Jumat, 07 November 2014

Review 2014 #61:Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta






Penulis:Rachmat Ruchiat
Penyunting: Martina Safitry & 
Ferry Triadi Sasono
Desain sampul: Hartanto ‘Kebo’ Utomo
Desain isi: Sarifudin
ISBN: 9786029625622
Halaman: 143
Penerbit: Maskup Jakarta
Harga: Rp 60.000
Saat mendengar nama suatu daerah atau jalan, pernahkah terbesit rasa ingin tahu bagaimana mulanya  tempat itu bisa diberi nama demikian?

Tempat tinggal saya dahulu adalah daerah Menteng Dalam. Konon, Menteng adalah nama sejenis buah yang rasanya  cenderung asam tapi menyegarkan. Disebut Menteng dalam karena letaknya lumayan jauh dari daerah Menteng yang ada di Kuningan. Seakan-akan jauh ke dalam. Itu sebabnya disebut Menteng Dalam. Selain Menteng Dalam, ada juga Menteng Wadas dan Menteng Atas. Entah bagaimana asal-usul nama tersebut.

Sekarang saya tinggal di daerah Lebak Bulus. Pertama mendengar nama Lebak Bulus, saya langsung teringat pada hewan yang memiliki tempurung, Bulus (Amyda cartilaginea), 

Lebak artinya kolam, sementara Bulus bisa diartikan sebagai  penyu atau  kura-kura yang hidup di air tawar. Diberi nama Lebak Bulus, Lembah kura-kura  karena disana dahulu banyak ditemui penjual Bulus. Bukan tidak mungkin dahulu banyak ditemui Bulus di Kali Grogol dan Kali Pesanggrahan yang melewati daerah tersebut. 

Walau hanya terdiri dari tiga bab,  buku ini mampu membuat kita mempelajari latar belakang nama suatu tempat dengan cara yang unik. Mungkin saja yang tertulis dalam buku ini berbeda dengan pendapat yang berlaku dimasyarakat, namun setidaknya kita bisa mendapatkan gambaran mengenai asal-usul nama tempat tersebut. Apalagi bagi mereka yang merupakan kaum pendatang atau mereka yang lahir di saat Jakarta sudah sangat berkembang pesat. 




Tenyata rasa keingintahuan mengenai asal-usul nama sebuah tempat yang direalisasikan dengan mengadakan penelitian ada juga ilmunya, namanya Toponimi. Toponimi adalah pengetahuan tentang nama tempat terutama asal-usulnya. Merupakan salah satu rating dari ilmu sejarah yaitu onomastika, ilmu tentang nama. 
Mengacu pada buku ini, ada beberapa alasan dalam memberikan nama suatu tempat atau jalan, yaitu:
1. Berdasarkan peristiwa penting atau bersejarah yang pernah terjadi di lokasi tersebut
2. Berdasarkan nama flora atau fauna yang banyak terdapat di lokasi tersebut
3. Berdasarkan nama seseorang yang dianggap berjasa atau paling dikenal di lokasi tersebut
4. Berdasarkan banyaknya golongan atau suku yang tinggal di lokasi tersebut.
5. Berdasarkan bentuk alam atau ciri khas lokasi

Kebanyoran misalnya. Dahulu daerah tersebut merupakan tanah milik seorang bangsa Belanda yang dipanggil Tuan Bayor.  Karena pelafalan ucapan maka lama-lama berubah menjadi Kebayoran. Tempat lain yang diberi nama berdasarkan nama pemiliknya adalah Karet Tengsin. Konon, tadinya daerah tersebut merupakan perkebunan karet yang sangat luas milik Tieng Shin. Lagi, karena lidah pribumi yang sudah melafalkannya maka berubah menjadi Tensin.

Nama Kampung Bali sering terdengar. Bahkan di Jakarta ada beberapa lokasi Kampung Bali.  Daerah tersebut pada abad ke-17 atah 18 dijadikan tempat tinggal orang-orang Bali.  Untuk membedakan satu daerah dengan lainnya sering dilengkapi dengan nama kawasan yang berdekatan dan cukup terkenal. Misalnya Kampung Bali Krukut yang terletak di sebelah barat jalan Gajah Mada dahulu berbatas dengan tanah milik Gubenur Jenderal Reinier de Klerk. 

Kampung Bugis dinamakan demikian karena banyak orang Bugis yang tinggal di sana. Namun demikian tidak semua  pemukiman orang Bugis dinamakan Kampung Bugis.  Kampung Bugis yang terletak di sebelah utara Tanah Abang dikenal sebagai Petojo dikarenakan nama pimpinannya adalah Aru Petuju.

Meski sudah tidak ada pedagang rumput, namun pasar yang berada di daerah Manggarai ini tetap dikenal sebagai Pasar Rumput. Menurut cerita dahulu di sana banyak pedagang rumput yang menjajakan daganganya sebagai makanan kuda para  meneer Belanda yg tinggal di kampung Menteng.

Siapa yang tak mengenal nama daerah Glodok. Jika ingin mencari elektronik murah dan bermutu, salah satu pilihannya adalah Glodok. Ada beberapa anggapan mengenai asal nama Glodok. Salah satunya menyebutkan bahwa dahulu terdapat pancuran yang sering dipergunakan oleh warga sekitar. Sekitar tahun 1670 terdapat semacam penampungan air dari Ci Liwung yang dikucurkan dengan pancuran kayu dari ketinggian sekitar 10 kaki. Bunyi suara kucurannya disebut grojok. Penduduk mayoritas  yang tinggal di sana adalah orang Tionghoa yang mengucapkannya seolah menjadi Glodok.

Ada juga nama yang diberikan berdasarkan nama flora. Pondok Labu salah satunya. Kawasan Pondok Labu dewasa termasuk wilayah Kecamatan Cilandak Kotamadya Jakarta Selatan. Berasal dari dua kata majemuk yaitu Pondok serta Labu. Labu merupakan nama beberapa macam tanaman merambat, antara lain labu yang bahasa ilmiahnya Lagenaria hispida Ser. Famili Cucurbitaceae, yaitu labu besar yang biasa dimakan. Pondok- labu dapat berarti “pondok atau gubuk yang dirambati ( tanaman) labu. Pada peta yang dibuat oleh Topographisch Bureau, Batavia 1900, penggilingan padi dan rumah peristirahatan itu terletak tidak begitu jauh dari Kali Pesanggrahan sebelah utara Rempo

Salah satu daerah yang diberi nama berdasarkan gelar pemiliknya adalah Pajongkoran. Pada akhir tahun 1960-an daerah tersebut meliputi Kelurahan Koja Selatan, Kecamatan Tanjung Priok dan Wilayah Kelurahan Kali Baru, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara. Entah kenapa nama tersebut belakangan hilang dari peta.


Jonker merupakan gelar yang setara dengan Tamaela, gelar kehormatan di Ambon saat itu.  Pada tahun 1967-1982 wilayah tersebut dikuasai oleh Kapnten Jonker, seorang kepala pasukan orang Maluku yang mengabdi pada VOC.

Penulis  terlihat sedikit tidak konsisten dalam buku ini. Misalnya sudah disebutkan bahwa "Ci" bermakna kali atau sungai. Dengan demikian Ci Liwung artinya adalah kali atau sungai Liwung. Maka untuk apa dituliskan lagi sebagai kali Ci Liwung pada halaman 3 serta Sungai Ci Liwung pada halaman 7 dan 43. Bukankah cukup ditulis Ci Liwung saja mengingat sudah ada penjelasan cukup lengkap pada  bagian awal.  Mengingat ada dua orang penyunting, mungkin saja hal ini bisa terjadi. Mengingat usia sang penulis yang sudah cukup lanjut, kita patut memberikan acungan jempol untuk semangat beliau.

Secara keseluruhan buku ini memberikan pengetahuan dan penghiburan sehingga layak dibaca oleh semua kalangan. Dengan membaca buku ini selain kita makin mengenal sejarah suatu tempat, juga bisa menumbuhkan rasa cinta dan kedekatan emosional
Bintang 3,5 layak untuk buku ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar