Minggu, 05 Juli 2015

2015 #60: Awal Kisah Tujuh Manusia Harimau

Judul asli: 7 Manusia Harimau Jilid 1: Pantang Berdendam
Penulis: Motinggo Busye
Penyunting: Hermawan Aksan
Desainer sampul: Dodi Rosadi
Ilustrasi sampul: Sweta Kartika
ISBN:978-602-1637-42-5
Halaman: 544
Cetakan: Pertama- Mei 2015
Penerbit: Qanita
Harga: 544

Lat bulat si Biji Lada
Lat kata biji
lat bulat kata lada
Lada bulat di pusat
Pusatnya si Anu
Yang kucinta
Yang bulat mencintaiku
Menggeliat pusat si Anu
Si Anu untukku
Malam ini si Anu ingatku!
Lat bulat si Biji Lada
Lada bulat di pusat si Anu
Lat bulat lat

Kar kata cakar
Kar kata kuku
Cakar kuku cakar kaki
Yang berkaki empat
Yang raja di hutan
Yang pantang nyeberang laut
Yang bercakar
Yang belang
Belang tiga
Fing! Masuk fing!
Dia ada di dalam
Dia si Belang Tiga
Aku si Belang Tiga

Faktanya, saya tidak menemukan sosok Karina dalam buku ini. 

Jangan khawatir, ini versi novel bukan sinetron. 
Pastilah ada perbedaan. Sosok Karina yang sak enak udele memang tidak ada. Tapi kita akan dibuat gemas, kesal, marah, terharu, heran dengan tingkah laku Herwati.

Sebenarnya saya agak bingung harus mereview buku ini. Tiap bagian menawarkan kisah yang mampu membuat mata betah membaca hingga tak ingin meletakkan buku sampai lembar terakhir.  Bagai candu, selesai satu halaman ingin segera membaca halaman selanjutnya. Spektakuler!

Kisahnya bermulai dari kedatangan seorang guru muda yang mengajar matematika serta fisika di Desa Kumayan, Gumara Peto Alam. Sejak ia menginjakan kaki di sana, ia sudah diberi tahu bahwa desa itu merupakan biang dari segala ilmu hitam. Ia juga paham bahwa ia harus bersikap hormat pada para tetua.

Belum apa-apa ia sudah diuji oleh Inyit. Inyit merupakan sebutan bagi harimau. Di Kumayan mereka menyebut begitu agar tidak kualat. Kemudian siluman ular mengujinya. Selanjutnya giliran manusia yang menguji. Dari dituduh membunuh, lalu mendapat kiriman makanan yang diberi racun teluh hingga menghadapi kehebohan dua gadis cantik yang berebut perhatiannya. "Aku datang ke Kumayan ini untuk kebaikan. Kenapa aku disambut dengan kejahatan berturut-turut,"bathin Gumara.

Dua gadis yang memperebutkan hati Gumara, Pita Loka dan Herwati meski sama-sama cantik tapi memiliki kepribadian yang bertolak belakang.  Pita Loka tidak bernapsu belajar ilmu  kanuragan seperti Herwati. "Aku ingin jadi penerbang pesawat jet, bukan harimau. Beda dengan kau, yang belajar mantap dari ayahmu...." Sementara Herwati sangat berambisi menjadi pendekar yang memiliki ilmu hebat.

Lembar-lembar selanjutnya kita akan disuguhi dengan aneka kisah seru dan menegangkan khas kisah silat mengenai sepak terjang ketiga anak manusia tersebut mencari ilmu silat.

Ada beberapa bagian yang agak menyeramkan dan sulit saya bayangkan. Bagian tersebut penuh dengan urusan pembantaian dan darah. Tapi ada juga bagian yang mengisahkan tentang keheningan alam saat seorang tokoh melakukan tapa. Hal tersebut ikut membawa suasana damai saat membacanya.

Asal usul Gumara yang misterius akan ada jawabannya di halaman 137. Ia memang tidak pernah belajar ilmu kanuragan  langsung dari ayahnya, Ki  Lebai Karat. Justru ilmu itu diturunkan sejak dalam kandungan. Itulah sebabnya dalam versi buku, kadang Gumara bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah ia pelajari secara langsung.
 
Banyak kisah yang menceritakan bagaimana seorang jago ilmu bela diri belajar dari alam. Mempergunakan jurus dengan unsur yang ada di bumi seperti air, angin dan api, memperhatikan gerakan hewan seperti burung dan ular lalu mengolahnya dengan mempergunakan ketajaman akal dan budi menjadi sebuah jurus pamungkas. 

Senada dengan yang diuraikan oleh Ki Rengga Mada pada Pita Loka saat berguru. "Pelajaran silat adalah pelajaran mempertajam akal dan perasaan. Ketajaman memutuskan sesuatu, sekaligus melakoni sesuatu secara serentak"  

Ternyata untuk belajar ilmu kanuragan, ada juga cara instan. Tentunya cara ini tidak akan bertahan lama, seperti juga hal instan lainnya. Tapi bagi mereka yang ingin meraih sesuatu dengan mudah, tentunya hal ini sangat ditunggu. Misalnya peristiwa yang ada di halaman 371.

"Perhatikan wajahku" Lalu Harwati memegang kepala sang murid seraya berkata, "Melalui aliran darahku ke tanganku, getaran Ki Para, sang Guru Lobra, telah masuk dalam dirimu." 

Hanya dengan cara melakukan ritual menyiram kepala murid dengan bunga tujuh rupa lalu melakukan seperti yang tertera di atas, maka seseorang bisa langsung memiliki ilmu tinggi. Siapa yang tidak mau mendapat ilmu tanpa perlu susah-susah belajar. Dalam waktu singkat mereka yang ingin menjadi murid Herwati bertambah dengan cepat.

Buku ini juga memberikan banyak pesan moral selain urusan perkelahian tingkat tinggi. Simak saja kalimat berikut, "Seorang pendekar harus pandai maca. Tentu engkau seorang anak sekolah yang pernah belajar membaca. Tapi ada beda maca dan membaca. Maca juga berarti membaca peristiwa diri dan alam, sebagaimana aku membaca kehadiranmu di padepokanku...." Kalimat tersebut ada di halaman 178. Maknanya menganjurkan kita untuk mawas diri dan memperhatikan alam sekitar, karena kita bisa belajar banyak dari peristiwa yang terjadi dalam alam.

Selain urusan ilmu kanuragan, ternyata ada juga  porsi tentang pendidikan umum. Disebutkan bahwa salah seorang guru Pita Loka yang bernama Ki Surya Pinanti selesai studi di HBS Batavia. Sebenarnya ia ingin memperdalam Ilmu Listrik dan Fisika ke Holland, namun justru di Gunung Ciremai ia mendapat seluruh ilmu fisika dan elektro. Secara metafisis bukan fisik tentunya. 
 
Uraian ini agak kontras jika membaca bagian dimana Pita Loka, Herwati bahkan Gumara sendiri meninggalkan desa, tentunya meninggalkan sekolah. Padahal tugas Gumara adalah menjadi guru, lalu bagaimana ia bisa pergi seenaknya selama tiga minggu. Itu artinya ia meninggalkan kewajibannya mengajar. Hal ini menjadikan penilaian terhadap sosok Gumara yang digambarkan santun, ramah dan rendah hati menjadi agak berkurang.

Penilaian saya makin berkurang ketika membaca bagian yang mengisahkan Gumara tak mampu menahan godaan hasratnya. Coba telaah kalimat berikut, "... tiba-tiba hasratnya terpacu melihat seorang wanita yang sedang memetik buah mentimun. Gumara merunduk mendekat dan menarik kain si wanita. Wanita itu terpekik minta tolong. Gumara ketakutan dan malu." Duh..., Pak Guru Gumara kok bisa begitu ya.

Semula saya agak bingung membaca kisah versi buku, karena sekian lama sudah tertanam versi sinetron dalam memori saya. Tapi jangan khawatir versi buku juga sangat bisa dinikmati. 


Beberapa perbedaan yang ada seperti penyebutan datuk dalam sinetron menjadi ki dalam versi buku. Nama tokoh utama ada beberapa yang diubah untuk kepentingan estetika tontonan. Lading Ganda contohnya, diubah menjadi Rojo Langit. Bisa menebak siapa nama tokoh Karina dalam buku ini khan?

Istilah dan bahasa yang digunakan dalam sinetron menyelipkan dialek dan bahasa yang sering dipergunakan oleh masyarakat Bengkulu, seting kisah ini.

    Pedang Surandar ada dua, pertama Pedang Surandar itu sendiri yang semula dibuat oleh Empu Wesi untuk Ki Tunggal namun dicuri oleh Bokoh Anggita. Satunya Sepupu Surandar yang diberikan kepada Herwati dari Ki Tunggal. Perbedaan asal muasal kepemilikan yang membuat pedang tersebut berbeda. Pada versi buku ini pedang tersebut pada akhirnya tidak dimiliki siapapun.

    Urusan membuka kitab untuk mencari petunjuk yang sering kita lihat dalam sinteron ternyata juga ada dalam buku ini, yaitu ketika Ki Tunggal mencari petunjuk. Dia raih kitab di hadapannya, lalu dia membaca bagian yang ditandai dengan lidi, melanjutkan pembacaannya:
    Sesungguhnya dia yang bertengger di pohon sangkina
    Terikat oleh janji nasib untuk selalu memperbaiki kebaikan
    Dia hanya melakukan kewajiban, dan menjalankan yang hah
    Sesungguhnya diasedang berpuasa, pertapaan seekor gagak
    Nanti dia akan turun setelah tiga minggu
    Secara garis besar, kisah dalam buku ini membuat kita mendapat hiburan juga belajar tentang banyak hal. Selain urusan kehidupan sosial, tentunya pesan moral dan pelajaran kehidupan juga banyak terdapat dalam buku ini.

    Saya agak ragu apakah buku ini layak dibaca untuk anak remaja mengingat aneka adegan pertempuran yang selalu memuntahkan darah yang lumayan banyak. Agak menyeramkan bagi saya sebenarnya. 

    Kover dengan nuansa merah memang sangat tepat untuk menggambarkan suasana petarungan yang menengangkan dalam buku ini. Ilustrasi wujud harimau dan manusia menunjukan tentang manusia harimau.Tulisan 7 Manusia Harimau dengan warna perak terlihat kontras dengan latar belakang kover. Kesan kisah seru dan menegangkan bertambah dengan kalimat yang menyebutkan tentang judul buku ini, Pantang Berdendam.

    Tumben saya menemukan typo dalam buku ini. Ada di halaman 183 baris pertama. "Dan Pita Loka anpa ampun menggebrak dengan serangan...."

    Di Goodreads disebutkan bahwa kisah ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu
    Jilid 1 : Pantang Berdendam
    Jilid 2 : Gadis Sakti
    Jilid 3 : Murid Durhaka
    Jilid 4 : Misteri Tirai Setangi
    Jilid 5:  Rahasia Kitab Tuju
    Jilid 6:  Aji Melati
    Jilid 7:  Pedekar Wanita Buta
    Jilid 8 : Amukan Pendekar Edan
    Jilid 9 : Pedang Ratu Klabang
    Jilid 10: Pendekar Aneh Muka Aneh

    Untuk buku ini sepertinya memuat jilid pertama hingga keempat. Hal ini bisa dilihat pada Isi buku, yang terdiri dari 4 bagian, yaitu:
    Bagian 1 : Pantang BerdendamBagian 2: Gadis Sakti
    Bagian 3: Murid Durhaka 
    Bagian 4: Misteri Tirai Setangi 

    Kalimat bijak pada halaman 492, bisa kita jadikan renungan untuk lebih mawas diri agar bisa menjadi manusia yang lebih bermakna. 
    Apa yang kau sukai belum tentu engkau dapatkan. Dan apa yang engkau dapatkan belum tentu kau sukai. Tapi apa yang engkau sukai belum tentu baik bagimu




    4 komentar:

    1. Jilid 9 dan 10 ada atau tidak ya??
      sayang banget kalo udah sampe jilid 8 tp jilid 9 & 10 nggak ada..

      BalasHapus
      Balasan
      1. Jilid 2,3,9,dan 10 itu kok engga ada yah

        Hapus
      2. Jilid 2,3,9,dan 10 itu kok engga ada yah

        Hapus