Sabtu, 16 April 2016

2016 #40: Kisah Cinderella Masa Depan

Judul asli: Cinder (The Lunar Chronicles #1)
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya

ISBN: 9786027150546
Halaman: 384
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Penerbit Spring

Harga: Rp 79.000
Rating:3,5/5

Itu artinya, kau juga bisa membeli gaun cantik- lebih cantik daripada milik Pearl! Kau bisa pergi ke pesta dansa, dan Adri tidak akan bisa berkata apa-apa untuk menghentikanmu!

Cara lain menikmati kisah masa kecil, begitulah perasaan saya ketika selesai membaca buku ini. Saat kecil, saya menikmati kisah Cinderella, sekarang saya menikmati kisah tentang Cinder.  Cinder, yang berarti abu perapian, bisa dikatakan sebagai kisah Cinderella abad ini. 

Setelah Perang Dunia Keempat, sisa peradaban dunia terbentuk menjadi enam bagian besar. Kehidupan didominasi dengan teknologi. Pekerja manusia bisa dikatakan semakin sedikit, pekerjaan dilakukan oleh android. Manusia yang mengalami kerusakan pada tubuh segera berubah menjadi cyborg. Tidak ada mobil yang berjalan di jalan raya dengan ban yang berputar, yang ada sejenis mobil terbang dan diberi nama hover. Dengan kemajuan teknologi yang kian pesat, keberadaan mekanik merupakan hal utama. Dan Cinder adalah mekanik yang mumpuni.

Sebagai seorang mekanik handal di New Beijing, banyak yang mengira mereka salah orang saat pertama kali bertemu. Maklum mekanik sering diidentikkan dengan sosok pria. Cinder menjadi mekanik demi membalas budi pada ibu dan saudara tirinya.  Tak masalah baginya, toh ia juga menyukai kegiatan itu.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa ia adalah seorang cyborg. Namun hal itu yang membuat ibu tirinya merasa memiliki hak untuk menyerahkannya sebagai salah satu kelinci percobaan guna mencari vakasin  bagi  penyakit menular yang menyerang bumi, Letumosis. Ia lebih dianggap sebagai barang milik keluarga dari pada anak.

Seperti juga kisah Cinderella lainnya, tentunya ada pangeran tampan dan pesta dansa. Demikian juga dengan kisah ini. Bedanya, dalam kisah ini pangeran justru meminta Cinder untuk menjadi tamu kehormatan, menemaninya berdansa. Pangeran juga mengirim kostum yang layak dikenakan saat pesta. Dan tak ada yang berubah saat jam berdentang ^_^. 

Perbedaan yang mencolok justru adanya ratu dari Kerajaan Bulan yang ingin menjalin hubungan bilateral dengan cara meminang sang pangeran. Dan pesta dansa mereka anggap sebagai ajang untuk bisa memperoleh keputusan pangeran. Menikah berarti membiarkan bumi dijajah secara perlahan, menolak sama saja menyatakan perang dengan terbuka. Sang pangeran butuh bantuan Cinder untuk menemaninya selama pesta, agar ia bisa berkonsentrasi melawan taktik pesona ala ratu bulan.

Ide cerita yang cukup unik. Memadukan antara kisah klasik percintaan dengan intrik penguasai dunia ditambah bumbu kemajuan teknologi. Sebuah hal sederhana diolah menjadi suatu hal yang luar biasa. 

Adanya catatan kaki untuk kata-kata yang asing atau istilah yang sulit dimengerti memudahkan pembaca menikmati kisah. Terutama sekali karena kisah dalam buku ini mengusung tentak teknologi, dimana tidak semua pembaca memahami tentang istilah dalam teknologi. 
 Saya agak bingung dengan istilah bapak angkat dan ibu serta saudara tiri. Jika sosok pria yang menjadi Cinder anak disebut bapak angkat, kenapa istrinya bukan disebut ibu angkat? Alih-alih disebut ibu angkat, istri bapak angkat justru disebut ibu tiri. Di halaman 331 sang ibu tiri menyebutkan cinder sebagai anak perwalian. 

Saya agak bingung dengan istilah bapak angkat dan ibu serta saudara tiri. Jika sosok pria yang menjadi Cinder anak disebut bapak angkat, kenapa istrinya bukan disebut ibu angkat? Alih-alih disebut ibu angkat, istri bapak angkat justru disebut ibu tiri. Di halaman 331 sang ibu tiri menyebutkan cinder sebagai anak perwalian.  

Beberapa teman yang terbiasa membaca kisah versi bahasa Inggris jauh-jauh hari sudah merekomendasikan buku ini. Bagus dan tak terduga kata mereka. Tak heran begitu mengetahui ada versi terjemahan saya langsung bersemangat. Soal harga memang sempat jadi pertimbangan, untunglah melalui acara tukar buku di BBI saya bisa memperoleh buku ini ^_^ .

Apa daya, semangat saya membaca kisah ini turun begitu menemukan bagian yang mengisahkan tentang Putri Selene yang disebutkan tewas dalam kebakaran. Kenapa? Ya karena kurang lebih saya bisa menebak kemana arah ceritanya. Begitulah efek terlalu banyak baca, suka sok tahu. Pada bagian sebelumnya, disebutkan bahwa Cinder menjadi  cyborg-manusia yang sebagian organ tubuhnya dengan kadar 36,28%. Banyak hal yang membuat seseorang menjadi cyborg. Salah satunya kebakaran. Usia sang putri kurang lebih sama dengan usia Cinder.  Mulai paham hubungannya?

Meski begitu, seru juga membaca kisah adaptasi ini.Aneka modifikasi  cerita serta pengembangan karakter membuat kisah ini menjadi unik.  Masih ada urusan pesta dansa memang, tapi beda dengan pesta ala Disney. Ada ibu dan saudara tiri, namun yang ini memiliki hubungan manis dengan salah satu saudara tiri. Memadukan antara kisah yang dinikmati saat kecil dengan angan-angan dunia masa depan.   

Kisah Cinderella  mulai populer sejak Disney membuat versi kartun. Sebenarnya cerita asli Cinderella tidak seperti itu. Lupakan sosok Cinderella yang pemurah dan penyayang, tikus-tikus yang cerdik dan ibu peri.  Salah satu versi menyebutkan Cinderella membunuh ibu tirinya atas hasutan sang pengasuh. Di sini justru tidak ada sosok ibu peri.  Versi Brothers Grimm juga tidak semanis itu. Bisa dimaklumi jika Disney melakukan adaptasi. Tak terbayangkan jika para anak perempuan melakukan hal kejam, seperti menyuruh burung mematuk mata ibu tirinya, membiarkan keluarga menjadi pengemis buta bahkan memakaikan sepatu dari logam panas. Bukan sikap yang layak ditiru. 

Seingat saya, saat kecil kisah Cinderella tidak hanya dibuat satu kali. Ada bagian yang mengisahkan Cinderella dan pangeran berusaha mencari pemecahan masalah bagi suatu masalah yang melanda negeri. kekeringan atau apa, lupa saya. Lalu ada kisah lainnya lagi, Saat diangkat ke layar kaca, Ira Maya Sopha tetap menjadi Cinderella. Sepertinya yang populer di tanah air hanya versi sepatu kaca. Serial ini terdiri dari lima buah buku, dimana tiap buku merupakan adaptasi dari kisah anak-anak yang terkenal. Buku kedua, Scarlet, terinspirasi dari kisah Red Riding Hood. Buku ketiga mengambil kisah dasar Rapunzel. Sementara buku  keempat Fairest serta kelima Winter diilhami dari kisah Snow White.  Namun meski ada lima buku, secara resmi hanya disebutkan empat karena Fairest bisa dianggap prequel dengan fokus kisah pada Ratu Levana. Dan menurut saya itu merupakan keseruan lain yang membuat buku ini layak dibaca. Sebuah kisah yang dibangun dari inspirasi beberapa kisah klasik, pasti seru. 

Ah, jadi seperti apa ya pangeran dari kisah ini? 


Sumber gambar:
Goodreads












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar