Sabtu, 18 April 2015

2015# 43: Serial Grandni: Jangan Takut Memilih, Move On Dong!


Pojok Bumi 20XZ

Waktu berjalan dengan cepat tanpa kita sadari. Lihat saja cucu kesayangan grandni. Usianya saat ini sudah memasuki masa remaja. Urusan jatuh cinta dengan lawan jenis tentunya sudah mulai dialami olehnya.  Pertengkaran dengan sahabat terkait urusan hati juga mulai dialami.

Bagi  grandnie itu merupakan salah satu tahap kehidupan yang harus dilalui sang cucu. Bagian dari sekolah kehidupan. Ia hanya mengawasi dan memberikan pengarahan jika perlu.

Contohnya, kejadian pada senja yang indah kemarin. Sang cucu mampir ke perpustakaan pribadi grandni untuk bercerita tentang kegalauan hatinya. Memilih diantara dua gadis, mana yang terbaik baginya.

Ia begitu bersemangat berkisah. Seakan-akan dunia akan runtuh jika ia tidak segera mengambil keputusan. Ada satu yang ia sukai. Semuanya sepertinya sempurna, dalam ukuran anak ABG tentunya. Hanya saja..., jika ia melabuhkan hatinya sang cucu bisa saja kehilangan persahabatan dengan salah satu sahabatnya sejak kecil. Sahabatnya itu kebetulan perempuan.


Unsur cemburu? Sempat terlintas pikiran d jangan-jangan sahabatnya itu juga menaruh hati pada cucu kesayangan grandni. Tapi melihat keakraban dan bahasa tubuh  mereka sepertinya  tidak. Namun siapa sih yang bisa menduga isi hati seseorang?

"Jadi susah grand, aku suka berdiskusi buku, makan, jalan, nonton bareng dengannya. Tapi setiap kali sahabatku tahu aku baru saja bertemu dengannya pastilah sahabatku berubah segalak macam. Judes tingkat dewa! Jangankan bertemu, semua pesan tidak ada yang dibalas. Minimal dua hari dia begitu." Cerita sang cucu panjang lebar. Sementara grandnie hanya mendengarkan sambil tersenyum-senyum simpul. Bagaimana itu judes tingkat dewa.

"Persis kisah grandni saat SMA." Sahut seorang pria tengah baya yang ternyata diam-diam memasuki perpustakaan. Spontan grandni dan sang cucu menoleh.

"Hush, kangmas ini kok hobi bergosip sekarang." Sungut sang grandni. Sementara sang cucu tertawa-tawa gembira, ternyata grandni juga pernah mengalami situasi seperti dirinya.

"Eh kamu tahu, Pameran Patah Hati di Yogya? Cepat-cepat pria paruh baya itu mengalihkan pembicaraan ketika dilihatnya wajah tak suka grandni. Siapa pun pasti tidak suka bagian dari masa lalunya diungkit. Apa lagi dibongkar di depan cucunya sendiri.

"Pameran yang di Yogya ya eyang? Kemarin teman-teman juga ramai membicarakannya. Katanya pameran tersebut sudah masuk agenda pariwisata. Pameran itu menjual aneka barang peningkalan mantan si penjual. Harganya lumayan terjangkau, hasilnya  untuk kegiatan sosial. Jadi sambil belanja juga bisa beramal." Jawab sang cucu panjang lebar. 

"Betul. Tapi tahukah kamu kalau sebenarnya ide pameran tersebut berasal dari sebuah buku dengan judul Pameran Patah Hati? Di dalamnya ada sebuah bagian yang mengisahkan tentang kedua tokoh yang mengikuti pameran untuk amal. Benar, barang yang dijual adalah barang kenang-kenangan dari mantan." Terang pria paruh baya.

"Wah seru! Bukunya masih dijual eyang? Di mana aku bisa beli?" Sang cucu bertanya dengan antusias.

Sambil tertawa pria yang yang dipanggil eyang itu memberikan lirikan ke arah grandni. Sang grandie sepertinya mengerti kode yang diberikan, ia bergegas berdiri menuju ke rak buku khusus bertanda tangan.

"Eh grandni punya? Boleh aku lihat?" Tanya sang cucu dengan penuh harap melihat grandni membawa sebuah buku di tangannya.

Sang grandni tersenyum sambil memberikan sebuah buku yang dibungkus plastik. Salah satu cara grandni menjaga buku-buku adalah dengan memasukan ke dalam plastik sebelum ditaruh di rak.  
Penulis : Mini GK
Editor: Diaz
Proofreader: Miz
Tata sampul: Ann_Retiree
Tata isi: Violet V.
Pracetal: Endang
ISBN: 9786022558361
Halaman: 204
Cetakan: Pertama-Maret
2015
Penerbit : Ping!!!
Harga: Rp 36.000


"HAH! penulisnya Kak Mini GK! Yang sering mengirimi grand buku-buku. Yang selalu menjadi tamu kehormatan di Pameran Patah Hati. Yang..." Celoteh semangat sang cucu begitu melihat buku yang diberikan grandni. Sungguh ia tak mengira.

"Iya...iya.., Kak Mini yang itu.Beliau baru saja mengirim undangan pameran ke keluarga kita. Jika tidak ada halangan, biasanya salah satu dari keluarga kita pasti datang ke sana. Siapa tahu tahun ini kamu bisa pergi." Jawab grandni sambil tertawa lepas.

"Sebenarnya buku ini tentang apa sih grand?" Tanya sang cucu dengan penasaran sambil membolak-balikan halaman.

"Sebaiknya kamu lihat book trailer di
https://www.youtube.com/watch?v=Xnw7aBC2d54&feature=youtu.be " Jawab grandni sambil menuliskan link yang dimaksud. Sang cucu bergegas mengeluarkan telepon genggam canggihnya dan mulai berselancar di dunia maya.

"Bagaimana? Sudah bisa menebak kira-kira kisahnya tentang apa? Tanya grandni begitu dilihatnya sang cucu mengangkat pandangan dari layar telepon genggam.

"Sudah grand. Kisahnya kurang lebih mengenai dua orang yang putus cinta  namun akhirnya menemukan kebahagian bersama.  Tapi aku ada beberapa pertanyaan setelah melihat  book trailer ini." Jawab sang cucu bersemangat.

"Apa yang mau kamu tanyakan?" Tanya grandni. Selama ini ia memang mengajarkan sang cucu untuk bersikap kritis dalam menelaah sebuah buku. Tak ada buku yang salah, yang ada mungkin saja buku itu tidak sesuai dengan selere pembacanya.

"Pertama soal lagu. Pada endorsement dicantumkan band legendaris, Jikustik. Tapi kenapa dalam book trailer malah lagu yang dijadikan latar bukan salah satu lagu mereka? Kedua kenapa grandni disebut semakin berkilau? Tanya sang cucu penasaran.

"Untuk dua hal itu, grandni tidak bisa menjawab. Ada baiknya kamu tanyakan langsung pada Kak Mini. Bukannya kalian sudah memiliki kontak satu sama lain?" Jawab grandni. Sang cucu memberikan anggukan dengan cepat tanda setuju dengan apa yang dikatakan grandni.

"Secara singkat, buku ini mengajak kita untuk tetap melanjutkan hidup meski pernah terpuruk dalam urusan cinta. Hidup harus terus dijalani meski urusan putus cinta menghampiri." Papar eyang menambahkan. Sang cucu mendengarkan sambil membalik-balik halaman untuk membaca sekilas.

"Sebenarnya grandni penasaran dengan kalimat 
Ode mengelus-elus hamster di pangkuannya di halaman 16. Kok bisa? Sementara hamster yang kita dipelihara sejak lahir saja tidak bisa sejinak itu. Tapi ini baru tiga hari dipelihara bisa sejinak itu." Kata grandni. Biasanya sebelum sang cucu membaca, ia memberikan beberapa pengarahan agar sang cucu bisa menelaah buku dengan lebih baik.

"Grand aku agak aneh dengan kalimat di halaman 22, Ever menimpuk kepala Yosinta dengan ponsel, bagaimana bisa?" Tiba-tiba sang cucu bertanya. Rupanya ia menemukan sebuah kalimat yang menurutnya agak aneh.

"Ponsel kan benda keras. bukannya berbahaya melempar benda seperti itu pada seseorang?" Lanjut  sang cucu dengan heran. Baginya membayangkan benda sekeras itu mengenai kepala orang cukup menyeramkan.

"Iya betul, agak aneh memang. Sebenarnya grand kurang suka dengan sosok Yosinta. Apa yang dilakukan oleh Yosinta bisa dikategorikan penindasan, kekerasan. Seharusnya dia dibawa ke psikolog mengingat rasa kesalnya sudah mengarah perbuatan kriminal" Ujar grandni.

"Ini juga agak aneh, kalimat di halaman 34, Kariernya tengah melejit sebagai seorang staf di Novotel. Kenapa harus menyebutkan nama hotel?" Tanya sang cucu lagi.

"Betul, grandni setuju. Sebaiknya hanya menyebutkan sebuah hotel di kawasan x. Kecuali jika memang buku ini mendapat dana penerbitan, atau sponsor dari hotel tersebut. Takutnya banyak pembaca yang mengira ada sosok seperti yang digambarkan dalam buku." Jawab grandni.

"Jadi, bagaimana kalau kamu yang mewakili keluarga kita menghadiri pameran. Kamu bisa berdiskusi dengan Kak Mini mengenai buku ini. Nanti eyang yang mengatur." Tanya eyang sambil tersenyum.

"Wah mau sekali eyang." Jawab sang cucu dengan gembira. Merupakan kesempatan emas baginya bisa berdiskusi dengan seorang penulis buku sukses seperti Kak Mini.

"Kamu boleh ajak 2 orang teman, kebetulan kita mendapat beberapa undangan. Biar grandni yang bicara dengan papimu" Kata grandni.

Wajah sang cucu mendadak berubah. Aura bahagia berubah menjadi kebingungan. "Siapa yang aku pilih grand? Wah bingung aku" Ujarnya.

"Jangan khawatir, ikuti kata hatimu." Kata Eyang sambil tertawa. Ternyata urusan pergi saja membuat sang cucu bingung.

"Ingat kata Kak Mini dalam buku ini. Katanya, orang yang benar-benar mencintai itu pasti akan bahagia kalau melihat orang yang dicintainya bahagia.Ya, meski kebahagiaan dia bukan bersama kita. Artinya kalau sahabatmu mencitaimu sebagai sahabat ia harus menerima orang yang membuatmu bahagia. Atau jika kau tetap memilih sahabat dan melupakan gadismu, sang gadis harus menerima bahwa kau sangat berbahagia menikmati persahabat dengan sahabatmu. Atau bahkan jika kamu memutuskan menjauh dari keduanya agar tidak menyakiti salah satunya. Apapun pilihanmu, mereka berdua harus menerima dengan lapang dada." Eyang memberikan nasehat panjang lebar. Belakang untuk urusan hati gradni menyerahkan tugas itu pada eyang. Man to man talk, kurang lebih begitu menurutnya.

"Lalu aku harus bagaimana? Memilih gadis yang aku suka, memilih tetap menjaga hubungan persahabatan, atau mencari gadis lain? Tanya sang cucu lagi meminta saran. Ia sepertinya masih ragu harus bagaimana bersikap.

" Nak, seperti kata Kak Mini, kepada siapa cintamu kamu berikan, cinta tidak pernah salah. Karena, pada kenyataannya memang tidak ada yang salah dalam cinta. Hanya saja, waktu yang kamu punya belumlah tepat untuk mengartikan sebuah cinta. Saat ini bersahabatlah dulu dengan banyak orang. Jangan membuat hal yang sederhana menjadi rumit. Ikuti kata hatimu. Grandni yakin kamu sebenarnya sudah tahu harus bagaimana."Papar grandni panjang lebar.

"Tapi susah melupakan gadis itu, aku merasa nyaman dengannya." Tanpa sadar sang cucu  sebenarnya sudah memiliki keputusannya.

" Jangan kuatir nak, kamu masih muda. Waktu masih panjang. Move on dong." Sang eyang memberikan semangat.

"Kamu tahu, grandni pernah ikut pameran dengan menjual surat dari mantan grand yang sekarang menjadi pejabat. Hasilnya lumayan tinggi lho. Grandni-mu masih menyimpan surat-surat dari fansnya" Lanjung eyang sambil melirik grandni. Sementara yang dilirik melotot dengan sebal.

"Loh grandni ngak sayang? Kenang-kenangan dari mantan, apa lagi sekarang dia pejabat?" Tanya sang cucu penasaran.

"Sebelum ikut pameran grandni sudah bicara dengan dia. Dan dia juga sudah bicara dengan keluarganya. Kami sepakat itu merupakan bagian dari masa lalu yang tak perlu diingat. Anggap sebagai sebagian dari perjalanan hidup.  Kak Mini juga berkata dalam buku ini, jika kita tidak bisa melupakan mantan, itu bukan karena kita tidak mampu melakukannya karena kitalah yang masih berusaha mengingatnya. Lagi pula ini untuk amal kok." Jawab sang grandni panjang lebar.

"Baiklah. Aku tahu bagaimana sekarang harus bersikap. Aku tahu siapa 2 orang yang akan aku ajak ke yogya. Terima kasih grandni, eyang." Sang cucu berkata sambil berdiri. Wajahnya menunjukan kebulatan tekat. Sebelum keluar perpustakaan, ia memberikan pelukan ringan pada pasangan paruh baya yang duduk di depannya.

Kedua sosok paruh baya itu memperhatikan sang cucu berjalan keluar sambil berbicara dengan seseorang melalui telpon genggam. Ia berhenti sejenak di teras perpustakaan sambil tetap berbicara.

"Memang jeng tidak cerita tentang masa muda jeng? Saat bingung mau menerima cinta siapa?" Tanya pria itu sambil tertawa jahil. Sekarang hanya tinggal merela berdua sehingga ia merasa bisa lebih bebas menggoda puja jiawanya.

"Lho ada apa dengan aku kangmas? Aku sepertinya tidak segalau dia kok." Tanya grandni dengan heran.
"Pacarku cuma sedikit kok, khan kangmas tahu sendiri." Lanjut grandni.

"Ha ha ha masih tidak mau mengakui berapa jumlah fans dan mantan? Kadang aku masih suka senewen jika  mereka-mereka mengirim ucapan selamat ulang tahun, Lebaran, tahun baru, atau sekedar menyapa jeng saat bertemu." Ucap pria paruh baya itu sambil tertawa renyah.

"Halah kangmas ini, sudah sepuh kita masih saja cemburu." Jawab sang grandnie sambil mencubit mesra pinggang pria itu.

"Tapi itu yang membuat hidup ini penuh warna jeng. Yang membuatku selalu bersyukur mendapatkan dirimu sebagai bayanganku." Kata pria paruh baya itu sambil merengkuh grandni dalam pelukannya.

Tanpa keduanya sadari, sang cucu masih berada di teras perpustakaan dan sempat mendengarkan percakapan mereka. Sadar berada di tempat dan waktu yang salah, ia bergegas berjalan menuju rumah induk.

"Hebat. Sudah seusia ini keduanya masih bisa mesra. Urusan cinta memang luar biasa." Ujarnya dalam hati. Keputusan sudah diambil, sekarang tinggal eksekusinya.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar