Sabtu, 25 Juli 2015

2015 #63: The Heart of Glass


Penulis : Vivian French
Ilustrasi: Ross Collins
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Pewajah isi: Siti Qomariyah
ISBN : 9786027145832
Halaman: 264
Cetakan: Pertama-2015
Penerbit: Atria
Harga: Rp 39.000


Saat hidup Jiwa Sejati berakhir di sini
Jantung Raja Tertinggi 'kan berdetak sekali lagi
Dan kekuatan datang pada dia yang berkuasa
Rajanya para raja akan kembali berjaya

Gracie Gillypott serta Pangeran Marcusmemutuskan untuk pergi ke Rimba Muslihat guna melihat dan menemui para kurcaci. Mereka akan memandang para kurcaci yang sedang bekerja dari jauh, jika mungkin berbicara singkat dengan satu atau dua kurcaci. Sepertinya bukan petualangan yang membahayakan menurut mereka.

Sebenarnya para kurcaci sedang lumayan sibuk. Mereka diminta untuk menyediakan aneka mahkota cantik pada pernikahan Putri Fedora dan Pangeran Tertius dari Niven's Knowe. Untuk urusan ini, mereka memang pakarnya menciptakan perhiasan cantik menawan.

Dibutuhkan  emas untuk membuat mahkota, artinya jika banyak mahkota yang harus dibuat maka dibutuhkan banyak emas. Untuk bisa mendapatkan banyak emas, butuh tenaga yang besar untuk bisa menggali lebih dalam guna mendapatkan tambang emas baru.

Saat tenggat makin dekat, para kurcaci terpaksa membuat kesepakatan dengan Raja Troll, Thab. Mereka meminta bantuan raja untuk meminjamkan salah satu Troll yang terkuat guna membantu penggalian. Troll tentunya lebih kuat menggali dibandingkan para kurcaci.

Raja Thab bersedia membantu asal mendapat imbalan yang agak luar biasa anehnya. Pihak kurcaci terpaksa memenuhi persyaratan yang diajukan tanpa memikirkan lagi bagaimana konsekuensi dan memenuhinya, semuanya demi mendapat bantuan yang dimaksudkan.

Terlepas dari persyaratan yang diajukan sang raja, tak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya sang raja menyimpan jantung kaca tergeletak di atas tempat tidur beludru yang lembut. Jika ia bisa mendapatkan seorang Jiwa Sejati maka jantung tersebut berdetak sekali lagi, dan ia akan menjadi raja dari semua raja. Dan ia mengharapkan persyaratan yang diberikan pada para kurcaci bisa membantunya mendapatkan Jiwa Sejati.

Ternyata rencana petualangan  Pangeran Marcus dan Gracie Gillypott tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Mereka justru harus berurusan dengan Troll jahat, kurcaci, terowongan bawah tanah serta bahayalongsor. Untunglah keberuntungan masih berada di  pihak mereka. Jika tidak bagaimana nasib Grace si Jiwa Sejati saat berada di tangan Raja Troll yang kejam.

Seakan semuanya belum cukup menyulitkan, mendadak Putri Marigold muncul setelah sebelumnya memiliki ide ajaib untuk menunggu Pangeran Marcus di ujung kerajaan. Siapa tahu pangeran akan melihatnya yang mempergunakan gaun cantik, berhenti dan mengajaknya kembali ke kerajaan bersama-sama. 

Petualangan ala Putri Marigod, tentunya sangat berbeda dengan versi Pangeran Marcus. Ia begitu terkejut saat melihat sang putri. "Aku sedang bertualang! Ini sangat menyenangkan sampai kuda poni nakalku melarikan diri ... tapi sekarang kau sudah bergegas datang untuk menyelamatkan aku. Marcus Sayang! Tidaklah kau mau menciumku?"


Seperti karya Vivian yang lainnya, semua kesimpang siuran kisah akan berakhir dengan manis. Segala hal yang belum jelas tentunya akan terjelaskan, bahkan dengan cara yang sederhana sekali pun.

Dalam buku ini, kita akan berkenalan dengan tokoh baru yang membuat kisah ini menjadi lebih seru. Sang  tokoh baru digambarkan selalu saja bersin tiada henti, akibat alergi. Berada di bawah tanah yang penuh dengan debu galian jelas sangat memicu alerginya. Bagian ini mengingatkan saya yang sering lupa pada alergi debu saat asyik membongkar buku-buku lawas nan antik di kantor.

Pesan moral yang disampaikan buku ini sangat cocok untuk para remaja, sasaran pembaca buku ini. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, kita harus berhati-hati jika memberikan janji, karena janji harus ditepati. Janji adalah hutang yang harus dibayarkan. Untung itu jangan sembarangan memberikan janji pada yang lainnya. Pikirkan dulu masak-masak bagaimana kondisinya, apalah merugikan bagi diri kita dan orang lain, bagaimana cara kita memenuhi janji tersebut.

Dalam buku terdahulu, kita pernah bertemu dengan kakak tiri Gracie, Foyce. Disinggung sedikit bagaimana kondisinya sekarang ini selama berada dibawah pengawasan Para Pitarah.  Mereka akan membiarkan Foyce pergi jika hatinya sudah benra-benar bersih dari kebaikan dan keburukan. Semoga hatinya bisa menjadi secantik wajahnya. Dan melihat aneka komentar yang diucapkan Foyce, sepertinya masih lama sebelum ia bisa pergi dari Kastel Pitarah Purba. Hal ini memberikan kita pesan moral, bahwa pada dasarnya keindahan hati lebih utama dari pada keindahan fisik.

Hal lain yang bisa kita ambil manfaat dari buku ini adalah, bahwa bekerja sama bisa membantu memecahkan masalah dari pada bekerja sendiri. Para Kelelawar Marlon dan Alf, Guble  bahu-membahu dengan  Pangeran Marcus untuk berusaha menyelamatkan Gracie. Bersama dan bersatu membuat segala hal menjadi mungkin dilaksanakan.

Mungkin saat melakukan alih bahasa, kalimat yang memuat bagian Putri Marigod mengatakan, "... Marcus Sayang! Tidaklah kau mau menciumku?" bisa dihilangkan. Kesannya kurang baik saja bagi remaja, meski cium dalam buku ini bisa berarti menciup tangan ala sopan santun.

Secara keseluruhan buku ketiga ini tidak kalah serunya dibanding dua buku terdahulu. Justru karakter baru dan pengembangan kepribadian para tokoh kian terasa dalam buku ini.

Penasaran bagaimana buku selanjutnya.
Semoga tidak keluar dalam waktu yang tidak terlalu lama.










































































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar