Minggu, 24 April 2016

2016 #45: Kisah Lelaki Yang Bangkit Dari Kematian

 Judul asli: The Revenant
Penulis; Michael Punke
Penerjemah: Reni Indardini & Putro Nugroho
Penyunting: Yuke
Penata letak: CDDC
ISBN: 9786023850877
Halaman: 385
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 69.000
Rating: 4/5

Rekan seperjalanku
Aku akan senang hati mati di kano 
Di samping lembah di makamku
Tolong balikkan kano itu

Sakit hati dan dendam bisa menjadi menjadi kekuatan untuk melakukan banyak hal. 

Salah satu novel yang pernah saya baca mengisahkan bagaimana perihnya hati seorang wanita dimadu. Sakit hati itu  ia alihkan menjadi tenaga sehingga mampu bekerja keras dan menjadi sukses dalam usaha. Bahkan ia sanggup membantu usaha suami saat goyah.

Tokoh kita,  Hugh Glass begitu sakit hati saat ia dirampok ketika terluka. Setelah memenangkan pertarungan dengan seekor beruang  grizzly, Glass mendapati dirinya terluka parah. Agar tidak menghambat perjalanan, ia ditinggal hingga kondisinya pulih dan mampu menyusul rombongan. Sang kapten meninggalkannya dengan ditemani 2 orang anggota tim, John Fitzgerald dan Jim Bridger.

Alih-alih merawat Glass, mereka justru mengambil senapan, pisau batu api dan geretan dan meninggal Glass seorang diri. Saat bertemu kembali dengan rombongan, mereka mengaku sudah menguburkan Glass. Ketidakmampuan melawan luka mereka jadikan alasan kematian Glass.

Rasa sakit hati membuat Glass mampu bertahan hidup melawan rasa sakit, udara dingin bahkan menghadapi suku Indian demi mencari dan membalas sakit hati pada dua sosok yang meninggalkanya sendiri.

Buku yang terbagi menjadi dua bagian ini mengambil lokasi di daratan Amerika sekitar abad ke-19. Saat itu bisnis bulu binatang sedang menjadi bintang. Dengan masih melimpahnya hewan liar dengan bulu menawan tentunya bisnis menjadi menggiurkan meski bahaya yang harus dihadapi juga bukan main-main.

Bagi saya, bagian pertama mengisahkan bagaimana Glass bertahan hidup di alam liar demi bisa menemukan dua orang yang meninggalkannya. Kisahnya hanya seputar Glass dan alam bebas. Sementara bagian yang lain mengisahkan bagaimana Glass bertarung dengan akal sehat ketika berhasil menemukan para pengkhianat. Bagian kedua melibatkan banyak manusia lain.

Pada bagian awal, kisahnya berjalan agak lambat bahkan cenderung membosankan. Meski kita sudah mulai dibertemu dengan upaya Glass bertahan hidup, misalnya dengan mengisap sum sum dari bangkai hewan yang ia temukan. Tapi pembaca belum bisa menebak arah cerita hendak dibawa kemana.

Makin lama, kisahnya makin seru dan mendebarkan. Bagi mereka yang tidak menyukai cara bercerita lambat, dimohon kesabarannya sebelum memutuskan untuk tidak meneruskan membaca, karena keseruan baru muncul belakangan.

Penulis cukup mampu membuat pembaca merinding saat membaca bagaimana upaya Glass bertahan hidup. Gambaran yang diuraikan seakan-akan terlihat di depan mata. Begitu detail. Adegan Glass memakan daging mentah binatang buruannya membuat saya mual sesaat. Jika pilihannya hidup atau kenikmatan, tentunya segala hal yang mampu membuat seseorang hidup harus dilakukan. 

Bagi teman-teman yang pernah mendapat pendidikan hidup di alam bebas, mereka bisa belajar dari Glass. Ada beberapa hal yang mungkin tidak ada dalam teori dan baru bisa ditemui dalam praktek sebenarnya dialam terbuka.  
Sebenarnya novel ini tidak saja soal pembalasan dendam Glass, tapi ada juga mengenai bagaimana rasa percaya pada musuh, keserkahan, kemampuan bertahan hidup di alam. Serta, bagaimana berkompromi dengan nasib dan memaafkan merupakan hal yang luar biasa. 

Glass ternyata tidak hanya harus mampu berkompromi dengan alam liar agar bisa hidup tapi juga dengan hati nurani dan hukum saat ia menemukan dua sosok yang meninggalkannya sendiri. Akhir yang mengisahkan pada akhirnya Glass mampu tidur nyenyak justru membuat saya menasaran. Jadi bagaimana nasib kedua orang yang ia buru?

Kita akan banyak belajar mengenai makna kehidupan dari sosok Glass. Musuh terbesar ternyata ada dalam diri kita sendiri dan kita harus mampu menaklukan rasa ego, amarah dan dendam untuk bisa menjadi 

Sempat saya merasa penasaran dengan kata mokasin. Setelah bertanya pada teman di dunia maya, saya memperoleh keterangan bahwa mokasin adalah jenis sepatu tradisional yang terbuat dari kulit tebal atau kain halus,  asalnya  dari Amerika. Cocok memang dipergunakan untuk misi yang diembang Glass dan teman-teman. Mungkin hanya saya yang kurang paham mode hingga merasa heran he he he. Penerjemah mungkin merasa semua pembaca pasti sudah mengetahui maksudnya hingga tak perlu membuat catatan kaki lagi. 

Untuk kover, dengan kover biru buku ini akan mampu membuat mata saya melirik. Tapi andai kata tidak ada stiker warna merah yang sangat kontras dengan warna kover, dimana disana disebutkan mengenai film yang terinspirasi dari novel ini, mungkin saya tidak tertarik untuk membelinya. Kesannya terlalu biasa. 
Sebagai tukang komen kisah, terus terang saya tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan kata-kata. Kesan yang ditinggalkan buku ini begitu kuat dan setiap bagian layak untuk dibagikan. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa mengatakan silahkan baca dan rasakan sendiri sensasi mengikuti tiap langkah Glass. 



The Revenant memenangkan Golden Globe Award 2016 for Best Motion Picture-Drama, Best Actor dan Best Director. Sementara untuk Oscar mendapat 12 nominasi dan memenangkan Best Director, Best Actor, serta Best Cinematography.  Dalam Bafta mendapat Best Actor, Best Leading Actor, Best Sound, serta Best Film. 
Saya belum sempat menonton film yang membuat Leornado DiCaprio memperoleh Oscar. Tapi menurut beberapa sahabat, aktingnya luar biasa. Bahkan saat harus memperagakan adegan memakan daging mentah padahal ia seorang vegetarian. Sebuah totalitas yang layak diganjar hadiah. Saya bisa membayangkan bagaimana bersemangatnya Glass mengungah daging demi hidup bukan demi kenikmatan.

Jadi teringat salah satu bait lagu yang dinyanyikan dalam buku ini,

Gerobak adalah kesayangan si pemacul, 
Pemburu menyayangi senjatanya, anjingnya; 
Musisi adalah pencinta musik;
 Bagiku, kanoku tambahan hatiku! 



Sumber gambar:
Wikipedia 
Goodreads







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar