Kamis, 13 November 2014

Review 2014#63: Surat dari Putri Cecelia (Stolen Songbird #1)

Kadang-kadang seseorang harus melakukan sesuatu yang tak terbayangkan.

Dan aku, Cecile de Troyes dengan penuh kesadaran melakukan hal yang tak terbayangkan.  Semuanya dimulai sejak aku diculik dan dibawah ke kota yang jauh tersembunyi, kota Trollus. Aku diculik karena kepandaianku bernyanyi dan kondisi fisikku. Menakutkan. Bahkan aku terpaksa berpartisipasi dalam penculikan tersebut. Guna membawaku kepada mereka yang begitu menginginkanku, aku dan sang penculik harus melewati berbagai rintangan yang membahayakan jiwa kami. Aku harus bekerja sama jika ingin selamat. Entah mana yang lebih menakutkan, mati selama perjalanan atau selamat sampai di tempat.  Atas keberhasilan menyeretku,  si penculik laknat itu berhak mendapatkan bayaran berupa emas seberat badanku.

Kenapa heran?
Tak percaya ada yang memiliki kekayaan sebesar itu?
Memang tidak, tidak di atas bumi. Tapi tahukah kalian, aku diculik dan dibawa ke kota Trollus yang letak di bawah reruntuhan gunung. Dan siapa lagi yang memiliki kekayaan di bawah selain bangsa Troll!

Bangsa Troll yang menurut para tetua hanya legenda saja ternyata benar-benar ada. Mereka berukuran lebih besar daripada manusia dan memiliki tenaga yang besar. Bentuk Troll seperti manusia batu. Apa yang aku  ketahui tentang Troll sangat berlawanan dengan fakta yang akui temukan. Troll tidak berubah menjadi batu ketika terkena matahari. Tidak semua bangsa Troll buruk rupa, setidaknya Pangeran Tristan sang putra mahkota cukup rupawan. Ia tinggi dan ramping dengan mata berwarna perak yang memancarkan intektualitas yang tajam, serta berpakaian rapi tanpa cela.
 
Oh ya, penculikan diriku ternyata berkaitan dengan sebuah ramalan yang berusia 500 tahun. Ramalan itu menyebutkan bahwa seseorang manusia dengan ciri-ciri seperti aku akan membebaskan mereka dari kutukan sehingga mereka bisa keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan.

Hampir 500 tahun lalu seorang penyihir manusia membelah gunung menjadi dua dan mengubur Trollus dalam bebatuan. Dengan kekuatan sihir mereka berhasil mencegah kota hancur terhimpit. Butuh waktu lama untuk menggali jalan keluar dan mengetahui sang penyihir mengutuk mereka terikat dengan kota selama ia masih bernafas.

Guna mematahkan kutukan itu, aku harus terikat dengan Pangeran Tristan yang angkuh dan sombong. Entah apa yang membuat mereka yakin bahwa akulah yang disebut dalam ramalan itu. Sudah cukup penderitaanku hidup diantara makhluk yang menganggap aku lemah masih ditambah harus berurusan dengan pangeran angkuh.

Melarikan diri merupakan hal yang mustahil. Jika aku memberontak dan melakukan perlawanan secara terang-terangan maka sama halnya dengan membuatku harus menghitung hari dengan meringkuk di lantai sambil menunggu kematian menjemputku. Atau menjalani saja setiap hari dengan berbagai hal yang bisa ditawarkan padaku. Aku memilih bertahan untuk menjemput kebebasanku bagaimana juga caranya.

Kehidupanku di sana jelas bukan hal yang mudah. Mereka memang tidak berani mengusikku terutama sekali karena Raja mengeluarkan dekrit akan menghukum siapa pun yang berani mencelakai diriku. Tapi tatapan mereka tak bisa dilarang. Mereka saling berbisik di belakangku tapi menundukan kepala saat aku melintas di depan mereka. Aku hanyalah makhluk lemah bagi mereka.

Guna memenuhi kebutuhan hidup, bangsa Troll melakukan pedagangan dengan manusia. Meski dipandang rendah, Troll membutuhkan manusia guna kelangsungan hidup mereka. Manusia menyediakan kebutuhan mereka seperti buah, pakaian, alat-alat hingga buku. Untuk itu manusia yang berhasil mendapat kepercayaan Troll akan mendapat bayaran setimpal. Hanya manusia pilihan yang mengetahui jalan keluar-masuk ke kota itu. Merekalah temanku selama di sana. Meski begitu mereka tak akan membawaku keluar dari kota itu, karena mereka terikat kontrak dengan bangsa Troll. Menyebalkan!

Aku belajar banyak selama ada di sana. Raja dan Ratu begitu bersemangat memberikan berbagai pendidikan bagiku. Menurut mereka masih terlalu dini menyatakan bahwa aku gagal mematahkan kutukan. Mereka akan mencoba bersabar menunggu perkembangan lebih lanjut. Ada gunanya aku belajar banyak dan diberi kesibukan. Siapa tahu jika aku makin mirip mereka maka kutukan akan bisa dipatahkan. Melihat bagaimana bangsa Troll memperlakukan mereka yang berdarah campuran, membuatku semakin tidak ingin menjadi seperti mereka. Menjijikan!

Aku berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial berlangsung di sana.  Urusan politik di sana  cukup rumit dan pelik. Ternyata strata sosial juga berlaku bagi bangsa Troll. Mengenai nama sejati juga ada dalam kehidupan bangsa Troll. Guna membuktikan loyalitas, seseorang bisa menyebutkan nama sejatinya sehingga jika dianggap perlu, orang itu bisa ditekan setiap ada kesempatan.

Selain belajar banyak, aku juga menjelajah kota dengan ditemani seorang pelayan dan dua orang pengawal. Aku bahkan pergi mengunjungi perpustakaan. Selama ini aku belum pernah memasuki perpustakaan mana pun. Namun di  kota Trollus aku malah mendatangi perpustakaan, meminta bantuan dari pustakawan untuk mencari buku. Martin, Pustakawan keempat memberikan banyak informasi terkait hal yang ingin ku ketahui. Buku mana yang sebaiknya dibaca dan menjawab beberapa pertanyaan. 

Aku  menemukan sebuah buku yang membuat segala hal menjadi berbeda. Aku jadi memiliki kemampuan dan mampu melakukan perubahan walau kecil. Menyenangkan namun tidak membuat hidupku menjadi lebih mudah di sana. 

Urusanku dengan sang pangeran juga bukan hal yang mudah. Seperti layaknya pangeran, banyak gadis eh troll perempuan yang berada di sekitarnya. Aku tidak pernah menganggap mereka masalah atau sainganku pada awalnya. Tapi jika berurusan dengan kehidupanku maka mereka menjadi masalah buatku. Aku harus mempertimbangkan banyak hal. Apakah aku harus nekat melarikan diri dengan resiko selamat kecil. Atau mempertimbangkan apa yang akan aku korbanku jika hidup bersamanya. Perih dan membingungkan.

Sebuah peristiwa membuatku berada dalam pilihan yang sulit. Bukan aku yang memilih pada akhirnya tapi keadaan yang memilih untuk diriku.

Aku, Putri Cecelia dari kota Trollus mengharapkan kalian tidak harus melakukan hal yang tak terbayangkan dan menjadi orang yang melakukan hal yang tidak ingin dilakukan oleh orang lain.

Sementara, kalian nikmati saja kisahku selama berada di sana. Butuh keberanian dan kekuatan untuk menggali ingatan kehidupan di sana. Tapi aku harus melakukannya agar banyak yang mengetahui bagaimana sesungguhnya bangsa Troll. 

Kisahku ditulis dan disebarkan menjadi sebuah buku
Judul asli: Stolen Songbird
Penulis: Danielle L. Jensen
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Mery Riansyah
Proofreading: Lucy Riu
Pewajah sampul: Defi Lesmawan
Pewajah isi: Yhogi Yhordan
ISBN:978-602-0900-04-90
Halaman: 496
Penerbit: Fantasious


Tak mengira kisahku menjadi seperti ini. Kisahnya seru dan menegangkan namun ditulis dengan bahasa ringan sehingga memahami kisahnya begitu mudah. Tak butuh waktu lama untuk kalian menuntaskan. Aku nyaris tak percaya ini kisah tentangku.

Kekurangan buku ini terletak pada pemilihan warna serta tipe huruf pada sinopsis di kover bagian belakang. Warna putih dan huruf yang terlalu tipis membuat tulisan yang ada terlalu kontras dengan latar belakang hitam sehingga membuat kurang nyaman dibaca.

Penulis cukup piawai memainkan emosi pembaca. Aku ikut merasakan putus asa lagi seperti uraian yang ada, galau ala sang pangeran. Cemburu seperti sang mantan tunangan. Marah seperti sang raja bahkan tamak seperti sang penculik.

Dibandingkan kover yang lain, versi ini lebih mengundang rasa penasaran. Gambar kota yang seakan-akan berada dalam sebuah gua atau dibawah sesuatu merepresentasikan keberadaan kota dalam kisah ini.

Bacalah agar tahu bagaimana kisahku sebenarnya. Serta bagaimana perasaanku pada Pangeran Tristan, Elise, Victoria dan Vincent sesungguhnya

----------------------------------------------

Sepenggal bagian mengingatkan pada kisah HP, bagian yang lain membuat saya berusaha mengingat apa judul kisah yang mirip.

Urusan cinta memang menjadi bumbu yang menyedapkan. Untungnya kisah cinta yang disajikan jauh dari unsur menye-menye. Bagian romantis favorit saya ada di halaman 394-415.

Sungguh kreatif cara penerbit mengirim buku, ditempeli tanah liat sehingga menimbulkan kesan buku ini berasal dari dunia bawah tanah, dunia Troll. Jadi kebayang jika buku kedua dibuat pre order lalu saat buku sudah ada diam-diam dikirim kepada pemesan dengan kondisi seperti itu. Pasti mengejutkan dan menimbulkan sensasi tersendiri. Kehebohan para penerima yang diungkapkan dalam sosmed merupakan hal yang bisa menjadikan alat promosi.  Dari sisi brand hal ini merupakan cara pemasaran yang terbilang menarik.

Tak sabar menunggu buku selanjutnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar