Selasa, 24 Januari 2017

2017 #005: Curhat Tentang Ninja dan Utusan Setan


Judul asli: Ninja dan Utusan Setan
Penulis: Sidik Nugroho
ISBN: 9786020337623
Halaman: 256
Cetakan: Pertama-Januari 2017
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 50.000
Rating: 3.5/5

Mayat yang lenyap
Pelita orang-orang malang
Sebagai ganti hidupnya
Mereka ambil... entahlah
-Duka ->II

Banyak cara untuk mendukung seorang sahabat berkarya. Bisa dengan "mencela" habis, tentunya dengan alasan yang jelas,  serta membeli karyanya. Dua hal tersebut  yang saya lakukan pada buku teman-teman saya, termasuk karya Sidik Nugroho.

Setelah gagal menikmati karya pertama, saya mencoba menikmati karya ketiga. Lumayan bisa dinikmati. Oh ya, saya sudah bisa menerima cara Elang bekerja dibanding buku terdahulu karena pada buku ini saya menganggap Elang sudah cukup dikenal oleh pihak kepolisian hingga layak diajak bekerja sama. Seperti kisah Gozali dan Kapten Kosasih ^_^

Lalu,  apakah karya ini lepas dari urusan "cela"? Jelas tidak! Selama seorang Sidik Nugroho masih menulis, maka selama itu saya akan memberikan "celaan" guna mendukung proses menuju karya yang kian berkembang dengan baik (jieee).

Kisahnya masih mengenai sosok Elang Bayu Angkasa dan kesukaannya melakukan penyelidikan. Kali ini, dia terseret pada kasus hilangnya mayat dari rumah sakit. Bukan sembarang rumah sakit, namun rumah sakit dimana  Thesa, kekasihnya bekerja. Semula Elang bersikap masa bodoh dengan kasus tersebut hingga sebuah surat mengenai kasus tersebut mendarat di rumahnya.

Elang merasa tertantang! Mengirim surat tersebut sama saja membangunkan singa tidur. Nalurinya untuk melakukan penyelidikan berbanding lurus dengan keinginannya untuk memuaskan hasrat diri, "...keinginannya untuk menyelidiki misteri sama besarnya dengan keinginan untuk meniduri wanita yang sudah telanjang bulat di depannya. Membiarkan misteri itu lenyap di depan mata, sama saja dengan mengabaikan seorang wanita yang siap dibelai dan dicumbu mesra." 

Bagaimana cara Elang memadukan dua keahliannya? Silahkan simak saja buku ini he he he. Pastinya cukup seru dan membuat penasaran. Meski ada beberapa bagian yang membuat alis saya bertemu, namun buku ini cukup membuat saya enggan berhenti sebelum selesai.

Hal pertama setelah selesai membaca buku ini adalah mencari tulisan Novel Dewasa di kover belakang. Silahkan tuduh saya orang kuno, tapi bagi saya kegemaran Elang  bercinta  dan memecahkan misteri layaknya tokoh 007, perlu disikapi dengan lebih bijak. Pandangannya mengenai misteri dan wanita, terutama menikahi seorang wanita,  lumayan berbeda. 

Mari dibaca yang ada di halaman 206, "Menikahi seorang wanita bukan semata-mata untuk mencari kepuasan seksual. Tanpa harus berduit banyak pun, kepuasan seksual bisa ia peroleh karena ia selalu berhasil mencari tahu di mana mendapatkan wanita-wanita kesepian, bahkan ia dicari-cari beberapa wanita."  Begitulah Elang dengan prinsipnya. Namun jangan sampai remaja ababil menjadikannya sebagai contoh, untuk itu perlu ada tulisan Novel Dewasa sekedar sebagai  peringatan karena tak ada yang bisa menjamin mereka mematuhi tulisan tersebut ^_^

Sekali lagi, seperti buku pertama, penulis terlalu menganggap setiap  orang ramah dan mudah bergaul hingga dalam kisah ini sering kali terjadi keramahan yang kurang pas. Bukan melarang orang bersikap ramah, tapi ada saatnya. Dan dalam kisah ini ramah yang ada terkesan serba kebetulan dan dipaksakan untuk memuluskan aksi Elang.

Agak aneh, satpam yang sudah  kecolongan bisa dengan enteng  menawarkan kopi pada  Elang yang baru dikenal saat itu. Bahkan memberi izin untuk ikut memeriksa kamar mayat. Akan lebih terkesan nyata jika Elang melakukan beberapa kali pendekatan, beberapa hari datang berkunjung dan menjalin perteman dengan satpam sebelum akhirnya bisa melakukan banyak hal di sana.

Demikian juga dengan beberapa sosok yang dengan mudah percaya ia adalah polisi tanpa melihat lencana terlebih dahulu. Salah seorang malah dengan gampang memberikan fotocopy KTP ketika diminta. Bukankah kita harus berhati-hati jika ada orang yang meminta hal tersebut? Maksud saya, jika ada seseorang yang datang ke rumah saya dan mengaku sebagai polisi, memberikan pertanyaan lalu meminta fotocopy KTP, tentunya saya juga akan meminta bukti bahwa ia memang seorang polisi bukan orang iseng yang menyamar dan akan memanfaatkan fotocopy KTP saya untuk hal-hal buruk kelak. 

Kegemaran Elang mengumpulkan fotocopy KTP terbukti  bermanfaat pada halaman 68. Meski saya merasa hal tersebut bisa terjadi karena petugas sedang dalam kondisi mengantuk. Setahu saya, untuk melakukan apa yang ada di halaman 68 membutuhkan  KTP asli bukan fotocopy. Tapi, mungkin saja beda tempat beda kebijakan.

Selain hobi mengumpulkan fotocopy KTP, Elang juga sering kali disebutkan meminta nomor ponsel seseorang. Untuk satpam di kamar mayat mungkin wajar karena ia baru kenal. Tapi meminta nomor ponsel Lilis, model telanjang yang sudah berulang kali ditidurinya, menjadi agak aneh. Ok, mungkin saja Lilis berganti nomor atau Elang kehilangan seluruh nomor yang ia simpan. Apa saja bisa, hanya kurang pas saja dalam paragraf tersebut. Ada sekedar uraian mengapa sampai Elang harus meminta nomor ponsel Lilis  lagi akan membuat kisah lebih pas.

Demikian juga dengan kebijakan untuk menerima telepon atau mengirim pesan singkat di area stasiun pengisian bahan bakar  umum alias pom bensin. Beberapa SPBU langganan saya dengan tegas menerapkan kebijakan larangan tersebut. Pelanggan yang menerima telepon atau mengutik-utik ponsel langsung mendapat teguran.   Hal tersebut ada pada halaman 136, "Ketika mengisi bensin, sebuah pesan pendek ia terima .... Elang membalas pesan itu...." Saya menangkap kesan ketika mengisi bensin motor, sebuah pesan masuk ke posel Elang dan ia segera membaca dan membalasnya di area SPBU. 

Meski disebutkan bahwa penulis mendedikasikan buku ini untuk teman-teman dan seorang pengasah batu akik kenalannya, namun keberadaan bab 5 terkesan dipaksakan. Tanpa keberadaan bab tersebut sepertinya kisah tetap akan berjalan tanpa kehilangan greget. Mungkin lebih pas jika dihubungkan dengan sosok pengemudi motor misterius yang melempar surat ke halaman rumah Elang. Misalnya Elang sempat melihat batu akik tertentu di tangan pengemudi motor, atau melihat sekilas stiker penggemar batu akik yang sering berkumpul di Pasar Tengah terpasang di motor. Bisa juga merasa pernah beberapa kali melihat sekumpulan pemuda mempergunakan jaket dengan lambang tertentu di sekitar Pasar Tengah.

Saya paham sekarang zaman  narsis, sehingga banyak orang yang sering berfoto dan mengunggahnya di media sosial. Tapi foto bersama seperti yang diuraikan pada halaman 214 harusnya tidak dilakukan oleh para tokoh dalam kisah ini. Sebagai orang yang sedang menyamar, setiap tindakan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Bagaimana jika pihak lawan menemukan ponsel salah satu dari mereka dan melihat ada foto tersebut? Bisa kacau urusannya. Untunglah tidak disebutkan akan diunggah ke media sosial, bisa jadi pembaca nyinyir saya ^_^.
Penulis ketika Berkarya

Sebaliknya,  si penulis harus narsis. Saya tidak menemukan bagian yang menyebutkan prestasi dalan dunia menulis serta  buku yang sudah diterbitkan. Padahal hal tersebut bisa menarik minat pembaca untuk menjajal karya lainnya. Kemudahan merupakan kunci. Pembaca akan lebih  cepat menangkat apa yang  disajikan dibanding harus meluncur ke blog penulis. 

Biasanya penerbit juga sering memasang kover buku lain dari penulis yang sama di halaman akhir sebagai sarana promosi. Apa lagi di kover ditulis Misteri Ketiga, tentunya pembaca awam juga ingin tahu apa judul kisah misteri pertama dan kedua. Buku ini benar-benar "bersih" dari unsur promosi, padahal promosi merupakan salah satu pendukung penjualan karya seseorang. 

Pada akhir kisah, disebutkan bahwa Elang pergi ke Garut. Rutenya naik pesawat ke Jakarta lalu menuju Terminal Lebak Bulus. Dari sana disambung bus ke Garut. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk berpergian. Saya akan memilih mempergunakan bus ke Bandung dari bandara, disambung angkutan darat ke Garut. Lebih cepat rasanya.

Terdapat beberapa kesalahan pemenggalan kalimat yang kemungkinan besar terjadi saat  proses tata letak berlangsung. Misalnya kata pan-dangi  yang berada di tengah baris di hal 24, sehingga tidak perlu diberi tanda seperti itu. Kata memu-tuskan  di halaman 105, dan sete-ngah di halaman 171. 

Kalimat favorit saya dalam buku ini ada di halaman 138, "Kecantikan adalah modal menipu paling jitu. Beberapa pria tenggelam dalam kecantikan wanita-cenderung memadukannya dengan kelembutan, keindahan, atau kasih sayang. Padahal, wanita cantik yang pernah dilukai dapat menjadi liar, tak terduga, cermat melaksanakan tugas-tugas penting dan rahasia." Saya jadi ingat salah seorang tokoh novel yang menjadikan sakit hati sebagai kekuatan. 

Dan...., tolong beri ilustrasi pada buku-buku berikutnya, sekedar memanjakan mata pembaca. Selingan diantara kepungan huruf yang menghayutkan.

Eh.... apa?
Kelebihan kisah ini? Hem... selain kronologis kisah yang  pas, cara bercerita yang mengalir, permainan logika penulis menarik untuk disimak, sisanya cari sendirilah! Makanya beli dan baca supaya tahu ^_^


Semoga penggemar kopi dan pencinta warkop ini bisa terus berkarya.
Bukan! Saya bukan tahu dari biodata, tapi mengambil kesimpulan  karena sering penulis mempergunakan kalimat kopi-kopi yang dipesan datang serta tempat pertemuan di warung kopi.

Ah! Teh yang saya pesan dan Kopi yang dipesan penulis sudah datang. Mari berdiskusi tentang Elang ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar