Sabtu, 11 Juli 2015

2015 #61: The Night Gardener

Penulis: Jonathan Auxier
Alih bahasa: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Yenni Saputri
Desain & Ilustrasi sampul: Arrahman Rendi
Desain isi:Reza
Tata Letak Isi: Tri
Cetakan: Pertama- Mei 2015
Penerbit: Metamind
Harga: Rp 56.000


Jari-jarinya luluh menjadi abu halus, bertebaran di lantai. Dengan desau terakhir, Pekebun Malam roboh menjadi seonggok abu.

Molly dan Kip hanyalah sepasang anak kecil yang sedang  mengembara dari Irlandia pada awal Maret. Mereka berkendara menyongsong maut,  begitu menurut orang-orang ketika tahu mereka menuju pertanian Windsor di hutan selatan.

Mereka butuh RUMAH. Mereka butuh tempat tinggal yang lumayan, makanan yang selalu tersedia meski tidak terlalu mewah serta alamat untuk menunggu kiriman ma dan pa. Keduanya sedang sibuk berlayar. Jika mereka berdua tidak menetap, bagaimana orang tua mereka bisa berkirim surat? Karena itulah mereka nekat menuju Windsor.

Lingkungan di sana sebenarnya biasa saja, seperti pertanian pada umumnya. Hanya ada sebuah pohon yang berada sangat dekat dengan rumah hingga tampak seolah keduanya tumbuh bersama.

Pohon itu besar sekali dan tampak amat, sangat tua. Kebanyakan pohon menebar suasana hening yang anggun kesekitarnya. Yang ini tidak. Kebanyakan pohon mengundangmu memanjat sampai puncak. Yang ini tidak. Biasanya pohon membuatmu  ingin mengukir inisial di batangnya. Yang ini tidak. Berdiri dinaungi pohon ini membuatmu merinding

Meski Kip merasa ada yang tidak beres pada keluarga yang tinggal di sana, terutama karena pucatnya mereka.
Bahkan secara spesifik mereka dilarang keras melakukan kegiatan yang bersinggungan dengan pohon tersebut. "Dalam situasi apa pun kau atau adikmu tak boleh menyentuh pohon itu, " kata Constance, dengan nada sedingin es. Mau bagaimana lagi, mereka tidak ada pilihan lain.
 
Dan benar saja.
Aneka kejadian yang misterius mulai terjadi. Anak tertua keluarga itu Alistair memiliki persediaan perman yang tidak pernah habis. Penny gadis manis si bungsu, memiliki buku dongeng yang tidak biasa. Cincin sang nyonya rumah yang ada lagi setelah sebelumnya dibawa untuk dijual.
 
Sepertinya ada semacam roh yang menghantui rumah itu di malam hari. Ia menjadikan semua orang sakit dan pucat. Bahkan Molly juga mulai terkena dampaknya. Ia berubah tanpa disadarinya. Molly merasa tugas rumah tangga yang membuat rambut merahnya berubah mengarah ke hitam dan kulit putihnya.

Tidak salah lagi! 
Pohon itu penyebabnya!
Pohon itu mengabulkan permintaan dengan menciptakan ketergantungan. Itulah perbedaan keinginan dan kebutuhan. Dan mereka semua dikuasai oleh keinginan yang tidak masuk akal.

Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini sedikit mengandung unsur menakutkan.  Pembaca dibuat ikut ketakutan saat Molly mendengar suara langkah kaki di malam hari, atau saat melihat sebuah bayangan hitam besar di lorong, hii....! Atut.

Namun kita juga bisa melihat bagaimana kuatnya kasih sayang diantara kedua saudara, yang menjadi kekuatan sehingga membuat mereka bisa saling menjaga sesama dan tetap bertahan dalam menghadapi segala kesulitan. The power of love
  

Jonathan Auxier

Petualangan mencekam, rasa persaudaraan serta cinta kasih sesama menjadi kian seru dengan adengan mengharukan di halaman 297. Hiks bikin saya harus menahan mewek terharu.

Sempat terlintas, jangan-jangan kisahnya mirip dengan kisah dalam The Secret Garden karangan Frances Hodgson Burnett, mengacu pada judulnya yang menyinggung urusan berkebun. Ternyata tidak, berbeda jauh malah.

Kisah ini, mungkin merupakan satu dari sedikit kisah yang memiliki akhir berbeda dengan kisah sejenis. Tidak semua kisah berakhir dengan bahagia, seperti sang jagoan memang dan hidup bahagia dengan warga yang ditolong. Kekasih yang hidup bahagia dengan pujaan jiwanya. Kisah ini memberikan akhir kisah yang tak terduga. 

Sebenarnya penulis bisa lebih membuat bagian yang penuh kengerian lebih panjang lagi, tidak tiba-tiba masalah bisa selesai dengan agak mudah. Harusnya dibuat dengan lebih sulit dan rumit lagi masalah yang ada, sehingga peran Molly dan Kid sebagai pahlawan bisa lebih terasa gregetnya.

Jika menilik  penghargaan yang diterima, Goodreads Choice Award 2014: Best Middle Grade & Childrean's 0f 2014, Canadian Library Association's 2015 Book of the Year for Children Award, Kirkus Reviews' Best Children's Books of 2014, saya hanya berharap semoga anak-anak yang membaca tidak merasa ketakutan. Mungkin lebih cocok untuk remaja sepertinya. 

Saya lebih suka kover edisi Metamind. Selain membuat saya tetap masih penasaran dengan kisahnya, meski sudah ada kata The Night Garder, yang mengarahkan kita pada urusan kebun. Kesan yang ditampilkan lebih berkesan misterius.

Demikian juga dengan ilustrasi yang ada di halaman muka serta halaman belakang dengan warna halaman yang dibuat hitam, mengantarkan nuansa menyeramkan. Apa lagi jika membaca kalimat berikut, "Berdiri di naungan pohon ini membuatmu merinding...." 

Urusan alih bahasa, jelasa tak perlu dikomentari. Seorang  Rini Nurul Badariah sudah bisa dipastikan membuat sebuah kisah terjemahan tetap memiliki jiwa seperti kisah dalam bahasa aslinya. Saya selalu menikmati hasil kerja kerasnya.

Jika ada waktu, ada baiknya sebelum membaca buku ini terlebih dahulu melihat Book Trailer di  https://youtu.be/MP0txNz69jM agar bisa merasakan kengerian yang ditawarkan. Jika sanggup, bahkan menikmati kengerian yang ditawarkan, silahkan lanjutkan niat untuk membeli dan membaca buku ini. Jika tidak, jangan coba-coba membaca buku ini.

Kalimat yang patut menjadi bahan renungan, 
"Cerita membantu orang menghadapi dunia, meskipun mereka takut. Sementara dusta berbuat sebaliknya. Dusta membantu bersembunyi."
Ternyata urusan berkebun juga bisa menakutkan.

Sumber gambar:http://abramsbooks.tumblr.com
http://www.amazon.com

2 komentar: