Sabtu, 02 Juli 2016

2016 #66: Guantanamo Diary

Penulis: Mohamedou Ould Slahi 
Penerjemah: Rika Iffati Farihah
Penyelas aksara: Lian Kagura
Penata aksara: Nurhasanah Ridwan
Perancang sampul: Oesman Muhammad
ISBN: 9786023850655
Halaman: 420
Cetakan: Pertama- Maret 2016
Penerbit: Nourabooks
Harga: Rp 94.000
Rating: 4,75/5

Guantanamera, guajira guantanamera
Guantanamera, guajira guantanamera
Yo soy un hombre sincero
De don de crece la palma
Yo soy un hombre sincero
De don de crece la palma
Antes des morirme quiero
Echar mis versos del alma
Guantanamera, guajira, guantanamera
Guantanamera, guajira guantanamera
Mi verso es de un verde claro
Y de un carmín encendido
Mi verso es de un verde claro
Y de un carmín encendido
Mi verso es un querido cielo
Que busca en el monte amparo

Guantanamera, guajira, guantanamera
Guantanamera, guajira, guantanamera

(lirik dari http://www.metrolyrics.com)

Saat pertama membaca judul buku ini, saya langsung merasa pernah mendengar sebuah lagu dengan kata serupa Guantanamo. Sejenak berpikir, ketemu lagu Guantamera dari The sandpipers. Lagu tersebut mengisahkan tentang Gadis-gadis Guantanamo. Kata-katanya didasarkan pada bagian pertama puisi Bait-bait Sederhana karya penyair nasionalis Kuba terkenal Jose Marti            

Buku ini...,
Jauh dari urusan gadis-gadis! Apalagi suka cita. Kisahnya sungguh menyayat hati. Tentang bagaimana seorang pria bernama  Mohamedou Ould Slahi selama lebih dari empat belas tahun ditahan tanpa diadili. Ia ditahan tanpa tuduhan yang tak jelas. 

Hal tersebut tercantum dalam tulisan tangannya sendiri, dalam Bahasa Inggris pada tanggal 3 Maret 2005. Pembaca bisa melihat uraiannya di halaman 10. Serta pada halaman 137, " Mohamedou, kami tak memiliki dakwaan terhadapmu. Bagi kami, kau ini manusia bebas." Hingga saat buku ini terbit, masih tidak jelas apa tuduhan kejahatan atas dirinya.

Tidak hanya itu, tak terhitung rangkaian interograsi, penyiksaan fisik dan psikis yang ia terima. Bahkan dilarang menjalankan shalat dan puasa. Pada halaman 69 misalnya. Ditulis, "Hak kami untuk mendirikan shalat harian dicabut selama 48 jam ke depan."  Atau pada halaman 182, "Tak ada kesempatan untuk shalat di sini. Begitu kita tiba, kau dan aku akan shalat bersama.... Bagaimanapun juga, shalat yang dijanjikan bersama Setan itu tak pernah terjadi." Maka, ketika membaca bagian yang menyebutkan ia bisa menjalankan shalat dan membatalkan puasa meski hanya dengan minum dan beberapa roti manis, tanpa sadar saya mengucapkan syukur.  
Tidak berhenti sampai disana, untuk memanjatkan doa dengan mengaji pun ia dilarang, seperti yang tercantum di halaman 357. Ia juga dipaksa melakukan hal-hal yang diharamkan dalam ajaran Islam. Silahkan baca sendiri halaman 255 sebagai contoh. Sungguh, membaca buku ini membuat saya merasa malu karena dengan situasi saya yang lebih beruntung darinya, pada bulan suci Ramadhan ini seharusnya saya bisa lebih maksimal beribadah.

Sungguh, tanpa sadar saya langsung teringat pada buku tentang penyiksaan yang saya baca beberapa waktu yang lalu. Membaca buku itu saja sudah membuat bulu kuduk saya berdiri. Tak terbayangkan bagaimana  Mohamedou bisa menghadapinya dengan tegar.

Mohamedou menulis manuskrip buku ini sekitar sembilan tahun lalu di dalam pondok terisolasi (kisah ini pertama kali terbit tahun 2014). Menurut pengakuannya, ia hanya menulis apa yang ia alami, apa yang ia saksikan dan diketahuinya secara langsung. Ia juga berusaha menulis dengan tidak melebih-lebihkan dan berusaha bersikap adil. Tanpa ada unsur melebihkan pun, kisah dalam buku ini sungguh menyayat hati. 

Unsur ingin bersikap adil terbukti pada bagian yang mengisahkan mengenai kedekatannya dengan penjaga di Yordania. Sehingga ia bisa mendapat buku-buku, mendengar lelucon konyol.  Ia bahkan bisa mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat di sana, bagaimana kehidupan dan gaji para penjaga.

Persis yang dikatakan Noa Yachot dari Huffington Post, "....Yang lebih mengherankan dari rangkaian penyiksaan tersebut ialah kehangatan Slahi- bahkan kepada penyiksa dan sipir penjaranya. 

Setelah sekian halaman membaca bagaimana sikap para penjaga, aneh rasanya membaca bagian yang menceritakan bagaimana para penjaga menangis saat meninggalkan tugas di Guantanamo. Bagaimana mereka pada dasarnya hanya menjalankan perintah untuk menyiksanya, walau akal sehat mengatakan bahwa Mohamedou adalah orang baik.

Membaca bagian yang menyebutkan mengenai ketenangan atau kenyamanan yang Mohamedou peroleh walau hanya sesaat, membuat saya ikut merasakan bahagia. Sebagai contoh ketika ia menerima sarapan dimana terdapat secangkir teh hangat. "Oh, tehnya sungguh menenangkan! Aku menyukai teh lebih dari makanan apa pun...."Betul...betul... itu sebabnya saya juga menyukai teh.
 
Kamp Tahanan Teluk Guantánamo atau Penjara Guantanamo  tempat Mohamedou menulis kisah ini sudah tempat  berdiri sejak 2002. Merupakan sebuah kompleks penjara militer dibawah pengawasan JTF-GTMO (Joint Task Force Guantanamo) berlokasi di Teluk Guantanamo, Kuba. Mereka yang dikirim ke sana merupakan tokoh yang dianggap oleh pemerintah Amerika Serikat memiliki hubungan atau menjadi anggota al-Qaeda dan Taliban.

Butuh waktu selama tujuh tahun agar catatan tangan Mohamedou bisa diterbitkan. Itu sebabnya banyak stabilo hitam. Sekitar lebih dari 2.500 merupakan editan dari pemerintah Amerika Serikat. Sementara editan lain yang dilakukan oleh penerbit, sama sekali tanpa ada campur tangan sang penulis.
 

Saat membuat review ini, yang ada dalam benak saya bukanlah berapa bintang yang layak diberikan pada buku ini. Bukan pada urusan tata bahasa dan sejenisnya. Tapi bagaimana berbagi kisah mengenai ketegaran seorang pria untuk bisa bertahan hidup dan menulis setelah mengalami berbagai siksaan. Tentang seorang Mohamedou Ould Slahi yang bercerita mengenai siksaan yang harus ia rasakan, sementara dibagian lagi bercerita dengan santai mengenai keakraban  para penyiksanya.

Seorang sahabat bertanya, kenapa saya berani mereview buku ini. Bagaimana jika nanti saya juga dituduh menyebarkan kebencian. Ekstrimnya bagaimana jika ada dinas rahasia yang menciduk saya. Bagi saya, alasannya sama dengan alasan kenapa Noura Books berani menerbitkan buku ini.
 
Itu juga mengapa banyak sekali halaman yang saya tulis sebagai referensi, semata karena tak mampu mengisahkan ulang. Terlalu memilukan. Akan lebih baik jika dibaca dan disikapi sendiri oleh pembaca. Sehingga bisa memilah mana yang sesuai dengan pikiran dan hati nurani mereka, mana yang tidak.

Sementara itu, bagi saya pribadi, pesan moral yang saya peroleh adalah bagaimana kita harus bisa lebih bersyukur bisa berada di dunia bebas, hingga beribadah pun bisa lebih leluasa. Jika seorang  Mohamedou Ould Slahi mau berusaha untuk beribadah diantara segala keterbatasan situasi, harusnya kita bisa melakukan dengan lebih. 

Baca dengan hati nuranimu.

Jangan lupa mampir ke http://guantanamodiary.com. Dan mari berdoa yang terbaik untuk Mohamedou Ould Slahi 













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar