Rabu, 29 Januari 2014

Review 2014 #6-Posbar BBI: Kisah Sang Kancil


Si kancing anak nakal
suka mencuri ketimun
Ayo lekas dihukum
Jangan diberi ampun

Kurang lebih begitulah lagu anak-anak seputar kelakuan kancil yang hobi mencuri ketimun dari ladang pak tani. Lagu karangan Ibu Sud (kalau tidak salah) sangat akrab bagi anak-anak (dahulu). Setidaknya bagi terlinga saya. Lagu ini juga yang mengakibatkan saya merengek  minta pergi ke kebun binatang untuk melihat bagaimana sosok kancil itu sebenarnya.

Kisah mengenai kancil diceritakan  secara turun menurun. Banyak versi yang beredar ditengah masyarakat. Selain kisah kancil yang tertangkap karena mencuri timun di ladang pak tani, ada  juga kancil dengan buaya, kancil dengan gajah dan masih banyak lagi.

Sayangnya kebiasaan mendongeng belakangan ini sudah mulai menghilang. Dahulu saya masih bisa mendengarkan aneka dongeng melalu kaset Sanggar Cerita, selain yang dikisahkan secara lisan oleh para sesepuh. Belakangan beberapa penerbit menunjukkan keperduliannya dengan mengubah  kisah rakyat yang selama ini dikisahkan secara lisan menjadi bentuk tercetak, sebuah buku.

Ada dua buku tentang kancil dalam koleksi saya, sepertinya layak dijadikan bahan review dalam Acara Posting Bersama BBI.

Diceritakan kembali oleh E. Siswojo
Gambar Sampul & Isi: E. Siswojo
ISBN: 979-605-043-9
Halaman: 40
Cetakan: Keenam, Februari 2005
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku ini berisikan tujuh kisah dengan tokoh utama kancil. Kisah-kisah tersebut berjudul Kancil Mendapat Pisang, Seandainya Kancil Bersatu, Seruling Kanjeng Nabi, Kerbau Tidak Bodoh, Si Kumbang Jadi Korban, Perjanjian Bersyarat serta Bayangan Putri Duyung.

Kisah Seandainya Kancil Bersatu merupakan kisah tentang kancil dan semut.  Suatu saat kancil mencari tempah teduh untuk mengistirahatkan diri setelah kenyang makan pisang.  Mata sayunya  melihat iringan semut yang mencari makan. Semut-semut tersebut mempunyai aturan lalu lintas yang rapi, mereka disiplin. Saat bertemu mereka saling bersalaman. Diikutinya barisan semut itu hingga sampai pada sebuah lubang pada sebongkah batu.

Singkat kata, tubuh kancil mengecil membuatnya mampu masuk ke sarang semut dan menjadi tamu istimewa untuk beberapa saat di negara semut. Banyak hal yang diperoleh kancil. Ia mellihat semut bahu-membahu mencari makanan dan bekerja. Tidak ada yang melakukan apapun demi kepentingan pribadi, semuanya untuk kepentingan bersama. 

Kancil merasa hidup akan menyenangkan jika sejak kecil kita dilatih untuk bekerja keras, tak kenal putus asa, bersahabat dengan semua teman, saling menolong, tidak sombong dan tidak serakah atau menang sendiri. Yang tua memberi contoh kepada yang muda. Yang muda menurut dan menghormati yang tua. Kancil berangan-angan jika seratus kancil bersatu, bekerja keras, dan saling membantu dunia akan lebih menyenangkan.

Sementara Bayangan Putri Duyung mengisahkan tentang seorang kera yang tertipu oleh kancil. Kera yang bernama Kenyung suka melihat ikan beraneka warna yang berenang di sungai. Hati yang kesal  menjadi senang. Kancil mengatakn bahwa ikan yang berwarna-warni tersebut sebenarnya adalah pengawal dari Putri Duyung yang sakti dan sangat cantik di istana di dasar sungai, Putri Duyung tersebut memiliki minyak sakti yang jika diolesi akan mampu melihat setan dalam hutan. jika diminum sedikit akan mampu berbicara dan memerintah setan tersebut.

Kancil berhasil memperdaya kera untuk memasukan ekornya ke dalam sungai. Alih-alih minyak sakti, justru ekor kera dicapit oleh ketam dengan erat. Saat berusaha melepaskan ekornya, kera mengempaskan ekornya ke batu mengakibatkan cangkang rumah si ketam pun pecah. Karena sudah lapar sejak kemarin tidak makan kera menguliti si ketam dan memakannya dengan lahap. Sejak itu kera tidak hanya suka makan buah tetapi juga ketam.

Diceritakan kembali oleh E. Siswojo
Gambar Sampul & Isi: E. Siswojo
ISBN: 979-655-402-X
Halaman: 52
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku ini juga mengandung tujuh kisah seputar kancil. Ada kisah Menyelamatkan Penyeberangan. Singa Bengek di Gua Kosong, Jika Ingin Berbuat Baik... Seandainya Ikhlas. Sekecil Apa pun Memiliki Kelebihan, Sang Raja Jubah Biru, Menjaring Gergasi, Persekutuan dengan Tukang Sihir.

Kisah Menyelamatkan Penyeberang merupakan kisah yang sering dipergunakan untuk melakukan test kemampuan berlogika. Kisahnya tentang seorang tukang perahu yang harus menyeberangkan kambing, macan dan sekeranjang rumput. Masalahnya sekali jalan menyeberang perahunya hanya mampu memuat dua muatan, salah satunya tukang perahu. Sang tukang perahu yang kebingungan mendapat bantuan dari sang kancil. Sebagai ucapan terima kasih kancil meminta agar tukang perahu tidak berburu bintang.

Sedangkan kisah Sekecil Apa pun Memiliki Kelebihan mengajarkan bahwa setiap hewan memiliki kelebihannya masing-masing. Suatu saat kancil, macan loreng dan tikus terjerat dalam jaring pemburu. Ketiganya memang berniat jahat di ladang pak tani. Kancil ingin menyantap timun, macan loreng mengincar anak  kambing, sementara tikus ingin menghabiskan padi yang dibiarkan terhampar di halaman akibat panen yang sukses.

Macan loreng yang terjerat segera menangkap tikus di tangannya dan kancil di tangan satunya, ia tak mau menderita sendiri. Ia berpikir siapa tahu sambil terjerat bisa menikmati daging kancil. Namun ternyata ia tak bisa memakan daging kancil karena jerat makin menjepit dirinya.

Semula macan loreng ingin mengaum agar teman-temannya di hutan mendengar dan datang membantu. Untungnya kancil memperingatkan dirinya bahwa aumannya bisa membuat para pemburu terbangun dan membunuh mereka. Kancil yang cerdik mengusulkan agar macan loreng melepaskan tikus. Ia bisa mengerat jerat dan memanggil teman-temannya untuk mengerat jerat sehingga macan loreng dan kancil bisa keluar. Berkat ide kancil ketiganya berhasil lolos dari jerat.

Kedua buku ini mengandung pesan moril yang patut diacungi jempol. Disampaikan  dengan tersirat sehingga anak-anak yang membaca atau mendengarkan orang tuanya membacakan buku ini tidak merasa digurui. Anak-anak juga dikenalkan dengan aneka binatang selain yang biasa ditemui di lingkungan rumah seperti macan loreng, kera, dan lainnya. Mereka juga diajar untuk berpikir cerdik ala kancil namun mendapat peringatan agar tidak melakukan kejahatan atau kenakalan seperti kancil.

Kekurangan kedua buku tersebut  adalah pada judul. Misalnya   pada buku Dongeng Kancil 2 salah satu judul kisah adalah Kerbau Tidak Bodoh, anehnya di bawah judul tersebut tertulis (Tak Mempan Diadu Domba). Atau pada Dongeng Kancil 3 tertulis judul Sang Raja Jubah Biru, di bawahnya tertulis (Kembali ke Asal Setelah Kena Semprot). Ini sedikit membingungkan maksudnya. Apakah judul yang di bawah merupakan judul yang diberikan oleh penerbit, sementara judul yang di atas adalah judul yang sudah umum diketahui oleh masyarakat. Padahal beberapa judul yang ditulis di bawah untuk beberapa kisah sepertinya lebih cocok dibandingkan judul yang ditulis utama.

Ternyata....,
Saya menemukan lagi buku tentang kancil pada salah satu buku yang akan disumbangkan dan sebuah buku yang baru dikembalikan oleh mahasiswa saat piket di bagian pengembalian koleksi. Penemuan yang menyenangkan. Keduanya berhubungan tanpa saya ketahui sebelumnya.

Pada Kancil & Buaya dari MB. Rahimsyar AR,  modelnya adalah sebuah buku  dengan aneka gambar yang disediakan khusus untuk mewarnai. Kisahnya tentang kancil yang berhasil memperdayai buaya. Kancil membuat para buaya berjajar dari salah satu sisi sungai ke sisi yang lain. Kancil berkata bahwa ia perlu menghitung berapa jumlah buaya yang ada sehingga ia bisa mengetahui daging pada tubuhkan akan dibagi berapa banyak. 

Menarik memang buku ini, karena selain mendapat kisah tentang kancil dan buaya, anak-anak bisa berkreasi mewarnai gambar atau ilustrasi yang ada. Hal ini mendorong anak tidak saja menyukai membaca tapi juga mengembangkan kreatifitas anak.

Kekurangannya buku ini adalah dari cara bercerita yang kurang sistematis serta adanya kesalahan tulisan pada beberapa bagian. Baik dalam bentuk pemenggalan kalimat maupun penulisan kata. 

Sementara pada Kumpulan Cerita Fabel Sulawesi Tenggara yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, selain kisah tentang Raja Ular dan Kerbau, Kucing Peliharaan, Kerbau dan Lintah serta kisah lainnya. terdapat juga  kisah tentang kancil dan buaya diantara kisah-kisah yang lain. Buku tersebut berisi 27 kisah yang bersumber dari beberapa naskah kuno anonim.

Pada halaman-halaman awal, kisahnya menggunakan bahasa Indonesia. Sementara di bagian belakang mempergunakan bahasa asli daerah tersebut. Hal ini berguna agar kaum muda memahami bahasa ibu. Sebagai contoh kisah tentang Kancil dan Buaya atau Pulandoq Na Buaja dalam bahasa setempat.

Appa deen tijie pissen wattu, iya tijio pulandog inja toi marundun-rundun saqdah unnangan kande. Nakuamosi tee tedong lako di buaja, Doppa koloq. Jumaii to pulando. Tau acca. Iya nakua kandemi kandemoq.”


Pada suatu waktu, sang kancil pergi menyusuri tepi sungai mencari makanan. Berkata lagi kerbau itu. “Tunggu dulu, itu ada kancil dari sana. Orang pintar. Apabila ia mengatakan makanlah. Maka makanlah saya.”

Kisah kancil dan buaya dalam buku tersebut mengisahkan tentang perseteruan antara kancil dan buaya dengan lebih panjang. Dimulai dari kisah tentang bagaimana buaya yang tidak tahu balas budi ingin memangsa kerbau yang menolong saat ia terdampar di kumbangan saat air surut setelah banjir. Kancil justru membuat buaya kehilangan kesempatan memangsa kerbau. 

Selanjutnya kisah terus bergulir tentang bagaimana perseteruan antara kancil dan buaya yang tidak ada habisnya. Salah satu bagiannya adalah kisah tentang kancil yang memperdaya buaya yang ingin memangsanya di sungai. Ia bahkan mampu membuat buaya menyeberangkan dirinya. Kisah yang sama dengan yang ada pada buku karangan MB. Rahimsyar AR. Bisa dikatakan bahwa buku karangan MB. Rahimsyar AR, memuat salah satu bagian dari kisah yang dimuat dalam Kumpulan Cerita Fabel Sulawesi Tenggara

Sementara bagian kisah tentang buaya dan kerbau yang dikisahkan pada hawal cerita  Kancil dan Buaya bisa disimak versi singkatnya pada kisah Kerbau dan Buaya pada halaman 33.

Dalam wikipedia disebutkan nama ilmiah marga ini, Tragulus, berasal dari gabungan dua kata. Yakni tragos, dari bahasa Yunani yang berarti ‘kambing’, dan akhiran –ulus dari bahasa latin yang berarti ‘kecil’. Ini sesuai dengan keadaan tubuhnya yang kecil, yang pada usia dewasa ukurannya kurang lebih sama dengan  kelinci. Pelanduk berhabitat di hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan hewan ini termasuk salah satu ungulata terkecil di dunia. Dalam bahasa inggris  dikenal sebagai mouse-deer atau chevrotain; kata yang akhir ini sebetulnya dipinjam dari bahasa Perancis.

Pelanduk serupa dengan rusa, tapi jauh lebih kecil dan tidak bertanduk. Tungkainya ramping dan punggungnya sangat melengkung. Hewan jantan mempunyai gigi taring panjang di rahang atas yang menonjol keluar bibirnya. Panjang kepala dan badan antara 195–600 mm, dan panjang kaki belakangnya 110–150 mm. Tubuh berwarna kecokelatan, dengan garis-garis putih dan cokelat kehitaman membujur di tenggorokan dan dadanya, dan garis hitam di tengkuknya.



Dalam http://alamendah.org/2010/11/26/kancil-ternyata-tidak-suka-makan-mentimun/, disebutkan bahwa kancil tidak suka makan timun seperti kisah  yang melegenda itu.   Di hutan, kancil memakan pucuk daun (terutama yang berair), buah-buahan yang jatuh dari pohon, rumput dan akar. Sedangkan di kebun binatang maupun kandang peliharaan, kancil biasanya diberikan makanan seperti irisan kangkung, kacang panjang, wortel, bengkoang, ubi, selada, jagung muda, terong serta buah-buahan. Kancil menyukai buah-buahan yang lunak dan berbau harum. Buah kesukaan binatang ini antara lain pisang, apel, dan nangka.

Dari berbagai pengamatan, saat kancil (Tragulus javanicus) disediakan beraneka jenis buah dan daun, termasuk mentimun diantaranya, kancil akan memilih berbagai buah yang lunak dan harum untuk dimakannya. Dan ternyata, kancil tidak memilih mentimun sama sekali selagi masih ada jenis makanan lainnya. Hemmm jadi dari mana  inspirasi kancil suka makan timun yahhhh. 

  
Kisah mengenai kancil dan hewan lainnya disebut favel. Fabel http://bahanajarjsj.wordpress.com/2012/01/04/fabel/,  berasal dari bahasa latin “Fabula” yang berarti Erzählung. Pengertian lain berdasarkan kamus jerman PONS, yang dimaksud dengan fabel adalah cerita pendek, yang di dalamnya diperankan oleh hewan sebagai pemeran utama dan pembaca diajarkan tentang moralitas (“eine kurze Geschichte, in der meist Tiere die Hauptrolle spielen, und die den Leser moralisch belehren will”)
Sementara http://dongeia.blogspot.com/2013/07/definisi-fabel.html menyebutkan, Fabel adalah cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia. Cerita tersebut tidak mungkin kisah nyata. Fabel adalah cerita fiksi, maksudnya khayalan belaka (fantasi). Kadang fabel memasukkan karakter minoritas berupa manusia.


Sekedar mengingatkan, di sekitar kita juga ada kancil yang lain lho. Mungkin terinspirasi pada kelincahan dan kecerdikan binatang kancil, maka sebuah "KANCIL" yang lain juga diproduksi. KANCIL merupakan kependekan dari Kendaraan Angkutan Niaga Cilik Irit Lincah. Kendaraan ini merupakan kendaraan angkutan umum/ niaga untuk jarak dekat dengan konsep Aman, Nyaman, Ramah Lingkungan, Terjangkau dan Produktif.

Berat KANCIL hanya sekitar 850 kg dan muat untuk 5 orang termasuk supir dan barang. Untuk body mempergunakan fiberglas sehingga lebih ringan, mudah diperbaiki dan tidak berkarat. Untuk tangki bisa memuat 10 liter bensin murni atau  CNG setara 20 liter. Untuk Transmisi, manual 5 percepatan dan 1 mundur


Kalau KANCIL yang ini, saya juga mau.
Lumayan buat bikin perpustakaan keliling skala kecil *ngak kebayang gimana yang penting niat dan ada dulu*
  

 

Sumber gambar:
tanah-air-kita.blogspot.com
http://mozaicdunia.blogspot.com/2010/09/100-indonesia-5-13-mobil-mobil-asli.html

Rencananya buat posting bersama tapi salah lihat jadwal padahal dah punya kalender BBI *hiks*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar