Rabu, 27 Juli 2016

2016#73: The Reckoners Trilogi :Steelheart

Penulis : Brandon Sanderson
Penerjemah: Putro Nugroho
Penyunting: Rina Wulandari
Penata aksara: CDCC 
Desain sampul: Aditya"tyo" Satyagraha
ISBN : 9786020989983
Halaman: 512
Cetakan: Pertama-April 2016
Penerbit : Noura Books
Harga: Rp 84.000
Rating:3/5

Aku pernah melihat Steelheart berdarah!

David Charleston tak pernah mengira bahwa pagi itu, ketika ia pergi ke bank bersama ayahnya, merupakan hari terakhir dalam kehidupan sang ayah. Epic bernama Steelheart membunuhnya. 

Ketika itu sedang terjadi pertempuran antara dua Epic. Semula sang ayah justru ingin menembak Epic yang sedang bertarung dengan Steelheart, namun ternyata peluru malah mengenai Steelheart. Bukan ucapan terima kasih karena niat baik membantunya, sang ayah justru dikirim menemui malaikat maut. Ironi. Ayah David percaya akan sisi baik dari setiap orang, termasuk para Epic. Dan ketika itu ia melihat Steelheart lebih baik dari pada musuhnya yang membunuh orang dengan brutal.

Selanjutnya, tiap detik kehidupan David dijalani dengan keinginan untuk membalas dendam akan kematian sang ayah. Apalagi hanya dia yang selamat dalam pembataian yang terjadi di bank. Ia berusaha keras, maksudnya begitu sangat keras. Seluruh sisa waktu luangnya dipergunakan untuk mengumpulkan berbagai informasi mengenai Epic hingga ia mampu menyusun semacam ensiklopedia tentang Epic. 
Bahasa Rusia

Oh ya Epic adalah manusia yang terkena efek dari ledakan di langit, Calamity. Tidak semua manusia menjadi Epic. DNA dalam tubuh mereka termutasi menjadi sesuatu yang berbeda. Mereka memiliki kekuatan super dibandingkan manusia yang lain. Walau memiliki kekuatan super, mereka tetaplah manusia yang memiliki sifat ego dan senang menunjukkan arogansi dengan menindas yang lemah. Kekacauan dan perebutan daerah kekuatan sesama Epic bukan hal yang aneh lagi.

Ternyata David tidak sendiri! Ada gerakan bawah tanah, Rockoners, yang berniat menggulingkan Epic yang berkuasa seenak udelnya, itu jika mereka masih punya udel. Rockoners melakukan perlawanan dengan cara gerilya. Perlengkapan yang mereka miliki juga lumayan memadai. Sebagai saksi mata yang  mengetahui kelemahan  Steelheart David merasa ia harus bergabung dengan Rockoners agar ia bisa membunuhnya guna membayar hutang nyawa sang ayah.

Pembaca akan diajak menikmati adegan pertempuran seru! Kejar-kejaran dengan kecepatan yang tak terkira, tembak-tembakan dan sejenisnya. Meski begitu, semuanya dilakukan dengan mempertimbangkan taktik guna memperoleh keberhasilan serta faktor keamanan. Ya, walau tidak 100% aman, minimal mereka sudah mengupayakan semacam rompi pelindung sehingga jika terkena senjata tidak langsung mengenai tubuh, yang dapat mengakibatkan kematian. Lumayan seru!

Tidak seluruh buku mengisahkan tentang adegan pertempuran berdarah-darah. Ada juga yang menyentuh rasa kemanusiaan kita. Adegan seorang ibu yang menangis abu anaknya membuat saya ikut merasa sedih. Bayangkan, seorang ibu melihat anaknya diubah menjadi setumpuk tulang dan abu di hadapannya. Sungguh! Saya mungkin bisa ikutan histeris seperti sang ibu jika berada di sana. Penulis mampu menggambarkan  betapa kacau  dan mencekamnya kondisi saat itu. "Seluruh ruangan hening, kecuali suara isak tangis wanita yang masih memeluk sisa-sisa anaknya yang sudah tewas. Dengan sia-sia dan tampak gila, wanita itu berusaha mengumpulkan tulang-tulang tanpa meninggalkan sepotong kecil pun dilantai. Gaunnya tertutupi oleh abu."

Atau saat David untuk pertama kali setelah sekian lama kembali ke lokasi kejadian dimana sang ayah terbunuh. Karena sesuatu dan lain hal, ia masih bisa menemukan jasad sang ayah dalam posisi dan kondisi yang saat ketika ia tertubuh. Bagian yang mengisahkan bagaimana David perlahan menyingkirkan debu dan menatap mata ayahnya sungguh menyayat hati. 
Bahasa China

Terdiri dari empat bagian, dimana tiap bagian dibatasi oleh ilustrasi yang menawan. Buku ini cocok dibaca bagi mereka yang menyukai kisah superhero ala Marvel.  Ada mutasi DNA, senjata yang diciptakan, penemuan-penemuan yang tidak biasa. Hanya setelahbegitu banyak adegan baku hantam, korban berjatuhan, akhirnya hanya begitu saja. Tidak ada efek dramatis sama sekali. 

Agak menyebalkan bagi saya setelah membaca sekian banyak halaman, ternyata untuk mengalahkan Epic yang konon begitu kuat, hanya butuh hal sepele. Memang proses untuk mengetahuinya cukup panjang dan memakan banyak korban. Sebaiknya penulis memberikan sedikit efek dramatis, sehingga pengorbanan yang dilakukan banyak pihak terasa sepadan.

Menurut saya, apa yang dialami dan dilakukan oleh David tidak hanya merupakan upaya pembalasan dendam atas kematian sang ayah.  Tapi juga untuk membuktikan pada ayahnya bahwa ia mencintai sang ayah dengan cara mengalahkan sang Epic. Ia beranggapan begitulah cara yang harus ia lakukan untuk membuktikan cinta pada sang ayah. Jika ia gagal, berarti ia gagal menunjukkan rasa cinta dan pengabdian pada sang ayah.

Oh ya, waspadalah pada musuh dalam selimut! Dalam setiap perjuangan tentu ada pengorbanan yang harus dilakukan. Salah satunya harus waspada pada siapapun walau hati tak ingin. Dan memahami siapa saja bisa menjadi lawan, bahkan mungkin orang terdekat kita.

Buku kedua dari seri ini berjudul Firefight dan terakhir berjudul Calamity. Terdapat sebuah buku berisi cerita pendek antara Steelheart dan Firefight. Kisahnya lebih mengarah pada keberadaan Epic yang tidak percaya bahwa ada manusia yang bisa mengalahkan Steelheart

Brandon  Sanderson juga merupakan sosok yang mendapat kehormatan untuk meneruskan seri Wheel of time karangan Robert Jordan. Ia menulis The Gathering Storm (2009), Towers of Midnight (2010) serta A Memory of Light (2013). Informasi seputar buku , bisa diperoleh di link ini.


Sumber gambar:
Goodreads





























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar