Sabtu, 23 Agustus 2014

Review 2014 #46 : Suske & Wiske: Setengah Havelaar

Pencipta tokoh: Willy Vandersteen
Penulis kisah: Peter Van Gucht
Ilustrasi: Luc Morjaeu
Alih bahasa: drg. Shantina Dewi Setyadharma
Editor: Maria Adisrstika & Aryaguna Setiadi
Desain sampul: @Bach
ISBN: 9786020015675
Halaman: 48
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Harga: Rp. 30.000


Kata Havelaar yang membuat saya tertarik pada buku ini. Havelaar atau tepatnya Max Havelaar  merupakan sebuah novel karya Multatuli nama pena dari  Eduard Douwes Dekker. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860 dan  diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru. Karena versi terjemahan yang saya miliki masih berada dalam tumpukan untuk dibaca, maka buku ini saya anggap sebagai pengantar sebelum membaca yang saya miliki tersebut.

Selanjutnya tokoh sepasang remaja yang berayun dengan tali dari jendela di kover. Sosoknya membuat saya teringat pada tokoh Yo dan Susi  Legrand dalam cergam Petualangan Yo, Susi dan Yokko. Dua sosok remaja yang tak kenal takut dan gigih menghadapi banyak bahaya. Lalu ada sosok dengan kepala yang banyak membuat saya teringat pada tokoh dalam kisah pewayangan, Rahwana. 

Jadi ada Murtatuli,Yo dan Susi  Legrand, lalu Rahwana. Kira-kira keseruan kisah apa yang bisa kita dapati? Nama sang penulis, Willy Vandersteen kurang begitu saya kenal. Tapi jika sang penulis berasal dari negeri yang sama dengan Om Harge maka sepertinya saya perlu memberikan kesempatan untuk buku ini, apa lagi harganya juga terjangkau. Pindahlah buku ini dalam keranjang belanja saya.

Disebutkan Wiske mendapat tugas untuk mempresentasikan sebuah topik. Masukan dari keluarga  membuatnya memutuskan untuk membuat  presentasi tentang kopi. Lalu ia mencari informasi tentang perkebunan kopi pada zaman kolonial Hindia-Belanda. Sayangnya foto-foto yang ia temukan kebanyakan hitam putih sementara Wiske lebih menyukai foto berwarna.

Maka timbul ide untuk mengunjungi perkebunan kopi langsung zaman kolonial Hindia-Belanda dengan mempergunakan mesin telewaktu. Untuk amannya ia mengajak Suske. Mesin telewaktu yang mereka pergunakan adalah milik Profesor Barabas. Tidak disebutkan siapa profesor itu dan bagaimana bisa membuat mesin waktu. Singkatnya pembaca harus menerima fakta mereka mempergunakan mesin telewaktu milik Profesor Barabas.

Dengan memakai pakaian pinjaman dari teater amatir setempat mereka menempuh perjalanan menuju zaman kolonial Hindia-Belanda. Mereka tiba di perkebunan kopi yang sangat luas di Pulau Jawa tahun 1858. Suske segera mengumpulkan informasi dengan bertanya pada para petani sementara Wiske memotret.

Suske dan Wiske tanpa sengaja berada pada saat sekelompok utusan menguasa mengambil paksa kerbau yang dipergunakan petani untuk bekerja. Mereka yang tidak tahu situasi dan kondisi berusaha membantu sang petani mempertahankan kerbau walau akhirnya harus merelakan kerbau diambil paksa.

Mereka tidak saja mendapat pengetahuan tentang kopi tapi juga tentang bagaimana situasi masyarakat. Mereka bekerja tanpa dibayar bahkan dipaksa menanam tanaman tertentu. Jika dibutuhkan kerbau mereka bisa saja diambil tanpa dibayar sebagai bukti menghormati atasan, menolak adalah hal tabu. Sungguh kondisi yang memprihatinkan.

Keduanya mendapat informasi bahwa ada juga orang bule-sebutan bagi orang kulit putih atau keturunan asli Eropa atau berkulit terang,  yang ikut menyuarakan ketidakadilan di sana. Namanya Eduard Douwes Dekker seorang Asisten Residen Provinsi Lebak.

Eduard Douwes Dekker merasa tidak suka dengan ketidakadilan yang terjadi di Lebak, maka ia membuat sebuah buku guna menyampaikan keperduliannya. Hal tersebut membuat ia berada dalam kondisi yang membahayakan, bahkan menjadi korban serangan atas dirinya. Untuk itu ia ingin mengirim naskah yang ditulis pada Droogstoppel seorang pedagang kopi teman sekolahnya dulu.
 
Suske & Wiske yang ikut prihatikan akan kondisi masyarakat setempat menawarkan diri untuk membantu mengantarkan naskah tersebut.Misi semula yang hanya ingin mengumpulkan data untuk bahan presentasi berubah menjadi sebuah misi khusus. Selanjutnya mereka tanpa sadar terseret dalam bahaya.

Dalam perjalanan mereka harus menghadapi aneka bahaya dari banyak pihak yang tidak ingin keburukannya terungkap. Bahkan mereka harus berhadapan dengan gerombolan Rahwana yang terkenal kejam. Musuh mengincar naskah dan sangat ingin menghancurkannya. Suske dan Wiske harus berusaha keras agar naskah tersebut tidak jatuh ke tangan yang salah.

Apakah Suske dan Wiske dapat menyelesaikan misi mereka?
Kenapa disebut setengah Havelaar?
Lalu bagaimana nasib presentasi Suske?
Lengkap dalam buku ini, dibaca ya....


Kisah ini bisa dikatakan terinspirasi dari kisah Max Havelaar. Jika Max Havelaar mengisahkan situasi dan kondisi perkebunan teh di Lebak-Baten, maka kisah dalam buku ini justru mengisahkan tentang bagaimana upaya sang penulis, Eduard Douwes Dekker  membawa naskah tersebut hingga sampai ke tangan teman sekolahnya.

Tokoh Rahwana merepresentasikan ketidakadilan, angkara murka, pendek kata seluruh kejahatan dan dosa di bumi.  Rahwana sering digambarkan memiliki  sepuluh kepala serta dua puluh tangan, hal tersebut menunjukkan kesombongan dan kemauan yang tak terbatas. Dalam buku Rahwama digambarkan berkepala lima, hal  ini melambangkan kebengisan para penguasa setempat.

Sang pembuatan cerita Willy Vandersteen (15 February 1913 – 28 August 1990) merupakan seorang komukus dari Belgia. Ia sudah mnerbitkan 1.000 komik dari 25 seri dan sukses menjual 200 juta eksemplar di seluruh dunia.

Seri Suske & Wiske diterbitkan pertama kali pada tahun 1946 dan telah dialih bahasa. Judul seri ini adalah:
1.   Setengah Havelaar
2.   Texas Rangers
3.   Para Perampok Muda
4.   Monumen Mahakarya
5.   Naga Periang
6.   Batu Bintang
7.   Tulang-tulang Gemetaran
8.   Badut Pengibul
9.   Gelendong Waktu
10. Getaran Batu Karang
11. Satir Air
12. Gameguru

Sumber Gambar:
http://nl.wikipedia.org/wiki/Suske_en_Wiske

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar