Kamis, 30 Juli 2015

2015 # 65: Warisan Legendaris Para Bedebah


The Bastard Legacy: Warisan Legendaris Para Bedebah
Penulis: Jaunatan
Penyunting: Lis Sutinah
Pendesain Sampul & tata Letak: EM. Giri
Ilustrasi sampul: Aminudin Hadinugroho
ISBN: 9789790652408
Halaman: 150
Cetakan: Pertama-17 Mar 2015
Penerbit: Visimedia
Harga: Rp 42.000


Sesuatu harus sangat bagus, hebat, berbeda hingga berada dalam ingatan  orang dalam jangka waktu lama

Itu kuliah yang saya dapat dalam matakuliah periklanan dulu. Tentunya bukan itu yang membuat para pelaku kejahatan yang ada dalam buku ini melakukan kejahatan yang teramat sangat luar biasa kejamnya hingga akan sulit dilupakan orang dalam waktu lama. Mereka tidak ingin dikenal. Justru mereka tidak ingin ada yang mengetahui perbuatannya hingga bebas  melakukan perbuatan terkutuk itu.

Dalam beberapa kisah yang ada, umumnya faktor kejiwaan seseorang yang membuat ia menjadi bersikap seperti itu. Dalam kasus Gacy si Pogo The Clown, menurut kabar angin, sejak remaja ia beberapa kali mengalami kekerasan seksual dari teman-temannya, ditambah dengan ia juga sering mengalami kekerasan fisik dan mental oleh ayah kandungnya. Kekerasan tersebut terekan di alam bawah sadarnya, oleh karena itu, ketika sudah besar ia merasa bisa menindas orang yang lemah darinya, sehingga ia dapat melakukan pembalasan.

Seperti yang diuraikan pada halaman 99, "Masa kecil adalah masa ketika anak-anak menampung banyak pengetahuan serta hal-hal baru yang akan dia kenang ketika beranjak remaja, lalu dewasa. Ingatan-ingatan di masa kecil itulah yang kemudian akan mengendap di alam bawah sadar, kemudian terbawa sepanjang hidupnya. Jika kamu mau mengamati, orang-orang yang mempunyai kelakuan aneh, para penjahat berdarah dingin, dan sebagainya, mereka cenderung memiliki masa kecil yang kelam."

Beberapa  kisah tentang kejahatan yang teramat sangat luar biasa kejamnya itu berada dalam buku ini. Ada 10 kisah,  ada kisah cukup  sering diulas sehingga bukan menjadi hal baru saat membacanya. Tapi ada juga kisah yang mampu membuat bulu kuduk saya berdiri membayangkan kengerian kisah, hiiii.  Kisah-kisah yang ada dalam buku ini tentang Jack the Ripper, Lukisan Gacy, Delphine dan Rumah warisannya yang Berhantu (waduh), Eddy Tansil, Kusni Kadut, Belle dan Tabir Misteri yang Diwatiskannya, Rumah Jagal di Jombang, Laki-laki Abu-abu dan Pusaran Kekejamannya, Saksi Bisu Ladang Tebu Berhantu, Legenda si Cantik dan Kolam Darah. Bagaimana sudah ikutan merinding?

Dua kisah mengusung unsur lukisan sebagai bumbu kisah. Pertama kisah kekejaman  John Wayne Gacy yang dikenal sebagai Gacy si Pogo The Clown. Iya, tidak salah baca kok, penjahat yang memiliki profesi sebagai badut. Lukisan karyanya berada di Museum Kejahatan Nasional di Washington DC, USA. Lukisan tersebut menjadi obyek yang paling dicari pengunjung. Selama berada dalam penjara, Gacy memang sering melukis.

Setelah dieksekusi mati, ada 30 lukisannya yang dilelang. Pembeli bukan untuk mengoleksi tapi membakarnya dalam api unggun perayaan eksekusi Gacy. Tercatat saat ini hanya tinggal 2 buah lukisan yang berada di Museum Kejahatan Nasional di Washington.

Kedua tentang lukisan Kusni "Robin Hood-nya Indonesia" Kadut di Museum Gereja Katederal Jakarta. Lukisan dari gedebong pisang tersebut menggambarkan gereja katederal lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik. Sebelum dieksekusi, Kusni kadut berkenalan  dengan seorang pemuka agama Katholik. Pertemuan tersebut membuat ia mengambil keputusan fenomental dalan hidupnya, bertobat dan pembaptisannya sebagai pemeluk agama Katolik dengan nama Ignatius Waluyo.

Pengurus Museum Gereja Katederal Jakarta mengatakan, bahwa lukisan itu adalah wujud cinta Kusni Kadut kepada keyakinannya. Juga sebagai ucapan terima kasih karena sudah diberi bekal untuk menghadapi kematiannya. Mengenaskan, nasib pejuang yang terlupakan jasanya.

Urusan kejam, ternyata tidak membedakan jenis kelamin. Mungkin pepatah yang menyebutkan perempuan adalah makhluk lemah yang harus dilindungi, perlu dipertimbangkan jika mengacu pada kejahatan yang dilakukan oleh Dephine Lalaurie serta Belle Gunnes.

Dephine  yang lahir di Circa sekitar tahun 1775, memendam kebencian serta kemarahan pada para  budak kulit hitam karena ibu dan adiknya meninggal saat terjadi pemberontakan kaum budak. Perasaan tersebut kian bertambah ketika suaminya, Blanque tewas pada tahun 1816 juga akibat pemberontakan para budak yang merasa diperlakukan dengan tidak manusiawi.

Kekejaman apa yang dilakukan oleh Dephine? Duh, membuat merinding saat membacanya. Sekedar bocoran saja,kekejaman yang dilakukan Dephine seperti merantai kaki; menghamtam kepala budak dengan batu besar; menguliti; tidak memberikan makan dan istirahat yang cukup; kaki dan tangan dipotong; bahkan ada yang tubuhnya dibelah seakan dioperasi dan alat kelaminnya dirusak.

Perempuan kejam lainnya adalah Belle Sorenson Gunnes lahir pada 22 November 1859. Belle menikah dengn Gunness Mads Albert Sorenson dan membuka sebuah toko perman dan makanan kecil yang tidak berjalan lancar. Setahun kemudian, mendadak toko tersebut terbakar secara misterius lalu keduanya mengklaim uang asuransi toko.

Tidak jelas apakah mereka benar-benar memiliki anak. Beberapa peneliti menyatakan Belle tidak memiliki keturuan, peneliti yang lain menyatakan ada empat anak Belle dimana dua meninggal saat bayi. Belle dan suaminya juga mengklain asuransi atas anak-anak itu.

Selanjutnya, ketika suami Belle meninggal, ia mendapat klaim asuransi yang cukup besar hingga mampu membeli sebuah peternakan mungil. Alasan kematian suaminya adalah penyakit, entah benar atau tidak. Begitu juga kematian orang-orang lain yang berada di sekitar Bella

Mungkin para petugas asuransi akan sangat mendambakan dan mencintai   klien seperti Belle, karena mengikutkan anggota keluarganya dalam program asuransi dengan nominal lumayan. Selanjutnya  mereka akan curiga dan  membenci Belle karena melakukan klaim  atas meninggalnya anggota keluarga yang terdaftar sebagai pemegang polis asuransi tersebut.

Penipuan klaim asuransi ternyata sudah lama berlangsung. Metodenya bisa saja berbeda, namun tujuannya sama membuat pemegang polis meninggal lalu ahli warisnya mendapat klaim yang jumlahnya lumayan besar. Buat saya, ini seperti menandatangani kontrak kematian. Siapa yang bisa menduga hati orang, bagaimana jika saya sengaja diikutkan dalam polis lalu...... Astagfirullah, ih  kenapa jadi ngelantur seram saya.

Baik Daphine maupun Belle tidak bisa ditemukan keberadaannya. Daphine dengan dukungan kekayaan keluarga sempat melarikan diri saat terjadi kerusuhan di rumahnya. Belle, menurut pengakuan orang yang mencintai dan memujanya belum mati, ia justru melarikan diri dan meninggalkan ia yang sudah bersedia membantunya. Belle kabur  dengan membawa banyak uang hasil perbuatannya selama ini.

Secara keseluruhan buku ini cukup menarik. Saat tanpa sengaja saya membawanya ke meja sirkuasi peminjaman saat piket Rabu sore, beberapa mahasiswa Krininologi Fakultas Hukum yang melihat merasa tertarik, terutama sekali saat membaca kata bedebah. Ketika melihat isinya, menurut mereka buku ini layak dibaca untuk mereka yang memiliki ketertarikan dalam bidang hukum serta kriminologi.       

Gaya bahasa yang dipakai cukup mudah dipahami, meski pada beberapa bagian berkesan membesar-besarkan sebuah peristiwa. Padahal tanpa begitu kesan betapa kejam atau mengerikannya sebuah kasus juga sudah terasa dengan dukungan aneka fakta yang disajikan dengan apik.

Apakah tidak sebaiknya dibuat peringatan untuk batas usia boleh membaca. Hal ini sekedar erjaga-jaga agar tidak ada yang menjadikan inspirasi lalu meniru perbuatan biadap dalam buku ini, bahkan mungkin melakukan dengan kejam. Perlu juga dibuat semacam peringatan di kover luar bahwa ini sekedar informasi semata, jangan meniru.

Jika buku ini akan dicetak ulang, sebaiknya mulai memperhatikan beberapa kalimat yang saling berhimpit. Sepertinya terjadi kesalahan setting. Sebagai contoh, pada halaman 104 tercetak, 'Graciebarusajapulangdarigerejadaniamasih mengenakan...." Di halaman 118 tertulis, "memanggilseorangperempuanuntuk berdiridanmengungkapkankesaksiannya." Sementara pada halaman 125 tertulis, "samgdukuntidakberhentimenyakinkandirinya...." Semua saya beranggapan mata yang yang sedikit tidak benar, sehingga tidak melihat spasi antar kata. Tapi sepertinya bukan, memang beberapa kalimat terbentuk dari rangkaian kata yang berhimpitan.

Entah salah ketik atau bagaimana, tapi tulisan "d=" di halaman 116 baris ke 6 dari atas membuat saya bingung akan maknanya. Lalu di halaman 138 tertulis, "Dia adalah seorang ningrat yang kara raya." Apakah maksudnya kaya raya?

Beberapa kejahatan dalam buku ini bisa terungkap berkat partisipasi masyarakat. Serta calon korban yang berhasil kabur dan melaporkan peristiwa itu pada pihak berwajib. Bukti Sang Pencipta tak akan membiarkan kejahatan dan kesadisan berlangsung lama.

Waspadalah!
Siapa tahu kejahatan sedang terjadi di sekitar kita.


Sumber gambar:
http://selokartojaya.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar