Sabtu, 25 Januari 2014

Review 2014#3: Surat-surat Rahasia Sang Biksu




Judul Asli : The Secret Letters of the Monk Who Sold His Ferrari
Penulis: Robin Sharma
Alih Bahasa : Barokah Ruziati
Editor: Selviya Hanna
Layouter: Ida
Cover Designer: Windy Febrianti
Proofreader: Dwi Ariyani
Ilustrator: Windy Febrianti
Cover Designer: Windy Febrianti
ISBN: 978-602-8482-84-4
Halaman: 265
Cetakan: I-November 2013
Penerbit: MIC Publishing

Pernahkah saat kecil teman-teman begitu terpukau pada suatu hal sehingga saat dewasa sangat ingin memiliki atau melakukan sesuatu? Saya pernah. Saat kecil saya sering menginap di rumah sepupu saya. Kebetulan bude saya merupakan ibu rumah tangga sehingga pendapatan murni dari gaji pakde saya. Setiap hari saya sering melihat debat kusir urusan uang belanja.

Entah bagaimana manajemen rumah tangga beliau berdua, tapi pada pelaksanaannya setiap butuh uang untuk belanja dari roti hingga garam selalu meminta pada pakde. Dan setiap kali memberi, pasti diawali dengan perdebatan kecil. Selalu begitu. Saat itu saya tak mengerti konsep menikah dan rumah tangga. Tapi saya sudah bertekat, saat besar saya harus bisa cari uang sehingga jika butuh untuk membeli sesuatu tidak perlu berdebat dan meminta ke suami. Terlebih lagi waktu itu yang ada dipikiran saya adalah bisa membeli buku sendiri.

Demikian juga dengan Jonathan. Saat kecil, ia begitu terpesona dengan mobil Ferari milik sepupu ibunya. Ia duduk dengan perasaan campur aduk. Jonathan kecil bertekat saat dewasa ia juga harus memiliki mobil seperti itu. Sebuah tekat yang diwujudkannya saat dewasa.

Jonathan nyaris tidak perduli akan istri dan putra tunggalnya. Ia begitu bersemangat bekerja. Menurutnya wajar jika ia sedikit mengabaikan keluarga demi urusan kantor toh istri dan anaknya mendapat materi yang berkecukupan. Puncak keretakan rumah tangganya akhirnya berujung dengan pindahnya Jonathan ke apartemen dan pengaturan jadwal pengasuhan anak.

Suatu saat, sang ibu memberitahukan bahwa Julian, sepupu sang ibu ingin berbicara dengannya. Sudah menunggu tiket ke Buenos Aires, Argentina di apartemen begitu ia sampai. Julian butuh waktu bertemu walau hanya berbicara sesaat saja. Tak ada penjelasan panjang lebar dari sang ibu hanya pesan jika Jonathan mencintainya maka ia mau mengunjungi Julian. Tak ada pilihan lain bagi Jonathan.

Saat bertemu dengan Julian, Jonathan sungguh terkejut. Selain sosoknya yang berbeda dengan ingatan masa kecilnya, tempat pertemuan mereka juga merupakan lokasi yang tidak lazim jika menilik sosok Julian yang dahulu. Yang paling mengagetkan bagi Jonathan adalah mobil Ferari milik Julian sudah tidak ada lagi. Sebuah kejadian telah mengubah hidup Julian. Ia memutuskan untuk menjual rumah, mobil serta seluruh harta bendanya termasuk Ferari yang membuat mungkin kearifan dunia. Baginya harta bukanlah suatu hal yang utama, ia mulai kurang tertarik pada kekayaan. Memburu perempuan cantik tak sebanding dengan mengejar kebahagian sejati bagi Julian.

Saat melakukan perjalanan ke Himalaya, Julian bertemu dengan seorang biksu yang merupakah salah satu Orang Bijak dari Sivana. Sang biksu memberikan banyak pelajaran yang sangat ingin dibagi oleh Julian. Membagi kisah tentang pencarian makna kehidupan Julian mungkin bukan saat yang tepat pada pertemuan pertama mereka. Tapi yang paling utama, Julian ingin Jonathan membantu menemukan azimat berbetuk amulet, patung-patung kecil.

Ada sembilan buah amulet yang harus dikumpulkan Jonathan dari seluruh dunia. Masing-masing amulet menyimpan sepotong kebijakan hakiki untuk kebahagian. Jika terpisah, amulet tersebut hanyalah sekedar simbol, saat disatukan menyimpan kekuatan perubahan yang luar biasa. Kekuatan yang mampu mengubah kehidupan. Jonathan harus mengumpulkan semua amulet guna membantu seseorang yang mengalami masalah berat versi Julian.

Selanjutnya kita akan diajak mengikuti petualangan Jonathan mencari amulet tersebut. Amulet tersebut disimpan oleh para penjaga pilihan, merekalah yang harus ditemui oleh Jonathan. Dari Turki, Perancis, hingga mengunjungi Taj Mahal di Agra, India. Disetiap amulet yang ditemukan, Jonthan juga menemukan semacam catatan mengenai makna amulet tersebut.

Tanpa disadari, setiap kali bertemu dengan salah satu penjaga amulet, Jonathan juga mendapat sebuah pengalaman serta wawasan baru. Misalnya saat bertemu dengan Antoine di Kotakomba, Perancis Jonathan mendapat wawasan bahwa satu-satunya cara mengatasi ketakutan adalah dengan menghadapi ketakutan itu sendiri. Kisah tentang bagaimana takutnya Antoine akan ingatan meilhat sosok ayahnya di peti mati membuatnya bisa mengatasi ketakutannya pada masa lalu.Jonathan lalu mencoba berkompromi dengan rasa takutnya. Setelah dua puluh tahun ia mencoba kembali naik lift.

 Tidak hanya itu, Jonathan diminta untuk menulis jurnal selama ia berpergian. Apa saja terkait perjalanan, perasaan bahkan amulet itu sendiri. Tidak ada batasan halaman atau berapa banyak ia harus menulis. Jonthan hanya perlu menuliskan apa yang ia rasakan dan pikirkan setiap berhasil menemukan sebuah amulet.

Sebenarnya saya bukan penggemar buku motivasi. Sejauh ini hanya satu buku yang mampu menggugah dan membuka mata hati saya. Menurut saya karena kebanyak buku motivasi ditulis dengan semangat tinggi menulisnya namun tidak mengena pada pembacanya. beberapa buku terlihat sekali berkesan menggurui.

Buku ini ditulis dengan cara berbeda, dibuat dengan menyajikan sebuah kisah petualangan seorang eksekutif muda yang rumah tangganya diambang kehancuran, ia menyelusuri dunia untuk membantu sepupu sang ibu yang ingin menyelamatkan seseorang. Diselingi dengan kisah tentang kondisinya yang tak bisa lepas begitu saja dengan urusan kantor membuat kisah ini menjadi dekat di hati pembacanya.

Sering kali Jonathan harus menerima telepon, menjawab sms, email dan masih banyak hal lain yang ia kerjakan padahal ia sudah mengajukan cuti. Berapa banyak diantara kita yang benar-benar bisa lepas dari urusan kantor saat tiba di rumah? Saat cuti?

Pesan-pesan motivasi untuk mengubah diri tersembunyi dengan rapi diantara cerita-cerita serta ilustrasi yang menawan. Setiap sosok pemegang amulet dipilih bukan tanpa alasan khusus. Saat bertemu dengan penjaga amulet di Jepang, Jonathan secara tak langsung mempelajari filosopi yang terkandung dalam aspek kehidupan mereeka. Kenapa mereka selalu menuangkan sake ke gelas yang lain tapi tidak bagi dirinya sendiri. Jonthan mempelajari makna untuk berbagi dan tidak mementingkan diri sendiri. Juga mengenai posisi duduk yang jangan sampai diartikan sebagai sikap pamer tuan rumah akan hartanya.

Jika pembaca tak ingin mengikuti petualangan Jonathan, atau begitu terpesona dengan kisah ini sehingga melupakan tujuan utama mencari makna kesembilan amulet, penulis sudah menyediakan bagian yang khusus merangkum kesembilan amulet dan uraian ringkas mengenai amultet tersebut. Penulis menyebutkan Surat-surat Azimat yang bisa dibaca pada halaman 261 hingga 264.

Satu-satunya yang membuat orang mungkin ragu untuk membaca buku ini adalah perihal kovernya. Menurut saya kovernya terkesan terlalu datar. Perangko aneka negara bisa dimaknai ada banyak negara dalam kisah ini. Namun warna coklat sepertinya memberi kesan datar. Buku ini tidak akan terlihat "menggoda" saat diletakan diantara buku lainnya. kecuali bagi mereka yang sudah mengetahui tentang buku ini sebelumnya.

Hal lain yang sedikit mengganggu saya adalah pemilihan huruf tulisan atau surat yang menyertai setiap amulet yang berhasil ditemukan oleh Jonathan. Terlalu tipis sehingga sedikit susah untuk membaca kalimat-kalimat yang tertera. Padahal deretan kalimat tersebut mengandung makna terdalam dari arti amulet itu. Namun sepertinya penerbit telah menyiasati kekurangan tersebut.

Konon buku ini merupakan buku kedua, tapi saya tidak mengalami kesulitan saat membacanya tanpa membaca buku pertama. Kisahnya mengali. Pilihan kata juga tidak rumit membuat buku ini ringan untuk dibaca tapi menggugah perasaan dan memotivasi pembacanya.Walau begitu butuh seluruh buku untuk saya bisa memahami apa hubungan judul buku ini, terutama kalimat Monk (bisa diartikan sebagai pendeta) dengan kisah ini. Kejutan!.ternyata Monk adalah...

Saat membaca Prolog, saya nyaris lupa jika ini merupakan buku motivasi. Kesannya sungguh mencekam, seakan-akan saya sedang menikmati kisah Dan Brown yang legendaris. Menyusuri Kotakomba untuk bertemu dengan salah satu pemegang amulet diantara tulang belulang jelas bukan hal yang saya idamkan.

Katakomba Paris (bahasa Perancis: Catacombes de Paris) adalah pemakaman bawah tanah yang berlokasi tepat di bawah kota Paris, Perancis. Terletak di sebelah selatan gerbang kota (sekarang Place, Denfert-Rochereau), katakomba ini menampung kira-kira enam juta jenazah, lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berdiam di atasnya. Struktur kotakomba ini terdiri dari gua-gua dan terowongan bawah tanah yang merupakan sisa-sisa dari pertambangan batu Paris. Dibuka pada akhir abad ke-18, katakomba ini telah menjadi daya tarik wisata pada awal abad ke-19, dan telah dibuka secara teratur untuk umum sejak tahun 1874 .

Ferrari yang membuat Jonathan terpesona adalah sebuah mobil dengan performa tinggi berpusat di Maranello, Italia. Ferarri didirikan oleh Enzo Ferrari pada tahun 1929. Awalnya merupakan sebuah perusahaan yang memberikan sponsor bagi para pembalap serta membuat mobil balap. Baru pada tahun 1974 mobil dengan lambang kuda ini beralih pada mobil komersil. Bagi masyarakat Jakarta yang ingin mengetahui perihal mobil ini bisa mengunjungi http://www.jakarta.ferraridealers.com/
 
Ferrari Enzo adalah mobil mahal yang paling populer di dunia, memiliki kecepatan maksimum 350Km/jam dan akselerasi dari 0 ke 100Km/jam hanya dalam waktu 3,4 detik. diproduksi sebanyak 400 unit, kini mobil ini tidak lagi diproduksi. walau begitu, harga pasaran untuk second-nya di tempat lelang bisa mencapai Rp.10 Milyar per unit .

Kata-kata bijak yang perlu diingat, direnungi bahkan kita menetapkan sebuah resolusi jika perlu antara lain adalah "Mengapa kita sering membiarkan diri kita memperlakukan keluarga dengan cara-cara yang tak mungkin kita lakukan terhadap teman kita -atau bahkan orang-orang tak dikenal? Mungkin karena kita berasumsi mereka pasti akan memaafkan kita." "Tapi bahkan kontribusi paling kecil sekalipun adalah kontribusi yang berharga."
Mengesankan.

2 komentar:

  1. wahah, ada jalan-jalannya... jadi pingin ikut.. XD

    BalasHapus
  2. suka ama quote-nya mba Tru. tepat banget...

    BalasHapus