Rabu, 18 Januari 2017

2017 #003: Jatuh ke Matahari

Penulis: Djokolelono
Digambar oleh: A. Wakidjan
Halaman: 86
Cetakan: Pertama-1976
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya
Rating: 4.75/5

Untuk urusan kreatif, sosok yang satu ini memang tiada tandingan. Karya-karyanya selalu menawarkan sesuatu yang berbeda, perpaduan antara hiburan dan mendapat ilmu pengetahuan secara bersamaan. Sekali membaca, banyak manfaat yang diperoleh.

Kisah Jatuh Ke Matahari sebagai contoh. Ide kisahnya sebenarnya sederhana mengenai enam siswa terbaik Akademi Ruang Angkasa yang dipilih untuk misi membawa dan menyebarkan jasad-jasad renik ganggang biru-hijau di sekitar permukaan Venus. Tujuannya agar Venus bisa menjadi planet untuk dihuni. Rincian bagaimana caranya silahkan dibaca di halaman 27 ^_^

Terdapat delapan bab dalam buku ini. Mulai dari Perjalanan ke Venus, Dua Antariksawan Berkelahi di Antariksa, Kecepatan Maut Menyosong Maut, hingga Penutup. Membaca judul bab saja sudah menggelitik rasa penasaran untuk segera membaca, eh itu saya ketika baru menerima buku ini he he he.

Pembaca akan diajak menikmati kisah bagaimana Sweta Kamandhalu, kadet antariksawan nomor 11-C-74 berupaya menjadi kapten yang baik dalam memimpin misi tersebut. Jika misi itu sukses maka tahun depan ia menjadi antariksawan kelas C-3. Itu artinya ia berhak menjadi awak pesawat antariksa antar planet. 

Misi yang sepertinya sederhana dan mudah tersebut ternyata nyaris membuatnya dan rekan yang lain celaka. Adalah Adrian Barry, kadet antariksawan 15-F-73 yang menjadi orang dibalik semua kekacauan. Meski ia merupakan pilihan pertama dari 5.310 orang calon, namun kecerdikannya tidak diimbangin dengan sikap yang baik. Ia dikenal sebagai orang yang sangat besar kepala, congak dan takabur. Karena hal tersebut ia tak dipilih menjadi kapten.

Tugas Sweta semakin berat. Selain harus memastikan misi mereka berhasil, ia juga harus berhadapan dengan Adrian yang berkeras untuk melakukan percobaan atas nama ilmu pengetahuan dan kepentingan umat. Mereka terlempar dari tujuan semula ke Venus, terlempar menuju Matahari. 

Setelah empat puluh  satu tahun (buku ini terbit tahun 1976), buku ini masih menarik untuk dibaca. Sebagai buku  science fiction, apa yang diuraikan Eyang Djokolelono masih sangat meyakinkan. Mampu menciptakan sebuah teori dan kondisi dengan penjelasan sebab-akibat yang sangat bisa diterima logika merupakan kelebihan utama dari penulis yang satu ini.  Mungkin saja teori tersebut bisa dipraktekan saat ini. Dengan perkembangan zaman dan teknologi, apa yang dulu tidak mungkin sekarang mungkin bisa terlaksana.

Unsur nasionalisme terlihat dengan disebutkannya dua tokoh merupakan bangsa Indonesia. Untuk menegaskan tokoh utama kisah ini adalah keturunan Indonesia,  sengaja diberikan nama  Sweta  Kamandhalu.  Ada juga  Ir Pangaribuan pada tokoh pendamping.  Nama Sweta langsung mengingatkan saya pada nama tokoh pendamping dalam serial Noni.

Meski merupakan kisah fiksi ilmiah yang bagi beberapa orang dianggap berat, buku ini juga mengusung unsur humor. Kegemaran beliau bercanda dituangkan dalam berbagai kata unik. Misalnya  orbit mantap dan jet panas untuk salam para antariksawan ketika sedang bertugas di luar angkasa, serta matahari basah untuk makian. 

Pesan moral banyak diselipkan dalam kisah ini disamping ilmu pengetahuan. Kebiasan berjudi dan bertaruh yang tidak baik juga mendapat perhatian. Melalui sosok Kapten O'Reily, peringatan bahwa hal tersebut tidak layak dilakukan, disampaikan dengan cara yang bijak. Sehingga sasaran pembaca buku ini yang umumnya anak-anak (saat itu) tidak mencontoh kebiasan buruk Kapten O'Reily. 

Demikian juga dengan sifat sombong, angkuh dan tak mau bekerja dalam tim yang dilakukan oleh Adrian. Walau apa yang ia lakukan bertujuan untuk kebaikan, namun jika cara mendapatkannya salah maka tak akan memberikan manfaat bagi orang banyak. Justru banyak pihak yang menderita karenanya. 

Sempat saya merenung, kira-kira jika buku ini saya baca ketika berusia 7-10 tahun dulu, apakah saya bisa menerima teori yang diciptakan Eyang Djokolelono. Mungkinkah kemampuan berpikir saya sudah mampu mencerna perihal membuat Venus menjadi layak huni. Atau bahkan menerima mentah-mentah teori yang diberikan dan menganggap merupakan bagian dari hiburan semata.

Saya sempat hendak memprotes kenapa kover yang ada bukan berwarna oranye atau kuning, warna yang sering dianggap orang merupakan warna Matahari (padahal konon warna matahari beragam). Dari sisi estetika, tentunya akan lebih menarik untuk dilihat dari pada warna biru (padahal saya penggemar berat warna biru). Tapi jika dipikir lebih lanjut, Eyang Djokolelono sepertinya sedang berusaha memberikan pengetahuan seputar Matahari. Saya jadi ingat aneka warna Matahari. Salah satu tulisan mengenai hal tersebut ada di sini.

Dalam buku ini juga terdapat beberapa ilustrasi yang lumayan menarik. Kenapa lumayan, karena saya melihatnya saat ini. Detail yang umumnya merupakan unsur menarik, tidak saya temukan dalam ilusrasi tersebut. Saat kecil mungkin saya akan menganggapnya sebagai ilustrasi yang luar biasa.

Secara keseluruhan, saya tetap menjadi pengagum karya Bocah Tua Nakal, begitu kadang beliau menyebut dirinya. Jadi sepertinya bintang 4.75 layak diberikan. 

Mulih aku.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar