Sabtu, 18 Januari 2014

Review 2014#2: Student Hijo


Penulis: Marco Kartodikromo
Desain Sampul: Harrry (Si ong) Wahyu
Penyelia Akhir:Gunadi Handoko, Eka Kurniawan
ISBN:  979-95817-2-9
Halaman: 212
Cetakan: Pertama, Februari 2000
Penerbit: Yayasan AKsara Indonesia

 Ada sesuatu dari buku ini yang membuatku memutuskan untuk membelinya.Sekitar tahun 2002. Bukan karena buku ini tergeletak di kotak diskon dengan harga menggiurkan, menggoda-sementara kondisi keuangan  membuat membeli buku adalah kemewahan terakhir yang bisa dilakukan. Bukan juga karena kover buku ini yang terlihat jauh berbeda dibandingkan dengan kover buku lainnya. Anggaplah ada suatu perasaan yang membuat saya harus memiliki buku ini.

Sering kali  juga buku ini nyaris masuk dalam daftar buku "dipindah rumah" Tapi selalu saja kembali duduk dengan manis di rak buku.Pawornya mampu mengalahkan buku-buku terbitan yang lebih baru. 

Berjodoh? Mungkin saja, setidaknya saya sangat bersyukur saat mengetahui buku ini akan dibahas pada Acara Festival Sastra Solo 2014, setidaknya ada satu buku yang bisa saya ulas guna meramaikan acara tersebut.

Awalnya Hijo memang bersemangat untuk belajar menjadi seorang   ingenieur. Bukan hal yang  susah mengingat selama ini cukup rajin belajar dan termasuk pemuda yang tidak suka berhura-hura. Seiring waktu, akibat lingkungan pergaulan perubahan mulai terlihat pada Hijo.  Sejak melihat pertunjukan Lili Green, Hijo  berubah. Pesan orang tua dan kerabatnya agar ia menahan diri dari segala godaan dan hanya berkonsentrasi pada pelajarannya saja mulai goyah. Ia bahkan mulai  berani berdua-duaan  dengan Betje di hotel.

Pertentangan batin karena melakukan aib akibat pergaulan bebasnya membuat Hijo memutuskan untuk pulang ke tanah air.  Alasannya  kesehatan. Setidaknya itu yang diberitahukan  kepada orang tuanya. Sesungguhnya Hijo merasa takut, makin lama ia berada di sana maka makin ia terjerumus dengan adat pergaulan Eropa. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia menikah dengan seorang Belanda dan memutuskan untuk tinggal selamanya di Belanda. Suatu hal yang ia yakini bisa sangat melukai perasaan kedua orang tuanya.


Selain kisah tentang Hijo yang berusaha menuntut ilmu di Belanda, kita juga disuguhi kisah perjodohan antara beberapa anak manusia. Kisah cinta Hijo selanjutnya berubah menjadi kisah cinta Hijo-Wungu dan  Wardoyo-Biru. Peranan orang tua sangat besar dalam menentukan jodoh anak terlihat sekali pada kisah ini.
  
Kalimat ,"Het medelijden is een burg, die naar de liefde leidn” Kasihan itulah suatu jembatan yang bisa menuju ke tempat kecintaan, bisa diasumsikan jika seseorang mengenal yang lain dan mau membuka diri, pelan-pelan akan ada rasa cinta,

Tak ketinggalan kisah tentang pergerakan kebangsaan. Kisah tentang Serekat Islam mendapat porsi yang lumayan besar. Sarekat Islam  merupakan organisasi politik pertama di  tanah air. Pada awalnya bernama Serikat Dagang Islam (SDI) yaitu perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Karena keadaan politik dan sosial tanah air yang terus berkembang, maka SDI menjadi organisasi yang tampil di kancah politik

Kisah cinta ini ditutup dengan standar, para tokoh hidup berbahagia. Padahal pada umumnya kisah  perjodohan selalu berakhir dengan menyedihkan, serta kisah seorang pribumi yang menjadi Nyai akibat ditaksir Belanda. Buku ini menawarkan sebuah kisah yang berbeda. 

Terdiri dari 22  bagian kisah yang disampaikan terasa biasa saja bagi kehidupan saat ini. Tapi jika ditelaah lebih lanjut, banyak hal yang layak diacungi jempol. Penulis menyampaikan banyak sekali pesan dalam kisah ini. Pesan yang masih sangat relevan bagi kehidupan di saat sekarang.

Buku ini diterbitkan seperti aslinya,  nyaris sama kecuali  perihal ejaan dan tanda baca. Beberapa istilah dalam bahasa Belanda mendapat perhatian khusus dari penerbit. Maklumlah setting kisah ini adalah dizaman penjajahan Belanda masih bercokol di tanah air. Untuk itu, penerbit membuat semacam catatan mengenai arti kata tersebut. Sangat membantu menikmati kisah ini. Apalagi dengan adanya Daftar Istilah di halaman awal buku. Bagi saya pribadi jadi lebih mengerti makna beberapa kata yang sering dilontarkan oleh para eyang. Ealahhhhh itu tho artinya, ngak beda jauh dengan perkiraanku.

Sempat terpikir kenapa penulis mengambil tokoh dari golongan bangsawan. Bukankah kisah percintaan masyarakat biasa biasanya lebih menyentuh? Membaca kisah ini sampai tamat membuat saya menjadi mengerti. Penulis menggunakan tokoh kaum bangsawan dikarenakan merekalah yang mendapat kemudahan dalam hal hal, misalnya pendidikan serta pergaulan.

Jika Hijo bukan anak Raden Ptronoyo, tentunya ia tidak akan bisa dengan mudah melanjutkan sekolah ke Belanda. Jika ia tidak ke Belanda maka ia tidak akan mengalami hal-hal yang membuka mata hatinya tentang persamaan derajat kedua bangsa. Penulis juga tidak bisa menggambarkan bagaimana Hijo dan sahabatnya bersemangat mendatangi acara Serikat Islam dengan mobil.


Pergaulan ala Eropa juga hanya bisa dilakukan oleh kaum bangsawan saat itu. Sehingga penulis bisa membuat kisah romantis tentang seorang Belanda yang menaruh hati pada putri seorang bangsawan Jawa. Jika bukan keluarga bangsawan, tentunya orang Belanda tersebut tidak akan bisa bercakap-cakap perihal pemerintahan dengan ayah sang gadis.

Pada kisah ini kita bisa melihat bahwa percaloan sudah ada saat itu. Mereka yang memiliki kedudukan dan uang lebih bisa  mendapatkan jasa calo bahkan dari orang yang tak terduga. Simak kalimat berikut yang ada pada halaman 15, ".... Meskipun begitu, Raden Hijo bisa dapat kaartjis lebih dahulu, karena ditolong oleh oppas yang menjadi itu keramaian." Oppas kurang lebih adalah petugas keamanan, dalam Daftar Istilah diartikan sebagai petugas. Alih-alih menjaga keamanan dengan serius, ia juga melakukan praktek percaloan. Menilik  status sosial Hijo, tentunya sang oppas mengharapkan mendapat persen yang lumayan.


Aborsi juga sepertinya dianggap hal yang sudah biasa dilakukan oleh Bangsa Belanda saat itu. Peristiwa yang menimpa seorang guru sekolah dasar yang berhubungan dengan seorang pengawas contohnya. Semenjak  pengawas, disebut controleur jatuh hati pada Raden Ajeng Wungu, ia tidak perduli lagi pada  Onderwijzeres, guru sekolah dasar yang selama ini menjadi kekasihnya dan teman menghangatkan kasurnya.“Sudah tentu nona Roos berkata terus-terang kepada dokter bahwa dia kira-kira sudah tiga bulan bunting, dan dia minta itu kandungannya bisa ..., karena yang membikin dia jadi begitu main gila. Dokter pun menuruti permintaannya  nona itu, dan akhirnya kandungan hilang dan dia juga sembuh dari sakit."


Beberapa kalimat membuat saya penasaran. Misalnya saja mengenai setengah ketawa. Kalau ini mungkin setara dengan menahan tawa , tertawa kecil atau tertawa namun tidak lepas.  Tapi saya tidak bisa membayangkan seperempat ketawa. Apakah maksudnya senyum? Di buku ini disebut tentang mesem. Hemm susah kan menyamakan makna  mesem bagi  tiap orang.

Tidak hanya itu. Beberapa kalimat mengandung titik-titik . Contohnya, “Baik,” kata Betje dan dia menginjak sepatunya Hijo yang bermaksud…. Demikian juga pada halaman 131 “ Sudah tentu saja waktu Hijo berangkat ke Amsterdam, Betje tak boleh tidak turut mengantarkan sampai  di station dan ….


Tanda titik-titik tersebut membuat pembaca memiliki khayalan yang berbeda. Misalnya kalimat yang ada di halaman 131, buat saya setelah membaca uraian hubungan tertarang antara Betje dan Hijo maka saya merasa  titik-titik tersebut berisi kalimat “mampir ke salah satu hotel yang ada di dekat station” Mungkin bahasanya adalah,” berhenti sesaat pada hotel dekat station .” Bagaimana menurut anda?

Buku ini memang menyebutkan tentang kota Solo, sayangnya kisah tentang keindahannya kurang dijabarkan. bagaimana kondisi kota saat itu. Penulis lebih berkonsentrasi pada kehidupan para tokoh di kota tersebut. Hanya Taman Sriwedari yang disebut beberapa kali sebagai tempat saat perhelatan Serekat Islam diselenggarakan serta Stasiun Balapan. Taman Sriwedari  merupakan kompleks taman di   kecamatan Lawiyan.    Sejak era Pakubuwana X  Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi hiburan Malam Selikuran.  Oh ya beberapa kali juga menyebutkan tentang melihat binatang. Apakah maksudnya di Kebun Binatang Jurug  yang dibangun pada tahun 1878. 

Dalam  budaya Jawa, terdapat istilah  priyayi, sebuah sebutan bagi kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan, darah biru.Berasal dari kata “para” dan “yayi” yang berarti para adik, tepatnya para adik raja. Sementara priayi adalah sebutan bagi seseorang yang kedudukannya dianggap terhormat.  Hati-hati pengucapannya  mirip tapi maknanya berbeda. Yang satu sudah membawa "gelar" sejak lahir sementara yang lain harus berusaha berjuang untuk bisa menyandang "gelar" Walau dewasa ini hal-hal tersebut tidak begitu berlaku di masayrakat tapi saat buku ini dibuat tentunya merupakan hal yang sangat diperhatikan.

Sebenarnya yang membuat saya gatal untuk berkomentar adalah kover. Kovernya memang menarik. Gambar dua laki-laki yang menandakan keduanya merupakan sosok terpelajar. Hal tersebut bisa dilihat dari tas yang dibawa keduanya. Selain itu pintu yang terbuka dan undakan tersebut mengingatkan pada kantor lama saya, sebuah universitas yang berdiri sejak zaman Belanda.

Cara berpakaian keduanya memang berbeda, yang satu menggunakan pakaian tradisional Jawa sementara yang lainnya menggunakan setelan putih-putih seperti yang biasa dipakai orang Belanda. Jika diperhatikan dengan lebih seksama, yang menggunakan jariq atau kain sebagai bawahan memakai kemeja, dasi dan jas sebagai atasan. Perpaduan yang menarik.


Tapi yang paling membuat saya resah justru adalah kegiatan merokok yang dilakukan keduanya. Pada salah satu film yang pernah diputar oleh ILUNI FKUI beberapa waktu yang lalu, terlihat bahwa anak-anak pun sudah diajar untuk merokok meski hanya sekedarnya. Merokok merupakan salah satu bentuk penjajahan. Dengan merokok diharapkan mereka akan menjadi terikat, nyandu rokok sehingga demi sebatang rokok mereka akan melakukan apa saja yang diperintahkan. Ironinya kaum terpelajar justru menjadikan merokok sebagai kegiatan yang membanggakan bahkan menjadikan kover buku ini.

Student Hijo terbit pertama kali tahun 1918 di Harian Sinar India, dan menjadi buku pada tahun 1919. Karya ini merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang.  Pada tahun 200, buku ini diterbitkan kembali dengan dua versi , oleh Aksara Indonesia dan Bentang, keduanya penerbit dari Yogya.


Penulis, Marco Kertodikromo, dikenal sebagai Mas Marco, lahir di Cepu, Blora 1880. Sosoknya merupakan seorang wartawan sekaligus aktivis kebangkitan nasional. Beberapa kali ia ditangkap dan dipenjara. Pernah memangku jabatan sebagai Sekretaris Serekat Islam Solo. Beliau juga mendirikan organisasi wartawan Inlansche Jounalisten Bond pada tahun 1914. Sayangnya usia perkumpulan itu hanya setahun akibat beliau dipenjara.

 Karya-karya yang dikenal adalah:
  • Mata Gelap
  • Student Hidjo
  • Matahariah 
  • Rasa Mardika 
  • Sair Rempah-rempah 
  • Sair Sama Rasa Sama Rata 
  • Babad Tanah Djawai
Buku yang sangat layak menjadi koleksi.


Sumber gambar:
http://festivalsastrasolo2014.blogspot.com/2014/01/student-hidjo-dan-marco-kartodikromo.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Marco_Kartodikromo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar