Jumat, 10 Oktober 2014

Review 2014 # 54: Kendalikan Pikiran Terkelammu

Judul: The Darkest Minds
Penulis: Alexandra Bracken 
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Abduraafi Andrian
proofreading: Regina
Pewajah Sampul: Defi Lesmawan
Pewajah isi: eNKa
ISBN: 9786020900056 
Halaman: 586
Penerbit: Fantasious
Harga: Rp 89.000


Biru 

Hijau
Kuning
Oranye
Merah

Urutan warna favoritku.

Waktu kecil saya paling kesal kalau mendapat oleh-oleh benda berwarna merah. Setelah mengucapkan terima kasih, benda tersebut saya letakan begitu saja. Sudah berulang kali saya katakan bahwa saya tidak suka warna merah. Namun para orang tua yang memberikan barang malah terheran-heran. menurut mereka seharusnya anak perempuan menyukai warna merah, anak laki-laki menyukai warna biru. Duhhh tertulis dimana peraturan seperti itu?
 
Sementara hijau, biru, kuning, oranye dan merah merupakan warna-warna yang ada di  Thurmond. Warna tersebut dipergunakan untuk mengelompokkan anak-anak yang diduga mengidap Idiopathic Adolescent Acute Neurodegeneration alias Degenerasi Saraf Akut Remaja Idiopatok-IAAN. Urutan tersebut menunjukan seberapa "parah"  seorang anak menderita IAAN.

Anak-anak berada di sana guna menjalani pengobatan, begitu menurut pihak terkait. Thurmond dianggap sebagai kamp rehabilitasi.  Mereka menggunakan seragam putih dengan tanda X yang berbeda di punggung dengan angka yang dituliskan dalam warna hitam di atasnya. Suasana di sana tidak seperti rumah sakit atau balai pengobatan pada umumya.  Mereka yang menggunakan tanda hijau dan biru bebas berkeliaran. Sementara yang bertanda kuning, oranye atau merah dipasangi borgol besi, serta terhubung dengan sesama melalui sebuah untaian rantai panjang. Bahkan oranye mendapat tambahan asesoris berupa sebuah masker mirip berangus.  Tidak aneh jika yang sering berusaha kabur adalah anak-anak dari kelompok Merah, Oranye dan Kuning. Mereka memiliki kemampuan dan bakat mental yang begitu aneh,  tak bisa dijabarkan. Gerenasi Aneh, tak heran jika anak-anak tersebut diklasifikasi sebagai generasi Psi.


Ruby  Tuesday disortir dan dikelompokkan sesuai hasil test. Ia dianggap memiliki kecerdasan abnormal. Saat Ruby berusia mendekati sepuluh tahun serangkaian peristiwa aneh terjadi di sekitarnya. Beberapa anak meninggal tanpa sebab. Orang tuanya mengira ia juga menderita IAAN. Sehari setelah ulang tahun kesepuluhnya Ruby "dijemput"


Alexandra Brachen membuat urutan warna guna menandakan tingkat kemampuan anak-anak Psi bukan sembarangan. Urutan serta pembagian didasarkan pada Homeland Security Advisory System (HSAS) yang pernah berlaku di Amerika Serikat. HSAS adalah kode warna yang menunjukkan skala ancaman terorisme. Warna yang berbeda memicu tindakan tertentu oleh badan-badan federal dan pemerintah negara bagian. Sistem ini diciptakan oleh Homeland Security pada tanggal 11 Maret 2002, dalam menanggapi serangan 11 September. Sistem HSAS sudah dihapus dan digantikan oleh National Terrorism Advisory System (NTAS) yang mulai berlaku tanggal 26 April 2011. 

Dalam buku tentang Feng Shui oleh Mas Dian menyebutkan bahwa warna juga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kejiwaan dan sikap seseorang apabila mereka terlibat dalam dimensi lingkungan warna-warna tertentu. Akibat daya pengaruh yang ditimbulkannya, warna juga bisa diuraikan sebagai bahasa jiwa dan rasa terhadap kondisi yang berlangsung. Hal ini dapat terjadi karena warna memiliki karakteristik ssifat yang secara tegas mempengaruhi psikis seseorang, serta dapat memberikan berbagai inspirasi yang membangkitkan reaksi emosi.

Warna merah memberi stimulasi dan dominan. Erat kaitannya dengan sifat hangat serta kemakmuran, tetapi juga menggambarkan kemarahan, malu dan kebencian. Hijau adalah warna menenangkan dan menyegarkan, sementara biru selain damai dan menyejukkan juga bisa dimaknai sebagai  kesabaran. Kuning erat kaitannya dengan pencerahan dan intelektualitas, sifatnya menstimulasi otak. Oranye memiliki sifat dinamis dan berani tampil beda. Sering digunakan untuk menyembuhkan paru-paru dan meningkatkan energi


Buku ini seakan terbagi dalam dua bagian. Bagian awal menyajikan alur kisah yang agak lambat. Menguraikan hal-hal biasa. Misalnya bagaimana bersikap menghadapi orang asing. Bisa dibilang bagian awal mengisahkan tentang bagaimana Ruby berjuang untuk kabur hingga sampai di East River. Disarankan untuk terus bertahan melawan kebosanan karena seperempat sebelum tamat buku ini menyuguhkan aneka keseruan aksi para tokohnya. Ini bisa dibilang bagian kedua, dimana Roby harus berjuang bertahan hidup di East River. Juga mempertahankan cintanya pada seseorang.


Bisa saja orang tua Ruby tidak ingin ia ada diantara mereka sehingga mengirim Ruby ke kamp. Tapi ada juga orang tua yang tetap mencintai sang anak bagaimana juga kondisinya. Salah satunya anak yang berteman dengan Ruby. Ia dan orang tuanya berkomunikasi dengan cara tersebut. Hal tersebut bisa disimak dalam kalimat berikut,"Aku di luar tidak bisa kontak bisa bertemu di mana sebut nama dan tempatnya rindu kalian cinta kalian." Sungguh kreatif, memanfaatkan segala cara untuk bisa berkomunikasi. Ini merupakan bagian favorit saya.

Serta bagian dimana Ruby harus  merelakan orang yang dikasihi pergi dengan tetap hidup dan selamat, demi kebagikan orang terkasihnya. Adegan Ruby mempergunakan kekuatannya sungguh menyentuh hati. Cinta tak harus memiliki. Mengetahui orang yang kita cintai hidup dengan damai tapi berada jauh lebih berarti dari pada melihatnya hidup  dibawah siksaan  di dekat kita.

Ada hal yang membuat saya penasaran. Misalnya soal Ruby menyembunyikan pil-pil yang berada dalam kantong bening mungil ke bra sport standar yang dikenakannya (pada halaman 54). Lalu ia meraba kemasan pil-pil itu (halaman 64).  Selanjutnya tercetak, "Aku membuka tas dan menjatuhkan pil-pil kecil itu ke tanganku. Kantong jernihnya kukembalikan ke dalam bra,...." (halaman  66). Jika menyimak kalimat terakhir maka saya menangkap Ruby sempat menyimpan pil-pil yang tersimpan dalam kantong jernih ke dalam tas. Selanjutnya ia membuka dan mengeluarkan pil-pil tersebut  dari tas serta  meminumnya. Selanjutnya ia menyimpan kembali kantong bening dalam bra. Agak membingungkan, karena dari halaman 64 hingga 66 tidak disebutkan Ruby sempat menyimpan  pil-pil tersebut dalam tas. Apakah  Ruby memindahkannya saat melakukan kegiatan rutin malam itu  (halaman 65). Salah satu kegiatannya adalah ke Kamar Mandi dengan demikian Ruby pasti harus membuka bra dan mencari tempat penyimpanan lain bagi pil-pilnya. Atau dalam edisi asli tertulis bag yang juga bisa berarti kantong? Jika begitu akan sinkron dengan kalimat selanjutnya, dimana ia menyimpan kembali kantong jernih dalam bra. 

Cetakan pada halaman 318 tertulis, " .... Dia sama gembiranya dengan kami berdua ketika ikut mendengarkan siaran itu, tetapi perlahan, dalam waktu beberapa jam saja, suasana hatinya berubah murah."  Mungkin saya yang salah menangkap mana kalimat tersebut, tapi menurut saya seharusnya buka kata "murah" melainkan "muram"

Begitu plastik pembungkus dibuka, kita akan disuguhi dengan  dua kover yang dibuat bertumpuk. Kover yang pertama, mengusung simbol dengan cuttingan yang menawan, memperlihatkan warna hitam kontras dengan warna kuning yang ada disekitar simbol. Kover kedua berwarna hitam,  yang terlihat dari cuttingan kover pertama. Simbol tersebut juga merupakan wujud dari pembatas buku dari buku ini. Menawan memang, tapi karena bahan yang dipergunakan kurang tebal maka saat dipegang tidak bisa berada dalam posisi tegak.  Meleyot, kata anak sekarang. Untuk pembatas juga kurang  menandai halaman, karena dengan kondisi yang tipis akan dengan mudahnya terselip diantara halaman tanpa menimbulkan berbedaan signifikan  bahwa halaman itu yang terakhir dibaca. 


Kita bisa mengambil makna kehidupan dari kisah yang disajikan dengan apik. Kita harus mengenali siapa dan bagaimana diri kita, apa kelebihan, kekuatan dan apa kekurangan kita. Berusaha menguasai dan mengontrol kelebihan dan kekuatan kita serta berusaha menekan semua kekurangan. Seperti juga Ruby yang belajar menerima bagaimana kondisinya dan menjalani hidup dengan berkompromi pada banyak hal.

Sumber gambar:https://www.facebook.com/fantasiousbooks




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar