Senin, 20 April 2015

2015# 45: The Atlantis Gene




Judul : The Atlantis Gene (Gen Manusia Atlantis)

Pengarang: A.G Riddle

Penerjemah : Ahmad Alkadri

Editor : Merry Riansyah

Pemeriksa Aksara : Abduraafi Adrian
ISBN:  9786020900223
Halaman: 592

Cetakan: Pertama-Januari 2015

Penerbit: Fantasious      


Pertama marilah kita berikan jempol sebanyak-banyaknya untuk usaha penulis membuat kisah dengan setting tanah air tercinta ini.Memang tidak semua bagian dari kisah, tapi lumayanlah porsinya.

Urusan seputar Atlantis memang topik yang menarik buat dibicarakan dan dijadikan latar sebuah novel. Apalagi Sejak penelitian Dokter Santos mengenai lokasi Atlantis yang diperkirakan berada di wilayah kepulauan Indonesia, aneka perdebatan muncul. 


Sepertinya kedekatan emosilah yang membuat pembaca di tanah air tertarik pada buku ini,  kedekatan yang diwakili dengan lambang Monumen Nasional di kover depan. Warna biru memberi kesan kuat pada kata Atlantis yang selama ini dianggap sebagai kota bernunasa air. 


Buku ini terbagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama, Jakarta Membara, memberikan  landasan mengenai kisah ini. Aneka aksi laga bak film berseliweran dalam bab ini.

Seorang ilmuwan Amerika, Kate Warner berupaya mencari obat bagi penderita autisme. Sebuah lembaga multinasional yang selama ini mendukung penelitiannya mendadak sangat menginginkan laporan mengenai perkembangan obat tersebut. Mengapa dan untuk apa merupakan msiteri bagi Kate.


Di sisi lain, seorang agen rahasia, David  Vale  dalam misi anti-terorisme di Jakarta, mendapati suatu petunjuk besar mengenai aksi terorisme global yang akan segera terjadi. Kemungkinan besar aksi tersebut, yang diberi nama Toba Protocol, dimulai dari Jakarta. Ternyata misi tersebut tidak seperti yang ia harapkan.

Tak heran jika kemudian David dan Kate bertemu dan bersama-sama menghadapi bahaya besar. Tidak saja di Jakarta, tapi juga di tempat-tempat yang tak terduga. Menghadapi lawa-lawan yang kejam, berpacu dengan waktu dan mempergunakan segala daya upaya agar bisa selamat.

Bagian ini agak membosankan bagi saya, karena isinya lebih banyak menonjolkan urusan kekerasan fisik semata. 

Permadani Tibet, merupakan judul dari bagian kedua. David dan Kate berada di Tibet  dalam sebuah biara yang terisolir dari dunia luar.  Ternyata para biksu yang ada dalam biara tersebut merupakan pewaris atlantis yang tersisa. Saat banjir besar yang menenggelamkan Atlantis datang, mereka yang selamat mengunci ke dataran tinggi seperti puncak-puncak gunung guna membangun kehidupan baru.

Mereka merawat David yang terluka parah dan membantu Kate memulihkan kondisinya. Kate juga mendapat sebuah jurnal yang harus ia baca. Jurnal tersebut terkait dengan segala hal yang terjadi belakangan ini. 

Selain berkisah mengenai para biksu, terdapat juga uraian mengenai sebuah senjata rahasia. Konon getaran  senjata tersebutlah yang menyebabkan Flu Spanyol yang melanda pada pertengahan abad 20.

Bagian ini agak mulai menarik perhatian saya, alurnya lebih menyenangkan buat dibaca dan dinikmati. Hal-hal yang semula samar kian terlihat jelas dalam bagian ini. 

Pada bagian ketiga,  kita diajak menuju Makam Atlantis. Dalam kisah ini disebutkan Gilbraltar merupakan pintu menuju atlantis. Kejutan ternyata sudah menanti mereka di sini.


Ada sebuah senjata rahasia lagi di sana terkait dengan Gen Atlantis. Itulah sebenarnya Toba Protocol, bukan sekedar mencari Gen Atlantis tapi menciptakan bangsa Atlantis, bangsa yang kebal terhadap senjata rahasia tersebut. Juga ada tentang tabir masa lalu Kate.  


Bagaimana kelanjutan kisah Kate dan David? Dibaca saja ya....


Sepertinya buku ini tidak berjodoh dengan saya, dari pemilikannya yang gagal maning, gagal maning hingga akhirnya merampok sis Jenny untuk bisa membaca. Ternyata saya tidak bisa menikmati kisahnya.  Dua tiga minggu sejak saya mulai membuka halaman pertama, ditambah sekian hari rehat sekedar mengumpulkan tenaga untuk menuntaskan buku ini. Hanya karena prinsip sekali dibaca harus sampai tamat , maka bertahanlah saya membaca buku ini. SEMANGAT!!!


Bermula dari nama tokoh pada awal kisah, David Vale dan Keegan. Jelas kedunya bukan nama lokal. Pastinya akan sangat mencolok melihat ada bule berkeliaran di Stasiun Manggarai. Bahkan turis dengan carrier di punggung pun akan menjadi pusat perhatian di sana. Lalu bagaimana David bisa begitu terkesan yakin dirinya tidak menjadi pusat perhatian.

Untuk dua agen lainnya pada halaman 10, saya asumsi mereka adalah orang kita, jika tidak bagaimana mungkin mereka bisa tidak dikenali diantara keramaian.  "Satu duduk di bangku panjang di tengah-tengah keramaian. Satu lagi memperbaiki lampu di dekat toilet....Kedua agen tersebut sangat bagus, mereka agen terbaik dari Markas Jakarta; David hampir tak bisa mengenali mereka di antara keramaian."


Selanjutnya perihal New York Times di Stasiun Manggarai. Setahuku saja tidak ada kios koran di sana. Tapi baiklah namanya juga cerita bisa khan dibuat seolah-olah ada. Tapi tetap saja, berapa banyak rakyat biasa yang membeli koran New York Times? Lebih baik jika penulis menyebutkan nama koran yang lebih masuk akrab di telinga pembaca, bisa saja nama karangan. Misalnya Gemar Membaca, Jaya, Koran Kita dan lainnya. Manfaatkan aplikasi guna alih bahasa jika ada kendala bahasa. 

Senang juga mengetahui mata pelajaran Bahasa Inggris yang dipelajari sejak SD hingga Sekolah Menengah Atas berguna. Pada halaman 137 disebutkan David bertanya pada istri penolongnya apakah ia bisa berbahasa Inggris, dijawab :Ya sedikit, karena aku harus menjual ikan di pasar." Saya baru tahu butuh keterampilan berbahasa asing untuk bisa menjual ikan hasil tangkapan dari Sungai Pasanggrahan.


Kalimat yang paling mengganggu saya adalah, "Itu sebabnya aku memilih Jakarta-kota besar terdekat dari Gunung Toba. Kupikir ini referensi tempat yang akan mereka gunakan untuk memulai serangan." (halaman 71) Jakarta merupakan kota terdekat dari Gunung Toba, waduh dihitung dari manaini?  Gunung Toba, sekarang menjadi Danau Toba terjadi akibat letusan gunung ketiga  kalinya yang terjadi 74.000 tahun lalu. Jika tetap mengambil lokasi Gunung Toba maka kota terdekat adalah Medan bukan Jakarta.
Kemudian di halaman 111 tertulis, "Itulah salah satu alasan aku mendirikan cabang operasi di Jakarta, 96 km dari Gunung Toba." Aneh bukan, sebuah kesalahan yang dilakukan oleh seseorang yang dalam buku ini digambarkan gemar membaca dan menyukai sejarah. Pastinya ia akan tahu mana kota terdekat yang ada sejak Gunung Toba meletus dan menjadi Danau Toba.


Banyaknya sosok yang menjadi tokoh dalam buku ini juga membuat saya bingung. Bisa dipastikan tokoh utamanya adalah Kate dan David, selain itu ada beberapa tokoh lainnya yang meski peranannya penting hanya muncul sesekali saja hingga tamat. Jika ia sungguh penting harusnya porsinya berimbang dengan Kate dan David. 

Meski demikian, buku ini memberikan tambahan pengetahuan bagi pembacanya. Misalnya tentang Adam kromosom Y, asal muasal manusia pertama, misteri punahnya manusia Neanderthal, manusia Devonian, dan Homo floresiensis. Dan pastinya mengenai Autis. 

Beberapa  typo juga ditemukan dalam buku ini. Entah kesalahan mengetik seperti yang ada di halaman 60, "Mereka berjalan ke bagian desa yang lebih salam, melewati rumah-rumah yang lebih bagus." Atau sekedar salah pemutusan kata di halaman 385, "...matahari te-ngah...." Sebenarnya saya sangat solider dengan typo. Tapi kalau sampai menganggu saya pastilah sangat mengganggu bagi yang lain.


Dan sampai akhir kisah saya masih bingung, jadi Gan Atlantis itu yang bagaimana? Yang kebal terhadap senjata rahasiakah? Lalu apa hubungannya dengan anak-anak authis yang diteliti Kate? Apakah maksudnya sesungguhnya mereka juga mengandung Gen Atlantis?


Sungguh, buku ini sepertinya tidak berjodoh dengan saya. Mungkin berjodoh dengan yang lain, mengingat sudah diterjemahkan ke dalam 18 bahasa.







Sumber gambar:
https://maps.google.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar