Rabu, 25 Januari 2017

2017 #006: Ayo BaPer

Judul asli: Baper, Bawa Perubahan
Penulis: Rhenald Kasali
ISBN: 9786023851751
Halaman: 184
Cetakan: Pertama-November 2016
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 89.000
Rating: 4/5

Pingin men-scan lalu diprint dan pasang di dinding

Begitulah kesan saya ketika sambil lalu membuka-buka halaman buku ini. Warna-warni  menawan dan memanjakan mata yang membaca. Ditambah dengan aneka kata motivasi yang menggugah jiwa, layak dijadikan hiasan dinding eh maksudnya dikoleksi buku ini ^_^.

Belakangan kata baper sering diucapkan orang. Baper yang dimaksud dalam buku ini bukanlah bawa perasaan tapi bawa perubahan. Sebuah strategi jitu untuk membuat orang ingat akan ajakan untuk membawa perubahan bagi lingkungan sekitar. Jargon tersebut akan lebih mudah diterima masyarakat dari pada mempergunakan kata baru.

Buku ini dibuat guna sebagai kado ulang tahun, hasil mengerjai seorang Rhenald Kasali dari pasukan di Rumah Perubahan. Isinya adalah ucapan, nasehat, candaan langsung yang mereka dengar. Sangat jauh dari unsur saran manajemen untuk perubahan. Seru! 

Membuka halaman pertama, kita akan disambut dengan ilustrasi yang menggugah rasa nasionalisme. Gambar seseorang sedang berlari dengan membawa bendera yang diikatkan pada semacam tongkat. Meski gambar tersebut lumayan kecil dibandingkan dengan luas dua halaman yang dipergunakan, namun pesan yang disampaikan sangat mengena. Halaman yang sama juga berada di bagian belakang buku.

Setelah saya mulai membaca (tidak sekedar membalik-balikan halaman dan membaca sekilas), saya menemukan banyak hal unik dalam isi buku ini. Meski dimanjakan dengan aneka atata letak tulisan yang indah, ternyata tidak semua isi buku ini merupakan kata kutipan dan catatan inspiratif, namun terdapat juga gambar-gambar  tanpa teks yang membuat pembaca berimajinasi akan makna yang terkandung dalam gambar itu. Ukuran dan gambarnya juga beragam. Ada yang menghabiskan dua halaman, tapi ada juga yang hanya satu halaman. Terdapat  gambar  dua anak perempuan sedang bermain sepeda, ruang kelas yang terendam air dan banyak lagi. 

Kata-kata yang ada tidak hanya terbatas untuk melakukan perubahan pada sikap dan kepribadian diri seseorang namun juga melakukan perubahan sikap yang berdampak pada lingkungan sekitar. Misalnya uraian Babe, begitu beliau biasa disapa di Rumah Perubahan pada sikap penguji dan pembimbing mahasiswa S-3. Ada juga kisah diri dan keluarga yang dicantumkan dalam buku ini karena dianggap dapat memberikan inspirasi pada banyak orang. Contohnya adalah ketika Babe dan istri dipanggil oleh guru sang anak ketika berada di Amerika.

Sebuah uraian dalam dunia marketing sudah sering saya dengar sejak dahulu, tapi masih membuat saya tersenyum ketika membaca hal tersebut dalam buku ini. Perihal anak marketing yang tidak bisa memasarkan diri sendiri alias masih jomblo. Secara teori mereka sangat menguasai bahan, namun prakteknya belum tentu. Bagaimana mereka bisa dianggap layak memasarkan sebuah produk jika memasarkan diri sendiri untuk mendapatkan pacar saja gagal.  Walau kelihatan konyol, tapi begitulah adanya penerapan sebuah ilmu. Terapkan pada diri sendiri, baru pada yang lain.

Ada beberapa bagian yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya kalimat Train your eyes to look up to the future, don't value things just based on their current value dialih bahasa menjadi Jangan hanya melihat sesesutu berdasarkan current value, latih mata kamu melihat kedepan! Meski demikian sebaiknya kata current value juga dicarikan padanan kata dalam bahasa lokal.

Namun ada juga yang tidak mengalami alih bahasa, seperti kalimat, Every humans being has their liminations but a smart person will use their limits to achieve their goals, not see it as a constraint. Tidak paham? Silahkan mempergunakan alat bantu alih bahasa ^_^ 
Membaca kalimat di sebelah membuat saya agak menahan diri melihat kejadian unik di kereta hari ini. Di gerbong khusus perempuan, saya duduk di kursi prioritas karena itu yang tersedia kosong. Paham, saya akan berdiri jika ada yang berhak membutuhkan. Saya merasa pengguna  yang lain saya menatap ke arah saya dengan kesal. 

Ternyata seorang perempuan yang duduk di sebelah saya asyik menguyah makanan seperti lontong atau bacang (saya hanya melihatnya terbungkus daun), ia tidak mengeluarkan dari kantong plastik agar tidak menimbulkan serpihan. Meski si ibu dalam kondisi hamil namun tetap saja menurut saya makan di atas kereta api adalah salah. Pantas penumpang yang lain menunjukan wajah tak suka ke arah saya.

Saya melihat sekeliling mencari petugas. Biasanya bapak atau ibu petugas yang melihat akan memberikan peringatan. Kejutan!Ternyata petugas yang saya cari justru berdiri di depan saya bersandar di dinding gerbong. Timbul pertanyaan saya kenapa dia diam saja ya melihat ada pelanggaran seperti itu. Ternyata si bapak petugas berdiri namun matanya terpejam alias tidur sambil berdiri! Beberapa kali dia nyaris terjatuh ketika kereta berjalan. Kantuk yang tak tertahankan tentunya tidak bisa dibayar dengan tidur sambil berdiri seperti itu.

Nyaris saya melakukan hal konyol dan memotret keduanya. Pelanggaran terjadi karena sikap masa bodoh penumpang dan petugas tertidur! Namun, segera saya urungkan niat tersebut dan berusaha berkompromi dengan situasi. Bagaimana kalau postingan saya malah membuat si bapak di PHK, bagaimana nasib mereka yang menjadi tanggungannya? Bagaimana kalau si ibu muda mendapat komentar pedas orang lalu stres dan kandungannya mengalami gangguan? Saya terpaksa "menutup mata" dan berharap segera sampai tujuan. 

Mungkin yang saya lakukan salah tapi saya merasa tidak bisa melakukan perubahan saat itu, untuk itu saya tidak akan melakukan pengerusakan. Semoga lain kali saya menemukan cara untuk mengatasi situasi tidak enak tersebut.
Tata Letak yang Kurang Pas

Sepertinya ada huruf yang  hilang pada kalimat "...Ketujuh hal tersebut adalah: urang gigih, kurang tekun,...." Mungkin yang dimaksud adalah kurang, kurang satu huruf "K" di awal kata. Demikian juga dengan tata letak pada salah satu halaman, terlalu kepinggir sehingga membacanya menjadi tidak nyaman. 

Salah satu tata letak malah mengingatkan saya pada kover buku. Dengan latar kuning dan gambar lingkaran melebar yang menjadi dasar, otomatis ingatan saya langsung mengarah ke kover buku Maze Runner. Lumayan mirip bagaimana lagi. 

Meski demikian, saya agak bingung ketika ingin mengulas isi buku karena tidak ada angka untuk halaman yang tercetak pada tiap lembar. Saat saya menyebutkan tentang suatu hal, saya tidak bisa menuliskan kalimat yang ada di halaman X. Kecuali jika saya iseng menghitung halaman sendiri. Mungkin saja maksudnya agar pembaca bisa membaca sembarang halaman yang menarik tanpa harus mempertimbangkan urutan halaman.  Padahal dengan memberikan angka di pojok bawah halaman dengan ukuran huruf yang kecil, tidak akan mengurangi keindahan. Juga bisa diberikan pesan untuk menikmati buku ini tanpa harus terpaku pada urutan halaman.

Oh ya, di bagian belakang buku, pembaca akan menemukan uraian singkat mengenai sosok Babe. Plus informasi singkat mengenai para "oknum" yang berada di balik terbitnya buku ini. Para generasi muda yang memandang dunia dengan cara yang unik. Terdapat juga informasi mengenai donasi dari sebagian pendapatan dari penjualan buku ini. Pustaka kaki Gunung disebutkan sebagai gerakan sosial mendistribusikan dan membangun perpustakaan di desa-desa terakhir sebelum titik pendakian.  Gunung yang dimaksud tentunya gunung yang ada di seluruh tanah air.

Jadi tertarik buat mengajak bekerja sama dengan BBI nih. Memberikan sumbangan buku untuk anak sama saja dengan mulai menanamkan rasa cinta pada bacaan sejak diri. Plus memberikan kesempatan bagi mereka untuk menambah pengetahuan melalui bacaan. Namun jika tidak ada buku yang bisa dibaca lalu bagaimana bisa menumbuhkan rasa cinta buku? Bagaimana bisa memberikan pengetahuan ? Semoga lain waktu bisa ikutan bergabung dalam kegiatan tersebut.

Catatan yang paling saya suka adalah,
Profesi-profesi yang dianggap tidak penting pada era orangtua kita, bisa saja berubah menjadi sangat penting di era berikutnya. Yang perlu kita lakukan hanyalah memahami dari kacamata anak-anak kita
 Hem....mungkin juga, profesi  yang sekarang dianggap penting menjadi tidak penting kelak. Saat saya hendak memilih jurusan di perguruan tinggi, profesi sebagai ahli bahasa alias orang yang memahami banyak bahasa masih kurang mendapat apresiasi. Bahkan jurusan bahasa di sekolah saya ditutup karena dianggap kurang ada peminatnya. Hingga jika ada yang berminat mengambil kelas A-4 Ilmu Bahasa harus pindah ke sekolah lain. Makin susah lagi karena di Jakarta sangat sedikit sekolah yang menyelenggarakan program tersebut.

Sekarang, orang dengan kemampuan bahasa sering dicari. Sementara kemampuan berbahasa Inggris dianggap hal yang wajar. Mungkin saat cucu saya ingin mengambil kuliah jurusan yang diincar bukan jurusan yang populer saat ini atau bahkan ia tekun mempelajari keterampilan yang saat ini dianggap hal aneh. Siapa yang tahu bagaimana kelak.

Tapi begitulah perubahan, selalu berkembang dinamis menuju ke arah yang lebih baik. Mereka yang tak mau melakukan perubahan dan berubah tak akan menjadi sosok yang tak mengisi hidup dengan makna.

Ayo BAPER untuk bangsa dan negara!

Sumber gambar:
Buku Baper







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar