang mencolok tersaji terus-menerus. Selagi stimulus itu terus berlanjut, situasinya berganti dengan cepat. Setiap kali ada tampilan baru, setiap kali juga anak tidak bisa mengalihkan perhatiannya.

Namun, jika anak sering terpapar stimulus lain yang juga sekuat itu, anak tidak akan memberikan perhatian pada permainan-permainan yang tidak bisa memberikan stimulus yang sama kuatnya. Tanpa sadar, otak anak telah menjadi popcorn brain. Popcorn brain adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan kondisi otak yang terbiasa dengan layar perangkat digital yang senantiasa merespon stimulus kuat sehingga otak seperti meletup-letup.

Hal ini bukan isapan jempol semata namun diungkapkan pertama kali oleh saluran CNN Amerika serikat pada 23 Juni 2011.  Dalam berita itu disebutkan bahwa jika anak terbiasa melakukan banyak hal sekaligus di perangkat digitalnya, struktur otak cenderung tidak bisa beradaptasi dengan dunia nyata.

Salah satu karakteristik perangkat digital adalah mendorong anak melakukan multi tasking, melakukan beberapa hal sekaligus. Perangkat digital melemahkan otak anak dan mengacaukan proses tumbuh-kembangnya. Peralatan itu juga merusak hubungan anak dengan orang tuanya. Sang anak sibuk dengan peralatan, sementara dilain waktu justru orang tua yang sibuk dengan peralatannya.

Meski demikian, bukan berarti kita tidak bisa menjadi orang tua yang bijak. Ada tujuh prinsip digital parenting yang harus diketahui oleh orang tua bijak
1. Yang terpenting bukan "apa" jenisnya, melainkan "kapan" perlu memberikannya.
2. Kualitas lebih penting daripada kuantitas
3. Tentukan sanksi ketika anak melanggar janjinya
4. Jelaskan alasan ditetapkannya peraturan
5. Berbagilah pengalaman tentang perangkat digital dengan anak
6. Libatkan seluruh anggota keluarga
7. Mintalah bantuan psikiater jika orang tua tidak bisa mengatasinya

Pendekatan digital parenting berbeda-beda sesuai usia anak. Dengan kata lain, diperlukan pendidikan yang optimal karena anak-anak memiliki karakteristik dan perkembangan yang berbeda berdasarkan usia mereka. Oleh karena iru, orang tua harus menghargai, mempertimbangkan, serta mengaturnya sebagai kebutuhan mendasar anak.

Masih banyak lagi yang diulas seputar efek perangkat digital terhadap anak. Bahkan penjelasan ilmiah dengan uraian yang lugas dan mudah dipahami juga ada. Para prinsipnya penulis ingin memberikan pemahaman mengenai penggunaan perangkat digital yang tidak sesuai.

Kita bahkan bisa menguji apakah anak kita sudah memiliki ketergantungan pada ponsel cerdas. Tersedia semacam test singkat dalam buku ini. Sepertinya kondisi itu juga cocok untuk orang dewasa. Bukti nyata, banyak orang yang rela kembali pulang karena ponselnya ketinggalan, panik karena ponselnya rusak. Bayangkan kehidupan dulu, tanpa ponsel pun semua bisa berjalan dengan baik.

Di bagian belakang buku, kita akan menemukan aneka pertanyaan dan jawaban seputar penggunaan perangkat digital. Pertanyaan yang ada dikelompokkan berdasarkan kata kunci. Ada kata kunci ayah, ibu dan sebagainya.

Untuk hal-hal yang dirasakan perlu untuk dipelajari atau perlu mendapat perhatian khusus, maka penerbit memberikan ilustrasi khusus pengenai hal tersebut. Sehingga pembaca langsung bisa melihat dan mengingatnya. Biasanya ilustrasi tersebut diletakkan di pojok kanan bawah atau kiri bawah halaman.

Ada paragraf yang paling saya suka,
"Apapun alasannya jangan sampai anak balita mengenal perangkat digital. Karena jika ia mengenal sejak dini maka perkembangan otaknya akan menjadi tidak proporsional. Sebaiknya anak tersebut diarahkan melakukan berbagai aktivitas yang mampu membuat fungsi pancaindranya berkembang melalui pengalaman langsung."
Mungkin sesudah membaca buku ini para, para ibu tidak dengan bangganya membicarakan kecanggihan sang anak memainkan perangkat digitalnya, tidak memaksa anak batita duduk di jok mobil sambil  menonton film kartun yang mungkin belum dimengertinya sementara sang ibu bergegas menuju lokasi arisan. Para ayah tidak dengan bangganya memamerkan perangkat digital yang diberikan untuk anak sebagai hadiah prestasi. Para nenek-kakek tidak memaksa cucu menemani mereka menonton televisi dengan alasan kumpul keluarga.

Semoga orang tua kian dewasa 
Semoga kian bijaksana
Semoga.....
Semoga....
Semoga....
----------------------------

Dear Jagoan Neon

Maafkan Mamski, atas alasan keamanan terpaksa memberikan hp sederhana saat kelas 1 SD sehingga kamu diangap anak eksklusif di sekolah. 

Maafkan Mamski, membelikan hp canggih sesuai permintaanmu sebagai hadiah untuk mengikuti acara LDKS di SMP sehingga merasa sesuatu harus ada imbalannya.

Maafkan Mamski, karena memberikan pad sebagai sarana usaha online. Begitu tekunnya dirimu berusaha hingga kadang tak perduli sekitar.

Maafkan Mamski, karena menyediakan aneka sarana pembelajaran digital canggih guna belajar  hingga membuatmu malas berdiri untuk mencari reverensi di alam bebas.

Andaikan semuanya tidak pernah diberikan, mungkin kamu akan asyik mencari katak di empang, belajar tentang kesuburan tanah dengan mencampurkan antara kompos dan tanah, tidak takut kena hujan dan panas. Kamu juga masih punya waktu untuk menghadiri arisan keluarga.

Semoga kewajiban makan siang  bersama1 x setiap bulan masih bisa diajikan ajang curhat yang menyenangkan. Bahkan kehadiran teman-temanmu yang kadang lebih bersemangat untuk membuat acara makan siang membuat semuanya jadi lebih berwarna.

Hug






Harga: Rp272
272
272

Tidak ada komentar:

Posting Komentar