Senin, 25 Agustus 2014

Review 2014 #48: Sastra Moderen: Warisan


Judul: Warisan
Penulis: Ajatrohaedi
Gambar Kulit: Zainal Z
Halaman: 15
Penerbit: Balai Pustaka


Unik kover buku ini!
Kesan pertama saat melihat buku ini diantara buku-buku yang sedang menjalani proses rekatalogisasi di kantor. Butuh sedikit rayuan dan janji dipinjam tidak lama untuk bisa membawa buku ini ke meja saya.

Sepertinya teman-teman saya sudah cukup maklum kegilaan saya pada buku. Mereka juga sangat tahu kecepatan saya membaca sehingga berani meminjamkan sebuah buku yang sedang diolah. Asyik dapat bacaan ringan!

Buku ini terbit pada tahun 1965, maka ejaan yang dipergunakan adalah ejaan lama. Huruf "y" ditulis "j", huruf "c" ditulis "tj" beberapa hal seperti itu membuat saya tertawa kecil saat membaca buku ini.Meski begitu tidak mengurangi kenikmatan saya membaca Sering kali menemukan buku dengan gaya penulisan lama seperti ini membuat saya jadi lebih mudah membaca.

Kisahnya tentang seorang anak laki-laki yang hanya dua kali bertemu dengan kakek dari pihak ibunya. Pertemuan pertama saat berusia sekitar sepuluh tahun pada saat sang ibu menikah lagi. Sosok lelaki bersahaja dengan peci haji putih bertengger di kepala dan menggunakan sarung Pekalongan. Sarung dagangannya sendiri. Sang kakek berprofesi sebagai pedagang.

Pertemuan kedua entah kapan tepatnya. Bocah lelaki itu hanya ingat ia berusia semitar tiga belas tahun, duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Jika pada pertemuan pertama ia sungkan mendekat, maka pada pertemuan kedua tidak diulanginya kesalahan yang sama.

Sang kakek memang jarang berada diantara ibu dan dirinya. Hal tersebut dikarenakan ia dan nenek tokoh kita sudah bercerai. Pandangan orang pada saat itu berbeda dengan sekarang. Seseorang yang sudah bercerai dianggap tidak pantas, tidak sopan, berada lama dalam sebuah rumah yang sama, bahkan jika itu untuk mengunjungi sanak saudaranya sekalipun.

Meski jarang bertemu, sang kakek sering memberikan hadiah bagi bocah itu. Biasanya berbentuk sarung Pekalongan. Mukanya sarung kecil, lama-lama menjadi sarung untuk orang dewasa. Bocah itu mempergunakannya untuk mengaji dan menjadikannya selimut di malam hari. Meski ia tak bisa memeluk sang kakek, biarlah ia memeluk selimut pemberian sang kakek sebagai pengobat rindu.

Sepertinya juga setiap makhluk hidup yang lain, sang kakek meninggal di Pekalongan. Maka seluruh keluarga pergi ke Pekalongan untuk menemukan sebuah kuburan yang masih merah tanahnya. Bocah laki-laki itu tertunduk bukan untuk membacakan doa di pusara sang kakek, tapi untuk mengingat-ingat bagaimana wajahnya. Wajah yang hanya dua kali dilihatnya.

Meski hanya bertemu dua kali sang kakek ternyata tidak melupakan cucunya. Ia meninggalkan warisan bagi cucunya. Warisan tersebut mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan sang cucu atau bukan barang yang disukai sang cucu. Namun yang terpenting bagi sang cucu itu adalah wujud sayang sang kakek pada dirinya.

Kisah ini memang sangat pendek, hanya terdiri dari 15 halaman. Ukuran bukunya juga kecil dengan panjang sekitar 17,5 cm dan lebar 12 cm menjadikan buku ini mudah dibawa-bawa. Namun isinya tidak bisa dibilang kecil.  Penulis begitu piawai memainkan perasaan pembaca. Rasa sedih bocah laki-laki itu bisa dirasakan melalui ungkapan kata-kata yang diuraikan penulis. Begitu juga rasa bahagia saat menerima hadiah sarung.

Meski kisahnya indah namun beberapa kalimat agak aneh bagi saya.  Misalnya kalimat yang ada di halaman 5-6, "... aku pulang bermain-main, kulihat banyak benar orang  dirumah... Dan akupun tahulah, apa makna semuanja itu. Ibu telah punja suami laki, dan aku punja tambahan seorang ajah." Biasanya saat akan melangsungkan pernikahan tentu butuh persiapan dalam banyak sisi, apa lagi mengingat ini bukan perkawinan yang pertama bagi ibu dari tokoh kita. Bukannya sang ibu harus memberi tahu perubahan kondisi tersebut pada sang anak? Walau usianya baru  jalan sepuluh tapi ia berhak tahu akan ada hal yang berubah dalam kehidupannya, yaitu memiliki ayah tiri. Aneh buat saya sang anak yang baru pulang bermain menemukan akan ada upacara pernikahan di rumahnya sementara ia sendiri tidak tahu. Alih-alih diam di rumah ia malah pergi bermain.

Bagaimana penulis mendiskripsikan sang kakek juga membuat kedua alis saya bertemu. Peci haji putih yang ada dibenak saya berbeda dengan visualisasi pada kover. Apakah mungkin versi peci haji pada tahun buku ini trebit berbeda dengan saat ini? Tapi minimal ada kesamaan. Bagi saya yang ada di kepala sang kakek pada kover lebih mirip surban.

Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini mengajarkan pembaca untuk tetap mencintai keluarga bahkan yang jarang atau tidak pernah ditemui sekalipun.

Menawan.

1 komentar: