Selasa, 28 Januari 2014

Review 2014 #4 :Seribu Kerinduan Bagimu


Sudut Bumi 200ZX

Cintaku
Belahan Jiwaku
Pusat Kehidupanku

Sangat merindukanmu!
Sekian lama tak bertemu membuatku kian merasakan betapa besar pengaruhmu dalam kehidupanku. Semua tak sama tanpa hadirmu. Restoran favorit kita sekarang justru jarang kudatangi karena akan membuatku kian merana karena merindukanmu. Sudut yang sama, menu yang sama hingga pramusaji yang masih sama. Warung kopi di pojok itu juga menjadi tempat yang menakutkan bagiku. Masih bisa kurasakan harum kopi favoritmu, bisa kuhitung dengan jelas dalam ingatanku berapa banyak potongan kecil roti bakar yang kau makan. 

Aku juga kian malas berbelanja di swalayan. Wajah keras kepalamu yang selalu memaksaku membeli pengharum dan pelembut pakaian dengan harum tertentu selalu melintas diingatanku saat melewati rak khusus diterjen. Bau harum sabun mandi cairmu seakan membuai indra penciumanku ketika melewati deretan sabun cair. Semua hal di sekelilingku seakan mengingatkanku pada pusat kehidupanku, kau.

Tanpamu aku bukan apa-apa.
Aku juga tidak akan menjadi siapa.
Selama ini aku selalu menjadi bayanganmu, menemanimu kemanapun kau melangkah (kecuali urusan kamar kecil ^_^), berkompromi pada banyak hal. Sehingga tanpamu di sisiku membuatku merasa tak utuh.

Mungkin, itu juga yang membuatku merasa bersimpati pada kisah percintaan Renata dan Panji. Kisah percintaan ala abad ini dibuat dengan manis oleh Herlina P. Dewi. Kisah percintaan memang selalu menjadi topik yang paling mudah dialihkan dalam wujud novel. Aku sangat bisa memahami bagaimana perasaan Renata saat Panji harus meninggalkannya.Apapun penyebabnya tidak bisa menutupi fakta mereka berpisah.

Tapi kisah ini memiliki keunikan tersendiri. Selain setting secara umum yang dibuat di beberapa kota, penulis juga menggunakan beberapa lokasi umum sebagai setting. Misalnya sebuah hotel di kawasan kuningan terpadu, mall di kawasan Sudirman dan beberapa tempat lainnya. Penulis mempergunakan lokasi tersebut guna menekankan gaya hidup kaum eksekutif muda saat ini.

Novel ini juga mengusung sesuatu yang berbeda perihal pilihan hidup dan sikap. Bagi banyak orang berhubungan badan bukan dengan pasangan resmi merupakan hal terlarang. Tapi dalam kisah ini bukan salah atau benar yang dibahas tapi perihal pilihan! 

Renata sudah menentukan sikapnya. Demikian juga dengan Panji, Ayu, Dion bahkan masih banyak lagi pasangan yang dimabuk cinta atau mereka yang membutuhkannya. Mau bagaimana lagi, urusan sex sendiri menurut Abraham Maslow sudah menjadi kebutuhan.

Memang sex bukanlah bahan dasar utama menyusunan kisah dalam novel ini. Masih banyak kisah lainnya seperti tentang ketegaran hidup, bersahabatan dan tekat membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Sebelum aku kian melantur, Kisah percintaan Renata dan Panji yang aku maksud adalah kisah dalam novel berjudul "Seribu Kerinduan" Untuk lebih jelasnya biar kuceritakan sedikit tentang novel ini

Judul: Seribu Kerinduan
Penulis: Herlina P. Dewi
Editor: Paul Agus  Hariyanto
Proof Reader: Tikah Kumala
Desain Cover: Tegih Santoso
Layout Isi: Deeje
ISBN: 978-602-7572-19-5
Halaman: 249
Penerbit: Stiletto Book
Harga: Rp 43.000,-

Renata merupakan seorang fashion editor dengan karier cemerlang. Sudah empat tahun ia menjalin hubungan dengan Panji seorang eksekutif muda. Panji yang lulusan Jepang sering kali diingatkan oleh orang tuanya untuk mencari jodoh dengan mempertimbangkan unsur 3B. Bibit, bobot dan bebet.

Sebagai anak seorang mantan wartawan di Bandung, jelas Renata tidak masuk kriteria itu walau wajahnya layak mendapat acungan jempol. Apalagi darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah Sunda. 

Tapi begitulah cinta.
Saat ia datang tak ada yang bisa menghindar. Demikian juga Panji. Semula ia hanya berkenalan, dan berteman akrab saja. Cinta ternyata ikut campur dengan kuatnya. Kedua anak manusia itu tak perduli lagi akan fakta bahwa hubungan mereka akan ditentang oleh keluarga Panji. Renata terlalu memuja Panji hingga mengesampingkan hal itu. Panji terlalu terpesona dan merasa nyaman berada di dekat Renata hingga yakin kedua orang tuanya akan menerima pilihan hatinya.

Keduanya menjalani kehidupan sebagai sepasang kekasih ala kota metropolitan. Restoran, bar, tempat dugem, bahkan sekedar warung kopi menjadi tempat mereka bertemu. Jika situasi tidak memungkinkan merekaa bisa sekedar ngobrol di tempat tinggal yang disewa Renata atau Panji. Penulis menciptakan keduanya selain sebagai sosok yang mandiri dan sukses, juga sebagai sosok yang cukup menikmati kehidupan dan pergaulan ala kota besar.

Selanjutnya bisa ditebak. Mereka harus berpisah.Panji menikah dengan pilihan orang tuanya. Sementara Renata yang begitu terpukul kehilangan Panji masih harus terpuruk akibat dikeluarkan dari pekerjaannya. Hidupnya seakan hancur. Ia jadi rajin menggeluti gemerlap dunia  malam dan mabuk-mabukan.

Suatu saat saat mabuk berat, sesuatu yang jarang sekali terjadi terhadap Renata dahulu, Renata berkenalan dengan seorang pria yang membawanya ke apartemennya. Bisa diduga apa yang terjadi diantara mereka.  Uniknya hal tersebut alih-alih membuat keduanya bermusuha,  keduanya justru menjadi sahabat. Dunia memang diisi dengan manusia yang  kian aneh!

Ada bagian dari kisah ini yang membuat saya teringat sinetron tanah air.  Ceritanya  tentang seorang perempuan baik-baik yang sedang putus asa karena sang pacar meninggalkannya. Saya lupa apa alasannya. Guna menghibur diri, ia jadi sering minum-minum di bar. Suatu saat ia mabuk berat. Ia berkenalan dengan pria Indo, seorang playboy tepatnya. Tanpa ia sadari ia sudah terjebak pesona pria itu hingga menyerahkan keperawanannya. Esoknya sesal sudah tak berguna.

Entah kenapa, gadis itu justru merasa nyaman dengan sang playboy walau tahu ia hanya satu dari sekian deret perempuan yang dekat dengannya. Selanjutnya ia memaksa sang pria untuk menikahinya dengan alasan cinta dan terengutnya keperawanan. Sang cowok jelas menolak. Kisah masih bergulir panjang. Tapi yang membuat saya waktu itu terheran-heran adalah begitu rapuhnya para wanita saat kekasihnya pergi hingga berbuat hal-hal nekat.

Peristiwa itu ternyata membekas di hati Renata. Ia lalu mengambil keputusan yang sangat tidak masuk akal untuk kehidupannya. Renata yang sakit hati mengambil jalan pintas menjadi seorang pelacur. Baginya hidup yang dilakoninya sekarang tak lebih dari sebuah panggung pentas dimana ia memerankan tokoh pelacur. Tokoh pelacur adalah sebuah persinggahan. Dengan demikian ia bisa melakukannya secara maksimal. 

Malam  bersama tamunya bukanlah malam yang menyenangkan tapi ternyata Renata menikmati dipuja-puja dan dibayar mahal. Ia merasa dihargai  dicari, dicintai, disanjung meski semuanya berakhir dengan wujud uang,kadang  malah dengan dollar atau euro. Para pelanggan sangat menyukai totalitas yang diberikan Renata hingga sering memberikan tips yang sangat besar. Sakit hatinya pada Panji membuatnya tak bisa berpikir rasional lagi.

Guna menyamakan persepsi kita, pelacur atau sering juga disebut Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah kegiatan penjualan jasa seksual baik oral maupun dengan berhubungan badan (seks) dengan alasan ekonomi atau untuk mendapatkan uang.

Bagi banyak pihak, pelacuran dianggap merupakan hal yang buruk bahkan jahat. Tapi ada yang berpendapat walau begitu kegiatan pelacuran juga dibutuhkan (evil necessity). Adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang Bapak Gereja, yang berpandangan demikian.  Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacur bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (umunya laki-laki), tanpa penyaluran tersebut dikhawatirkan para pelanggan justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik. Lebih lanjut dikatakan bahwa pelacuran itu ibarat selokan yang menyalurkan air busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kota tersebut.

Tidak semua "urusan jual beli tubuh" Renata membutuhkan pelayanan. Ada pria-pria yang butuh sensasi kecil karena jenuh dengan rutinis kehidupan, butuh sekedar teman ngobrol bahkan hanya sekedar untuk “ditenteng” ke pesta kelas atas. Renata akan tetap menerima  honor sesuai dengan tarif yang sudah ia tetapkan untuk apapun yang harus ia lakukan.

Ingatkah belahan jiwaku tentang kisah salah satu sahabat kita yang terpergok selingkuh? Kabar terakhir keributan itu diakibatkan urusan “arus bawah.” Sex yang diberikan istrinya sangat monoton. Sang istri yang kita ketahui merupakan perempuan tipe penurut Koverpada suami mengartikan urusan sex sebagai kepasrahan. Tidak ada inisiatif, rangsangan bahkan memberikan sekedar godaan atau isyarat. Manusia memang tidak ada yang sempurna

Beberapa bagian kisah ini jika ditelaah lebih lanjut bisa ditemui dalam kehidupan nyata. Misalnya saja bagaimana sosok Renata yang suatu saat menjadi pelacur kelas atas,lalu di lain hari menjadi penderma yang murah hati. Sering kali ia menyesal melakukan kebaikan dari uang hasil melacur, tapi ia seakan tak mau ambil pusing. Bagi Renata pahala dan dosa adalah rahasia Sang Pencipta.

Sosok Panji yang terkesan sangat lemah bersikap sering kita temui. Bukannya menyetujui sikap memberontak, tapi kelemahan sikapnya dalam menghadapi Ayu sangat disayangkan. Tidak harus berasal dari Suku Jawa untuk urusan 3B. Orang tua mana pun bisa menerapkan hal tersebut pada anaknya. Selanjutnya bagaimana nasib Panji silahkan cintaku membaca buku ini secara langsung.

Aku sangat yakin itu sosok perempuan. Jangan tertawa cintaku. Aku punya alasan untuk itu. Pertama buku ini diterbitkan oleh penerbit yang khusus menerbitkan karya perempuan, sehingga kemungkinan besar kovernya juga menggunakan sosok perempuan. Kedua perhatikan sikap duduk, sepatu dan pakaiannya, menunjukkan sisi perempuan. Terakhir perhatikan cara memegang payungnya, cara seorang perempuan

Seperti kuuraikan di atas. Ini bukan sekedar kisah tentang urusan sex dengan latar belakang perpisahan sepasang kekasih. Namun ini lebih tentang bagaimana kisah tentang kekuatan cinta dan pilihan hidup. Kekuatan cinta seseorang yang mau menerima dan berkompromi dengan masa lalu  kekasihnya. Pilihan hidup seseorang atas bagaimana ia menjalani kehidupan ini.

Mungkin saja dirimu memiliki pandangan yang berbeda, untuk itu aku kirimkan buku ini bersama suratku. Silahkan uraikan pendapatmu. Hati kita memang terpadu menjadi satu, tapi bukan berarti kita tidak memiliki perbedaan pendapat. Perbedaan yang ada harus disikapi dengan terbuka dan lapang hati guna mendapat sebuah kompromi manis.

Oh ya, sebuah kalimat yang sangat kusuka adalah "Sometimes, we need to stop blaming the past and start creating the future. Kalau kita terus-menerus menyalahkan masa lalu, kita justru akan hidup bersamanya, dan semakin sulit membebaskan diri."

Cinta bisa menjadi kekuatan untuk membuat kita menjadi kuat dan hebat. Tapi cinta juga bisa membuat kita menjadi lemah tak berdaya. Dua efek cinta yang bagaikan dua sisi mata uang.

Cintaku
Belahan Jiwaku
Pusat Kehidupanku
Aku harus memperingatkanmu bahwa ada 2 halaman yang tidak tercetak dalam buku ini. Sebetulnya bagiku ini merupakan sebuah perkara besar.Kau sangat pahamkan bahwa aku sangat tidak menyukai melakukan kegiatan membaca dengan melompati halaman atau membaca sambil lalu.Karena kadang sebuah fakta kecil justru terdapat di halaman tersebut. 

Untuk sementara waktu, terima dulu saja buku ini. 
Nikmati untaian kalimat yang dijalin menjadi cerita indah. 
Seindah kisah kita.



Bayanganmu

TR














Sabtu, 25 Januari 2014

Review 2014#3: Surat-surat Rahasia Sang Biksu




Judul Asli : The Secret Letters of the Monk Who Sold His Ferrari
Penulis: Robin Sharma
Alih Bahasa : Barokah Ruziati
Editor: Selviya Hanna
Layouter: Ida
Cover Designer: Windy Febrianti
Proofreader: Dwi Ariyani
Ilustrator: Windy Febrianti
Cover Designer: Windy Febrianti
ISBN: 978-602-8482-84-4
Halaman: 265
Cetakan: I-November 2013
Penerbit: MIC Publishing

Pernahkah saat kecil teman-teman begitu terpukau pada suatu hal sehingga saat dewasa sangat ingin memiliki atau melakukan sesuatu? Saya pernah. Saat kecil saya sering menginap di rumah sepupu saya. Kebetulan bude saya merupakan ibu rumah tangga sehingga pendapatan murni dari gaji pakde saya. Setiap hari saya sering melihat debat kusir urusan uang belanja.

Entah bagaimana manajemen rumah tangga beliau berdua, tapi pada pelaksanaannya setiap butuh uang untuk belanja dari roti hingga garam selalu meminta pada pakde. Dan setiap kali memberi, pasti diawali dengan perdebatan kecil. Selalu begitu. Saat itu saya tak mengerti konsep menikah dan rumah tangga. Tapi saya sudah bertekat, saat besar saya harus bisa cari uang sehingga jika butuh untuk membeli sesuatu tidak perlu berdebat dan meminta ke suami. Terlebih lagi waktu itu yang ada dipikiran saya adalah bisa membeli buku sendiri.

Demikian juga dengan Jonathan. Saat kecil, ia begitu terpesona dengan mobil Ferari milik sepupu ibunya. Ia duduk dengan perasaan campur aduk. Jonathan kecil bertekat saat dewasa ia juga harus memiliki mobil seperti itu. Sebuah tekat yang diwujudkannya saat dewasa.

Jonathan nyaris tidak perduli akan istri dan putra tunggalnya. Ia begitu bersemangat bekerja. Menurutnya wajar jika ia sedikit mengabaikan keluarga demi urusan kantor toh istri dan anaknya mendapat materi yang berkecukupan. Puncak keretakan rumah tangganya akhirnya berujung dengan pindahnya Jonathan ke apartemen dan pengaturan jadwal pengasuhan anak.

Suatu saat, sang ibu memberitahukan bahwa Julian, sepupu sang ibu ingin berbicara dengannya. Sudah menunggu tiket ke Buenos Aires, Argentina di apartemen begitu ia sampai. Julian butuh waktu bertemu walau hanya berbicara sesaat saja. Tak ada penjelasan panjang lebar dari sang ibu hanya pesan jika Jonathan mencintainya maka ia mau mengunjungi Julian. Tak ada pilihan lain bagi Jonathan.

Saat bertemu dengan Julian, Jonathan sungguh terkejut. Selain sosoknya yang berbeda dengan ingatan masa kecilnya, tempat pertemuan mereka juga merupakan lokasi yang tidak lazim jika menilik sosok Julian yang dahulu. Yang paling mengagetkan bagi Jonathan adalah mobil Ferari milik Julian sudah tidak ada lagi. Sebuah kejadian telah mengubah hidup Julian. Ia memutuskan untuk menjual rumah, mobil serta seluruh harta bendanya termasuk Ferari yang membuat mungkin kearifan dunia. Baginya harta bukanlah suatu hal yang utama, ia mulai kurang tertarik pada kekayaan. Memburu perempuan cantik tak sebanding dengan mengejar kebahagian sejati bagi Julian.

Saat melakukan perjalanan ke Himalaya, Julian bertemu dengan seorang biksu yang merupakah salah satu Orang Bijak dari Sivana. Sang biksu memberikan banyak pelajaran yang sangat ingin dibagi oleh Julian. Membagi kisah tentang pencarian makna kehidupan Julian mungkin bukan saat yang tepat pada pertemuan pertama mereka. Tapi yang paling utama, Julian ingin Jonathan membantu menemukan azimat berbetuk amulet, patung-patung kecil.

Ada sembilan buah amulet yang harus dikumpulkan Jonathan dari seluruh dunia. Masing-masing amulet menyimpan sepotong kebijakan hakiki untuk kebahagian. Jika terpisah, amulet tersebut hanyalah sekedar simbol, saat disatukan menyimpan kekuatan perubahan yang luar biasa. Kekuatan yang mampu mengubah kehidupan. Jonathan harus mengumpulkan semua amulet guna membantu seseorang yang mengalami masalah berat versi Julian.

Selanjutnya kita akan diajak mengikuti petualangan Jonathan mencari amulet tersebut. Amulet tersebut disimpan oleh para penjaga pilihan, merekalah yang harus ditemui oleh Jonathan. Dari Turki, Perancis, hingga mengunjungi Taj Mahal di Agra, India. Disetiap amulet yang ditemukan, Jonthan juga menemukan semacam catatan mengenai makna amulet tersebut.

Tanpa disadari, setiap kali bertemu dengan salah satu penjaga amulet, Jonathan juga mendapat sebuah pengalaman serta wawasan baru. Misalnya saat bertemu dengan Antoine di Kotakomba, Perancis Jonathan mendapat wawasan bahwa satu-satunya cara mengatasi ketakutan adalah dengan menghadapi ketakutan itu sendiri. Kisah tentang bagaimana takutnya Antoine akan ingatan meilhat sosok ayahnya di peti mati membuatnya bisa mengatasi ketakutannya pada masa lalu.Jonathan lalu mencoba berkompromi dengan rasa takutnya. Setelah dua puluh tahun ia mencoba kembali naik lift.

 Tidak hanya itu, Jonathan diminta untuk menulis jurnal selama ia berpergian. Apa saja terkait perjalanan, perasaan bahkan amulet itu sendiri. Tidak ada batasan halaman atau berapa banyak ia harus menulis. Jonthan hanya perlu menuliskan apa yang ia rasakan dan pikirkan setiap berhasil menemukan sebuah amulet.

Sebenarnya saya bukan penggemar buku motivasi. Sejauh ini hanya satu buku yang mampu menggugah dan membuka mata hati saya. Menurut saya karena kebanyak buku motivasi ditulis dengan semangat tinggi menulisnya namun tidak mengena pada pembacanya. beberapa buku terlihat sekali berkesan menggurui.

Buku ini ditulis dengan cara berbeda, dibuat dengan menyajikan sebuah kisah petualangan seorang eksekutif muda yang rumah tangganya diambang kehancuran, ia menyelusuri dunia untuk membantu sepupu sang ibu yang ingin menyelamatkan seseorang. Diselingi dengan kisah tentang kondisinya yang tak bisa lepas begitu saja dengan urusan kantor membuat kisah ini menjadi dekat di hati pembacanya.

Sering kali Jonathan harus menerima telepon, menjawab sms, email dan masih banyak hal lain yang ia kerjakan padahal ia sudah mengajukan cuti. Berapa banyak diantara kita yang benar-benar bisa lepas dari urusan kantor saat tiba di rumah? Saat cuti?

Pesan-pesan motivasi untuk mengubah diri tersembunyi dengan rapi diantara cerita-cerita serta ilustrasi yang menawan. Setiap sosok pemegang amulet dipilih bukan tanpa alasan khusus. Saat bertemu dengan penjaga amulet di Jepang, Jonathan secara tak langsung mempelajari filosopi yang terkandung dalam aspek kehidupan mereeka. Kenapa mereka selalu menuangkan sake ke gelas yang lain tapi tidak bagi dirinya sendiri. Jonthan mempelajari makna untuk berbagi dan tidak mementingkan diri sendiri. Juga mengenai posisi duduk yang jangan sampai diartikan sebagai sikap pamer tuan rumah akan hartanya.

Jika pembaca tak ingin mengikuti petualangan Jonathan, atau begitu terpesona dengan kisah ini sehingga melupakan tujuan utama mencari makna kesembilan amulet, penulis sudah menyediakan bagian yang khusus merangkum kesembilan amulet dan uraian ringkas mengenai amultet tersebut. Penulis menyebutkan Surat-surat Azimat yang bisa dibaca pada halaman 261 hingga 264.

Satu-satunya yang membuat orang mungkin ragu untuk membaca buku ini adalah perihal kovernya. Menurut saya kovernya terkesan terlalu datar. Perangko aneka negara bisa dimaknai ada banyak negara dalam kisah ini. Namun warna coklat sepertinya memberi kesan datar. Buku ini tidak akan terlihat "menggoda" saat diletakan diantara buku lainnya. kecuali bagi mereka yang sudah mengetahui tentang buku ini sebelumnya.

Hal lain yang sedikit mengganggu saya adalah pemilihan huruf tulisan atau surat yang menyertai setiap amulet yang berhasil ditemukan oleh Jonathan. Terlalu tipis sehingga sedikit susah untuk membaca kalimat-kalimat yang tertera. Padahal deretan kalimat tersebut mengandung makna terdalam dari arti amulet itu. Namun sepertinya penerbit telah menyiasati kekurangan tersebut.

Konon buku ini merupakan buku kedua, tapi saya tidak mengalami kesulitan saat membacanya tanpa membaca buku pertama. Kisahnya mengali. Pilihan kata juga tidak rumit membuat buku ini ringan untuk dibaca tapi menggugah perasaan dan memotivasi pembacanya.Walau begitu butuh seluruh buku untuk saya bisa memahami apa hubungan judul buku ini, terutama kalimat Monk (bisa diartikan sebagai pendeta) dengan kisah ini. Kejutan!.ternyata Monk adalah...

Saat membaca Prolog, saya nyaris lupa jika ini merupakan buku motivasi. Kesannya sungguh mencekam, seakan-akan saya sedang menikmati kisah Dan Brown yang legendaris. Menyusuri Kotakomba untuk bertemu dengan salah satu pemegang amulet diantara tulang belulang jelas bukan hal yang saya idamkan.

Katakomba Paris (bahasa Perancis: Catacombes de Paris) adalah pemakaman bawah tanah yang berlokasi tepat di bawah kota Paris, Perancis. Terletak di sebelah selatan gerbang kota (sekarang Place, Denfert-Rochereau), katakomba ini menampung kira-kira enam juta jenazah, lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berdiam di atasnya. Struktur kotakomba ini terdiri dari gua-gua dan terowongan bawah tanah yang merupakan sisa-sisa dari pertambangan batu Paris. Dibuka pada akhir abad ke-18, katakomba ini telah menjadi daya tarik wisata pada awal abad ke-19, dan telah dibuka secara teratur untuk umum sejak tahun 1874 .

Ferrari yang membuat Jonathan terpesona adalah sebuah mobil dengan performa tinggi berpusat di Maranello, Italia. Ferarri didirikan oleh Enzo Ferrari pada tahun 1929. Awalnya merupakan sebuah perusahaan yang memberikan sponsor bagi para pembalap serta membuat mobil balap. Baru pada tahun 1974 mobil dengan lambang kuda ini beralih pada mobil komersil. Bagi masyarakat Jakarta yang ingin mengetahui perihal mobil ini bisa mengunjungi http://www.jakarta.ferraridealers.com/
 
Ferrari Enzo adalah mobil mahal yang paling populer di dunia, memiliki kecepatan maksimum 350Km/jam dan akselerasi dari 0 ke 100Km/jam hanya dalam waktu 3,4 detik. diproduksi sebanyak 400 unit, kini mobil ini tidak lagi diproduksi. walau begitu, harga pasaran untuk second-nya di tempat lelang bisa mencapai Rp.10 Milyar per unit .

Kata-kata bijak yang perlu diingat, direnungi bahkan kita menetapkan sebuah resolusi jika perlu antara lain adalah "Mengapa kita sering membiarkan diri kita memperlakukan keluarga dengan cara-cara yang tak mungkin kita lakukan terhadap teman kita -atau bahkan orang-orang tak dikenal? Mungkin karena kita berasumsi mereka pasti akan memaafkan kita." "Tapi bahkan kontribusi paling kecil sekalipun adalah kontribusi yang berharga."
Mengesankan.

Sabtu, 18 Januari 2014

Review 2014#2: Student Hijo


Penulis: Marco Kartodikromo
Desain Sampul: Harrry (Si ong) Wahyu
Penyelia Akhir:Gunadi Handoko, Eka Kurniawan
ISBN:  979-95817-2-9
Halaman: 212
Cetakan: Pertama, Februari 2000
Penerbit: Yayasan AKsara Indonesia

 Ada sesuatu dari buku ini yang membuatku memutuskan untuk membelinya.Sekitar tahun 2002. Bukan karena buku ini tergeletak di kotak diskon dengan harga menggiurkan, menggoda-sementara kondisi keuangan  membuat membeli buku adalah kemewahan terakhir yang bisa dilakukan. Bukan juga karena kover buku ini yang terlihat jauh berbeda dibandingkan dengan kover buku lainnya. Anggaplah ada suatu perasaan yang membuat saya harus memiliki buku ini.

Sering kali  juga buku ini nyaris masuk dalam daftar buku "dipindah rumah" Tapi selalu saja kembali duduk dengan manis di rak buku.Pawornya mampu mengalahkan buku-buku terbitan yang lebih baru. 

Berjodoh? Mungkin saja, setidaknya saya sangat bersyukur saat mengetahui buku ini akan dibahas pada Acara Festival Sastra Solo 2014, setidaknya ada satu buku yang bisa saya ulas guna meramaikan acara tersebut.

Awalnya Hijo memang bersemangat untuk belajar menjadi seorang   ingenieur. Bukan hal yang  susah mengingat selama ini cukup rajin belajar dan termasuk pemuda yang tidak suka berhura-hura. Seiring waktu, akibat lingkungan pergaulan perubahan mulai terlihat pada Hijo.  Sejak melihat pertunjukan Lili Green, Hijo  berubah. Pesan orang tua dan kerabatnya agar ia menahan diri dari segala godaan dan hanya berkonsentrasi pada pelajarannya saja mulai goyah. Ia bahkan mulai  berani berdua-duaan  dengan Betje di hotel.

Pertentangan batin karena melakukan aib akibat pergaulan bebasnya membuat Hijo memutuskan untuk pulang ke tanah air.  Alasannya  kesehatan. Setidaknya itu yang diberitahukan  kepada orang tuanya. Sesungguhnya Hijo merasa takut, makin lama ia berada di sana maka makin ia terjerumus dengan adat pergaulan Eropa. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia menikah dengan seorang Belanda dan memutuskan untuk tinggal selamanya di Belanda. Suatu hal yang ia yakini bisa sangat melukai perasaan kedua orang tuanya.


Selain kisah tentang Hijo yang berusaha menuntut ilmu di Belanda, kita juga disuguhi kisah perjodohan antara beberapa anak manusia. Kisah cinta Hijo selanjutnya berubah menjadi kisah cinta Hijo-Wungu dan  Wardoyo-Biru. Peranan orang tua sangat besar dalam menentukan jodoh anak terlihat sekali pada kisah ini.
  
Kalimat ,"Het medelijden is een burg, die naar de liefde leidn” Kasihan itulah suatu jembatan yang bisa menuju ke tempat kecintaan, bisa diasumsikan jika seseorang mengenal yang lain dan mau membuka diri, pelan-pelan akan ada rasa cinta,

Tak ketinggalan kisah tentang pergerakan kebangsaan. Kisah tentang Serekat Islam mendapat porsi yang lumayan besar. Sarekat Islam  merupakan organisasi politik pertama di  tanah air. Pada awalnya bernama Serikat Dagang Islam (SDI) yaitu perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Karena keadaan politik dan sosial tanah air yang terus berkembang, maka SDI menjadi organisasi yang tampil di kancah politik

Kisah cinta ini ditutup dengan standar, para tokoh hidup berbahagia. Padahal pada umumnya kisah  perjodohan selalu berakhir dengan menyedihkan, serta kisah seorang pribumi yang menjadi Nyai akibat ditaksir Belanda. Buku ini menawarkan sebuah kisah yang berbeda. 

Terdiri dari 22  bagian kisah yang disampaikan terasa biasa saja bagi kehidupan saat ini. Tapi jika ditelaah lebih lanjut, banyak hal yang layak diacungi jempol. Penulis menyampaikan banyak sekali pesan dalam kisah ini. Pesan yang masih sangat relevan bagi kehidupan di saat sekarang.

Buku ini diterbitkan seperti aslinya,  nyaris sama kecuali  perihal ejaan dan tanda baca. Beberapa istilah dalam bahasa Belanda mendapat perhatian khusus dari penerbit. Maklumlah setting kisah ini adalah dizaman penjajahan Belanda masih bercokol di tanah air. Untuk itu, penerbit membuat semacam catatan mengenai arti kata tersebut. Sangat membantu menikmati kisah ini. Apalagi dengan adanya Daftar Istilah di halaman awal buku. Bagi saya pribadi jadi lebih mengerti makna beberapa kata yang sering dilontarkan oleh para eyang. Ealahhhhh itu tho artinya, ngak beda jauh dengan perkiraanku.

Sempat terpikir kenapa penulis mengambil tokoh dari golongan bangsawan. Bukankah kisah percintaan masyarakat biasa biasanya lebih menyentuh? Membaca kisah ini sampai tamat membuat saya menjadi mengerti. Penulis menggunakan tokoh kaum bangsawan dikarenakan merekalah yang mendapat kemudahan dalam hal hal, misalnya pendidikan serta pergaulan.

Jika Hijo bukan anak Raden Ptronoyo, tentunya ia tidak akan bisa dengan mudah melanjutkan sekolah ke Belanda. Jika ia tidak ke Belanda maka ia tidak akan mengalami hal-hal yang membuka mata hatinya tentang persamaan derajat kedua bangsa. Penulis juga tidak bisa menggambarkan bagaimana Hijo dan sahabatnya bersemangat mendatangi acara Serikat Islam dengan mobil.


Pergaulan ala Eropa juga hanya bisa dilakukan oleh kaum bangsawan saat itu. Sehingga penulis bisa membuat kisah romantis tentang seorang Belanda yang menaruh hati pada putri seorang bangsawan Jawa. Jika bukan keluarga bangsawan, tentunya orang Belanda tersebut tidak akan bisa bercakap-cakap perihal pemerintahan dengan ayah sang gadis.

Pada kisah ini kita bisa melihat bahwa percaloan sudah ada saat itu. Mereka yang memiliki kedudukan dan uang lebih bisa  mendapatkan jasa calo bahkan dari orang yang tak terduga. Simak kalimat berikut yang ada pada halaman 15, ".... Meskipun begitu, Raden Hijo bisa dapat kaartjis lebih dahulu, karena ditolong oleh oppas yang menjadi itu keramaian." Oppas kurang lebih adalah petugas keamanan, dalam Daftar Istilah diartikan sebagai petugas. Alih-alih menjaga keamanan dengan serius, ia juga melakukan praktek percaloan. Menilik  status sosial Hijo, tentunya sang oppas mengharapkan mendapat persen yang lumayan.


Aborsi juga sepertinya dianggap hal yang sudah biasa dilakukan oleh Bangsa Belanda saat itu. Peristiwa yang menimpa seorang guru sekolah dasar yang berhubungan dengan seorang pengawas contohnya. Semenjak  pengawas, disebut controleur jatuh hati pada Raden Ajeng Wungu, ia tidak perduli lagi pada  Onderwijzeres, guru sekolah dasar yang selama ini menjadi kekasihnya dan teman menghangatkan kasurnya.“Sudah tentu nona Roos berkata terus-terang kepada dokter bahwa dia kira-kira sudah tiga bulan bunting, dan dia minta itu kandungannya bisa ..., karena yang membikin dia jadi begitu main gila. Dokter pun menuruti permintaannya  nona itu, dan akhirnya kandungan hilang dan dia juga sembuh dari sakit."


Beberapa kalimat membuat saya penasaran. Misalnya saja mengenai setengah ketawa. Kalau ini mungkin setara dengan menahan tawa , tertawa kecil atau tertawa namun tidak lepas.  Tapi saya tidak bisa membayangkan seperempat ketawa. Apakah maksudnya senyum? Di buku ini disebut tentang mesem. Hemm susah kan menyamakan makna  mesem bagi  tiap orang.

Tidak hanya itu. Beberapa kalimat mengandung titik-titik . Contohnya, “Baik,” kata Betje dan dia menginjak sepatunya Hijo yang bermaksud…. Demikian juga pada halaman 131 “ Sudah tentu saja waktu Hijo berangkat ke Amsterdam, Betje tak boleh tidak turut mengantarkan sampai  di station dan ….


Tanda titik-titik tersebut membuat pembaca memiliki khayalan yang berbeda. Misalnya kalimat yang ada di halaman 131, buat saya setelah membaca uraian hubungan tertarang antara Betje dan Hijo maka saya merasa  titik-titik tersebut berisi kalimat “mampir ke salah satu hotel yang ada di dekat station” Mungkin bahasanya adalah,” berhenti sesaat pada hotel dekat station .” Bagaimana menurut anda?

Buku ini memang menyebutkan tentang kota Solo, sayangnya kisah tentang keindahannya kurang dijabarkan. bagaimana kondisi kota saat itu. Penulis lebih berkonsentrasi pada kehidupan para tokoh di kota tersebut. Hanya Taman Sriwedari yang disebut beberapa kali sebagai tempat saat perhelatan Serekat Islam diselenggarakan serta Stasiun Balapan. Taman Sriwedari  merupakan kompleks taman di   kecamatan Lawiyan.    Sejak era Pakubuwana X  Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi hiburan Malam Selikuran.  Oh ya beberapa kali juga menyebutkan tentang melihat binatang. Apakah maksudnya di Kebun Binatang Jurug  yang dibangun pada tahun 1878. 

Dalam  budaya Jawa, terdapat istilah  priyayi, sebuah sebutan bagi kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan, darah biru.Berasal dari kata “para” dan “yayi” yang berarti para adik, tepatnya para adik raja. Sementara priayi adalah sebutan bagi seseorang yang kedudukannya dianggap terhormat.  Hati-hati pengucapannya  mirip tapi maknanya berbeda. Yang satu sudah membawa "gelar" sejak lahir sementara yang lain harus berusaha berjuang untuk bisa menyandang "gelar" Walau dewasa ini hal-hal tersebut tidak begitu berlaku di masayrakat tapi saat buku ini dibuat tentunya merupakan hal yang sangat diperhatikan.

Sebenarnya yang membuat saya gatal untuk berkomentar adalah kover. Kovernya memang menarik. Gambar dua laki-laki yang menandakan keduanya merupakan sosok terpelajar. Hal tersebut bisa dilihat dari tas yang dibawa keduanya. Selain itu pintu yang terbuka dan undakan tersebut mengingatkan pada kantor lama saya, sebuah universitas yang berdiri sejak zaman Belanda.

Cara berpakaian keduanya memang berbeda, yang satu menggunakan pakaian tradisional Jawa sementara yang lainnya menggunakan setelan putih-putih seperti yang biasa dipakai orang Belanda. Jika diperhatikan dengan lebih seksama, yang menggunakan jariq atau kain sebagai bawahan memakai kemeja, dasi dan jas sebagai atasan. Perpaduan yang menarik.


Tapi yang paling membuat saya resah justru adalah kegiatan merokok yang dilakukan keduanya. Pada salah satu film yang pernah diputar oleh ILUNI FKUI beberapa waktu yang lalu, terlihat bahwa anak-anak pun sudah diajar untuk merokok meski hanya sekedarnya. Merokok merupakan salah satu bentuk penjajahan. Dengan merokok diharapkan mereka akan menjadi terikat, nyandu rokok sehingga demi sebatang rokok mereka akan melakukan apa saja yang diperintahkan. Ironinya kaum terpelajar justru menjadikan merokok sebagai kegiatan yang membanggakan bahkan menjadikan kover buku ini.

Student Hijo terbit pertama kali tahun 1918 di Harian Sinar India, dan menjadi buku pada tahun 1919. Karya ini merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang.  Pada tahun 200, buku ini diterbitkan kembali dengan dua versi , oleh Aksara Indonesia dan Bentang, keduanya penerbit dari Yogya.


Penulis, Marco Kertodikromo, dikenal sebagai Mas Marco, lahir di Cepu, Blora 1880. Sosoknya merupakan seorang wartawan sekaligus aktivis kebangkitan nasional. Beberapa kali ia ditangkap dan dipenjara. Pernah memangku jabatan sebagai Sekretaris Serekat Islam Solo. Beliau juga mendirikan organisasi wartawan Inlansche Jounalisten Bond pada tahun 1914. Sayangnya usia perkumpulan itu hanya setahun akibat beliau dipenjara.

 Karya-karya yang dikenal adalah:
  • Mata Gelap
  • Student Hidjo
  • Matahariah 
  • Rasa Mardika 
  • Sair Rempah-rempah 
  • Sair Sama Rasa Sama Rata 
  • Babad Tanah Djawai
Buku yang sangat layak menjadi koleksi.


Sumber gambar:
http://festivalsastrasolo2014.blogspot.com/2014/01/student-hidjo-dan-marco-kartodikromo.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Marco_Kartodikromo

Senin, 06 Januari 2014

Review 2014#1 : Diary si Bocah Tengil 6,Ular-ular Manten, Masque of the Red Death, Hippocampus

Beginilah nasib bagian keuangan. Kadang saat sudah berada di peraduan muncul sesuatu yang melintas di kepala. Bisa bagaimana cara efisiensi dana, SPJ yang belum tuntas, hal yang harus dilakukan bahkan rasa bimbing tadi sudah mengunci laci belum yahhh.

Salah satu  teman saya bercerita bahwa atasannya sampai dirawat akibat terlalu tegang bekerja. Menurut teman saya itu, saat pegawai yang lain pulang, si atasan yang kebetulan bertindak sebagai bendahara masih "kejar tayang" urusan laporan, maklum akhir tahun. Beliau baru pulang sekitar pukul tiga pagi! Bahkan beberapa kali beliau pulang saat pegawai yang lain masuk kantor. Duh jaga kesehatan dung Pak!

Untuk aku tidak harus seperti beliau!
Istirahat sepertinya menjadi sekala super prioritas untuk sementara. Sehat memang. Tapi salah satu imbas adalah jumlah buku yang dibaca berkurang. Karena setiap ada kesempatan aku memilih tidur. Entah sebelum jam kantor mulai, jam istirahat bahkan kadang jika sudah terlalu lelah dimana saja, kapan saja saya bisa tidur.

Apapun itu buatku seimbang dengan kesenangan bekerja di perpustakaan, impian masa kecil, surga bagi penyuka buku. Jika kepala terasa berat sementara pekerjaan butuh konsentrasi tinggi, ada dua hal yang saya lakukan untuk mengatasinya. Pertama saya akan keluar ruangan lalu duduk di pinggir danau yang ada di dekat perpus sekedar menyegarkan pikiran dan mata. Kedua saya akan menuju ke lantai dua lalu berjalan diantara buku-buku, menarik satu-dua atau beberapa yang sepertinya menarik.

Masalahnya.....
Kadang akibat terlalu bersemangat mengerjakan tugas sehingga mengeluarkan banyak energi *halah*  efeknya adalah susah tidur. Terlalu tegang.  Semua siaran televisi yang menarik sudah selesai, kasur sudah semakin panas akibat kegiatan bolak-balik tubuh. Salah satu solusi yang terpikir hanyalah membaca dan membuat review singkat mengenai buku yang dibaca.

Sekali jalan beberapa kegiatan terlaksana. Timbunan berkurang, informasi mengenai buku tersampaikan, saya mendapat hiburan lalu  menjadi agak rileks lalu bisa tidur walau butuh waktu lama.

Posting tergantung kapan ingatnya *efek tepar* he he he he

Beberapa buku yang saya baca beberapa waktu yang lalu, setelah masuk kerja sesudah  tahun baru tepatnya yaitu: 


Judul: Diary si Bocah Tengil 6:  Demam Kabin
Penulis: Jeff Kinney
Penerjemah: Maria Lubis
ISBN: 978-602-14402-0-9
Halaman: 218
Terbit: November 2013
Penerbit: Atria
Harga: Rp. 39.000,00

Sebenarnya kasihan juga terhadap sosok Greg Heffley. Terutama menyangkut soal perlakuan sang mama. Sepertinya adik Greg, Manny selalu mendapat apapun yang diinginkannya. Sang mama selalu mengabulkan permintaannya. Dalam beberapa kejadian ini sangat konyol buat saya. Seharusnya sang mama memberikan pengertian bukan meluluskan semua permintaannya. Misalnya kisah saat mereka menghias Pohon Natal. Manny marah karena ada yang meletakkan hiasan favoritnya, maka hiasan tersebut diambil agar Manny bisa meletakkannya di bagian atas pohon. Ternyata tidak hanya itu, Manny menuntut hiasannya diletakkan terlebih dahulu baru hiasan yang lain. Dan dengan konyolnya mereka mencopot hiasan yang sudah dipasang lalu mengulang prosesi pemasangan hiasan sesuai prosedur ala Manny. Konyol sekali!


Tak heran Greg tumbuh menjadi pribadi yang konyol. 

Tapi jika kita telaah lebih lanjut, ternyata kisah dalam buku ini banyak menampilkan hal-hal yang tidak hanya konyol tapi tidak masuk akal. Mungkin karena perbedaan budaya. Tapi ada juga bagian yang mengisahkan tentang sifat baik Greg

Entah kenapa saya juga merasa  kisahnya kian singkatnya. Pendek-pendek langsung pada sasaran.

KOCAK

Judul : Ular-ular Manten : Wejangan Perkawinan Adat Jawa


Penulis : Wawan Susetya
Prnyunting: Floriberta Aning S
Perancang Sampul: Ario Santoso
Tata Letak: C. Krisnawati

ISBN: 9791680280
Halaman: 92
Penerbit: Narasi



Menikah bukanlah hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang susah. Pada prinsipnya menikah adalah memadukan dua kepribadaian menjadi satu tanpa masing-masing pihak kehilangan jati dirinya masing-masing.

Dalam budaya Jawa ada lima hal yang merupakan identitas budaya mencakup wanita,curiga (keris-senjata), wisma (rumah), turangga (kuda-kendaraan), dan kukila (burung perkutut). Hal yang sepertinya sepele namun mengandung makna yang dasyat.

Saat temu , yaitu saat ketika pengantin laki-laki dan perempuan akan dipertemukan, masing-masing membawa gulungan daun sirih yang lalu dilempar bergantian. Makna tersirat adalah keselarasan, serasi dan seimbang.  Masing-masing memiliki peranan dan tanggung jawabnya namun harus saling menghormati.

Bahkan gendhing atau lagu yang dipergunakan untuk mengiringi wayang terdiri  dari Pathet yang menggambarkan siklus kehidupan seseorang. Pertama Pathet  Nem (antara jam 21.00-24,00) yang menggambarkan jiwa muda seseorang, lalu Pathet  Sanga (antara pukul 24.00-03.00) yang menggambarkan usia pertengahan manusia, ditandai dengan gunungan di tengah-tengah kelir. Terakhir Pathet Manyura (antara pukul 03.00-05.00) yang mengambarkan situasi dimana setiap manusia sudah waktunya mempersiapkan diri untuk kembali pada sang pencipta, biasanya ditandai dengan gunungan yang condong ke arah kanan.

*curcol*urusan KUA lebih mudah dari pada urusan Pengadilan Agama

INSPIRATIF



Judul: Masque of the Red Death
Penulis: Bethany Grifftin
Penerjemah: Yudith Listriandri
Penyunting: Nunung Wiyati
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Ilustrasi Isi: Satrio
ISBN: 978-979-433-757-8
Halaman:397
Penerbit: Mizan Fantasi


Mungkin kesannya jahat tapi begitulah kondisinya. Mau selamat, jadilah orang kaya. Dengan demikian bisa membeli masker keramik guna menyaring udara yang penuh dengan virus berbahaya

Dengan memiliki masker tersebut secara fisik memang kita terlindungi tapi secara bathin tentunya tidak.

Bayangkan bagaimana rasanya kita duduk di sebuah kereta yang melaju dengan tenaga uap karena seluruh kuda sudah habis terkena penyakit menular, sementara di kanan atau kiri jalan terdengar suara tembakan dari senapan para penjaga yang bertugas membersihkan jalan dari mereka yang tercemar. Mereka yang tak mampu membeli masker keramik karena harganya mahal berusaha menyiasati dengan mempergunakan masker dari kain. Pakaian mereka jelas compang-camping. Sementara kita menggunakan gaun yang pantas dan rambut dengan warna yang menawan. Belum terhitung rias wajah dan bulu mata palsu.

Ilmu pengetahuan memang bisa membantu memecahkan banyak hal. Tapi ada juga pihak-pihak yang menyalahgunakan ilmu pengetahuan.

MENYENTUH


Judul: Hippocampus
Penulis: Tom Tancin
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penyunting: Dhwwiberta
ISBN: 978-979-433-731-8
Halaman: 342
Penerbit: Mizan Fantasy

Atlantis sepertinya tidak akan pernah berhenti dijadikan sumber inspirasi banyak penulis. Banyak kisah yang sudah menjadikan Atlantis sebagai latar belakang.

Buku ini misalnya. Seorang  anak sekolah menengah biasa, jago renang, populer ternyata memiliki keterkaitan dengan atlantis. 

Kisah yang ringan memang, tapi lumayan menghibur walau beberapa bagian seperti dipaksakan terjadi atau berhubungan.

Entah kenapa saya langsung sedikit kecewa saat membaca bagian awal buku ini. Sepertinya para penulis memiliki kesepakatan tidak tertulis bahwa untuk menandakan tokoh utama merupakan sosok pilihan yang mengemban takdir tertentu maka akan akan ada adegan tidur dengan gelisah, mengalami mimpi buruk, berteriak dalam tidur,  terjaga dengan tubuh berkeringat. Duhhh ngak ada hal lain apa yah.

Dari bukan siapa-siapa menjadi seorang yang paling berkuasa di Atlantis. Plus perubahan yang membuat seorang anak yang tak pernah memegang pedang mendadak cukup lumayan menggunakan pedang hingga bisa menjatuhkan lawannya.
 

Soal cara berkomunikasi atau berpindah lokasi dengan medium air lumayan menghibur. Beberapa kondisi seperti kendaraan yang berjalan di air, mungkin saja kelak menjadi suatu hal bisa terwujud.

MENGHIBUR