Minggu, 10 April 2016

2016#39: Kisah Cinta O

Judul asli: O
Penulis: Eka Kurniawan
Penyelia naskah: Mirna Yulistiani
Desain sampul & ilustrasi: Eka Kurniawan
Proofreader: Angka, Sasa
Setting: Fitri Yusuf
ISBN 10: 0000942103 
ISBN13: 9786020325590
Halaman: 470
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 99.000
Rating: 4/5

Jadi dulu kau kenal dengan seekor monyet bernama Entang Kosasih? Kalian saling mencintai satu sama lain? Lalu Entang Kosasih pergi, berubah menjadi manusia dan berjanji akan menunggumu? Dan untuk menemuinya, untuk merajut kembali kisah cinta kalian, kau harus menjelma menjadi manusia juga, sebab tanpa itu Entang Kosasih tak akan mengenalimu?

Urusan cinta memang super duper rumit! Namanya logika bisa mundur sekian langkah, urusan hati maju jalan dengan semangat tinggi. Bahkan seekor monyet betina yang bernama O juga mengalami kerumitan cinta bersama dengan Entang Kosasih si monyet jantan.

Entah kesambet apa, mendadak Entang Kosasih ingin menjadi seorang manusia. Cerita para tetua tentang seekor monyet yang berubah menjadi manusia menjadi inspirasinya. Apa lagi ada anggapan dikalangan monyet bahwa pada masa lalu monyet adalah ikan, dan setiap monyet jika mau berubah, akan menjadi manusia.

Tekatnya sudah sangat bulat. Bahkan kekasih hatinya tak sanggup menggoyahkan keputusannya. Segala cara dicari untuk bisa menjadi manusia. Menurut para tetua, salah satunya adalah melalui sirkus monyet. Untuk itu ia berusa keras untuk bisa menemukan satu pawang. "Jika tak ada pawang sirkus monyet yang akan mengajariku menjadi manusia, aku akan mengajari diriku sendiri," begitu tekat Entang Kosasih. 

Dan kisah pun bergulir dengan cepat. Berbagai tokoh muncul, berbagai peristiwa terjadi.Bagian yang paling utama adalah O yang mendadak khawatir terhadap nasib pernikahannya pada bulan sepuluh. O merasa ia harus ikut menjadi manusia seperti keinginan Entang Kosasih agar cinta mereka bisa abadi.
 
O mulai menjalani hidup beragam. Dari hanya sekedar menjadi peran di sirkus topeng monyet hingga jatuh cinta pada Kaisar Dangdut. Setiap melihat poster sang kasar hatinya berbunga-bunga. Menurut sang kaisar adalah Entang Kosasih pujaannya. Dengan goyang dangdung ala kaisar yang diakoninya, ia berusaha bertemu dengan si kaisar.

Selanjutnya...
Baca saja sendiri ya, supaya bisa ikut merasakan sensasi seperti yang saya rasakan.

Biasanya saya kurang suka membaca kisah dimana penulisnya mempergunakan banyak tokoh. Bukan jumlah yang jadi masalah sebenarnya, namun sering kali penulis tidak konisten pada  karakter tokoh jika dalam kisahnya ada beberapa tokoh yang diajak urun rembuk membangun kisah. Tokoh dalam buku ini lumayan banyak. Beberapa mungkin hanya sebagai cameo alias numpang lewat, ada juga yang mendapat porsi besar. Tapi tiap tokoh memiliki peranan untuk membangun kisah. Menghilangkan tokoh cameo seakan makan sayur sop tanpa woltel.  Karakteristik para tokoh dari awal saya bertemu hingga akhir tetap konsisten. Itu yang membuat kisah ini menjadi enak dibaca, selain hal-hal lain tentunya.

Alur yang dibuat maju-mundur-maju (tanpa goyang cantik-cantik) sempat membuat saya tertipu. Semula mengira telah terjadi X eh ternyata X-1  lalu berakhir menjadi X+1. Tentang salah satu monyet yang mati karena berkelahi sebagai contoh,saya bingung membaca bagian yang menyebutkan salah satu tokoh monyet mati. Seingat saya tidak ada uraian mengenai sebab-akibat monyet itu mati. Agak ke belakang, terdapat penjelasan bahwa monyet itu mati dalam pertempuran gagah berani dengan anjing. Selanjutnya ada bagian yang mengisahkan tentang kehidupan monyet itu.

Semula saya mengira kisah ini  nyaris selesai begitu mendekati beberapa lembar ke belakang, ketika mendadak muncul beberapa hal yang membuat pikiran saya menari liar. Bagaimana jika...., apakah dia layak mendapat...., beragam khayalan malah muncul dalam benak saya. Ini bukan novel tentang kisah cinta yang berakhir dengan kata Tamat, bukan ala ABG yang sering mengatakan Loe, Gue, And. Ini kisah dimana akhir justru menjadi awal bagi kisah yang lain.

Begitulah cinta. Kadang, bahkan mungkin sering kali, kisah cinta diakhiri dengan ketololan. Ada juga yang berakhir dengan kejam. Seorang Polisi membela pacar preman, seorang pemuka agama mengaji tiap malam sesuai pesan kekasih hatinya. Demi seekor anjing, seorang ibu dua anak membiarkan suaminya mati dikoyak anjing. Bagian ini membuat saya teringat pada salah satu kisah dalam kuncer Eka yang lain. Lumayan mirip kisahnya. Ada apa antara Eka dengan hewan yang satu itu.

Membaca buku ini seakan sedang mengawasi sebuah koloni kehidupan, dimana setiap penghuni memiliki masalah, kisah dan latar belakang kehidupan sebelum berada di sana yang berbeda satu dengan lainnya. Mungkin saja mereka saling kenal, bisa juga tidak. Mungkin mereka memiliki kenalan atau masalah yang sama, bisa jadi tidak begitu.

Unik. Kata yang tepat untuk buku ini. Jangan dulu terburu-buru merasa kesal jika ada sepenggal kisah mengenai seseorang atau seekor bahkan sesuatu hal muncul saat kita sedang seru menikmati kisah. Bukan mustahil, kelak kita akan menemukan benang merahnya dengan hal yang lain. Yang tercerai berai akan sambung menyambung dengan sendirinya.

Jika diperhatikan lebih mendalam,  percakapan yang terjadi antar tokoh mengandung filsafah kehidupan. Cara pengucapan yang bercanda atau siapa yang mengucapkan membuat pembaca kurang menangkap makna yang terkandung. Sebagai contoh, kalimat pada halaman 51 yang merupakan penggalan percakapan antara O dan seekor anjing kecil."Kamu belum tahu apa pun tentang rahasia kehidupan, Anjing Kecil," kata O. "Kamu belum mendengar dan melihat banyak hal." 

Keinginan Entang Kosasih dan O serta kisah yang menguraikan tentang sebuah kampung yang bisa berubah menjadi hewan, menggiring ingatan saya pada belajaran Biologi saat SMA, Teori Darwin. Beberapa hal tentang teori itu bisa dibaca di sini  atau di sini.

Dalam buku ini, saya beberapa kali menemukan kata yang sepertinya merupakan merek. Bir Bintang salah satunya. Sekarang sudah bukan menjadi merek tapi menjadi jenis produk, sama halnya dengan Softex yang sudah menggeser kata pembalut wanita. Ada juga Rokok Gudang Garam serta Gitar Fender. Kelak, bisa saja terjadi dialog berikut,
Pembeli: Ada Softex?
Penjual: Ada, mau merek apa?
Pembeli: Yang xxx saja

Hal itu sama dengan ketika pembeli berkata mau membeli Odol pada penjual. Padahal konon, itu adalah merek pasta gigi. Belakangan Odol sudah digeser oleh Pepsodent.

Kepikiran, kenapa penulis tidak sekalian memasukin merek beberapa produk yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam cerita. Lalu minta mereka membayar biaya promosi. Lumayan, buat mengurangi harga beli buku *modus* Misalnya pada bagian kisah tentang anjing dibuat si anjing diberi makanan khusus untuk anjing merek xxxx, lalu disebutkan betapa lahap makannya dan betapa bulunya menjadi lebih lebat. 

Bagaimana lagi, harga merupakan komponen yang mendapat perhatian saat membeli buku. Bagi pembaca fanatik, mungkin harga masih tolerir. Meski tidak ada jaminan pembaca fanatik akan selalu memiliki dana untuk membeli karya penulis favoritnya. Tapi bagi pembaca yang baru mau berkenalan dengan karya penulis tersebut, tentu menjadi pertimbangan.

Topeng monyet juga bisa kita temukan di negara India, Thailand, Korea, Pakistan.  Kesenian ini melibatkan pawang dan monyet yang dilatih untuk melakukan suatu kegiatan yang biasa dilakukan manusia pada umumnya. Sejak  tahun 2014, keberadaan Topeng Monyet mulai jarang ditemui. Hal ini seiring dengan penertiban topeng monyet berdasar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 1995 tentang Pengawasan Hewan Rentan Rabies serta Pencegahan dan Penanggulangan Rabies, dan Perda nomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum yakni setiap pemilik binatang wajib menjaga hewan peliharaan agar tidak berkeliaran.

Hemmm, mungkinkah ada O dan Entang Kosasih diantara monyet-monyet yang ditangkap itu? Bisa ya, bisa juga tidak. Bagaimana menurut Anda?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar