Rabu, 01 Juli 2015

2015 # 59: Antara Jawa & Eropa


Penulis: Dodit Mulyanto
Penulis Pendamping: Widya Arifianti
Ilustrator/komikus: Norma Aisyah
Penyunting: Kafisilly
Penyelaras Akhir: Andri Agus Fabianto
Penata Letak: Yhoghi Yhortdan
Pendesain Sampul: Norma Aisyah
ISBN: 978602-0--353
Halaman: 144
Cetakan: Pertama 2015
Penerbit: Loveable

Buku setebal 144 halaman ini sukses membuat saya ngakak  dengan gaya bebas alias sepuas-puasnya ketawa. Menghilangkan cekot-cekot di kepala dan memberikan pandangan baru tentang hidup ini. Well, minimal membuat saya merasa tidak tidak merasa bersalah jika berkomentar dalam hati (masih beraninya segitu) jika melihat hal-hal yang tidak biasa di sekitar.

Terbagi menjadi beberapa bagian, tema yang dijadikan  kisah terinspirasi seputar kehidupan, yaitu Dodit Ngomongin Media Sosial, Gadget, dan Komunikasi; Dodit Ngomongin Politik dan Nasionalisme; Dodit Ngantor; Plesetan Dodit; Pahlawan Tanpa Tanda Jasa; Jawa Rasa Eropa; Peran Pembantu dan Orang Jawa; Dodit dengan Karakter Lainnya; Dodit Si Komika Favorit; Modus & Gagal Move On; 


Semula saat membaca buku ini, saya akan menemukan banyak hal tentang Jawa dan Eropa saja. Ternyata bagian yang memuat tentang Jawa dan 
Eropa hanya ada merupakan bagian dari beberapa topik lainnya.

Dalam Dodit Ngomongin Politik dan Nasionalisme terlihat ada topik mengenai gelar bangsawan di Jawa dengan mengambil contoh soso R.A Kartini, di Plesetan Dodit ada sosok Dodit menggunakan Dodot (busana Jawa), 

Jawa Rasa Eropa dimulai dengan prosesi kelahiran Dodit yang luar biasa tidak biasa, pendidikan yang ia alami sejak kecil termasuk kewajiban bermain biola, kebiasan makan dan tidur hingga gaya hidup yang ia jalani.

Sementara itu pada Peran Pembantu dan Orang Jawa bekutat pada urusan para asisten rumah tangga yang sebagian besar memang berasal dari Jawa. Keberadaan mereka suka tidak suka sudah menjadi bagian hidup hampir sebagian besar rumah tangga di tanah air. Kesuksesan mereka di rantau menjadi pemicu rekan sekampung halaman untuk ikut mengadu nasib. Urbanisasi terjadi. 

Sebenarnya tidak bisa 100% menyalahkan mereka,  jika tidak ada permintaan tidak ada penawaran kata Hukum Permintaan dan Penawaran. Selain tergoda dengan kesuksesan teman, mereka yang pulang kampung sering dititipi pesan untuk mengajak kenalan, kerabat jika ada yang mau bekerja karena si anu membutuhkan asisten rumah tangga. Gayung bersambut, urbanisasi terjadi.

Rasanya kurang mewakili judul yang dipilih. Akan lebih pas jika bagian tentang Jawa dan Eropa lebih diperbanyak sehingga layak dijadikan judul. 

Pada kover juga terdapat gambar Menara Eiffel di Paris apakah maknanya untuk mewakili Eropa? dengan hanya mengungkap tentang Dodit yang keturunan Jawa namun dibesarkan ala Eropa, sepertinya kurang mewakili isi.  Serupa halnya dengan gambar seperti candi yang bisa dianggap mewakili Jawa. Lagi pula tidak ada kisah yang menyinggung tentang Menara Eiffel dan candi. Sosok Dodit yang mempergunakan busana Jawa sudah cukup mewakili unsur ke-Jawa-annya.

Sekedar usul, untuk bagian Dodit Plesetan serta Dodit dengan Karakter Lainnya sepertinya mengusung tema yang mirip. Mungkin jika cetak ulang bisa dijadikan satu bagian saja.

Oh ya salah satu ciri khas Dodit adalah kebisaan mempergunakan Biola.  Meski dalam buku ini sudah bisa ditemukan banyak gambar yang memperlihatkan Dodit membawa biola, namun sepertinya porsinya perlu ditambah. Misalnya dalam Dodit Si Cowok Gothic, selain urusan penampilan yang berubah menjadi ala gothic bisa juga ditambahkan dengan Dodit membawa biola. Tentunya lebih kocak lagi. "Jubah hitam panjang terbuat dari gorden yang dipermak menjadi jubah, Outfit: serba hitam, dari ujung kaki (termasuk kulit). Kalau malam nyaris tidak kelihatan. Di pinggang tergantung biola hitam yang siap dimainkan kapan saja asal harga cocok."

Selain menghibur, buku ini juga bisa dijadikan sebagai kaca untuk melihat bagaimana sebenarnya tingkah polah kita. Apakah masih dalam batas STD, kampungan atau melebihi Dodit.

Enjoy

------------------
Sabtu, 04-07-2015 saya menghadiri undangan yang dikirim oleh sis Muthia E mewakili penebit. Sebenarnya agak malas mengingat lokasi serta ada undangan yang menggoda juga. Setelah berdiskusi dengan sesama teman di komunitas maka saya diminta menghadiri acara ini, sementara teman menghadiri yang lain.

Yang membuat saya meringis, saya tidak boleh meminta ttd or ikut berfoto karena tidak bisa menunjukan struk pembelian. Ya ampunnn namanya juga buntelan, mana bisa nunjukin struk. Yo wis dengan ngerundel saya memutuskan mengelilingi area toko buku di bagian atas saja. Sempat terpikir untuk menitipkan buku pada panitia karena pastinya setelah acara mereka punya sesi sendiri. Tapi rumpian dengan salah satu sahabat di dunia buku membatalkan niat saja.

Ngak masalah, toh buku ini juga bukan buku yang bakalan saya beli, baca dan repiu andai bukan buntelan.Kalau pun saya simpan rapi karena ada ttd penulisnya. Tidak lebih. 

Kebijakan saya dong.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar